Thirteen Reasons Why (Book)

Inilah rasanya ketika orang yang kau anggap teman memperlakukanmu seperti mainan. Dia bisa berbuat apa pun padamu karena kamu hanya benda mati di matanya.

Inilah rasanya ketika kau mulai kehilangan kepercayaan pada orang-orang di sekelilingmu. Tak seorang pun mampu membuatmu merasa aman. Tak ada tempat untukmu di dunia ini.

***

Novel ini bercerita tentang seorang siswi SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum pil sampai overdosis. Sebelum menghilangkan nyawanya, Hannah membuat tujuh buah kaset berisikan tiga belas alasan yang menyebabkan dia mengambil jalan tersebut. Tujuh kaset tersebut ditujukan kepada tiga belas orang yang namanya sudah masuk ke dalam daftar Hannah.

Clay adalah salah satu dari ketiga belas orang tersebut. Padahal Clay sendiri merasa tidak pernah melakukan apa pun yang menyakiti perasaan Hannah. Justru dia menaruh hati pada Hannah. Clay benar-benar mencintai Hannah.

***

Novel ini diceritakan dalam dua sudut pandang, yaitu Hannah dan Clay. Sudut pandang Hannah dibuat dalam cetak garis miring, sedangkan sudut pandang Clay dibuat dalam huruf tegak. Meski begitu, lumayan sering juga aku salah paham sama narasinya. Aku kira Clay yang ngomong, tapi ternyata malah Hannah, dan begitu sebaliknya. Jadi jangan sampai terlalu fokus sama jalan cerita sampai ngelupain bentuk cetakan hurufnya (atau justru malah bengong, haha) biar nggak salah paham dan bete sendiri karena harus baca ulang lagi.

Rekaman-rekaman awal Hannah terkesan begitu sinis sehingga Hannah cenderung menyebalkan di mataku. Aku rasa apa yang Hannah ungkapkan cuma masalah kecil doang, nggak perlu dibesar-besarin. Harusnya Hannah bisa menjelaskan yang sebenarnya, nggak usah cengeng kayak gitu. Lalu dia buat rekaman soal ini setelah bunuh diri? Hello... Kenapa bukan dari dulu aja waktu dia masih hidup ngelabrak mereka? Kenapa dulu lemah? Kenapa dulu bungkam? Dan banyak “kenapa” lainnya yang aku comelin.

Lama-kelamaan perasaan jengkel itu hilang. Aku mulai menaruh simpati pada Hannah. Apalagi cerita dalam rekaman Hannah makin ke sana makin bikin merinding, sesak dan menyakitkan. Nggak semua orang bisa menghadapi langsung orang yang dibencinya. Mereka biasanya menyimpan dendam itu dalam diri mereka atau baru bisa meluapkannya di ruang sepi, dengan menyakiti dirinya sendiri, dan banyak cara pasif agresif lainnya. Dan Hannah menurutku salah satu tipe tersebut. Sama kayak Zach. Dan aku baru tersadar kalau Hannah murid baru di sekolah dan lingkungan tersebut. Pasti tekanannya lebih berat lagi. So sorry, Hannah…

Setelah selesai baca bukunya, aku makin prihatin aja sama nasib Hannah. Kok bisa dia mendapatkan perlakuan seperti itu? Macam efek domino yang dahsyat, atau efek bola salju, jika mengutip istilah yang sering Hannah sebut dalam rekamannya. Dari satu gosip murahan merembet ke gosip yang lain, yang akhirnya membuat orang mempercayai gosip tersebut sebagai kenyataan dan Hannah pun mulai mendapatkan perlakuan-perlakuan yang nggak mengenakan, bahkan sampai pelecehan seksual! And it’s kinda surprising to know when the school that Hannah go to didn’t tolerate the discussion of suicide in their classes. Malah kelas Peer Communication yang membahas masalah semacam drugs, free sex dan sejeninsnya dianggap sebagai kelas yang cuma buang-buang anggaran sekolah aja. SeriouslyIs this school really located in America? I just don’t get it. Kayaknya ini salah satu daerah yang kolot kali, ya? Semacam Indonesia, lol.

Gaya bercerita Jay Asher menurutku to the point banget. Emosi Hannah dalam setiap rekamannya tersalurkan dengan baik. Salah satu contohnya ya kesinisannya itu. Aku benar-benar bisa merasakan apa yang Hannah rasakan. Perasaan tercabiknya mengenai ketidakmampuannya untuk mencegah ketika melihat temannya diperkosa, beban yang ditanggungnya ketika kesalahan sepele perihal rambu lalu lintas akhirnya merenggut nyawa salah satu siswa di sekolahnya. Dan yang paling mengerikan adalah kejadian bersama Bryce di hot tub di rumah Courtney. Belum lagi kejadian-kejadian menyakitkan hati dari kejadian-kejadian sebelumnya. Sekali lagi, bagaimana mungkin seseorang bisa tahan menanggung semua beban itu? Apalagi dia murid baru. Mungkin aku pun, dengan kepribadian yang sama persis dengan Hannah, pasti akan melakukan apa yang Hannah lakukan. Bukannya aku menyetujui apa yang Hannah perbuat terhadap dirinya sendiri. Aku hanya mencoba memahami pilihan Hannah. Karena sekeras-kerasnya batu, bila ditetesi air terus-menerus akhirnya akan retak juga, kan?

Meski di sini tokoh sentralnya adalah Hannah dan Clay, tapi aku cenderung memusatkan perhatianku hanya pada Hannah. Mungkin karena aku merasa Clay itu semacam medium yang merefleksikan emosi Hannah, padahal mereka adalah dua orang yang berbeda. Clay semacam pihak yang tugasnya memverifikasi pengakuan Hannah soal orang-orang yang Hannah sebut dalam daftarnya, sehingga wajar adanya kalau Hannah merasa tersakiti. Contohnya, Clay pernah bilang kalau Bryce itu memang suka memperlakukan cewek dengan seenaknya. Pada intinya, selain Clay adalah cowok yang memiliki reputasi baik dan terlalu penakut/cemen untuk mengungkapkan perasaan sukanya pada Hannah, aku nggak menemukan pemahaman yang lain soal Clay. Dia ketutupan banget sama Hannah. Tapi tetap aja ceritanya nggak akan asyik kalau nggak ada Clay. Dan seenggaknya dia udah berusaha, meski nggak maksimal, untuk mengerti dan mengungkapkan perasaannya pada Hannah, terutama waktu di pesta.

Penggambaran yang baik bukan hanya pada tokoh Hannah, tapi juga pada tokoh-tokoh pendukungnya, yaitu orang-orang yang Hannah sebut di dalam kaset rekamannya. Walau hanya digambarkan melalui beberapa narasi dan sejumlah dialog, mereka tetap terasa real. Mungkin selain karena kepiawaian Asher, bisa juga karena tokoh-tokoh tersebut sudah cukup sering aku temui dalam kehidupan sehari-hari atau dalam media lain, contohnya TV Series. Aku pribadi merasa beberapa tokoh di sini mirip dengan tokoh-tokoh di TV Series populer Pretty Little Liars, khususnya season satu (Yang kebetulan lagi aku tonton berbarengan dengan baca buku ini). Malah beberapa scene “nggak penting” di tv series itu pun bisa aku temui di novel ini. Nggak ada maksud membandingkan sih, cuma menyampaikan aja. Karena pada dasarnya ini kisah yang benar-benar berbeda.

Selain gaya bahasa, aku juga suka banget dengan bagaimana karakter-karakter dalam cerita ini saling terhubung. Begitu sampai di akhir cerita, rasanya kayak berhasil menggabungkan semua titik yang awalnya terpisah satu sama lain. Keren aja, gitu. Keterkaitan yang paling bikin shock/favoritku adalah keterkaitan antara Hannah, penghuni baru di rumah lamanya, Clay, rambu stop yang ditrabrak Jenny, dan kecelakaan fatal yang akhirnya terjadi karena rambu tersebut. Buset! Ini beneran cerdas! Luar biasa! Udah gitu kalimat Hannah waktu dia melihat penghuni baru di rumah lamanya kece badai gitu.

