The Girl on the Train (Movie)

Waktu pertama kali mendengar kabar kalau novel The Girl on the Train akan difilmkan, aku luar biasa excited. Gimana enggak? Aku yakin aku bukan satu-satunya orang yang sangat menikmati membaca novel thriller/misteri karya Paula Hawkins tersebut. Dan kegiranganku semakin memuncak sewaktu trailernya rilis untuk pertama kalinya di IMDb. Gila! Yang main Emily Blunt! Aku udah jatuh cinta sama aktris yang satu ini semenjak pertama kali ngelihat aktingnya di film The Devil Wears Prada.  Sayangnya aku nyaris nggak pernah nonton di bioskop. Jadi yah cukup nunggu filmnya hadir di dvd, dan itu pun bajakan. So sorry. Seandainya Netflix dkk bisa lebih cepat memasukkan film-film baru ke koleksinya. Bahkan rental di iTunes atau Google Play pun belum tersedia sampai detik aku menulis artikel ini! Kok bisa lama ya? Kesusul sama film-film lain yang hadir belakangan. Entah karena faktor apa.

***

“We are tied forever now, the three of us. Bound forever by the story we share.”

***

Cerita berawal dari seorang wanita bernama Rachel Watson (Emily Blunt) yang menaiki sebuah kereta sebagai salah satu rutinitas hariannya. Dia selalu duduk di dekat jendela dan mengamati sebuah kompleks perumahan yang selalu dilewati jalur kereta. Tempat ini memiliki arti penting untuknya karena di sanalah ia pernah tinggal bersama mantan suaminya, Tom Watson (Justin Theroux), sebelum pria itu menceraikannya dan memilih menikahi selingkuhannya, Anna Watson (Rebecca Ferguson), yang tengah mengandung anaknya. Dari balik jendela itu, Rachel selalu mengamati kehidupan Anna bersama Tom dan juga anaknya yang saat itu sudah lahir.

Bukan cuma kehidupan Tom dan Anna yang Rachel amati, melainkan juga penghuni di sebelah rumah Tom, yang merupakan pasangan suami istri. Ada perasaan bahagia setiap kali ia memandangi kemesraan pasangan tersebut. Bagi Rachel, pasangan tersebut adalah impiannya yang terpaksa harus hancur karena kehadiran orang ketiga dan kenyataan bahwa dirinya tak bisa memberikan keturunan pada Tom karena kebiasaan minumnya.

Hingga suatu hari Rachel melihat si wanita (dari pasangan impiannya) berada di balkon bersama seorang pria yang bukan suaminya. Parahnya lagi, mereka berciuman! Dan rasa kaget, kecewa dan benci itu begitu saja muncul di dalam diri Rachel. Dia bahkan berniat untuk melabrak wanita itu karena sudah tega menghancurkan apa yang ia miliki, yang sesungguhnya begitu sempurna di mata Rachel.

Rachel semakin melibatkan dirinya dalam kehidupan pasangan tersebut ketika si wanita bernama Megan (Haley Bennett) itu dinyatakan hilang, dan akhirnya beberapa hari kemudian ditemukan tewas di sebuah hutan. Di tengah kondisinya yang selalu dipengaruhi alkohol, Rachel berusaha mengungkap siapa pelaku pembunuhan Megan. Ia tak bisa berhenti memikirkannya sekali pun ia nyaris diduga sebagai pelakunya. Dan kekeraskepalaannya ini membawanya ke sebuah rahasia yang selama ini selalu menghantui hidupnya. Yang membuatnya selalu merasa tolol dan tak berguna.

***

“Today I sit in a different part. And I look ahead. Anything is possible. Because I am not the girl I used to be.”

***

Temanku bilang alur dalam film ini mirip banget dengan versi bukunya. Begitu aku nonton, kayaknya sih iya. Seperti novelnya, film ini diceritakan dari tiga sudut pandang, yaitu Rachel, Megan dan Anna. Berhubung aku bacanya udah lama banget, kira-kira satu setengah tahun yang lalu, jadi aku nggak begitu ingat detailnya. Sebenernya ada untungnya juga sih karena aku jadi ikutan shock sama plot twistnya, terutama ketika mendekati akhir cerita.

