The Little Paris Bookshop – Toko Buku Kecil di Paris

Jean Perdu adalah seorang pria jangkung berumur lima puluh tahun yang masih hidup melajang. Semenjak ditinggal kekasihnya tanpa alasan yang jelas,  dia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan kecil miliknya. Sebuah perpustakaan yang dibangun di sebuah kapal kecil di tepi sungai Seine. Perpustakaan itu diberi nama Literary Apothecary.

Di apartemen yang sama dengan Jean Perdu, tinggalah seorang penghuni baru bernama Catherine. Posisi kamarnya tepat berada di seberang kamar Perdu. Belum lama ini Catherine diceraikan dan didepak begitu saja oleh suaminya. Sehingga satu perabotan pun tak ia miliki untuk kamar barunya tersebut. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya. Maka Jean Perdu, atas saran penghuni yang lain, memberikannya sebuah meja, kursi dan vas miliknya. Ditambah sejumlah buku yang menurutnya bisa mengobati luka hati wanita itu.

Catherine menemukan surat di laci meja yang diberikan oleh Jean Perdu. Sebuah surat yang ditujukan pada Perdu. Surat tersebut adalah pemberian Manon, kekasihnya, sebelum ia pergi meninggalkan Jean. Selama dua puluh tahun Jean tak mau membuka surat tersebut, apalagi membacanya. Karena hatinya terlalu sakit dan takut untuk mengetahui isinya. Namun akhirnya dia membacanya. Penyesalan pun segera menyergapnya. Ia berharap sudah membaca surat itu secepatnya.

Isi surat itu membawa Jean Perdu pada suatu perenungan yang dalam mengenai kehidupan yang selama ini ia jalani. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan/petualangan bersama perpustakaan kapalnya.

“Seolah selama 21 tahun ini hidupnya mengarah ke momen berharga ini ketika menjadi jelas apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya dia lakukan sejak awal, bahkan tanpa surat Manon.”

Dengan kata lain, Perdu ingin mengalami secara langsung apa yang didapatnya dari membaca buku.

“Buku bisa melakukan banyak hal, tapi tidak segalanya. Kita harus menjalani sendiri hal-hal penting, bukan sekedar membaca. Aku harus… mengalami bukuku.”

Jean Perdu melakukan petualangan tersebut bersama Max, seorang penulis buku laris, dan kemudian ikut bergabung Cuneo, si tukang masak. Ketiga lelaki yang bergelut dengan masalahnya masing-masing, yang pada akhirnya dipertemukan dengan apa yang selama ini mereka cari.

Termasuk dalam petualangan itu, adalah keinginan Jean Perdu untuk menemukan sosok Sanary yang sebenarnya. Sanary adalah penulis buku Southern Lights, sebuah buku yang amat berarti bagi Jean Perdu. Dan dalam petualangannya itu, Catherine dan Manon selalu ada dalam pikirannya.

***

Sebelum lanjut ke review, pertama-tama aku mau bilang betapa aku sangat antusias dengan buku yang satu ini. Alasannya sederhana. Pertama, judulnya yang sangat menjanjikan. Lihat kan tulisanBOOKSHOP di kover itu? Kedua, tentu karena kovernya yang cantik. PINK! Dan ketiga, karena ini pastilah buku tentang buku. Pasti akan ada banyak judul buku yang disebut dan dibedah sedikit isinya di sini. Sangat menarik! Intinya, sedikit banyak aku udah bisa mengira-ngira apa yang akan kudapat dari buku ini.

Dari ketiga alasan di atas, ada satu hal lagi yang membuat aku tertarik untuk membaca buku ini. Aku merasa buku ini sedikit banyak bakalan mirip dengan buku berjudul Chocolat karya Joanne Harris. Memang sih aku belum pernah baca bukunya, tapi aku udah nonton filmnya. Di film tersebut diceritakan bahwa seorang wanita pengolah cokelat menggunakan makanan tersebut untuk mengobati keluhan-keluhan psikologis yang dimiliki oleh orang lain. Nah, berbeda dengan buku Chocolat, si tokoh dalam buku The Little Paris Bookshop ini menggunakan buku sebagai media penyembuhan keluhan-keluhan yang dimiliki orang lain. Secara garis besar lumayan mirip, kan?

Apalagi settingnya sama-sama di Prancis, one of the most beautiful cities in the world. Nama-nama tempatnya lumayan sulit untuk dihapal, kecuali Sungai Seine dan Menara Eiffel, lol. Aku nggak begitu berusaha untuk membayangkan suasananya, hanya sekadar aja. Tapi ada satu setting yang begitu mengena, karena tentu aja aku pun pengen merasakan sensasi membaca buku di tempat tersebut.

“… kursi berlengan berlapis kulit dengan bangku kaki di depan jendela kaca-tebal berukuran besar yang membingkai pemandangan Menara Eiffel.”

