Petjah

Semenjak novel ini dipajang di rak buku Gramedia di Denpasar, mataku sudah terpatri padanya. Pertama, tentu karena kovernya yang supercantik dan superimut dan bikin pengen bawa ke kasir terus di baca begitu sampai di rumah. Yang kedua, adalah judulnya. Sumpah, kata Petjah itu benar-benar bikin penasaran. Itu seriusan ejaan lama untuk kata “pecah” kan? Lalu apanya yang pecah, sih? Karena hal pertama yang aku ingat dari kata tersebut adalah sebuah acara kuliner yang aku suka di Trans TV.

Kalau sudah ada dua hal yang bikin penasaran, kenapa nggak dibeli aja, sih? Jawabannya sederhana: karena aku lagi mengurangi beli buku fisik; karena rak bukuku udah kelebihan muatan; karena mungkin aja kan cuma kovernya yang cantik tapi isinya enggak; karena ini kan berawal dari Wattpad yang masih belum mendapatkan tempat spesial di hatiku (padahal belum banyak juga buku jebolan Wattpad yang udah kubaca). Selain itu, meski sinopsisnya yang simple dan cantik, mungkin aja jalan ceritanya cuma seputar cinta monyet anak remaja yang kadang bikin bosan, kan?

Tapi… aku terus dibayangi oleh novel itu. Sosok gadis di kover depannya terus menghantui. Aku penasaran seperti apa kisah hidupnya. Sedihkah? Lucukah? Bahagiakah? Untunglah aku ingat kalau ada toko buku digital bernama Scoop. Dan akhirnya aku memutuskan beli novel itu di sana.

Petjah bercerita tentang Nadhira, Dimas dan Biru, tiga murid SMA di sebuah sekolah ternama. Nadhira dan Dimas berada dalam kelas yang sama, kelas akselerasi. Seperti bisa diduga, mereka berdua siswa yang cerdas dan cenderung jauh dari masalah. Dimas sudah membenci Nadhira sejak hari pertama mereka masuk sekolah itu, tepatnya di hari ketika Nadhira melihat hasil ujian tes masuk SMA tersebut di mading. Peringkatnya berada di atas Dimas. Tanpa disadarinya, Dimas mengetahui hal tersebut dari kakaknya. Jadilah dia benci setengah mati pada Nadhira, padahal Nadhira sangat menyukai Dimas.

Biru adalah siswa kelas tiga di sekolah tersebut. Cowok ini mendapat julukan King of the King-nya sekolahan karena hobinya tawuran. Semua siswa jelas takut sama dia. Namun dia menaruh perhatian khusus pada Nadhira. Pertemuan mereka selalu terjadi di kala hujan turun, padahal saat itu bulan Juli. Dan setiap kali Nadhira harus berada dalam kondisi tersiram hujan, Biru selalu muncul di sana bersama payung birunya. Dia memayungi Nadhira dan hubungan di antara mereka pun mulai terjalin. Saat itu mereka belum menyadari bahwa takdir mempertemukan mereka untuk membuka kisah lama yang masih menghantui mereka hingga kini. Sebuah kisah yang tanpa mereka ketahui menjadi jembatan penghubung terbesar di antara mereka berdua.

Novel ini dibuka oleh sebuah ucapan terima kasih yang panjangnya nggak tanggung-tanggung: empat halaman! Kelihatan betapa penulisnya, Oda Sekar, punya banyak teman. Ya gak sih? Untung aja bagian ini terbilang seru, jadi nggak membosankan.Di setiap kepala babnya, Oda selalu menyertakan kutipan-kutipan dari sebuah puisi, buku atau orang ternama. Keputusan ini bikin aku selalu penasaran kira-kira apa kutipan di bab berikutnya.

Nah, berhubung aku belum pernah baca puisinya Lang Leav, lewat novel ini aku bisa dapetin beberapa contohnya. Ternyata biasa aja ya puisinya. Sederhana tapi nggak begitu memikat. Maklumlah, aku bukan penikmat puisi yang banget-banget.


Lembar demi lembar pun kubuka. Dan seperti yang sudah kuduga, ceritanya sangat khas anak muda. Bahasa yang digunakan pun benar-benar bahasa sehari-harinya anak muda. Nggak ada “serius-seriusnya” sedikit pun. Bahkan cenderung diarish gitu, yang kadang bikin nggak nyaman untuk dibaca. Aku mencoba maklum karena mungkin penulis mencoba menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran Nadhira, tokoh utama cewek di buku ini. Seperti yang kuketahui, POV-nya adalah Nadhira. Tapi nanti ada perpindahan POV, kok.