Mengenai pemilihan pemainnya, sebagian besar aku puas dengan para pemerannya. Kecuali satu orang, yaitu Tom Watson yang diperankan oleh Justin Theroux. Aku merasa dia nggak cocok bersanding dengan Rachel atau Anna. Apalagi dia diceritakan sebagai lelaki yang suka “berpetualang”, sedangkan penampilan dia cenderung kaku dan serius. Kurang ganteng dan kurang macho juga.

Justin Theroux
Justin Theroux as Tom Watson

Aku baca di Wikipedia, awalnya Chris Evans yang mau memerankan Tom. Aku cuma hafal namanya tapi nggak begitu tahu wajahnya. Jadi aku langsung searching di Google mengenai sosok Chris Evans. Ternyata ini dia orangnya:

Chris Evans
Chris Evans

Wah, kalau secara fisik sih aku setuju banget dia yang jadi Tom. Nggak tahu kalau secara akting. Karena belakangan, aku akhirnya bisa menerima Justin Theroux sebagai Tom. Bukan sebagai cowok yang ganteng dan macho, lho. Tapi sebagai lelaki yang sadis dan pengecut dan manipulatif tingkat dewa. Mungkin di situlah pertimbangannya akhirnya Justin terpilih untuk memerankan tokoh Tom. It’s in your face, Justin.

Oh ya, satu hal yang kurang memuaskan dari peran Rachel adalah bahwa dia nggak segemuk yang aku bayangkan seperti waktu aku baca novelnya. Emily Blunt tetap kurus aja, tuh. Padahal aku antusias banget melihat perubahan berat badan Emily di film ini. Kira-kira akankah dia tampak seperti Renee Zellweger di film Bridget Jones’s Diary? Tapi seperti yang sudah kusebut, Emily Blunt tetap kurus seperti aslinya dia.

Karena penasaran apa aku salah baca, akhirnya aku coba cek lagi di novelnya. Ternyata memang benar Rachel itu seharusnya nggak kurus lagi:

IMG_0748
Kutipan dari novel The Girl on the Train mengenai ciri fisik Rachel Watson

Meski begitu, matanya Emily Blunt yang sayu dan bibirnya yang “lesu” (entah apa kata sifat yang tepat untuk menggambarkan bibirnya Emily) cocok banget untuk memerankan tokoh Rachel. Kalau masalah akting sih nggak usah diragukan lagi.

Emily Blunt
Emily Blunt as Rachel Watson

Peran Emily Blunt sebagai wanita alkoholik yang tengah berada di titik terendah kehidupannya dibawakan dengan sangat baik oleh Emily Blunt. Nggak kebayang betapa menderitanya Rachel. Pertama dia ditinggal suami, kedua dia juga kehilangan pekerjaannya karena kebiasaan mabuknya. Dia bahkan berpura-pura berangkat kerja setiap harinya demi menutupi penganggurannya dari teman sekaligus pemilik apartemen tempat dia tinggal. Malang banget nasibnya. Makanya dia jadi semakin kecanduan alkohol. Lihat deh kecintaan dia sama alkohol sampe segitunya banget.

Rachel.jpg
Rachel’s Pouring Whiskey into Water Bottle.

Biar malang, lama-kelamaan Rachel ini ngegemesin banget, but in a bad way. Terutama setelah Megan dinyatakan menghilang. Dia kelewat mempercayai perkiraannya tentang apa yang terjadi sebelum Megan menghilang. Udah tahu dia tuh kondisinya lagi mabuk berat, lupa-lupa ingat sama kejadian tepatnya, tapi dia luar biasa keras kepala dengan pendapatnya itu. Bego banget, deh! Sumpah! Tipe wanita seperti apa sih dia ini?! Kalau dipikir-pikir, Rachel ini ibaratnya ibu-ibu yang terlalu menghayati sinetron yang ditontonnya sampai dia gemas sendiri ketika ketemu sama si aktris di suatu tempat. Bawaannya pingin nyubit atau menjambak rambut si pemeran antagonis tersebut, lol.

Tapi setelah mendengar Rachel ngomong begini: “For the first time in ages, I have purpose.” aku langsung terharu. Selama ini dia nggak punya tujuan hidup, seolah ngambang. Suami nggak ada, pekerjaan juga hilang, sementara kasus hilangnya Megan bisa memberikannya fokus yang baru dan membuatnya nggak mabuk-mabukan lagi, minimal mengurangi. Aku setuju banget. Karena seperti yang pernah aku alami, tujuan dalam hidup itu luar biasa penting karena bisa memberikan kita arah. It makes you stay on track. So keep going, Rachel! Setidaknya penggangguranmu ada gunanya, kan.