Kira-kira tempatnya seperti ini kali ya…. Well, nggak semewah ini juga, sih. Intinya seperti ini:

***

Bab awal sebuah buku adalah hal yang memiliki arti penting bagi pembaca. Novel ini, menurutku, memiliki pembuka yang cukup membingungkan. Mungkin karena udah terlalu lama aku nggak baca buku terjemahan, jadinya nggak bisa langsung menyelami kata-kata pembuka tersebut. Namun setelah selesai baca bukunya, aku coba baca halaman ini lagi, dan ternyata nggak sekabur dulu.
IMG_0828

***

Awalnya aku mengira buku ini hanya akan bercerita tentang Perdu bersama pelanggan-pelanggannya, dan bagaimana dia meresepkan suatu buku untuk menyembuhkan beban psikologis orang tersebut. Tapi ternyata jumlah pembahasan ini nggak sebanyak yang aku perkirakan. Mencukupi, tapi sebenarnya aku ingin lebih banyak lagi. Kisah dalam buku ini kemudian pindah haluan ke petualangan Jean Perdu bersama Max dan Cuneo. Seingatku Perdu masih menawarkan resep buku dalam petualangannya tersebut. Tapi sejujurnya ada rasa sebal karena Perdu lebih memilih untuk bertualang dan bukannya melanjutkan kisahnya bersama Catherine.

Awalnya pula aku mengira Catherine akan memiliki porsi yang seimbang dengan Perdu, tapi lagi-lagi dugaanku salah. Hubungan Perdu dan Catherine hanya terjadi di awal dan akhir cerita. Jadi bisa dibilang buku ini sulit ditebak jalan ceritanya, meski secara garis besar terbilang mainstream. Sepertinya penulis sudah terlalu lelah dengan para pembaca yang hobinya menebak jalan cerita, lol, makanya dia pengen buat yang benar-benar nggak terduga. Ini patut dipuji.

Mendapati cerita yang sering di luar dugaan, membuatku sesekali dilanda kebingunngan. Apalagi sudut pandangnya campuran (kalo nggak salah ingat). Kadang aku merasa lepas dari ceritanya. Nggak paham dengan alurnya, petualangannya, dan orang-orang yang ditemui Jean Perdu dkk pun terbilang “aneh”, menurutku.  Siapa pula penderita kanker dan penulis tua yang Perdu temui itu? Aku  nggak paham kenapa si koki tiba-tiba jadi ikutan dalam petualangan tersebut. Well, mungkin ini hanya masalah fokus dan nggak fokusnya aku sebagai pembaca, kali, ya.

***

Baca buku terjemahan selalu punya tantangan tersendiri buatku. Kadang aku merasa hasil terjemahannya agak sulit untuk dipahami. Aku jadi berpikir, apa memang kualitas terjemahannya yang bermasalah atau justru otakku yang nggak bisa menyerap kalimat-kalimat yang “rumit” itu. Sampai beberapa kali kubaca tetap aja aku nggak paham betul dengan maksudnya. Jadinya aku sulit untuk membayangkan suatu deskripsi atau narasi yang digunakan penulis. Berikut beberapa contohnya:

1.


2.

3.


Sedangkan untuk dua contoh di bawah ini, aku merasa ada kata yang kurang sehingga kalimatnya jadi terasa aneh:

1.

 

2.

IMG_0661

Dan cuma pengen ngasih tahu aja, kalau aku nggak suka sama jenis kalimat bertingkat seperti ini. Terlalu membingungkan:

Aku memang pembaca yang terlalu cerewet, ya.

Selain itu, aku juga berharap akan ada catatan kaki untuk menjelaskan istilah asing di buku ini, sesepele apa pun itu (Iya, aku memang banyak menuntut). Karena tahu nggak, aku sempat bingung kok tiba-tiba ada nama Maman disebut? Jadi di Prancis juga ada nama Maman? Kayak orang Sunda aja. Dan di buku ini sepertinya Maman adalah orang yang memegang jabatan penting.

Baru setelah membaca beberapa halaman berikutnya aku mulai menduga kalau Maman berarti ibu dalam bahasa Prancis. Itu jauh lebih masuk akal.

***

Tulisan yang mengalir itu pasti digemari setiap pembaca karena nggak akan bikin kening pembaca berkerut-kerut. Nggak semua orang bisa bayar treatment Botox, kan, lol. Nah, di buku ini lumayan sering aku merasakan penulisannya nggak mengalir se-smooth Sungai Seine. Terutama dalam hal perpindahan adegan. Lalu masuknya tokoh-tokoh baru kadang lumayan bikin aku memeras otak. Lagi-lagi pertanyaan yang sama aku lontarkan: apakah masalahnya terletak pada penulisannya atau pada kemampuan otakku untuk fokus?

Jadi, ceritanya aku tuh lagi asyik-asyiknya baca soal Jean Perdu yang jalan-jalan dan tiba-tiba ada seseorang bernama Joaquin Perdu masuk ke dalam cerita dan ngobrol akrab dengan Jean Perdu. Siapa sih dia, selain bahwa dia punya kesamaan nama dengan Jean Perdu? Ayahnya atau saudaranya? Lalu apakah adegan itu terjadi di masa sekarang atau mungkin Jean Perdu cuma sedang terkenang akan masa lalunya? Di satu titik aku mulai memahami bahwa Joaquin Perdu adalah ayahnya Jean Perdu. Namun dalam suatu penjelasan berikutnya aku kembali dibuat bertanya-tanya, sebenarnya siapa Joaquin Perdu sebenarnya? Ayahnya apa bukan, sih?