“Why he didn’t stop, why he didn’t ask why I was standing there staring at his house, I don’t know. Maybe he thought I was waiting for him to back out of the driveway before continuing on my merry way. But whatever the reason, it felt surreal. Two people—me and him—one house. Yet he drove away with no idea of his link to me, the girl on the sidewalk. And for some reason, at that moment, the air felt heavy. Filled with loneliness. And that loneliness stayed with me through the rest of the night. Even the best moments of the night were affected by that one incident—by that nonincident—in front of my old house. His lack of interest in me was a reminder. Even though I had a history in that house, it didn’t matter.”

Salah satu hal kecil dalam novel ini yang bikin aku terharu and in some ways it moves me, yaitu kejadian di mana seorang waiter di Rosie’s begitu peduli sama Clay, padahal dia nggak kenal siapa Clay, tapi instingnya mengatakan kalau sesuatu yang buruk sedang menimpa Clay. Makanya dia kasih gratis milkshake yang dipesan Clay. Seandainya aku menemui seseorang yang tampak lagi ada masalah besar, aku ingin bertindak seperti waiter tersebut. Karena aku yakin satu hal baik yang tampak remeh pasti akan berdampak luar biasa bagi orang yang sedang dirundung masalah.

Ini ucapan waiter tersebut pada Clay:

“I’m serious. It was only a milkshake. And like I said, I don’t know what’s going on, and I don’t know how I can help, but something’s clearly gone wrong in your life, so I want you to keep your money.”

Oh ya, aku lumayan penasaran sama narasi Hannah yang aku kutip di bawah:

“I was being a little sensitive, but I had hoped—silly me—that there would be no more rumors when my family moved here. That I had left the rumors and gossip behind me . . . for good.”

Apakah itu artinya Hannah juga pernah mengalami hal yang serupa di sekolah atau di lingkungan rumahnya dulu? Wah, wah, kalau iya, betapa malangnya nasib Hannah Baker. Seandainya dia nggak pernah naksir sama Justin Foley, kayaknya semua rumor itu nggak akan pernah muncul. Atau seandainya Clay lebih bernyali lagi sebagai cowok dalam mengungkapkan perasaannya pada Hannah, pasti Hannah nggak akan benar-benar merasa sendirian di dunia ini. Seandainya….

Satu hal yang menurutku kurang dari novel ini adalah penggambaran kehidupan rumah Hannah Baker. Cuma sedikit aja cerita soal kedua orangtuanya. Padahal menurutku itu elemen penting. Tapi, well, karena ceritanya disajikan dalam bentuk kaset rekaman, jadi itu sangat bisa dimaklumi. Cerita lebih fokus pada curahan hati seorang Hannah Baker tentang orang-orang yang menyakiti perasaannya. Penjelasan soal kedua orangtuanya yang terlalu disibukkan oleh bisnisnya dan ibunya Hannah yang bahkan nggak menyadari kalau Hannah udah potong rambut dirasa cukup untuk menggambarkan betapa terasingnya seorang Hannah Baker. Di mana pun dia berada.

Soal endingnya, wow, aku puas banget! By the way, novel yang aku beli ini adalah edisi deluxe 10th aniverssary. Dalam novel ini dihadirkan versi asli endingnya dan juga proses kreatif novel ini hingga akhirnya terbit di pasaran dan menerima respon yang luar biasa dari para pembaca. Seandainya editornya nggak pintar, pastilah ending original yang dipake, dan reaksiku bakalan “What the heck?! Seriously?” Aduh, itu endingnya beneran enggak banget! Bukan masalah Hannah yang nggak jadi mati, tapi dialognya itu sumpah aneh dan nggak banget! Norak! Merusak cerita tragis yang udah dibangun sebelumnya! Pembaca seperti ditipu mentah-mentah! Keputusan editor yang dipilih Asher benar-benar luar biasa! Begini kutipannya:

“Finally, the most emotional change of all . . . the ending. When my editor first received the manuscript, Hannah survived the suicide attempt. Out of respect for the seriousness of the issues presented in the book, I agreed to change the ending. Suicide is permanent, and it should feel that way. But people can change, and that is what Clay represents. So instead of wrapping up Hannah’s story with a potentially unbelievable twist, it is wrapped up with hope.”

Yup, aku begitu puas dengan endingnya karena kejadian tragis yang menimpa Hannah memberikan pelajaran kepada, khususnya, Clay dan mungkin pada orang yang lain. I see hope. I see Clay and Skye together, laughing at the same jokes in the halls. No more loneliness, no more avoiding people, and no more like an outcast.

Okay, setelah menuliskan panjang lebar pendapatku tentang novel ini, saatnya aku bikin rangkuman dari novel ini supaya aku lebih mudah connect kembali dengan cerita keren ini. Kan aku mau nonton seriesnya di Netflix. Rangkuman ini panjang banget pastinya, malah tadinya aku mau masukin jawaban diskusi yang terlampir di novel ini, tapi kayaknya itu nanti aja di pos yang lain. Dan karena ini berupa rangkuman, pastinya akan penuh dengan spoiler, dong. So don’t scroll down if you hate this thing, okay?

(Btw, Asher bilang di halaman awal buku disertakan map yang merupakan tempat-tempat yang dimaksud Hannah/red stars-nya Hannah, tapi punyaku kok  nggak ada, sih? Padahal aku pengen banget lihat mapnya. Or shoud I draw it myself? To test how accurate my imagination is? Well, I don’t draw. I write.)

***

 

Penulis: Jay Asher

Penerbit: Razorbill

Tahun Terbit: 2016 (Pertama Kali diterbitkan tahun 2007)

Tebal: 329 Halaman

Edisi: Kindle

Harga: $10,61 (Amazon)

Rating: 4 dari 5 Bintang

 

***

 

Sebelum menuju rangkuman/spoiler, let me lay out the characters popped out, which I was aware of, in this book. Because I don’t want to make anyone jealous, I listed them all based on appearances. 