Wikipedia menulis kalau Kate Mara sempat akan diikutsertakan dalam film ini, entah itu jadi Megan atau Anna. Kalau melihat dari raut wajahnya, aku yakin dia tadinya mau memerankan Megan. Itu berarti rambutnya harus blonde, dong. Kan dia aslinya redhead. Mmm, cocok sih. Dia terbilang seksi, tapi cenderung ke imut sih menurutku. Jadi terpilihnya Haley Bennett sangat aku dukung. Dia cocok banget jadi Megan.

Megan
Haley Bennett as Megan Hipwell

Sosok Megan nggak kalah membingungkannya dengan Rachel. Entah apa yang dia cari. Udah punya suami ganteng tapi dia masih aja suka mencari “kesenangan” di tempat lain. Kayaknya dia bisa seks sama siapa aja. Apa sih yang sebenarnya dia cari? Kepuasan macam apa? Namun semakin jauh film ini bercerita, sepertinya aku menemukan alasannya. Semua ini berkaitan dengan masa lalu Megan yang begitu traumatis. Bahkan setetes air yang jatuh di wajahnya akan membawanya kembali pada kisah kelamnya di masa lalu. Sangat menyayat hati. Hal tersebut pula yang membuat Megan enggan punya anak.

Sedikit banyak aku mengalami hal yang sama dengan Megan, meski bukan dalam bentuk bayi manusia, melainkan bayi kucing. Ketidaksengajaan telah menghilangkan nyawa mereka benar-benar masih menyisakan trauma buat aku pribadi. Aku sedih dan marah sama diri aku sendiri tiap ingat ketiga anak kucing yang masih sangat kecil itu. Forgive me…

Okay, back to the movie. Mengingat Megan yang begitu sulit ditebak dan selalu mencari kepuasan yang sepertinya nggak akan bisa dipenuhi oleh pria mana pun. maka sebaiknya yang jadi terapis Megan harus benar-benar kuat iman menghadapi pasien seperti dia. Karena tiba-tiba Megan bisa begitu menggoda dengan duduk di hadapan si terapis dengan pose seperti ini:

Girl on a Train, The
Megan During Her Therapy Session

Malah ada tingkah Megan yang jauh lebih parah lagi. Uuuh. Sayang aku nggak punya gambarnya. Ternyata di situlah tantangannya menjadi seorang terapis, ya. Sangat berat! Dan aku salut banget sama Dr. Kamal Abdic yang sudah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, meski ada bagian yang cukup membuatku dilema. Apakah tindakannya di suatu scene sudah tepat atau enggak, mengingat kondisi Megan yang saat itu sedang sangat labil. Namun aku pribadi cenderung berpikir Dr Abdic udah bertindak tepat. Karena ada kalanya seseorang harus memberikan apa yang memang dibutuhkan ornag lain, yaitu dukungan secara “kejiwaan” melalui sentuhan fisik. Asal jangan kebablasan aja, sih.

Megan & Abdic
Megan and Dr. Kamal Abdic

Seperti diceritakan dalam novelnya bahwa Anna dan Megan memiliki perawakan yang mirip, terpilihnya Rebecca Ferguson pun sangat tepat. Mereka memang terlihat serupa, apalagi kalau dilihat dari belakang. Dan, menurutku Rebecca juga lumayan mirip sama Chloe Grace Moretz. Hidungnya itu, loh. Sama bentuk wajah dan bibirnya juga. Malah aku sampe ngecek Wikipedia, siapa tahu ada hubungan darah di antara mereka berdua. Ternyata nggak ada, sih. Selain itu, aku sempat mengira pemeran Anna tersebut adalah orang yang pernah main sama Sandra Bullock di film Miss Congeniality dan Two Weeks Notice (waktu itu aku belum tahu nama aslinya dia) dan setelah kucek, ternyata namanya dia bukan Rebecca Ferguson, tapi Heather Burns.