Berikut penjelasan yang bikin aku bingung lagi:

Jadi mungkinkah nama ayah Jean Perdu sewaktu masih muda adalah Jean Perdu? Lalu berubah menjadi Joaquin Perdu begitu dia menua? Karena nggak mungkin deh kalau Jean Perdu di atas mengacu pada Jean Perdu sang tokoh utama di buku ini. Selain itu ayah Jean Perdu si tokoh utama kan bukan polisi, melainkan pandai besi, dan ibunya jelas bukan penjahit konfeksi. Dan untuk menyederhanakan masalah, kayaknya Jean Perdu di atas cuma salah ketik, harusnya Joaquin Perdu.

Untuk memperkuat dugaanku, aku sisipkan deskripsi Jean Perdu, sang tokoh utama:

***

Ngomong-ngomong soal salah ketik, di novel ini juga aku menemukannya, tapi cuma sedikit, kok. Sayangnya, salah ketik yang nomor satu lumayan mengecewakan. Nama penulis tersebut seharusnya Muriel Barbery, bukan Muriel Burbery. Mungkin yang ngedit lagi lapar, jadi malah kebayang buah burbery, eh, blueberry, lol.

1.


 

2.The Little Paris Bookshop

 

3. img_0811

***

Sekarang aku ingin bercerita tentang karakter-karakter dalam novel ini. Karakternya tentu saja ada banyak, tapi yang kumasukkan di sini adalah si tokoh utama dan mereka-mereka yang menurutku paling berkesan di hati dan berpengaruh bagi si tokoh utama.

  • Jean Perdu

Dia adalah tokoh utama dalam buku ini. Pria berusia lima puluh tahun ini begitu mencintai buku. Dia tahu 30.000 cerita buku namun hanya memiliki 8.000 karya buku penting di Literary Apothecary. Dengan kata lain masih ada buku lainnya yang menurut dia nggak penting. Wah, 8.000 buku aja udah banyak banget, ya. Apalagi semuanya buku cetak, bukan digital. Bahkan mungkin ada yang hard cover.

Keseharian Jean Perdu adalah tipikal pria lajang yang sudah mati rasa pada sosok bernama wanita. Tapi justru hal tersebut yang bikin pria-pria jenis ini menarik, lol. Kita, kaum wanita, seolah tertantang untuk mencairkan hatinya dan mengubah rutinitas hidupnya yang bagi sebagian besar orang mungkin membosankan.

“Aku membaca buku ~ sekali baca dua puluh. Di mana pun: di toilet, di dapur, di kafe, di metro. Aku menyusun puzzle yang menutupi seluruh lantai, merusaknya setelah selesai, dan mulai lagi dari awal. Aku memberi makan kucing liar. Kususun bahan makanan berdasarkan abjad. Kadang-kadang aku minum pil tidur. Aku membaca sedikit puisi Rilke supaya bisa bangun. Aku tak suka membaca buku yang di dalamnya wanita sering ~ muncul tiba-tiba. Lambat-laun aku berubah jadi batu. Aku meneruskan hidup. Sama setiap hari. Itu satu-satunya caraku bertahan hidup. Tapi selain itu, tidak, aku tidak berbuat apa-apa.”

Hal menarik lainnya dari Jean Perdu adalah bahwa ia memiliki insting yg kuat dlm memilih buku yg cocok untuk calon pembelinya. Satu percakapan sudah cukup baginya untuk menyelami jiwa seseorang. Dia mampu melihat apa yang kurang dalam setiap jiwa. Sampai ke tingkat tertentu, dia bisa membaca postur tubuh, gerakan, dan sikap; apa yang membebani atau yang menekan jiwa. Dan yang terakhir, dia memiliki sesuatu yang ayahnya sebut transpersepsi.

“Kau bisa melihat dan mendengar menembus sebagian besar kamuflase orang. Dan di baliknya kau melihat semua hal yang mereka khawatirkan dan cita-citakan, serta hal-hal yang tidak mereka miliki.”

Kehilangan kekasih membuat Jean Perdu mencurahkan perhatiannya sepenuhnya pada perpustakaan kapal miliknya. Ia menamai perpustakaan itu Literary Apothecary. Pemilihan nama tersebut salah satunya terinspirasi oleh Erich Kastner, seorang penulis Jerman yang menerbitkan buku Lyrical Medicine Chest. Dalam prakatanya, Kastner menulis:

“Buku ini dipersembahkan untuk terapi kehidupan pribadi. Membahas ~ terutama dalam dosis penyembuhan ~ keberadaan penyakit ringan dan berat, serta membantu dengan ‘perawatan kehidupan rohani secara umum.'”

