Dark Memories

Dari kovernya aja aku udah suka banget. So dark and at the same time sweet and awesome. Dan blurbnya membuatku berpikiran ceritanya bakalan murni mengungkap kematian sosok Anet. Ternyata bukan seratus persen begitu, sih. Namun ceritanya menurutku tetap kelam karena menceritakan peristiwa-peristiwa di balik topeng yang terpaksa dipakai oleh Ellanor selama beberapa tahun ini.

Gila, bisa ya seseorang berubah menjadi seperti itu. Awalnya dia pendiam dan menutup diri dan jauh dari kata anak nakal, tapi di balik semua itu dia memiliki kepribadian yang gelap. Seolah Ellanor memiliki kepribadian ganda. Mungkin iya, karena di bab pertama, subjudulnya aja Jekyll & Hyde dalam Diriku. Perlakuan lingkungan dan orang-orang di sekitar benar-benar bisa mempengaruhi seseorang, apalagi orang itu introvert seperti Ellanor. Well, rasa-rasanya bukan cuma orang introvert aja sih yang begitu. Loretta, Anet dan Arista nggak sependiam dan seintrovert Ella. Tapi mereka pada akhirnya bisa hancur juga. Semua cuma masalah waktu dan level tekanan yang mereka hadapi.

Dark Memories (2)

Justru yang hebat itu Icha, anak didiknya Ella. Meski masih kecil, tapi semangat dan rasa kepercayaannya pada orang lain patut diacungi jempol. Dia hanya ingin hidup untuk hari ini. Living in the moment. Itu juga yang pengen aku praktekin demi mengurangi beban dalam kehidupan. Tapi susah banget, ternyata, lol.

Waktu baca halaman demi halamann, kadang aku suka mikir, kok panjang banget ya narasinya? Kapan dialognya muncul? Aku kangen sama dialognya. Di novel Stephie sebelumnya, porsi narasi dan dialognya pas banget. Mungkin Stephie sengaja bikin begitu karena judulnya aja udah Dark Memories. Jadi disajikan dalam bentuk narasi yang terbilang padat. Untunglah narasinya enak untuk diikutin. Jadi aku nggak bosan-bosan amat.

Novel ini juga menunjukkan bahwa diantara kesulitan hidup, pasti kita memiliki satu orang yang amat mencintai kita apa adanya. Kita bisa menjadi diri kita sendiri di saat kita bersamanya. Di novel ini, sosok yang berperan demikian dan amat berarti bagi Ella adalah omanya. Aku senang banget tiap baca bagian yang menceritakan hubungan Ella sama omanya. Sayang Oma harus pergi meninggaklan Ella. Dan saat itulah monster di dalam tubuh Ella semakin berontak dan menjadi-jadi.

Ada satu kutipan yang aku paling suka dari novel itu:

“Jika kamu masih bisa bangun, mendapati kamu masih bernapas, itu artinya Tuhan menganggapmu berhak untuk mendapatkan satu hari lagi.”

***

 

Penulis: Stephie Anindita

Penerbit: Noura Books

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 280 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: 63.000

My rating: 3 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s