 

 

Oh, well, karena ngomongin soal kemiripan artis yang satu dengan artis yang lain, aku jadi teringat sama Haley Bennett yang menurutku lumayan mirip sama Jennifer Lawrence, terutama di bagian matanya. Kedua mata mereka memang cenderung sipit, tapi sorotnya itu loh, setajam SILET!

 

Nah, kalau menurut novelnya setting berada di London, Inggris, di filmnya setting dipindahkan ke Amerika, tepatnya di Westchester, New York. Alasannya apa, aku nggak tahu. Mungkin karena sebagian besar pemain berada di Amrik kali, ya. Oh, dan aku baru tahu ternyata Emily Blunt pun udah punya kewarganegaraan Amrik dan kini tinggal di New York. Jadi mungkin itu alasan utamanya. Tinggal memboyong Paula Hawkins aja ke Amrik. Gampang, kan? Kalau aku nggak baca Wikipedia, aku nggak akan tahu kalau settingnya ternyata di Amrik, karena ya nggak bisa bedain, lol.

Background music yang dipakai dalam film ini menurutku terbilang sunyi. Nyaris nggak kedengeran, termasuk dalam adegan yang menegangkan. Bukan masalah besar, cuman jadi terasa sepi aja. Namun di sisi lain, film ini jadi terasa mencekam. Seolah penonton diminta menaruh perhatian yang serius sama film ini. Tapi hati-hati aja sih kalau nontonnya pas lagi capek, malah jadinya ketiduran.

Aku juga suka dengan nuansa kelam, warna yang redup, cenderung tanpa sinar matahari, dan dingin dalam film ini. Jadi lumayan seram. Beberapa scene dibuat seperti puzzle demi menjaga kemisterian alurnya. Sehingga penonton, apalagi yang belum pernah baca novelnya, akan mencoba menarik benang merah dari kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu dan masa kini. Jujur aku sendiri masih dibuat terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Martha (Lisa Kudrow). Masalahnya aku agak lupa sama novelnya, lol.

Btw, Lisa Kudrow udah kelihatan keriput banget di sini. Nggak apa-apa, sih. Mungkin dia menentang penggunaan botox demi tampil awet muda terus. Itu berarti dia nggak takut tampil alami dengan konsekuensi terlihat tua. Salut!

Bagian yang paling mengerikan dari film ini adalah adegan di mana kedua tokoh berada di hutan yang sepi. Sungguh sadis ketika salah satu dari mereka menimpa wajah yang lain dengan batu kali secara berulang! Duh, aku sampe nggak tega nontonnya. Rasanya seperti wajahku juga ditimpa batu kali tersebut. Sakit…

Buat endingnya… Mmm, perasaanku sama kayak di novel sih sebenarnya. Antara suka dan nggak suka. Antara konyol dan merasa bangga. Kenapa versi filmnya nggak dibuat lebih keren gitu ya? Bagiku salah satu tokoh wanita yang terlihat tanpa ekspresi di lantai dua, sementara dia melihat tokoh wanita lain nyaris kehilangan nyawa itu sesuatu yang agak mengecewakan, meski akhirnya dia bertindak nekat juga. Maka dari itulah aku bilang antara konyol dan merasa bangga, dan antara suka dan nggak suka.

Overall, aku mengapresiasi adaptasinya. Nuansa thriller dan misterinya cukup terasa. Dan meski udah baca novelnya, aku masih dibuat penasaran dengan jalan ceritanya. Patut ditonton!

Terakhir, ada satu dialog yang aku favoritkan di film ini. Dialog ini ditujukan untuk Rachel. Dialog ini bikin aku makin benci sama tokoh tersebut dan mengasihani Rachel. Dan jauh di sisi yang lain, dialog ini membuatku semakin mengagumi karakter seekor anjing.

 

 “You’re like a dog. Like one of those unwanted, mistreated dogs. You can kick them, but they keep coming back to you. Thinking that somehow if they’re good, you’ll love them.” 

***

 

 

Sutradara : Tate Taylor

Screenplay: Erin Cressida Wilson

Berdasarkan Novel Karya Paula Hawkins: “The Girl on the Train”

Produser: Marc Platt

Musik: Danny Elfman

Sinematografer: Charlotte Bruus Christensen

Desain Kostum: Michelle Matland & Ann Roth

Tanggal Rilis: 20 September 2016

Durasi: 112 Menit

Nonton di: DVD

Rating: 3½ dari 5 Bintang

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s