Begitu pula dengan Jean Perdu. Dia memiliki mimpi yang sama dengan Erich Kastner:

“Aku ingin mengobati perasaan yang tak diakui sebagai penyakit dan tak pernah membuat ahli terapi mana pun tertarik, karena tampak terlalu sepele dan abstrak. Perasaan yang menyapu kita saat musim panas lain hampir berakhir. Atau ketika kita menyadari bahwa seumur hidup kita belum mengetahui di mana kita harus menempatkan diri. Atau perasaan agak sedih ketika persahabatan tak berjalan sesuai harapan sehingga kita harus melanjutkan pencarian untuk menemukan teman seumur hidup. Atau perasaan gundah pada pagi hari ulang tahun. Nostalgia masa kecil kita. Hal-hal seperti itu.”

Jean Perdu mungkin bisa mengobati perasaan-perasaan negatif yang dialami orang lain, namun sayang, dia nggak bisa melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Hiks.

Meski aku ngefans sama Jean Perdu, tapi ada rasa sebal waktu baca narasi di bawah ini. Okay, mungkin lebih tepatnya jealous, karena Perdu bisa sebegitu cintanya sama Manon.

“Perdu merindukan tubuh Manon. Dia merindukan tangan Manon di bokongnya saat tidur. Dia merindukan napas wanita itu; gerutu kekanak-kanakan Manon bila dia bangunkan terlalu cepat pada pagi hari ~ selalu terlalu cepat tak peduli hari sudah siang.

Mata Manon mengawasinya penuh cinta, dan rambut halus, lembut, pendek, dan ikal Manon saat wanita itu merapat ke lehernya. Perdu sangat merindukan semua itu sampai-sampai tubuhnya kaku waktu dia berbaring di ranjang kosong itu. Dan juga setiap hari saat dia terbangun.”

Jean Perdu selalu menuliskan segala emosi yang ia rasakan dalam sebuah buku yang disebutnya The Great Encyclopedia of Small Emotions ~ Ensiklopedia Emosi-Emosi Kecil. Mengetahui ini, aku jadi punya ide untuk melakukan hal yang sama. Karena terkadang aku merasakan suatu emosi, tapi aku kesulitan menjelaskan apa sebenarnya emosi tersebut. Apa alasan utama aku merasakan emosi tersebut. Kadang aku menangis tanpa mengerti apa sebenarnya yang membuatku sedih, atau justru marah. Aneh. Jadi mungkin dengan menuliskan emosi tersebut bisa membantuku memahami lebih jauh apa yang tengah terjadi padaku. Thanks for the idea, Jean.

 

  • Maximilian Jordan

Lelaki yang satu ini biasa disapa Max atau Jordan. Buku debutnya begitu laris hingga dia dikenal banyak orang. Namun ketenarannya tersebut justru membuatnya tersiksa. Dia selalu menghindari para penggemarnya. Aksesoris khasnya adalah sumpal telinga buatan khusus yang dibungkus kain lembut. Aku lupa berapa umur Max, selain bahwa usianya kira-kira 15-20 tahun lebih muda dari Jean Perdu. Jadi aku selalu membayangkan dia seperti cowok kuliahan yang kemana-mana selalu pakai headset.

Meski digambarkan sedikit menyebalkan (berdasarkan sudut pandang Perdu), pada dasarnya Max memiliki kisah yang nggak kalah malangnya dengan Perdu. Dia merasa tak pernah dicintai oleh ayah kandungnya sendiri. Bahkan ayahnya tak menunjukkan rasa bangga sedikit pun dengan pencapaian yang sudah ia raih.

Ada percakapan di antara Jean Perdu dan Max yang masih membekas di hatiku sampai sekarang, karena ini berkaitan dengan isu KDRT:

“Kata ibuku, bukan maksud Ayah seperti itu; Ayah hanya tak bisa mengekspresikan cinta. Setiap kali memaki dan memukulku, Ayah menunjukkan cintanya yang besar padaku.”

“Sekarang Perdu memegang kedua pundak teman mudanya itu, menatap matanya, dan berbicara lebih tegas, “Monsieur Jordan. Max. Ibumu berbohong karena ingin menghiburmu, tapi konyol menafsirkan kekerasan sebagai cinta. Kau tahu apa yang sering ibuku katakan?” … “Dia berkata bahwa terlalu banyak wanita yang menjadi kaki tangan pria kejam dan tak berperasaan. Mereka berbohong demi pria itu. Mereka berdusta pada anak-anak sendiri. Karena ayah-ayah mereka memperlakukan mereka persis seperti itu. Wanita-wanita macam itu selalu menyimpan harapan bahwa cinta bersembunyi di balik kekejaman itu, agar kesedihan tak membuat mereka jadi gila. Padahal, yang sebenarnya, Max, tak ada cinta di situ.”

“Ada ayah yang tak bisa mencintai anak-anaknya. Menurut mereka anak-anak menjengkelkan. Atau tidak menarik. Atau merepotkan. Mereka kesal karena ternyata anak-anak berbeda dengan yang mereka harapkan. Mereka gusar karena anak-anak menjadi harapan istri untuk memperbaiki pernikahan ketika tak ada lagi yang bisa diperbaiki, menjadi alat memaksakan pernikahan penuh cinta padahal cinta itu tak ada. Dan ayah semacam itu melampiaskannya kepada anak-anak. Apa pun yang anak-anaknya kerjakan, sang ayah akan tetap bersikap buruk dan jahat kepada mereka.”