CHARACTERS


  1. Clay Jensen: Cowok dengan reputasi yang baik, kesukaan orangtua mana pun, pintar, cenderung pendiam dan nggak mau ikut campur urusan orang lain. Dia terbilang cemen, sih, menurutku.
  2. Jenny Kurtz: Dia berada di kelas Biologi yang sama dengan Clay. Anggota cheerleader. Heboh. Manis. Nggak bertanggung-jawab. Suka menyepelekan masalah.
  3. Mr. Potter: Guru bahasa Inggris merangkap guru BK. Orangnya pengertian dan penyabar tapi sebagai guru konseling, sayangnya dia nggak berusaha lebih keras lagi dalam membantu siswanya yang sedang mengalami masalah, contohnya ya Hannah Baker. Tapi mungkin sudah takdirnya Hannah Baker.
  4. Hannah Baker: Cantik, ceria, mudah percaya pada orang lain karena sepertinya dia yakin semua orang itu pada dasarnya baik. Dia juga sensitif tapi sebenarnya mudah memaafkan kesalahan orang lain.
  5. Clay’s Mom: Dia terbilang ibu yang pengertian. Selalu percaya pada Clay, especially to all of his school projects bullshits, lol.
  6. Justin Foley: Seniornya Hannah. Jago main basket. Tinggi, tentunya. Tampangnya biasa aja (menurut Clay), tapi banyak cewek yang naksir. Kebiasaan Justin, selalu memandang keluar jendela, merenungkan sesuatu.
  7. Kat: Teman Hannah ketika baru pindah. Rumahnya sebelahan. Kat sering cerita soal Justin, yang katanya lagi pdkt sama dia. Pertemanan Hannah dan Kat berlangsung singkat karena Kat akhirnya pindah sebelum sekolah dimulai.
  8. Zach Dempsey: Temannya Justin. Sepengetahuan Clay, Zach anaknya baik (begitu pula pendapat Hannah). Cenderung pemalu dan sama-sama menyukai Hannah, seperti halnya Clay.
  9. Hannah’s Mom: Dia berbagi tips dengan Hannah cara memikat cowok, tapi di sisi lain dia curigaan sama Hannah, terutama kalau untuk masalah cowok.
  10. Tony: Temannya Clay, tapi nggak begitu dekat. Cinta banget sama Mustang warisan ayahnya, jauh melebihi cinta ke pacarnya. Jadi dia sering diputusin, haha. Tony punya Walkman, yang akhirnya “dicuri” Clay biar bisa dengerin rekaman Hannah lebih leluasa. Rumah Tony lumayan deket sama rumah Hannah. Kepada Tony pula Hannah menitipkan cadangan kasetnya.
  11. Tony’s Dad: Dia tipe ayah yang easy going, nggak suka formalitas, dan hobinya adalah ngoprak-ngoprek mobil Mustang sama Tony.
  12. Alex Standall: Dia awalnya teman Hannah, namun kemudian jadi “lawan”.
  13. Jessica Davis: Teman Hannah (tadinya). Dia juga sama-sama muncul di daftarnya Alex, but for the “NOT”/WORST part. Padahal menurut Hannah, Jessica jauh lebih cantik segala-galanya dari dirinya. Jessica juga orangnya cepat akrab dan terang-terangan.
  14. Wally: Kasir di Blue Spot Liquor. Hannah bilang wajahnya mirip walnut, mungkin karena terlalu banyak merokok. Orangnya juga nggak banyak omong.
  15. Ms. Antilly: Salah satu guru BK di sekolah Hannah.
  16. Waitress/kasir di Monet’s: Dia punya tato berbentuk dua garis hitam yang melintang di tulang selangkanya. Rambutnya dicrop.
  17. Tyler Down: Cowok yang suka dunia fotografi dan juga suka ngintipin Hannah dan mengambil gambarnya tanpa minta izin Hannah.
  18. Courtney Crimsen: Menurut Hannah, dia gadis yang cantik, rambutya bagus, kulitnya indah, senyumnya manis. Ramah ke semua orang. Dan dia juga salah satu gadis populer di sekolah.
  19. Skye Miller: Cewek yang sempat ditaksir Clay waktu di kelas delapan. Clay bilang dia cantik, tapi Skye sendiri sepertinya nggak pernah menyadari itu. Penampilannya kini cuek dan sering pakai baju yang longgar. Dia cenderung penyendiri.
  20. Marcus Cooley: Teman sekolah Clay. Dia yang ngasih batu ke Clay untuk dilemparkan ke jendela Tyler, tapi Clay menolak melakukannya. Menurut Hannah, Marcus orangnya rada malas kalau urusan sekolah, tapi lumayan lucu. Ngakunya dia nggak ada di dalam rekaman, tapi ternyata ada, tuh.
  21. Ms. Benson: Seorang guru yang sempat melihat foto Courtney dan Hannah di pesta dan bilang dia nggak tahu kalo Hannah dan Courtney temenan.
  22. Bryce Walker: Pertama disebut oleh Clay ketika cowok ini datang ke bioskop dengan pacarnya. Tapi dia memperlakukan pacarnya dengan buruk. Dia juga seenaknya gitu sama perempuan lain. He likes saying “Just relax. It was a joke.”
  23. Mrs. Bradley. Guru Peer Communication. Tegas dan bisa dibilang favorit para murid. Di kelas dia punya peraturan yang unik.
  24. Ryan Shaver: Editor The Lost-N-Found Gazette. Suka dan jago buat puisi.

***

 

“SPOILERS ALERT”!!! Di sini aku akan menjabarkan perkasetnya, mengenai apa aja yang Hannah bicarakan. Kalimat dalam bahasa Inggris yang ada di awal dan akhir rangkuman adalah kalimat pertama dan terakhir yang diucapkan Hannah, atau kalimat yang menurutku cocok untuk dijadikan sebagai gambaran perasaan Hannah, terutama pada orang yang terdapat dalam rekaman tersebut. So, let’s get down to it.

 

KASET 1: SISI A

“Hello, boys and girls. Hannah Baker here. Live and in stereo.”

Bagian ini bercerita tentang Justin Foley, senior Hannah di sekolah, yang juga menjadi ciuman pertamanya. Dia adalah awal “nestapa” dalam kehidupan Hannah.

“Justin, honey, you were my very first kiss. My very first hand to hold. But you were nothing more than an average guy. And I don’t say that to be mean – I don’t.”

Hannah menceritakan awal kedekatannya dengan Justin, yang dikenalnya lewat Kat, meski nggak secara langsung. Saat Kat pindah, ketertarikan Hannah pada Justin semakin menjadi-jadi. Bahkan dia bisa dibilang stalker gitu. Hingga akhirnya Justin menyadari keberadaan Hannah dan balas menunjukkan ketertarikan. Suatu hari Justin menelepon ke rumah Hannah. Mereka akhirnya sepakat ketemuan di Eisenhower Park, tepatnya di bawah perosotan berbentuk roket. Dan di sanalah ciuman pertama yang sudah diimpikan Hannah bersama cowok yang disukainya terjadi.

Rocket Ship in the Park

Namun keesokan harinya beredar gosip soal pertemuan itu. Gosip itu bilang Hannah membuka bajunya dan membiarkan Justin menyentuh branya. Lalu hal tersebut berlanjut menjadi jauh lebih intim. It said Hannah got felt up at the rocket slide! Dengan kata lain, Justin membumbui habis-habisan soal ciuman pertamanya dengan Hannah. Padahal ciuman itu tulus dan wajar, persis seperti yang Hannah impikan tentang ciuman pertamanya. Bukan ciuman penuh nafsu seperti yang digembar-gemborkan Justin pada teman-temannya.

Gosip tersebut mau tak mau membuat Clay berpikiran kalau dia dan Hannah berada dalam tingkat yang berbeda. Hannah dinilainya begitu “berpengalaman”, jadi mana mungkin Hannah bisa tertarik sama dia yang kesannya kuper.

“No. A rumor based on a kiss ruined a memory that I hoped would be special. A rumor based on a kiss started a reputation that other people believed in and reacted to. And sometimes, a rumor based on a kiss has a snowball effect.”

“A rumor, based on a kiss, is just the beginning.”

 KASET 1: SISI B

“Welcome back. And thanks for hanging out for part two.”

Kaset kedua bercerita tentang Alex Standall, cowok yang “dengan isengnya” bikin daftar “terbaik” dan “terburuk” soal fisik para murid cewek di sekolahnya. Dan dia juga yang ngevote Hannah sebagai “Bokong Terbaik di Kelas Satu”

Candy Bars

Clay sendiri sempat tertawa dan terkagum-kagum mengetahui Hannah mendapat “penghargaan” itu. Di pikirannya, betapa cepatnya Hannah terkenal, secara dia kan murid baru. Dan ya, dia setuju dengan terpilihnya Hannah karena dia sudah melihatnya sendiri. Memang dasar cowok, ya. Mau pendiam, mau blak-blakan, sama aja kesukaannya. Well, it is destined, after all. Yang jelas, Hannah nggak bangga sama sekali dengan predikat tersebut.

Hannah menganggap itu cuma lelucon, namun di sisi lain Hannah merasa Alex justru memanfaatkannya untuk melukai Jessica (You’ll know the complete story of them in the next tape). Tapi gara-gara “lelucon” Alex ini, Hannah mendapatkan perlakuan yang nggak mengenakan dari teman sekolahnya. Someone grabbed her as right there at the Blue Spot Liquor. Dan untuk pertama kalinya Hannah mendengar Wally bersuara, seperti decakan. Hannah tentu aja nggak terima diperlakukan begitu. Dia menepis dan memasang wajah marah. Namun dengan entengnya cowok itu bilang kalau dia cuma bercanda. Brengsek, kan?!

Clay yang melihat nama Angela dalam daftar tersebut sebagai bibir paling seksi, jadi terus kepikiran sama bibirnya Angela. Bahkan mereka akhirnya ciuman! God, that list! Nggak jauh beda dengan cowok-cowok di Indonesia yang dulu selalu ngejawab “Dian Sastro” setiap kali ditanya siapa cewek paling cantik menurut kalian, cuma karena nama Dian Sastro masuk ke dalam list di sebuah majalah pada masa itu. Begitu pula saat masanya Luna Maya mulai berjaya. Jawabannya mulai ganti semua jadi Luna Maya. Seolah mereka nggak punya standar sendiri. Payah!

“Alex, am I saying your list gave him permission to grab my ass? No. I’m saying it gave him an excuse. And an excuse was all this guy needed.”

 KASET 2: SISI A

“We’ve already finished one tape—both sides—so stick with me. Things get better, or worse, depending on your point of view.”