***

***

***

Selain itu ada juga beberapa bahasa yang menurutku aneh penggunaannya. Hal ini bisa disebabkan karena salah ketik dan kekurangtelitian dari pihak editor/penerbit. Apa pun alasannya, tetap aja hal tersebut bikin kenyamanan membaca berkurang dan kening berkerut-kerut, mencoba memahami apa maksud sebenarnya. Berikut beberapa yang sempat aku abadikan:

***

***

***

***

***

***

Tapi “kealayan” dan ketidaknyamanan dalam membaca ini nggak berlangsung sepanjang halaman, kok. Di beberapa bagian, Oda justru terlihat pandai merangkai kata. Terasa jauh berbeda sekali dengan gaya penulisan yang dia pakai di awal-awal cerita. Dan karena tokoh Nadhira, terlebih lagi Dimas, adalah sosok yang cerdas dan suka sekali dengan kimia, biologi, fisika dan matematika, maka nggak sedikit dialog-dialog yang mereka ucapkan mengandung analogi dari bidang ilmu tersebut. Duh, aku sampai tertegun sendiri bacanya. Cerdas banget. Dan aku nggak bisa menahan diri untuk tidak mengutip dialog dan kata-kata tersebut.

***

***

***

***

***

***

***

***

***

Cerdas, kan? Jelaslah, penulisnya kan memang siswi akselerasi yang sanggup menyelesaikan jenjang SMA hanya dalam waktu dua tahun! Keren! Lelucon di buku ini juga lumayan bikin ketawa-ketawa sendiri. Yang paling berkesan itu adalah lelucon berikut ini:

***

***

***

Ada beberapa bagian dari novel ini yang bikin aku jadi teringat Rangga dan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta. Habis film itu fenomenal banget, sih. Jadi tokoh Biru yang suka pada puisi, namun kepribadiannya cenderung tertutup dan sinis, ketemu Nadhira yang ceria dan sama-sama suka puisi,Β  bikin aku mau nggak mau jadi ngebanding-bandingin kedua tokoh ini.


***

***

***

Gimana menurut kalian? Pada teringat Rangga dan Cinta nggak?

Selain bikin terkenang pada tokoh lain, novel ini juga bikin aku mikir. Malah beberapa pendapatku sama dengan salah satu pemikiran tokoh di dalam novel ini. Contohnya soal menyontek. Dan sedikit banyak pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh para tokoh tersebut bikin aku menemukan sudut pandang yang baru.

***

***

***

***

Yang terakhir itu kesannya serius banget, ya? Padahal itu adalah pemikiran seorang anak SMA yang biasanya justru asyik memikirkan cowok atau dunia remajanya yang penuh keceriaan. Mungkin anak sekarang udah pada terbuka pikirannya. Nggak kayak zamanku dulu yang cenderung alay πŸ˜…

Seperti yang sudah disebutkan di atas, gaya penulisan Oda Sekar mulai berubah setelah melewati bagian awal erita. Bahkan semakin berbeda ketika mendekati akhir. Sangat dewasa untuk ukuran teenlit dan jauh lebih indah. Tak jarang beberapa pilihan katanya bikin aku terharu, terpukul, dan terhanyut dalam perasaan tokoh-tokohnya. Aku jadi galau sendiri.

***

***

***

***


***

***

Namun masih ada beberapa jalan cerita yang membuat aku bingung. Salah satunya adalah cerita tentang kakak kandung Biru bernama Nila. Seperti halnya kakak Nadhira yang meninggal muda karena tawuran, Nila juga mengembuskan napasnya pada usia yang sama. Bedanya ia melakukan bunuh diri karena tertekan oleh bully-an teman-temannya di sekolah. Menurutku cara Oda memberikan alasan kematian Nila kurang begitu meyakinkan. Masa sih gara-gara Nila jatuh cinta dengan angka, dia jadi dibully? Mauku, Oda menggambarkan seperti apa tepatnya bully-an tersebut. Bisa saja kan dibuat Biru mencari tahu “kejahatan” teman-teman kakaknya dari Erlangga sehingga bisa memberi contoh kata-kata kasar yang dilontarkan mereka atau mungkin kekerasan fisik yang Nila terima. Kalau cuma sekedar “dibully“, menurutku itu terlalu saru. Meski Nila cuma tokoh pendukung, aku berharap ada penjelasan yang lebih masuk akal namun tidak bertele-tele.

Ngomong-ngomong, aku jadi teringat suatu bagian di novel ini yang seharusnya serius atau bahkan sedih tapi justru terasa hambar buatku. Entah akunya yang lagi eror atau emang tulisannya aneh. Ini contohnya:

***

***

Yang nggak boleh ketinggalan untuk diabadikan tentunya adalah quote-quote yang punya arti istimewa buatku pribadi. Quote-quote di bawah ini ada yang berasal dari orang ternama yang memang dikutip oleh penulisnya, ada pula yang merupakan percakapan dari para tokohnya:

 

“Man is not what he thinks he is, he is what he hides.”

