Refrain

Udah lama sebenernya lihat novel ini dari sebelum kovernya diperbarui. Tapi aku baru niat beli karena udah ada filmnya dan kovernya cantik banget. Maklumlah, penggemar kover. Dan aku menahan-nahan diri biar nggak nonton filmnya duluan sebelum baca bukunya sampai selesai. Biar bisa ngebandingin pas nonton. Dan aku berhasil!

Well, novel ini menurutku nggak menyajikan konflik yang “wah” banget karena tema yang diangkat adalah indahnya dunia remaja. Begitu banyak hal yang baru dalam usia tersebut, dan salah satunya adalah cinta. Jadi mereka tentunya antusias banget mengenal kata yang satu ini. Cinta yang dibahas dalam novel ini adalah cinta pada pandangan pertama, cinta segitiga, dan yang paling utama adalah cinta yang datang tiba-tiba di antara dua sahabat yang tentunya sudah lama saling mengenal, yaitu Niki dan Nata. Jadi mereka ngerasa awkward gitu. Dan ada perasaan dikhianati juga di sana.

Biasanya cinta segitiga itu selalu rumit. Tapi itu nggak terjadi dalam novel ini karena satu pihak yang terlibat nggak begitu memaksakan perasaan cintanya. Dia hanya mencintai tanpa ada keinginan untuk dicintai kembali. Tulus banget. Dia juga berjiwa besar dan malah begitu bijak di antara ketiga orang tersebut.

Refrain

Selain ceritanya yang terbilang datar, tokoh antagonis di sini pun nggak begitu bikin gemas sampe bikin pengen nyobek-nyobek buku. Mmm, tapi untuk yang satu ini mungkin karena aku udah kena brainwash sinetron-sinetron lokal yang selalu menayangkan tokoh antagonis yang kelewat nyebelin, kejam, dan nggak ketulungan galaknya. Makanya begitu baca Helena  yang nggak sejahat mereka, aku jadi keki sendiri, lol.

Beruntunglah ada tambahan kisah di luar cinta, yaitu tentang Annalise dan kehidupan di rumahnya. Dia diceritakan sebagai anak model terkenal dan semua orang menilai kehidupannya sempurna, tapi pada kenyataannya nggak seperti itu. Malah, di luar dugaan, dia justru suka dibully di sekolahnya entah untuk alasan apa (Aku rada lupa ceritanya). Tapi mungkin karena sebenarnya mereka iri pada Annalise.

Dalam setiap novel pasti aku akan menemukan satu momen yang aneh. Untuk novel ini pun demikian. Yaitu ketika si Nata harus dibawa ke rumah sakit gara-gara ketabrak sampe jatuh dari sepeda. Dia kan harus dijahit pelipisnya sebanyak tujuh jahitan. Selebihnya dia cuman luka memar biasa aja. Emang perlu ya sampe dirawat di rumah sakit? Kan habis dijahit bisa langsung pulang? Nggak perlu buang-buang duit buat dirawat di sana? Kecuali dia memang pengen buang-buang duit aja, haha.

Terus kisah cinta Oliver sama si Sasha jadi bikin aku teringat sama kisah cinta Hua Ce Lei dengan seorang gadis sempurna di Meteor Garden, yang aku lupa namanya. Miriiiip banget. Dan yang jadi si Sanchai-nya itu, alias pelariannya, adalah si Niki. Kasihan ya Niki.

Udah, itu aja sih pendapatku soal novel ini. Gaya berceritanya sendiri cukup bagus dan mengalir. Kata-katanya sederhana, nggak bikin aku pusing. Dan baru aku tahu ternyata Winna Efendi novelnya udah buaaanyak banget! Kapan giliranku?

***

 

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Tebal: 317 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 46.000

Rating: 3 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s