Hujan dan Cerita Kita

Membeli novel ini bukanlah sesuatu yang aku rencanakan sebelumnya. Mmm, memangnya sejak kapan juga aku selalu mengikuti daftar rencana buku yang mau di beli setiap kali pergi ke toko buku? Ujung-ujungnya pasti ada dua atau tiga buku yang akhirnya dibeli karena suka sama kovernya, lol. Salah satunya ya buku ini. Tapi bukan karena kovernya, sih.  Jujur aku kurang begitu suka karena terlalu sederhana. Melainkan karena label “Pemenang Ketiga Lomba Novel Wanita Dalam Cerita” yang tertera di kover depannya. Lombanya sendiri diadakan oleh penerbit Bentang. Dan pas baca blurb-nya, aku semakin yakin untuk memasukkan buku ini ke tas belanja.

Sampai rumah aku langsung baca dan semudah itu pula aku terhanyut dalam ceritanya. Sayangnya, karena aku lagi demam-demamnya Gramedia Writing Project, proses membaca novel ini sempat terbengkalai lumayan lama. Baru beberapa hari ini aku terusin lagi karena udah nggak sabar buat baca karya Stephie yang satunya lagi.

Novel ini berkisah tentang seorang wanita bernama Vania. Dia adalah seorang koas/dokter muda di sebuah rumah sakit. Koas artinya mahasiswa kedokteran yang sudah menyelesaikan jenjang sarjana S1 dan magang di RS untuk mendapat gelar dokter. Tanpa diduga dia bertemu lagi dengan teman semasa kecilnya yang penampilannya udah berubah drastis. Dulu dia gembul dan suka dibully, tapi hari itu dia ganteng banget dan udah jadi selebriti. Namanya Leonardo Andromeda.

Mereka mulai deket kayak TTM-an gitu. Vania sendiri naksir sama Echa, panggilan semasa kecilnya Leonardo. Tapi sayang Echa agak plin-plan orangnya. Pasalnya dia sedang berada di antara tiga pilihan! Aku sendiri lebih berharap Vania jadian sama Dokter Theo karena dia orangnya dewasa dan perhatian banget sama Vania. Beda banget sama Echa yang cenderung labil. Duh, udah plin-plan, labil pula! Huh, kenapa Vania harus tergila-gila sama lelaki seperti Echa, sih?!

20170702_091926

Akhir ceritanya tentu happy ending bagi Vania. Sayangnya, akhir ceritanya terlalu singkat. Terasa sekali terburu-burunya. Jadinya kurang romantis dan kurang berkesan.

Latar belakang penulis di bidang Kedokteran dan Forensik bikin cerita ini berbobot. Aku jadi mendapatkan tambahan wawasan mengenai kehidupan di rumah sakit, terutama berkaitan langsung dengan koas dan drama dalam dunia pekerjaannya. Cara penulis  menjelaskan istilah-istilah teknis dalam bidang kedokteran pun patut diacungi jempol karena begitu mudah dipahami, dan yang terpenting nggak mengganggu kenyamanan membaca.

Namun ada satu bagian yang bikn aku agak bingung, yaitu pas tahu-tahu si Helen mau dioperasi usus-buntu. Rasa-rasanya ada plot hole gitu di sana. Tapi setelah ingat penjelasan penulis soal keputusan Bentang untuk membatasi jumlah halaman, aku mencoba mengerti. Mungkin itu penyebabnya ada satu bagian yang agak kurang logis dan juga ending yang begitu singkat. Namun apapun itu, aku suka banget sama buku yang satu ini. Nggak nyesel udah memutuskan beli. Dan sesuai dengan labelnya, novel ini memang layak menjadi salah satu juara dari ajang tersebut.

 

 

Penulis : Stephie Anindita

Penerbit: Bentang

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 280 Hal

Edisi: Paperback

Harga: Rp 49.000

Rating: 4 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s