“Dan anak-anaknya, anak-anak yang masih kecil, rapuh, dan membutuhkan, melakukan segala yang mereka bisa agar dicintai. Segalanya. Mereka pikir mungkin entah bagaimana salah mereka sehingga sang ayah tak bisa mencintai. Tapi, Max, itu tak ada hubungannya dengan anak-anak. Kau sudah menemukannya dalam novelmu yang bagus itu. Kita tak bisa memutuskan untuk mencintai. Kita tak bisa memaksa orang lain mencintai kita. Tak ada resep rahasia, hanya cinta itu sendiri. Dan kita berada dalam belas kasihnya ~ tak ada yang bisa kita lakukan.”

 

  • Manon

Manon adalah wanita yang amat berarti bagi Jean Perdu. Dia orang yang telah membekukan hati Perdu selama kira-kira dua puluh tahun lamanya. Dia tipe petualang, baik dalam petualangan cinta/jiwa maupun alam. Uniknya, ada pemahaman mendalam mengenai pilihan Manon ini. Jadi sedikit banyak aku bisa mengerti kenapa Manon, dan orang-orang di luar sana, memilih untuk menduakan pasangannya. Meski begitu, aku nggak mau menganut aliran cinta Manon. Karena aku pribadi nggak mau diduakan. Siapa pula yang mau? Ah, tapi cinta itu terlalu sukar untuk dipahami. Iya, kan?

“Aku masih tetap terkejut setengah mati mengetahui bahwa cinta tak perlu dibatasi kepada satu orang agar bisa menjadi cinta sejati.”

***

“Aku harus bersama Jean karena dia bagian laki-laki dariku. Kami saling memandang dan melihat hal yang sama.

Luc adalah yang kudampingi, dan kami melihat ke arah yang sama. Tak seperti guru tango itu, kami tak pernah membicarakan cinta.”

Kisah hidup Manon sendiri terselip dalam narasi Jean Perdu atau dalam diari perjalannya yang sesekali dimunculkan di novel ini.

 

  • Luc

Tokoh yang satu ini cuma muncul sesekali, tapi efeknya luar biasa. Dia benar-benar pria berjiwa besar. Amat sangat besar. Aku rasa aku paham kenapa Luc harus tercipta untuk Manon.

“Kumohon jangan anggap pukulan itu karena kau tidur dengannya. Aku sudah tahu saat menikahinya bahwa satu laki-laki takkan pernah menjadi segalanya bagi Manon.”

Oh ya, sebenarnya ada dua tokoh lagi (bisa dibilang begitu nggak, ya?) yang terbilang unik di sini. Mereka adalah dua ekor kucing liar yang selalu menemani Jean Perdu di kapal perpustakaannya. Kedua kucing ini diberi nama berdasarkan nama pengarang, yaitu Kafka dan Lindgren, karena di buku tersebutlah kucing tersebut suka bergelung dan bermain. So cute.

  1. Kafka: Kucing jantan abu-abu dengan bulu putih mirip kerah di leher senang mengasah cakar di Investigations of a Dog karangan Franz Kafka, fabel yang menganalisis dunia manusia dari sudut pandang anjing.
  2. Lidgren: Kucing berbulu oranye-putih dan telinga panjang yang senang berbaring di dekat buku-buku Pippi Longstocking. Buku tersebut ditulis oleh Astrid Lindgren.

Hmm, mungkin suatu hari nanti kalau aku punya binatang peliharaan baru, mau aku kasih nama berdasarkan nama penulis atau karakter favoritku dari sebuah buku. Hermione Granger, misalnya? Atau Boxer.

***

Bagian yang mengharukan dari buku ini adalah waktu Perdu dan teman-teman berusaha menyelamatkan seekor rusa yang tenggelam. Juga salah satu kutipan dari surat Manon yang sangat menyentuh hati.

Bagian yang nggak begitu kusuka adalah bagian ketika menceritakan ibu-ibu yang juga menghuni apartemen yang sama dengan Jean Perdu. Pusing aja mendengar pembicaraan mereka yang lari sana lari sini. Salah satu contohnya adalah halaman pertama dari bab satu yang sempat kuunggah di atas.

***

Melalui buku ini juga, aku bertemu dengan beberapa kata baru dalam bahasa Indonesia. Jadi iseng aja kuketik biar selalu ingat:

  1. Menggusel: Menggelut, menciumi bertubi-tubi
  2. Ubub: Alat untuk mengembus api pada tungku pandai besi, berbentuk seperti pompa besar.
  3. Kelojotan: Kejang yang sifatnya bergantian kaku dan lemas secara cepat.
  4. Anorak: Parka tanpa kancing di depan, cara memakainya dengan memasukannya melalui kepala seperti kaus oblong.
  5. Ponton: Sampan yang rendah dan lebar untuk menggalang atau menyangga jembatan darurat, dsb.
  6. Serdawa: bunyi yang keluar dari kerongkongan. Buat kata yang satu ini sebenarnya aku udah tahu, sih. Cuma selama ini aku bilangnya “sendawa” bukan “serdawa.
  7. Harpun: Alat untuk menangkap ikan paus yang berupa meriam dengan peluru baja, ujungnya menyerupai ujung anak panah yang diberi tali.