_MG_1531
Dalam kaset ini, Hannah bercerita tentang Jessica Davis. Kalau bukan karena ulah Ms. Antilly, mereka nggak akan saling kenal. Yup, Ms. Antilly sengaja memasangkan Jessica dan Hannah sebagai teman, karena di pikirannya supaya para murid baru bisa cepat beradaptasi dan nggak canggung dengan lingkungan baru mereka. Tempat nongkrong pertama mereka adalah sebuah kafé bernama Monet’s. Di sana pula mereka mulai mengenal Alex, yang tadinya mereka kira bukan anak baru. Namun perlahan-lahan pertemanan itu memudar entah karena alasan apa, sehingga mereka mulai semakin jarang ngumpul bareng di Monet’s. Satu hal yang Hanah yakini: ada hubungan yang lebih di antara Jessica dan Alex.

Hingga suatu saat Jessica datang menemui Hannah dan ngajak ketemuan di Monet’s. Hannah udah senang duluan karena mereka akhirnya bisa ngumpul lagi. Tapi sesampainya di Monet’s, Jessica justru langsung menunjukkan list yang dibuat oleh Alex, di mana dia berada dalam kategori No Hot buat bokongnya. Sedangkan, as you already know, Hannah terpilih sebagai yang ter-hot. Jessica mulai berpikiran kalau Hannah ada kencan sama Alex. Hannah menjelaskan bahwa nggak ada hubungan apa pun antara dia dan Alex, tapi Jessica tetap nggak mau percaya. Dia udah tutup telinga rapat-rapat. Tanpa diduga Hannah, Jessica mencakar bagian wajahnya dengan begitu geramnya! Hannah benar-benar kaget dan nggak menyangka kalau pertemuan mereka justru berakhir seperti itu.

“But it’s more than just a scratch. It’s a punch in the stomach and a slap in the face. It’s a knife in my back because you would rather believe some made-up rumor than what you knew to be true.”

KASET 2: SISI B

“Sometimes there’s no one around to tell you to be quiet . . . to be very, very quiet. Sometimes you need to be quiet when you’re all alone. Like me, right now.”

Kaset ini bercerita tentang si tukang ngintip bernama Tyler Down. Hannah tahu soal ini ketika dia sendirian di rumahnya sementara kedua ortunya lagi ke luar kota. Uniknya, kaset ini direkam Hannah tepat ketika Hannah sedang mengintip Tyler, demi merasakan sensasi mengintip orang.

Hannah memang punya kebiasaan membuka sedikit tirai di kamarnya untuk menikmati cahaya bintang dan bahkan kilat di saat hujan. Waktu merasakan ada orang yang mengambil gambarnya, Hannah nggak berani telepon polisi saat itu juga karena takut dia bakal dicelakai. Besoknya dia kasih tahu soal ini ke satu temannya di kelas.

Teman tersebut, yang nanti namanya akan disebut lagi dalam rekaman lain, dan yang sebenarnya nggak begitu dekat dengan Hannah, sengaja menginap di rumah Hannah untuk menangkap basah Tyler. Dia punya ide untuk di massage oleh Hannah demi mengesankan bahwa mereka lesbian. Suara klik kamera pun beberapa kali terdengar dan akhirnya berhenti. Saat itulah Hannah membuka jendela untuk menangkap basah Tyler, tapi sayangnya Tyler berhasil kabur. Namun teman Hannah sempat melihat apa yang tadi sedang dilakukan Tyler. He had a hard-on!!!

“So how important is your security, Tyler? What about your privacy? Maybe it’s not as important to you as it was for me, but that’s not for you to decide.”

 

KASET 3: SISI A

“Courtney Crimsen. The name sounds almost too perfect. And as I said, you look perfect, too. The only thing left . . . is to be perfect.”

Seperti nama yang tertulis di atas, di kaset ini Hannah mengungkapkan perasaannya terhadap Courtney Crimsen. Cewek yang namanya sengaja disembunyikan di Kaset 2 Sisi B, pada cerita Tyler. Yup, Courtney adalah cewek yang menginap di rumah Hannah untuk menangkap basah ulah Tyler. Lalu apa masalahnya dengan Courtney?

Masalahnya adalah Hannah merasa Courtney itu fake. And she never did say good-bye. Segala sikap ramah dan manis yang ditujukan padanya selama ini cuma akting. Salah satu tujuannya, biar dia terpilih jadi gadis yang paling disukai dan namanya tercatat di buku tahunan. Intinya, Courtney cuma mendekati Hannah kalau lagi ada perlunya aja. Salah satunya waktu dia ngajakin Hannah pergi bareng ke pesta. In fact, she just needed a ride. So predictable.

Beer Cup
Selama di pesta, Courtney sibuk dengan cowok-cowok sedangkan Hannah dia tinggalin aja sendiri. Courtney juga cerita-cerita ke para cowok tersebut kalau Hannah punya sesuatu di laci lemarinya. Btw, “sesuatu” yang dimaksud di sini adalah karangan Courtney sendiri waktu berusaha menjebak Tyler dan sepertinya mengarah ke hal yang sensual, tapi nggak dibilang juga sih “sesuatu” itu apaan. Yang jelas cowok-cowok yang dengar cerita dari Courtney tersebut jadi penasaran sama Hannah. Pertanyaannya, kenapa Courtney berani-beraninya cerita sama orang lain seolah “sesuatu” itu beneran ada? Apa maksudnya? Padahal itu kan cuma karangan dia! Jelas ini bikin Hannah makin naik pitam. Hannah udah bosan dengan segala cerita bohong tentang dirinya.

Di pesta itu Hannah ngelihat Tyler yang sibuk dengan kameranya. Dia bagian fotografi untuk buku tahunan. Hannah punya ide. Dia lalu mengajak Tyler menemui Courtney dan memintanya untuk memotret mereka berdua buat bahan buku tahunan.Tapi Courtney nggak mau berfoto sama Hannah.

“Why not, Courtney? Why did you invite me here? Please don’t tell me I was just a chauffeur. I mean, I thought we were becoming friends.” … “If you ever want to borrow anything from my dresser, Courtney, all you need to do is ask.”

Mendengar Hannah ngomong begitu, Courteny nggak bisa berbuat apa-apa sementara Tyler mengambil gambar mereka. Di foto tersebut, tangan Hannah merangkul pinggang Courtney sambil tertawa, sedangkan Courtney terlihat gugup. Foto inilah yang ditemukan Clay di buku orat-oret di Monet’s.

Habis berfoto, Hannah lalu pulang ninggalin Courtney. Lucunya, Tyler malah minta tumpangan sama Hannah, seolah kejadian dia ngintipin Hannah nggak pernah terjadi. Di pikirannya, Hannah nggak tahu kelakuannya. Dasar! Pada akhirnya Hannah tetap ngasih Tyler tumpangan. Baik banget kan dia?

“I explored alleys and hidden roads I never knew existed. I discovered neighborhoods entirely new to me. And finally . . . I discovered I was sick of this town and everything in it.”

 

KASET 3: SISI B

“How many of you remember the Oh My Dollar Valentines?”

Dalam kaset ini, Hannah bercerita tentang teman kencannya bernama Marcus Cooley. Berawal dari keikutsertaan Hannah dalam Oh My Dollar Valentine, nama Hannah jadi masuk ke dalam list milik Marcus Colley (she’s number one, btw), Dan karena itulah Marcus bisa dapat nomor ponsel Hannah dan ngajakin dia kencan. Sebenarnya Hannah nggak yakin mau kencan sama Marcus di hari Valentine nanti, apalagi Marcus temenan sama Alex. Tapi karena iseng dan terpengaruh oleh kehebohan para cheerleaders di depannya (yang salah satunya akan muncul di dalam kaset yang lain), juga karena dia ingin orang lain mengenal dirinya lebih jauh, nggak seperti yang selama ini digosipkan, akhirnya dia mau kencan sama Marcus.

Happy Valentine's Day
Sialnya, di hari Valentine itu Hannah harus nunggu Marcus selama tiga puluh menit, SENDIRIAN, dan dilihatin orang-orang di sekitarnya! Nyebelin banget, kan?! Marcus, yang akhirnya muncul, minta maaf dan menjelaskan kalau dia kira Hannah nggak serius soal kencan Valentine itu. Marcus coba menghibur Hannah dan memang dia akhirnya bisa bikin Hannah ketawa. Tapi disamping itu, dia juga mulai pegang-pegang Hannah di bagian lutut dan pelan-pelan mulai naik ke atas dan ke atas. Beberapa orang melihat kejadian itu, tapi diam aja. Karena mereka pikir mungkin mereka emang pacaran dan lagi “bercanda”. Sadly, they didn’t know the truth.

