Hujan Daun-Daun

Pertama beli novel ini karena judul dan kovernya yang menarik perhatian. Iyalah, siapa yang nggak akan tergoda melihat warna hijau lemon yang cerah disertai daun-daun yang tertiup angin seperti di atas? Dan baca blurb-nya jadi makin tertarik karena waktu itu aku lagi pengen baca buku bernuansa misteri. Istimewanya, dari buku inilah aku akhirnya mengenal komunitas menulis online bernama Gramedia Writing Project.

Well, jujur aku baru menikmati cerita ini pas mau mendekati akhir cerita, yaitu waktu Tania mulai mencari keberadaan Tiana ke sebuah panti asuhan. Ada juga di bagian awal yang begitu menarik perhatian, yaitu waktu batang pohon mengetuk-ngetuk jendela. Nuansa horornya lumayan dapat. Tapi habis itu udah lempeng aja ceritanya. Kurang greget. Apalagi bagian Kakek, Nenek, Meilia, dan Alex. Menurutku feel-nya kurang dapet. Jadi cerita tentang mereka berasa kaku. Malah di akhir-akhir kok malah Si Nenek yang terkesan galak dan tegas, padahal di awal-awal itu justru Si Kakek yang begitu sifatnya.

Novel ini ditulis oleh tiga orang. Dan, menurut workshop menulis yang pernah aku ikutin, memang seorang penulis tidak diharuskan menghilangkan kekhasannya kalau bikin proyek bersama. Aku sih setuju-setuju aja. Masalahnya, aku jadi merasa kagok tiap kali baca kata “nggak” dalam sebuah narasi di novel ini, sementara di narasi-narasi yang lain dipakai kata “tidak”. Apa hal sepele ini pun dibiarkan aja sesuai keinginan penulis demi menjaga kekhasan gaya penulisannya, dengan risiko mengganggu kenyamanan pembaca? Saranku sih lebih baik disamakan aja.

Hujan Daun-Daun (2)

Aku juga kurang suka kalau ada suatu bagian cerita yang nggak jelas seperti apa kelanjutannya sedangkan isi novel sudah sampai di akhir cerita. Jadi, dengan kata lain, satu bagian cerita tersebut dibiarkan menggantung atau diserahkan kepada imajinasi pembaca. Terserah deh pembaca mau menganggap seperti apa nasib tokoh tersebut. Nah, di novel ini juga ada yang begitu. Memang bukan konflik utamanya, sih. Ini masalah orang yang mencuri lukisan warisan Alex untuk kedua anak kembarnya. Memang sempat diceritakan kalau Meilia mencurigai Bambang. Menurutku, daripada setengah-setengah, kenapa nggak sekalian dibuat aja bahwa Bambanglah pelakunya? Soalnya aku pengennya penulis yang menentukan itu, bukan aku. You’re the creator, lol.

Lepas dari semua kritikan di atas, aku salut buat ketiga penulis ini yang udah terbilang berhasil menggarap novel bersama ini. Karena aku mengalami sendiri gimana susahnya bikin cerita barengan. Good job, guys! 🙂

 

Penulis: Lidya Renny Ch, Tsaki Daruchi, Putra Zaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 246 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 50.000

Rating: 2 1/2 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s