***

Buku ini tebalnya 438 halaman, tapi ternyata sekitar 30 halaman terakhirnya adalah sisipan. Sisipannya pun terbilang unik dan sayang kalau nggak dibaca: yaitu berupa resep makanan khas Provence dan tentu saja buku-buku yang disarankan oleh Monsieur Perdu berikut petunjuk membaca dan efek sampingnya.

Buat resep aku sangat tertarik dengan 13 hidangan penutup khas Provence karena hidangan tersebut mewakili ketiga belas partisipan pada Perjamuan Terakhir (Yesus dan dua belas rasul). Kalau untuk buku, jelas aku tertarik dengan semuanya, dong. Ada beberapa buku yang udah kupunya dan bikin aku pengen segera baca, terutama The Elegance of the Hedgehog. Kovernya aja udah bikin penasaran banget.

Sebelum aku membuka halaman-halaman akhir, aku nggak tahu kalau penulis akan menyisipkan daftar buku yang disarankan oleh Jean Perdu. Jadi aku sengaja menuliskan buku-buku yang disebut di novel ini selama membaca. Ada beberapa buku yang penulisnya nggak kutemukan. Khusus buat Southern Lights dan Night, itu memang fiktif.

Berikut buku yang disebutkan dalam novel ini (mungkin ada yang nggak kecatat):

  1. 1984 by George Orwell
  2. When the Clock Struck Thirteen by Sheila K. McCullagh
  3. Night by Maximilian “Max” Jordan
  4. The Elegance of the Hedgehog by Muriel Barbery
  5. The Golden Compass by Phillip Pullman
  6. Lyrical Medicine Chest by Erich Kastner
  7. Investigation of a Dog by Franz Kafka
  8. Pippi Longstocking by Astrid Lindgren
  9. Southern Lights by Sanary
  10. Blindness by Jose Saramago
  11. The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde
  12. The Alpine Flora by Henry Correvon
  13. The Sexual Life of Catherine M. by Catherine Millet
  14. Provencal Knitting Patterns by Unknown
  15. The Lover by Marguerite Duras
  16. Jam Recipes from New York by Unknown
  17. The Delta of Venus by Anais Nin
  18. Little Bedtime Prayers by Ringelnatz
  19. A Song of Ice and Fire by George R.R. Martin
  20. The Enchanted April by Elizabeth von Arnim
  21. The Man Without Qualities by Robert Musil
  22. Harry Potter Series by J.K. Rowling
  23. Kalle Blomquist by Astrid Lindgren
  24. Lima Sekawan by Enid Blyton
  25. Diari Greg / Diary of a Wimpy Kid by Jeff Kinney
  26. Warrior Cats Series by Erin Hunter
  27. Houellebecq Economiste by Bernard Maris

***

Di bawah ini adalah kutipan yang menurutku merupakan pengetahuan yang penting buatku. Mungkin ini benar, tapi mungkin juga cuma asumsi penulis. Tapi aku memilih untuk percaya, hehe.

1.

“Gray itu sangat menghibur, aku cuma perlu waktu dua jam. Tapi kalau jadi Dorian, aku tidak mau melihat lukisan itu. Menimbulkan perasaan tertekan. Dan pada zaman itu belum ada Botox.

“Madame Gulliver, Oscar Wilde menghabiskan waktu enam tahun untuk mengarangnya. Lalu dia dikirim ke penjara dan meninggal tak lama setelahnya. Bukankah dia pantas mendapatkan lebih banyak waktu daripada dua jam?”

 

2.

“Tango adalah obat kebenaran. Membeberkan masalah dan obsesi kita, tapi juga kekuatan yang kita sembuyikan dari orang lain agar tidak menyakiti hati mereka. Tango menunjukkan arti pasangan bagi satu sama lain, bagaimana mereka bisa saling memperhatikan. Orang yang hanya mau memperhatikan diri sendiri akan membenci tango.”

 

3.

“Saudade” : kerinduan akan masa kecil, ketika hari-hari seolah menyatu dan berlalunya waktu tak memiliki konsekuensi. Perasaan dicintai dengan cara yang takkan pernah datang lagi. Pengalaman unik ditinggalkan. Segala yang tak bisa ditangkap dengan kata-kata.”

 

4.

“Konon, ada seorang wanita di Cuisery yang tahu akhir sesungguhnya dari banyak karya terkenal karena dia mengumpulkan draf terakhir dan draf-draf sebelumnya. Dia tahu akhir asli Romeo dan Juliet, buku di mana keduanya tetap hidup, menikah, dan punya anak.”

 

5. When You Wish

 

Aku dapat kutipan di atas dari Facebook dan aku nggak paham betul apa maksudnya. Padahal selama ini kan terkenal ungkapan  When You Wish upon a Star. Jadi yang mana yang benar?

Lalu di novel ini aku menemukan kutipan di bawah. Entah apakah ini benar-benar membantuku memahami kutipan di atas, but somehow… I think it helps me understand a lil’ bit. I suck at science, btw. T_T

“Max, tahukah kau bila sebuah bintang lahir, perlu waktu setahun untuk mencapai ukuran penuh? Kemudian menghabiskan jutaan tahun sibuk terbakar. Aneh, heh?”