“Below the table, my fingers were fighting to pry your fingers off. To loosen your grip. To push you away. And I didn’t want to yell—it wasn’t to that level yet—but my eyes were begging for help.”

Marcus nggak mau berhenti meski Hannah udah bilang stop. Dan akhirnya Hannah mendorong Marcus sampe jatuh ke lantai.

“Anyway, you left. You didn’t storm out. Just called me a tease, loud enough for everyone to hear, and walked out.”

 

 KASET 4: SISI A

“If you can, tell them to their face. But if you can’t, drop them a note and they’ll feel it just the same. So, Zach Dempsey, what’s your excuse?”

Seperti nama yang disebut di atas, kaset ini bercerita tentang Zach Dempsey. Kejadiannya tepat di hari yang sama dengan insiden Marcus. Begitu Marcus pergi, Zach yang juga berada di tempat yang sama, mendatangi Hannah dan duduk di sebelahnya. Hannah yang masih shock dengan kejadian tadi, cenderung menutup diri. Termasuk ketika Zach bilang dia menyesal dengan kejadian tadi, Hannah cuma diam dan hanya mengangguk. Akhirnya Zach pergi setelah menaruh beberapa dolar di meja Hannah buat bayar minumannya dan balik ke teman-temannya.

Saat itu juga Hannah tahu kalau Zach cuma menantang dirinya sendiri di hadapan teman-temannnya kalau dia bisa ngajak Hannah kencan, tapi kenyataannya Hannah cuma diam aja, kan? Itu berarti Zach kalah taruhan. Dan dia diledekn habis-habisan sama teman-temannya.

“I will give you credit where it’s due, Zach. You could have gone back to your friends and said, “Hannah’s a freak. Look at her. She’s staring into Neverland.” Instead, you took the teasing.”

Paper Lunch Bags

Kelihatannya Zach adalah tipe cowok pasif agresif. Dia menyerang balik Hannah dengan cara sembunyi-sembunyi. yaitu dengan mencuri pesan-pesan di paper bag Hannah. Padahal Hannah baru potong rambut dan Hannah cukup yakin kalau di kelas Peer Communication nanti dia bakalan dapat beberapa pesan atau tanggapan soal rambut barunya. Tapi nyatanya nggak ada satu pun. Sampai tiga minggu dia tungguin tetap aja nggak ada. Hingga akhirnya Hannah memutuskan untuk menulis pesan untuk dirinya sendiri.

“Hannah,” the note said. “Like the new haircut. Sorry I didn’t tell you sooner.” And for good measure, I added a purple smiley

Tapi pas keesokan harinya Hannah ngecek pesan itu, ternyata pesan itu udah nggak ada. Berarti selama ini ada orang yang ngambil pesan-pesan itu. Dan orang itu adalah Zach Dempsey! Hannah menangkap basah saat dia melakukan aksinya. Namun Zach tampak cuek dan malah terus jalan tanpa minta maaf sama Hannah.

“Maybe it didn’t seem like a big deal to you, Zach. But now, I hope you understand. My world was collapsing. I needed those notes. I needed any hope those notes might have offered. And you? You took that hope away. You decided I didn’t deserve to have it.”

Di rekaman ini juga Hannah mengungkapkan bahwa dialah orang yang mengajukan topik bunuh diri sebagai tema diskusi di kelasnya. Dia mengajukannya secara rahasia, tanpa menyebutkan namanya. Hal ini yang sempat bikin heboh seisi kelas. Banyak orang beranggapan negatif soal ini.

“It’s like whoever wrote this note just wants attention. If they were serious, they would have told us who they were.”

Mendengar hal ini, Hannah jadi makin minder dan merasa apa yang orang tersebut katakan ada benarnya, kalau dia cuma cari perhatian. Dan tema yang diajukan Hannah tersebut nggak pernah dibahas di kelas. Sebagai gantinya, Mrs. Bradley membagikan brosur tentang bunuh diri, The Warning Signs of a Suicidal Individual.

“Guess what was right up there in the top five? “A sudden change in appearance.””

 KASET 4: SISI B

“Remember, this is one tight, well-connected, emotional ball I’m constructing here.”

Poetry

Kaset ini bercerita tentang Ryan Shaver. Hal yang mendekatkan Ryan dan Hannah adalah puisi dan mereka mulai dekat sejak ketemuan di klub puisi bernama To Love Life. Ketambahan mereka juga satu sekolah. Ryan adalah editor Lost-N-Found Gazette.
Masalah dimulai ketika Ryan mencuri puisi karya Hannah dan menganggapnya sebagai properti Lost-N-Found Gazette. Puisi itu sampai dibahas di kelas bahasa Inggris.

 

Soul Alone

 

I meet your eyes
you don’t even see me
You hardly respond
when I whisper
hello

Could be my soul mate
two kindred spirits
Maybe we’re not
I guess we’ll never
know

My own mother
you carried me in you
Now you see nothing
but what I wear

People ask you
how I am doing
You smile and nod
don’t let it end
there

Put me
underneath God’s sky and
know me
don’t just see me with your eyes

Take away
this mask of flesh and bone and
see me
for my soul
alone

***

“This doesn’t seem like a big deal, does it? No, maybe not to you. But school hadn’t been a safe haven of mine for a long time. And after your photo escapades, Tyler, my home was no longer secure. Now, suddenly, even my own thoughts were being offered up for ridicule.
Very nice, Ryan. Thank you. You’re a true poet.”

 

 KASET 5: SISI A

“Romeo, oh Romeo. Wherefore art thou, Romeo?”

Dalam kaset ini, Hannah bercerita soal Clay. Berbeda dengan yang lain, Hannah memasukkan Clay ke dalam daftar untuk meminta maaf. Dan dia memerlukan Clay untuk melengkapi cerita tentang kejadian berikutnya.

Kissing

Di sebuah pesta, untuk pertama kalinya Hannah dan Clay bisa ngobrol banyak dan menjadi jauh lebih dekat. Hannah merasa sangat nyaman dan nyambung berada di dekat Clay. Dan beberapa kali Clay berhasil membuatnya tertawa. Awalnya mereka cuma ngobrol di sofa, namun karena merasa terganggu dengan pasangan lain, mereka pindah ke kamar di lantai atas. Di sana mereka berbaring di tempat tidur dan akhirnya ciuman dan saling memeluk. Sayangnya ciuman itu justru malah mengingatkan Hannah pada Justin. Dia takut Clay akan seperti Justin. Apalagi Hannah merasa Clay begitu jauh dari gosip. Segala sesuatu tentangnya hanya kebaikan. Jauh berbeda dengan dirinya, sekalipun rumor itu nggak benar. Sehingga membuat Hannah merasa nggak pantas berada di sana bersama Clay.

Hannah lalu menghentikan ciuman itu dan mengusir Clay. Kondisi Hannah benar-benar traumatis. Clay tadinya ingin tetap di sana dan berusaha meminta penjelasan Hannah, tapi Hannah terus mendesaknya pergi. Dia berteriak dan berteriak. Jadi akhirnya Clay pergi. Dan itu terakhir kalinya mereka saling menatap dan bicara.

“I just sat there beside the bed, hugging my knees . . . and crying. That, Clay, is where your story ends.”

 

KASET 5: SISI B

I know she wasn’t your girlfriend, that you hardly ever talked to her and barely even knew her, but is that your best excuse for what happened next? Or is that your only excuse? Either way, there is no excuse.”

Dalam rekaman ini, Hannah menceritakan kejadian di kamar, tepat setelah Clay pergi/diusir olehnya. Sementara Hannah masih duduk di lantai, bersandar di tepian tempat tidur, cewek dan cowok yang tadi ada di sofa, masuk ke ruangan itu. Si cewek dalam keadaan mabuk (yang semula Hannah kira cuman akting). Mereka adalah Jessica dan Justin.

Hiding in the Closet

Kemudian datang seorang cowok lain bernama Bryce. Saat itu Hannah sudah bersembunyi di dalam lemari. Di sana Hannah terperangkap, tanpa bisa berbuat apa-apa atas apa yang Bryce Walker lakukan pada Jessica. Begitu juga dengan Justin. Mereka nggak berbuat apa-apa untuk menghentikan Bryce dan menyelamatkan Jessica! Hannah benar-benar hancur dan membenci dirinya sendiri.

And with the bass thumping, no one heard him walking across the room. Getting on the bed. The bedsprings screaming under his weight. No one heard a thing.”

