House of Cards Season 1

“There are two kinds of pain. The sort of pain that makes you strong. Or useless pain. The sort of pain that’s only suffering. I have no patience for useless things. Moments like this require someone who will act. To do the unpleasant thing. The necessary thing… There, no more pain.”

 

Akhirnya bisa tamat juga nonton Season 1 House of Cards setelah nontonin ini dari bulan Januari lalu kalau gak salah. Kenapa bisa selama itu ya? Padahal satu season-nya cuma berisi 13 chapter dengan running time satu chapter-nya kurang lebih 50 menit. Well, jawabannya simply karena aku nontonnya diselang-seling sama series lain. Selain itu karena series yang satu ini terbilang berat. Maklumlah, temanya politik. Dan aku gak akan bohong kalo gak semua materi yang dihidangkan dalam series ini aku pahami. Secara politik dalam negeriku sendiri aja aku gak paham seutuhnya, apalagi politik di negeri Paman Sam. Bahkan, jujur, aku gak 100 persen yakin apa posisi Frank dan Claire di sini, lol. Kecuali Zoe, yang jelas-jelas seorang wartawan muda yang banyak mendapatkan input dari Frank soal situasi di Gedung Putih.

Meski cukup menantang otak dalam nonton series ini, aku suka banget sama jalan ceritanya. Apalagi yang main adalah Kevin Spacey, Robin Wright dan Kate Mara. Mereka bertiga adalah tokoh utama dalam series ini.Dari lawan mereka menjadi kawan dan mulai menunjukkan tanda-tanda akan menjadi lawan di season berikutnya. Who knows?

Kevin Spacey berperan sebagai Francis “Frank” Underwood, seorang anggota kongres (DPR) yang menduduki posisi penting. Sepengetahuanku, fungsi utamanya adalah melobi, sih. Karena dia punya kemampuan komunikasi yang lihai. Dia bisa mengarahkan lawan menjadi seseorang yang menguntungkan baginya. Bahkan dia bisa mengatur Presiden semau dia. Dan Presiden pun menaruh kepercayaan yang tinggi padanya. Yah, sehebat itulah Frank Underwood.

Robin Wright berperan sebagai Claire Underwood. Dari nama belakangnya, udah ketahuan kan kalau dia adalah istrinya Frank. Dia menjalankan sebuah organisasi nonprofit yang bergerak di bidang lingkungan (Ini aku nyontek dikit dari Wiki, hehe, because you know...) Sebagai tambahan dari Majalah Femina yang sempat aku baca, katanya Claire ini menjalankan perusahaannya tersebut bukan dari lubuk hati yang paling dalam. Itu cuma topeng untuk mengesankan bahwa suami istri Underwood ini adalah pasangan pencinta lingkungan. Dengan demikian titel ini akan memberikan dampak yang baik bagi karir mereka ke depannya. Seriously, nih? Mungkin lama-kelamaan ketulusan itu pada akhirnya akan datang juga, ya.

Kate Mara berperan sebagai Zoe Barnes. Dia adalah perempuan muda yang bekerja sebagai seorang wartawan. Perempuan yang satu ini punya jiwa pemberani, seperti kebanyakan wartawan politik lainnya. Tapi dia merasa karirnya mandek karena dia selalu diremehkan di tempat kerjanya. Lalu suatu foto candid, di mana Frank terlihat mengamati dengan “penuh hasrat” bokongnya Zoe, menjadi kunciannya untuk mendapatkan info-info terkini dari Gedung Putih. Dari sana Zoe mulai jadi “peliharaannya” Frank. Dan bak roket yang lepas dari landasannya,  karir jurnalistik Zoe pun meningkat pesat. Bahkan dia ditawarkan posisi penting di tempat kerjanya, menggeser Janine yang merupakan seniornya. Namun karena ada perbedaan pendapat dengan atasannya langsung, dia memilih hengkang dari sana dan bergabung dengan komunitas jurnalistik independen.