(Andre Malraux)

***

“Saya cuma mau kamu ingat satu hal, Biru. Berhenti bahagia hanya karena mereka sudah tidak ada, nggak akan membuat mereka kembali ke dunia. Jadi jangan pernah berhenti bahagia.”

***

“They said that time flies, but you keep breaking its wings.”

(Tablo)

***

“Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself.”

(George Bernard Shaw)

***

“Lucunya saya malah tidak suka hujan. Hujan itu bentuk kepasrahan paling bodoh, ya, kan? Dia mau jatuh, terserap tanah, merasa sakit hanya untuk kehidupan alam raya.”

***

“Terkadang ucapan dan keinginan itu berlawanan, Nadh. Orang yang meminta tolong dengan jeritan ‘jauhi aku’ atau ‘aku baik-baik saja’ itu banyak sekali, Sayang. Kamu yang mengenal Biru pasti lebih tahu apa dia memang butuh dibantu atau nggak. Kalau memang dia merasa bantuan yang kamu kasih sejauh ini nggak baik, berarti cara kamu yang belum tepat. Mungkin kamu terlalu menggurui? Atau kamu merasa hidup kamu yang paling benar dan hidup dia salah? Jadilah teman yang mengarahkan, Nadh. Bukan tukang sulap yang mengubah dia jadi proyeksi yang kamu harap.”

***

“Siapa pun yang membuat lo jadi begini, Nadh. Itu nggak lain nggak bukan cuma diri lo sendiri. Orang lain mungkin bisa berbuat apa saja, tapi izin untuk mengoyakkan hidup lo, itu adalah pilihan diri lo sendiri. Nggak jadi masalah lo nggak mau cerita sama gue dengan jujur tentang apa yang lo alami sekarang, tapi seenggaknya lo harus jujur sama diri lo sendiri.”

***

Dan sebelum aku menutup review novel ini, berikut aku abadikan tiga puisi yang benar-benar aku suka.  Selain ketiga tersebut, aku kurang begitu menikmati. Mungkin aku terlalu jatuh cinta sama puisinya Rangga, apalagi di AADC 1. Selain itu, aku juga bukan benar-benar penikmat puisi. Jadi abaikan saja pendapatku. 😌

***

***


***

Jadi kesimpulanku soal novel ini, sangat tak terduga! Aku mengira buku ini cuma kisah remaja kebanyakan yang begitu penuh drama dan kelabilannya. Ya, ada kalanya Nadhira labil, tapi porsinya sesuai sehingga bisa menimbulkan rasa empati padanya. Dan aku pun cukup terkejut ketika hubungan Biru dan Nadhira mulai berubah “kelam”. Dari cerita cinta biasa jadi naik ke tingkat yang lebih “dark“.

Dan sumpah aku penasaran apakah akan ada kelanjutan dari kisah Biru dan Nadhira karena beberapa dialognya seolah menyiratkan akan ada buku keduanya, seperti halnya Rangga dan Cinta.

“Saya akan bertemu lagi dengan kamu. Bukankah saya sudah tuliskan bahwa kelabu akan membawa awan untuk turun membentuk tetesan hujan kecil. Ini hanya tentang waktu.”

Karena aku sudah mulai mencintai tokoh-tokohnya, tentu aku berharap akan ada kelanjutan dari kisah ini. Pengen tahu gimana masa depan kehidupan mereka, baik itu dalam bidang profesional maupun cinta. Dan setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk memberikan buku ini empat bintang karena aku merasa Oda Sekar layak mendapatkannya. Dia masih muda tapi gaya penulisannya di beberapa bagian sangat matang. Intinya, aku ngiri sama dia, hehe. Aku aja nggak bisa bikin dialog-dialog seperti yang aku selipkan di atas. Memang sih latar belakang sangat mempengaruhi, tapi tetap aja.

Selain itu buku ini pun banyak menyimpan pesan-pesan untuk para generasi muda, bahkan generasi tua sekalipun. Pesanku, jangan langsung menyerah di bab-bab awal jika gaya tulisan yang “alay” bukanlah favoritmu. Lanjut baca sampai habis maka kalian akan merasakan apa yang kurasakan. Hopefully πŸ™‚

Last but not least, baru kusadari kalau Oda Sekar banyak menggunakan kata semesta di buku ini. Just saying πŸ™‚

 

Penulis: Oda Sekar Ayu

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tebal: 328 Halaman

Tahun: 2017

Edisi Digital SCOOP

Harga: Rp 50.400

Rating: 4 dari 5 Bintang

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s