Aku tertekan dan nyesek baca bagian ini. Kebayang seandainya aku berada dalam posisi Hannah. Bayangin, kita melihat suatu kejadian yang mengerikan, tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Padahal sesungguhnya kita bisa berusaha lebih keras lagi, tapi kita nggak mengambil kesempatan itu. Rasa bersalah pasti menghantui kita dalam waktu yang sangat lama, atau mungkin seumur hidup. Aku berkaca-kaca baca bagian ini.

“Justin, baby, I’m not blaming you entirely. We’re in this one together. We both could have stopped it. Either one of us. We could have saved her. And I’m admitting this to you. To all of you. That girl had two chances. And both of us let her down.”

 

 KASET 6: SISI A

“Back to the party, everyone. But don’t get too comfy, we’ll be leaving in just a minute.”

Jenny Kurtz adalah fokus dalam kaset ini. Dia si cheerleader yang sempat diceritakan Hannah di Oh My Dollar Valentine! Dia yang menyemangatinya waktu Hannah diajak kencan sama Marcus.

Stop Sign

Setelah kejadian Jessica di kamar, Hannah bermaksud pulang. Dia numpang di mobil Jenny. Saat itu hujan turun, tapi nggak deras. Dan tabrakan kecil itu pun terjadi. Jenny menabrak rambu Stop di sebuah persimpangan hingga rambu itu menghantam bagian depan mobil Jenny, dan akhirnya rambu itu patah. Hannah meminta Jenny untuk bertanggung jawab soal rambut tersebut tapi Jenny terus menolak.

“Hannah, don’t worry,” you said. Then you laughed. “Nobody obeys Stop signs anyway. They just roll on through. So now, because there isn’t one there, it’s legal. See? People will thank me.”

Akhirnya Hannah diusir dari mobilnya dan Jenny langsung tancap gas. Lama berselang, Hannah akhirnya pergi ke pompa bensin dan menelepon polisi soal kejadian rambu tersebut. Si petugas bilang kalau sudah ada polisi pergi ke sana. Hannah pikir Jenny yang telepon, tapi esoknya di sekolah barulah Hannah tahu cerita sebenarnya. Polisi itu datang karena ada kecelakaan yg disebabkan rambu yang jatuh. Kecelakaan kecil yang diakibatkan Jenny tersebut yang akhirnya mengakibatkan kecelakaan serius yang menewaskan seorang murid di sekolah mereka. Kecelakaan yang juga menimpa penghuni baru rumah lama Hannah. Sebuah kecelakaan yang disaksikan oleh Clay. What a circle!

“It’s now been a couple of weeks since the party. So far, Jenny, you’ve done a great job of hiding from me. I suppose that’s understandable. You’d like to forget what we did—what happened with your car and the Stop sign. The repercussions. But you never will.”

 

 KASET 6: SISI B

“Just two more to go. Don’t give up on me now.”

Kejadian ini terjadi satu minggu setelah pesta yang begitu traumatis bagi Hannah. Kejadian tepatnya di after party-nya Courtney. Hannah nggak menghadiri pesta utamanya. Saat itu dia lagi menjaga rumah teman ayahnya yang dekat dengan pesta tersebut. Begitu pesta usai, Hannah memutuskan untuk keluar cari udara segar. Seseorang memanggil nama Hannah. Rupanya Bryce Walker. Courtney juga ada di dekatnya. Mereka lagi mandi uap panas.

Steam

Bryce mengajak Hannah bergabung. Hannah sendiri sempat berpikir dan mencurigai mereka, tapi akhirnya dia mau juga karena dia nggak mau dendam sama mereka. Clay punya pendapat sendiri soal keputusan Hannah bergabung. Clay beranggapan Hannah hanya ingin kehidupannya semakin hancur berantakan.

Di hot tub itu, secara halus Bryce Walker mencumbu Hannah dan Courtney pun meninggalkan mereka berdua. Hannah nggak secara verbal menolak, tapi bahasa tubuhnya bicara. Dia kaku dan berurai air mata, tak ada senyuman di wajahnya. Namun Bryce yang jelas-jelas melihat reaksi Hannah tersebut nggak peduli sama sekali. Dia tetap meneruskan aksinya dan Hannah tetap tak berontak. There, he raped her.

“I was not attracted to you, Bryce. Ever. In fact, you disgusted me. You were touching me . . . but I was using you. I needed you, so I could let go of me, completely.”

 

KASET 7: SISI A

“One… last… try.”

Kaset ini berisi percakapan Hannah dengan Mr. Potter, yang selain sebagai guru bahasa Inggris, juga bertindak sebagai guru konseling murid dengan nama belakang A – G. Hannah mendatangi Mr. Potter untuk menceritakan segala hal yang terjadi pada dirinya. Namun justru Hannah kesulitan untuk memulai. Apalagi Mr. Potter nggak pernah mendengar rumor apa pun soal Hannah, karena pekerjaannya yang dobel.

A Box of Tissue

Untuk memudahkan Hannah membuka diri, Mr. Potter akhirnya menggunakan sistem Twenty One Questions. Perlahan Mr. Potter mulai bisa membuat Hannah bercerita. Hal yang Hannah ceritakan adalah kejadian bersama Bryce. Namun Hannah nggak tegas menyatakan itu sebagai pemerkosaan karena adanya “keadaan tertentu”. Hannah juga menegaskan kalau dia nggak akan menuntut Bryce.

Hannah hanya ingin menanyakan pilihan lain untuknya dalam mengatasi apa yang sudah terjadi padanya. Opsi pertama yaitu memanggil Bryce dan mendiskusikan hal tersebut. Opsi kedua yaitu melupakan apa yang sudah terjadi. Just move on and get over it.

Hannah terkejut dengan dua opsi yang disebut Mr. Potter. Nggak enak semuanya. Hannah lalu pergi begitu saja dari ruangan tersebut karena merasa nggak ada yang bisa diperbuat dengan apa yang menimpanya, selain move on. MOVE ON! Mr. Potter berusaha menahan kepergiannya tapi Hannah tidak menghiraukannya. Meski begitu, Mr Potter juga nggak ngejar Hannah begitu dia keluar ruangan.

“I think I’ve made myself very clear, but no one’s stepping forward to stop me. A lot of you cared, just not enough. And that . . . that is what I needed to find out. And I did find out. And I’m sorry.”

 KASET 7: SISI B

Nggak ada apa-apa di dalam kaset ini selain:

Thank You Note

***

 

 Hannah’s Red Stars on the Map

 

  1. C-4. Hannah’s old house. Rumah pertama yang ditempati Hannah ketika baru pindah ke kota yang baru. Rumah ini cuma ditempati sebentar, sebelum sekolah dimulai. Dan di rumah inilah ia pertama kali melihat Justin.
  2. B-3. Blue Spot Liquor. Sebuah toko yang sering dikunjungi Hannah buat beli permen. Tempatnya kecil, menyempil di antara dua toko di sebelahnya yang sudah tutup. Di bagian depannya banyak ditempeli kertas iklan rokok dan minuman keras. Tempat di mana Hannah mendapatkan pelecehan seksual oleh teman sekolahnya.
  3. E-7. Monet’s Garden Café & Coffeehouse. Tempat Hannah dan Jessica hang out untuk pertama kalinya setelah dipasangkan oleh Ms. Antilly. Di sana juga mereka pertama kali ketemu Alex Standall dan akhirnya mereka bertiga berteman. It was the safe haven for them three.
  4. A-4. Diluar jendela Tyler.
  5. D-4. Rumah Courtney.
  6. E-5. Rosie’s Diner. Semua yang pergi ke sini rata-rata selalu berpasangan.
  7. D-7. The community room at the public library. Tempat di mana Hannah dan Ryan sering menghabiskan waktu bersama di anak tangga perpustakaan, saling membaca dan mengupas puisi buatan masing-masing. Hanya puisi bahagia.
  8. C-6. Five-twelve Cottonwood. Pesta di mana Clay dan Hannah akhirnya bicara dan ciuman.
  9. B-6 . The Stop sign.
  10. C-7. The gas station.
  11. D-4. Rumah Courtney.