Dari film ini banyak hal yang aku pelajari. Yang paling nyata adalah bahwa Politik Itu Kejam. Jadi kalo kamu gak siap untuk diobok-obok, mendingan jangan terjun ke dunia ini. Makanya, aku sering heran kok para musisi/seniman itu mau-maunya terjun ke dunia ini. Gak takut apa ya entar difitnah-fitnah dan dijebak? Karena dalam politik itu, biasanya selalu ada seseorang yang dikambinghitamkan. Seperti yang terjadi pada politisi di Partai Demokrat. Contoh dalam film ini ya Peter Russo. Miris banget nasibnya dia. Padahal dia lagi berusaha memperbaiki hidupnya, hubungannya dengan teman-temannya yang secara tidak sengaja pernah ia kecewakan, termasuk dengan Christina, pacarnya sekaligus rekan kerjanya. Ah, pokoknya kasihan banget nasibnya dia. Dan semua ini adalah ulah Frank!

Frank! Dari episode pertama, udah kelihatan sekuat dan semanipulatif apa Frank itu. Bahkan ia tak segan-segan memelintir leher seekor anjing yang sedang sekarat. Well, aku sebenernya bingung untuk kasus yang satu ini. Ketika seekor binatang tersiksa karena luka yang dideritanya, apa yang sebaiknya kita lakukan? Membunuhnya atau mengusahakan kesembuhannya? Cuma Frank yang bisa mengambil keputusan tegas dan cepat. Dan ia tidak menyesal sedikit pun.

Yang aku suka dari series ini terutama ketika Frank bermonolog dengan penonton. Di sana dia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Dan cara Kevin Spacey melakukan ini sangat menghibur. Kadang aku ketawa melihat Kevin bermonolog. Aku jadi teringat perannya di American Beauty. Pokoknya, akting Kevin di sini keren banget. Yang lain pun demikian.

Untuk endingnya, sangat mengundang untuk nonton season selanjutnya sesegera mungkin. Meski itu gak aku lakukan karena aku harus nyicil nonton series-series yang lainnya. Oh, I’m so busy with my series.

Di endingnya itu semua tokoh utama dihadapkan dalam berbagai konflik. Dan ini semua bikin aku bener-bener gemes. Aku senang karena akhirnya Zoe bisa bersatu dengan Janine dan Lucas. Janine adalah frenemy-nya dulu waktu di kantor lama. Nah kalo Lucas ini jujur aku agak-agak lupa. Yang jelas dia punya perasaan khusus untuk Zoe, yang bikin Zoe bingung harus ngapain. Frank dan Claire benar-benar dihantui oleh kematian Peter. Sayangnya Claire gak tahu siapa otak di balik kematian Peter. Seandainya dia tahu, kira-kira gimana perasaannya dia, ya?

Oh ya, kehidupan Claire juga menarik banget. Dia adalah sosok yang gak banyak omong, tegas, dan yang jelas independen. Aku jelas the opposite of her in so many ways. Dan yang bikin terharu, sekuat dan seindependen apa pun seorang wanita, keinginan untuk menjadi seorang ibu selalu muncul menggodanya. Makanya Claire selalu merasa ada yang hilang setiap kali melihat anak-anak Peter. Aku penasaran gimana ke depannya, akankah pasangan ini memutuskan untuk punya anak? Karena diceritakan Claire mengunjungi seorang dokter kandungan dan bertanya apakah usianya dan suaminya masih ideal untuk memiliki seorang anak. I wish you a very good luck, Claire… ❤

Claire juga orangnya dalem banget. Kadang dia suka memandangi seseorang yang gak dia kenal atau suatu benda dengan sorot yang sulit untuk diterka. Sungguh aku pengen tahu apa yang ada dalam pikiran Claire saat itu. Hal yang menarik lainnya adalah bahwa Claire masih suka berhubungan dengan kekasih jadi-jadiannya, Adam. Kenapa jadi-jadian? Karena Claire ini suka tarik-ulur terus sama lelaki satu ini. Entah gimana mereka bisa saling mengenal? Mungkin dari kerjaan, secara Adam suka ngasih foto-foto (dia fotografer terkenal, btw) ke Claire untuk dipajang di acara kemanusiannya Claire.

Nah, karena jumlah total season-nya untuk saat ini adalah empat season, aku harus buru-buru selesai nontonin semuanya. Ada kabar season limanya akan tayang di bulan Mei tahun ini. So, I need to catch up!

 

P.S I watched in on Netflix. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s