 

6.

“Aku jatuh dari pohon waktu umur tiga belas, dan waktu diperiksa dalam salah satu terowongan itu, dokter melihat sesuatu: otakku tidak memiliki mesin pembuat-dusta. Aku tidak bisa menulis parabel irasional ~ kecuali jika, tentu saja, aku kebetulan bertemu unicorn dalam waktu dekat. Aku hanya bisa membicarakan hal-hal yang kualami sendiri. Aku tipe orang yang harus masuk ke wajan bersama kentang untuk memberikan pendapat tentang kentang goreng.”

Kutipan di atas membuatku mengerti kenapa aku nggak mau (bukan nggak bisa) buat cerita fantasi. Because I can’t lie! But I really wanna try this genre someday. 

 

7.

Konon, dengkur kucing bisa menambal kembali tulang-tulang yang retak dan menghidupkan kembali jiwa yang membatu; tapi setelah tugas mereka selesai, kucing akan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Mereka menyukai sikap bungkam, tanpa ikatan ~ tapi juga tanpa janji.

***

 

Akhirnya tiba pada perihal ratingku buat buku ini. Awalnya aku udah berniat untuk ngasih tiga bintang karena alasan yang udah kujabarkan di atas. Tapi sewaktu membuat review untuk buku ini dan menulis segala halnya semacam kutipan, dll, aku berpikir buku ini bagus juga. Banyak hal yang bisa didapat dari buku ini. Jadi aku naikkan jadi 3,5 bintang. Itu udah lumayan sih menurutku. Based on Goodreads standard, it means I almost really like it  XD

Oh iya, aku mau kasih tahu buat yang sering merasa risi dengan adegan dewasa dalam novel. Di buku ini juga digambarkan sedikit adegan seperti itu, tapi nggak terlalu berlebihan. Masih wajar, mengingat tokoh-tokohnya sudah dewasa. Jadi masih amanlah.

Dan aku berharap mereka-mereka yang bekerja di dunia buku, semacam pustakawan sampai pramuniaga sekalipun, bisa baca buku ini dan mengamalkan apa yang diucapkan Jean Perdu di bawah ini:

“… Perdu berpikir bahwa orang salah menganggap tugas penjual buku semata menjaga buku. Mereka menjaga orang-orang.”

“Buku itu dokter sekaligus obat. Buku membuat diagnosis sekaligus menawarkan terapi. Memberikan novel yang cocok untuk penyakit yang tepat; begitulah caraku menjual buku.”

Itu harapanku buat para pramuniaga di toko buku biar nggak kebanyakan bercanda kalau kerja dan juga buat para pustakawan. Sayangi buku yang kalian susun dan jadilah a great recommender.

 

QUOTES


“Kenangan itu seperti serigala. Tak bisa dikurung dengan harapan tidak akan mengganggu kita.”

***

“Kadang-kadang kita berenang dalam air mata yang tidak tumpah dan kita akan tenggelam kalau air mata itu tetap disimpan.”

***

“Jangan pernah menuruti rasa takut! Ketakutan membuatmu jadi bodoh.”

***

“Ketakutan mengubah tubuhmu seperti pemahat kikuk menggarap balok batu sempurna. Hanya saja kau ditatah terus dari dalam, dan tak seorang pun melihat sebanyak apa serpihan dan lapisan yang diambil darimu. Kau jadi makin kurus dan makin rapuh di dalam, bahkan sampai emosi yang paling ringan sekalipun bisa membuatmu terguling. Satu pelukan, dan kau mengira akan hancur dan hilang.”

***

“Buku takkan pernah berhenti mencintai pembacanya. Buku adalah titik tetap dalam dunia yang tak terduga. Dalam kehidupan. Dalam cinta. Setelah kematian.”

***

“…Begini, aku menjual buku seperti obat. Ada buku yang cocok untuk sejuta orang, ada juga yang hanya untuk seratus orang. Bahkan ada obat ~ maaf, buku ~ yang ditulis hanya untuk satu orang.”

***

“Buku menepis kebodohan. Juga harapan kosong. Dan pria-pria arogan. Buku menelanjangi Anda dengan cinta, kekuatan, dan pengetahuan. Itu cinta dari dalam.”

***

“… Sama halnya dengan wanita. Jangan menanyakan: ‘Bagaimana kalau kita pergi makan malam?’ Tanyakan: ‘Kau mau kumasakkan apa?’ Apakah wanita bisa menolak pertanyaan seperti itu? Tidak.”

***

“Dan bila seekor kuda mencintai kita, Jeanno, kita pantas menerima cinta itu sedikitnya seperti wanita mencintai kita. Mereka makhluk yang lebih hebat daripada kita kaum lelaki. Bila mencintai kita, mereka sekadar bermurah hati, karena jarang sekali kita memberi mereka alasan untuk melakukan itu.”

***

“Dan karena itulah sangat menyakitkan. Bila wanita berhenti mencintai, pria jatuh ke ruang hampa yang mereka ciptakan sendiri.”