TRIVIA

 

  1. Dalam realitasnya, cerita ini terjadi dalam waktu dua hari. Hari pertama yaitu ketika Clay mendengarkan semua rekaman itu. Hari kedua yaitu hari setelahnya, ketika Clay pergi ke kantor pos untuk mengirimkan rekaman tersebut ke orang yang dimaksud Hannah, yaitu Jenny Kurtz. Hari kedua ini pun menjadi adegan pembuka dalam novel ini.
  2. The Walkman: The color is yellow with a skinny plastic headset.
  3. Clay mendapatkan kaset-kaset tersebut saat pulang sekolah, ditaruh dalam bentuk paket di halaman rumahnya, tertuju untuknya. Sebuah paket seukuran kotak sepatu.
  4. Di setiap sudut kanan atas kaset tersebut diberi nomor berwarna biru gelap, seperti dari cat kuku.
  5. Garasi adalah tempat pertama yang dipilih Clay untuk mendengarkan kaset tersebut. Di sana ada tape yang dulu dibeli ayahnya di acara yard sale.
  6. Pertemuan pertama Clay dan Hannah adalah di pesta perpisahannya Kat. Kesan pertama Clay soal Hannah: “God. I thought she was so pretty. And new to this town.” Clay juga sempat ngobrol sedikit sama Hannah, tapi obrolan tersebut nggak berlangsung cair karena Clay terlalu gugup.
  7. Andrea Williams adalah ciuman pertama Clay di kelas tujuh, with strawberry lipgloss on her lips. Mereka melakukannya di belakang gym seusai sekolah. Tapi sayangnya ciuman itu cuma sekadar taruhan Andrea dan teman-temannya. Well, at least it’s worth $10. That’s big.
  8. Hannah’s very first thought during her very first kiss: “Somebody’s been eating chili dogs.”
  9. Judul awal novel ini adalah Baker’s Dozen: The Audiobiography of Hannah Baker. Namun atas saran editor judul ini diganti jadi Thirteen Reasons Why. Uniknya, di bagian pembuka Clay mengucapkan “Baker’s dozen” yang ditujukan untuk paket berisi rekaman Hannah Baker tersebut. Menurutku ini cenderung aneh, karena dozen sendiri kan artinya selusin/12 biji, sedangkan alasan Hannah ada tiga belas. Mungkin karena mendekati angka tersebut? Lalu aku berpikir, apa itu mengacu pada The Dozens yg artinya semacam hinaan as in what I found in the dictionary: “A ritual exchage of insults among black Americans.” Karena kira-kira seperti itulah isi rekaman Hannah. Mirip menghina.
  10. Daftar “Terbaik” dan “Terburuk” buatan Alex Standall beredar dan mulai diketahui Hannah waktu lagi ada di kelasnya Ms. Strumm, guru sejarah.
  11. Jimmy Longs adalah cowok pertama di kelas Hannah yang secara terang-terangan “mengagumi” bokong Hannah.
  12. Hannah selalu mengendarai sepeda warna biru ke sekolah.
  13. Waktu pergi ke Blue Spot Liquor, Clay nggak bertemu Wally karena hari itu dia kebagian shift siang.
  14. Meski Hannah nggak menyebut nama cowok yang memegang bokongnya di Blue Spot Liquor, tapi Clay tahu siapa yang Hannah bicarakan. “I’ve seen his wrist-grabbing stunt before. It always makes me want to grab him by the shirt and push him until he lets the girl go. But instead, every time, I pretend not to notice. What could I do, anyway?” Membaca pernyataan Clay tersebut, kelihatan Clay ini orangnya cuma punya niat doang, tapi nggak ada aksinya. Cemen banget ya. Hffftt.
  15. Di Blue Spot Liquor, Clay membeli orange soda dan permen Butterfinger.
  16. Jessica dan Hannah memiliki suara tawa yang sangat mirip.
  17. Awalnya Jessica menyebut Hannah “Hillary”.
  18. Mr. Potter nggak mengajar selama seminggu semenjak kabar meninggalnya Hannah. Dia benar-benar shock.
  19. Minuman pertama yang diorder Hannah dan Jessica di Monet’s adalah cokelat panas.
  20. Enak deh, kalau naik bis malam-malam di tempat Clay tinggal nggak perlu bayar alias gratis.
  21. “Olly-olly-oxen-free” merupakan kode bagi Hannah, Jessica dan Alex ketika salah satu dari mereka sedang mengalami hari yang buruk. Dia yang lagi bete akan meneriakkan kode tersebut sambil menaruh kedua telapak tangan di tengah meja, dan yang lainnya akan menaruh satu telapak tangan mereka di atasnya dan siap mendengarkan curhatan orang tersebut sambil menikmati kopi di Monet’s.
  22. Clay bilang bahwa nggak ada acara pemakaman untuk Hannah.
  23. Untuk mengenang Hannah, Clay bermaksud memesan cokelat panas ketika di Monet’s. Tapi karena harganya mahal, akhirnya Clay cuma mampu pesan kopi.
  24. Di kelas Wood Shop, Clay membuat rak bumbu untuk prakaryanya. Sedangkan temannya yang juga kerja sebagai waitress/kasir di Monet’s membuat bangku piano.
  25. After Hannah’s suicide, but before the shoebox of tapes arrived, I found myself walking by Hannah’s mom and dad’s shoe store many times. It was that store that brought her to town in the first place. After thirty years in business, the owner of the store was looking to sell and retire. And Hannah’s parents were looking to move.
  26. Di Monet’s, di sebuah buku orat-oret yang sengaja disediakan oleh kafe tersebut, Clay menemukan foto Hannah bersama Courtney Crimson di sebuah pesta. Foto itu diletakkan di sana oleh Tyler.
  27. Clay pergi hampir ke setiap tempat yang ditandai Hannah di mapnya cuma semata-mata karena ingin mengerti sepenuhnya apa yang terjadi pada Hannah.
  28. “See you tomorrow,” she says. Dan beneran aja keesokannya Clay dan Skye ketemu lagi.
  29. Ternyata jendela kamar Tyler udah dilemparin batu sama penerima kaset. Alex adalah orang pertama yang melakukannya. Yang kedua adalah Marcus.
  30. Btw, Hannah nggak yakin kalau Tyler nyebarin foto di mana dia lagi nge-massage Courtney karena Tyler takut diapa-apain sama Courtney. She’s one of those popular girls, remember?
  31. About Oh My Dollar Valentines: You fill out a survey, a computer analyzes your answers, then it cross-references with the other surveys. For just a buck, you get the name and number of your one true soul mate. For five bucks, you get your top five. The Valentine survey was a two-parter. First, you described yourself. Hair color. Eye color. Height. Body type. Favorite type of music and movie. Then you put a check beside your top three things to do on weekends. In all, there were about twenty questions. For part two of the survey, it was your turn to describe what you were looking for in a soul mate. Their height. Their body type. If they’re athletic or not. Shy or outgoing.
  32. Hal yang paling Hannah cari dari majalah remaja adalah surveinya, bukan tips dandannya.
  33. Waktu mengisi survei karir, Clay dan Hannah dapat hasil yang sama, yaitu penebang pohon!
  34. Hannah bilang kalau dia membayangkan seseorang ketika mengisi survei Oh My Dollar Valentine! Hmm, jangan-jangan dia ngebayangin Clay, nih. Clay sendiri nggak serius-serius amat waktu ngisi survei. Dia malah memalsukan dirinya sebagai karakter Holden Caulfield dari buku The Catcher in the Rye. Makanya dia nggak bisa jodoh sama Hannah. Too bad.
  35. At the end of the counter, closest to the door, was the drop-off box—a large shoebox with a slit cut in the top and decorated with cutout pink and red hearts. The red hearts had OH MY DOLLAR VALENTINE! written on them. The pink ones had green dollar signs.
  36. Clay melamar kerja di sebuah bioskop. Tujuan utamanya karena Hannah juga bekerja di sana. Tapi dia pura-pura kaget begitu tahu Hannah juga kerja di sana. Modus!
  37. Cheerleader yang mengumumkan hasil survei Hannah dan Clay adalah orang yang sama, begitu keyakinan Clay. Banyak kesamaan ya Clay dan Hannah ini. Tapi sayang nggak pernah dipersatukan banget banget banget.
  38. Alex Standall, his first week in town, had his first fight outside Rosie’s front door.
  39. Alex mulai bergaul dengan Marcus setelah dia jarang ngumpul lagi dengan Jessica dan Hannah di Monet’s.
  40. Crestmont adalah nama bioskop tempat Hannah dan Clay bekerja. Tanpa petunjuk dari Hannah, Clay merasa harus pergi ke tempat ini. This is his red star.
  41. Peer Communication adalah kelas favorit Hannah. “It’s an easy A and it’s a safe heaven for her, also her “Olly-olly-oxen-free!” 
  42. Mrs. Bradley did not appreciate people who snickered. If anyone snickered at what anyone else said, they owed Mrs. Bradley a Snickers bar. And if it was an extremely rude snicker, you owed her a King Size. Hal unik lainnya dari kelas Mrs. Bradley adalah mengungkapkan apa yang kita pikirkan, tapi nggak bisa ngomong langsung ke orangnya, melalui pesan yang disimpan di paper bag milik orang yang kita tuju.
  43. Hannah potong rambut jadi pendek tepat setelah kejadian di Rosie sama Marcus. Di hari itu juga.
  44. “The truth shall set you free” adalah moto The Lost-N-Found Gazette.
  45. The Lost-N-Found Gazette is Ryan’s semiannual collection of items found lying around campus.
  46. Ryan punya tulisan tangan yang jelek banget jadi perlu waktu buat Hannah untuk mengerti. Tapi puisinya keren banget katanya. Dalem.
  47. Tony adalah orang yang dipercaya Hannah untuk membawa cadangan kaset, kalau-kalau yang menerima kaset nggak mengirimkan kaset yang sudah diputarnya ke nama berikutnya.
  48. Tony nggak menghadiri pesta di mana Hannah dan Clay mulai dekat.
  49. Sebelum meninggal, Hannah pergi ke rumah Tony dengan mengendarai sepeda warna birunya. Padahal sebelumnya dia nggak pernah ke rumah Tony. Hannah lalu menyerahkan sepeda miliknya pada Tony begitu saja. Tony sempat menolak, tapi akhirnya diterimanya asalkan dia bisa memberi sesuatu yang lain buat Hannah juga. Hannah akhirnya tanya soal bikin rekaman dan Tony memberikan alat perekam miliknya. Tony sama sekali nggak menanyakan untuk merekam apa.
  50. Hannah nggak pergi ke pemakaman anak yang meninggal karena kecelakaan yang disebabkan rambu Stop yang jatuh.  Hannah nggak tahu kalo satu pria yang lain adalah yang tinggal di rumah lamanya. Clay lega. Kalo Hannah tahu, pasti dia makin depresi.
  51. Pemikiran pertama Hannah soal cara dia bunuh diri: pakai pistol (tapi nggak punya), gantung diri (tapi nggak tega sama ortunya yang nanti menemukannya), menggulingkan mobil yang dikendarainya ke jurang. Akhirnya Hannah memilih minum pil sampai overdosis karena dinilainya paling mudah dan nggak sesakit cara yang disebut di atas.
  52. Rumornya Hannah bunuh diri dengan menelan banyak pil, tapi ada juga yang bilang Hannah menenggelamkan diri di bathtub.
  53. Pertemuan terakhir Hannah dan Clay (dari sudut pandang Clay): “We almost bumped into each other. But your eyes were down so you didn’t know it was me. And together, we said it. “I’m sorry.” Then you looked up. You saw me. And there, in your eyes, what was it? Sadness? Pain? You moved around me and tried pushing your hair away from your face. Your fingernails were painted dark blue. I watched you walk down the long stretch of hallway, with people knocking into me. But I didn’t care. I stood there and watched you disappear. Forever.”
  54. Rekaman live pertama adalah ketika Hannah mengintip melalui jendela kamar Tyler. Rekaman live kedua adalah ketika konsultasi dengan Mr. Potter. Tapi obrolan dengan orang dalam daftar langsung cuma terjadi dengan Mr. Potter.
  55. Saat berkonsultasi dengan Mr. Potter, Hannah memasukkan alat perekam ke dalam saku jaket atau tasnya.
  56. Mr. Potter membuat Hannah tertawa ketika menawarkannya tisu. Karena tisu tersebut belum pernah digunakan sama sekali. Well, it is funny, lol.
  57. Snowball effect adalah hal yang sama-sama diucapkan Hannah dan Mr. Potter berkaitan dengan masalah yang menimpa Hannah.
  58. Menurut Hannah, sekolah hanyalah tempat untuk belajar: “Just a place filled with people that I’m required to be with.” Dan ini terkadang hal yang sulit bagi Hannah.
  59. Mr. Potter mengaku belum pernah mendengar rumor apa pun tentang Hannah karena kerjaannya yang dobel.
  60. Hannah mempersiapkan rencana bunuh diri dan rekaman kasetnya dengan sangat matang. Beberapa minggu sebelum melaksanakan keputusannya, dia memberikan sebuah peta secara diam-diam pada orang yang disebut dalam kasetnya. Peta tersebut diletakkan dalam sebuah amplop bertuliskan: SAVE THIS – YOU’LL NEED IT. Gambar dalam peta itu adalah beberapa area di kota tempat tinggal mereka yang ditandai dengan bintang merah. Kira-kira ada selusinan. Clay sendiri masih menyimpan peta tersebut di tasnya, entah kalau yang lain.
  61. Ibu Hannah nggak menyadari perubahan pada Hannah ketika dia potong rambut.
  62. Handout from school about The Warning Signs of Suicidal Individual: (1) A sudden change in appearance. (2) Giving away possessions.