***

“Jeanno, wanita bisa mencintai dengan cara yang jauh lebih pintar daripada kita kaum pria! Mereka tak pernah mencintai pria karena tubuhnya, meskipun juga bisa menikmati tubuh ~ dan amat sangat.” … “Tapi wanita mencintaimu karena karakter, kekuatan, kepandaianmu. Atau karena kau bisa melindungi anak kecil. Karena kau orang baik, kau terhormat dan bermartabat. Mereka tak pernah mencintai kita sebodoh laki-laki mencintai wanita. Bukan karena kau punya betis yang luar biasa indah atau tampak begitu memukau saat berjas sehingga mitra-mitra bisnis mereka menatap iri ketika mereka memperkenalkanmu. Wanita semacam itu memang ada, namun hanya sebagai contoh peringatan bagi yang lain.”

***

“Cinta adalah rumah. Semua yang ada di dalam rumah harus digunakan ~ tak boleh digudangkan atau disimpan. Baru setelah kita menghuni rumah sepenuhnya, tak menghindari ruangan dan pintu apa pun, kita benar-benar hidup. Bertengkar dan saling menyentuh dengan lembut sama pentingnya; demikian juga berpelukan erat dan saling menjaga jarak. Kita harus memakai setiap ruangan cinta. Jika tidak, hantu dan rumor akan berkuasa. Ruang-ruang dan rumah-rumah yang diabaikan bisa jadi berbahaya dan tercemar…”

***

“Kita kekal dalam mimpi orang-orang yang kita cintai. Dan orang-orang sudah mati yang kita cintai terus hidup setelah kematian mereka dalam mimpi kita. Mimpi adalah penghubung antardunia, antarwaktu dan ruang.”

***

“Wanita bercerita lebih banyak tentang dunia. Pria hanya menceritakan diri mereka sendiri.”

***

“Sungai tak seperti laut. Laut menuntut, sedangkan sungai memberi.”

***

“Kebodohan cintalah yang termanis.  Tapi yang harus dibayar paling mahal.”

***

“Kebiasaan adalah dewi yang sombong dan berbahaya. Dia takkan membiarkan apa pun mengacaukan aturannya. Dia menekan keinginan demi keinginan: keinginan bepergian, keinginan mendapat pekerjaan yang lebih baik atau pacar baru. Dia menghentikan kita menjalani hidup sebagaimana yang kita inginkan, karena kebiasaan menghalangi kita bertanya pada diri sendiri apakan kita terus menikmati  melakukan apa yang kita lakukan.”

***

“Dia tahu tak ada yang akan berakhir, bahwa semua yang ada dalam kehidupan mengalir ke dalam hal lain dan tak mungkin dia berbuat salah.”

***

“Kanker itu bernama Lupo. Itu nama yang Elaia berikan sewaktu umurnya sembilan tahun. Lupo, seperti anjing kartun itu. Dia membayangkan mereka hidup bersama dalam tubuhnya seperti teman serumah. Dia menghormati kenyataan bahwa Lupo kadang-kadang menuntut lebih banyak perhatian. Dengan begitu, katanya, dia bisa beristirahat lebih mudah daripada jika dia membayangkan Lupo ingin menghancurkannya. Untuk apa Lupo menghancurkan rumahnya sendiri?”

***

“Kita semua membawa mereka semua di dalam diri kita, semua yang telah tiada dan cinta yang hancur. Hanya mereka yang membuat kita utuh. Jika kita mulai melupakan atau menyingkirkan mereka yang telah pergi, kita… kita pun tak lagi hadir.”

***

“Segenap cinta, semua yang telah tiada, semua orang yang kita kenal. Mereka semua sungai yang memberi makan lautan jiwa kita. Jika kita tak mau mengingat, lautan itu juga akan mengering.”

***

“Kata Sanary, kau harus pergi ke selatan lewat sungai untuk menemukan jawaban atas mimpi-mimpimu. Dia juga berkata kau akan menemukan jati diri lagi di sana, tapi hanya jika kau tersesat dalam perjalanan ~ sungguh-sungguh tersesat. Merasakan cinta. Dilanda kerinduan. Mengalami ketakutan. Di selatan, orang-orang mendengarkan laut untuk memahami bahwa bunyi tawa itu sama, kadang-kadang jiwa perlu menangis agar bisa bahagia.”

***

“Hujan juga tak cukup untuk seluruh tanah,” begitu kata Papa; cinta adalah hujan, laki-laki adalah tanah. Lalu kita, wanita, apa? Kau memberi seorang lelaki dukungan dan dia tumbuh subur dalam genggamanmu; itulah kekuatan wanita.”

***

 “Kau masih terlalu kecil untuk itu. Akan kujelaskan setelah kau lebih tua.” Secara pribadi, aku tak percaya ada pertanyaan yang terlalu besar; kita hanya perlu  menyesuaikan jawabannya.”

***

 

Penulis: Nina George

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2017

Tebal: 438 Halaman

Edisi: DIGITAL SCOOP

Harga: RP 72.900

Rating: 3 1/2 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

2 respons untuk ‘The Little Paris Bookshop – Toko Buku Kecil di Paris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s