 

QUOTES

 

 

“Because it may seem like a small role now, but it matters. In the end, everything matters.”

(Hannah Baker)

 

“Betrayal. It’s one of the worst feelings.” 

(Hannah Baker)

 

“Because it’s Hannah’s voice. A voice I thought I’d never hear again. I can’t throw that away.”

(Clay Jensen)

 

“I was just cautious. New town. New school. And this time, I was going to be in control of how people saw me. After all, how often do we get a second chance?”

(Hannah Baker)

 

“Well, what did you want to hear? Because I’ve heard so many stories that I don’t know which is the least popular. The truth.”

(Hannah Baker)

 

“And everyone knows you can’t disprove a rumor.”

(Hannah Baker)

 

“You can’t rewrite the past.”

(Clay Jensen)

 

“You can hear rumors, but you can’t know them.”

(Hannah Baker)

 

“For Jessica, it was easier to think of me as Bad Hannah than as the Hannah she got to know at Monet’s. It was easier to accept. Easier to understand. For her, the rumors needed to be true.”

(Hannah Baker)

 

“And why should you believe me? Why would anyone not believe a rumor that fits so nicely with an old rumor?”

(Hannah Baker)

 

“In Health, we once saw a documentary on migraines. One of the men interviewed used to fall on his knees and bang his head against the floor, over and over during attacks. This diverted the pain from deep inside his brain, where he couldn’t reach it, to a pain outside that he had control over. And in a way, by vomiting, that’s what I hoped to do.”

(Clay Jensen)

 

“The wonderful thing about a yearbook photo is that everyone shares the moment with you . . . forever.”

(Ms. Benson)

 

“Like driving along a bumpy road and losing control of the steering wheel, tossing you—just a tad—off the road. The wheels kick up some dirt, but you’re able to pull it back. Yet no matter how tightly you grip the wheel, no matter how hard you try to drive straight, something keeps jerking you to the side. You have so little control over anything anymore. And at some point, the struggle becomes too much—too tiring—and you consider letting go. Allowing tragedy . . . or whatever . . . to happen.”

(Hannah Baker)

 

“This time, for the first time, I saw the possibilities in giving up. I even found hope in it.”

(Hannah Baker)

 

“For the longest time, from almost day one at this school, it seemed that I was the only one who cared about me.”

(Hannah Baker)

 

“I’m listening to someone give up. Someone I knew. Someone I liked. I’m listening. But still, I’m too late.”

(Clay Jensen)

 

“No one knows for certain how much impact they have on the lives of other people. Oftentimes, we have no clue. Yet we push it just the same.”

(Hannah Baker)

 

“That’s what I love about poetry. The more abstract, the better.”

(Hannah Baker)

 

“I hated poetry until someone showed me how to appreciate it. He told me to see poetry as a puzzle. It’s up to the reader to decipher the code, or the words, based on everything they know about life and emotions. Did the poet use red to symbolize blood? Anger? Lust? Or is the wheelbarrow simply red because red sounded better than black?”

(Hannah Baker)

 

“There is no better way to explore your emotions than with poetry.”

(Hannah Baker)

 

“And when you’re done with your poem, decipher it as if you’d just found it printed in a textbook and knew absolutely nothing about its author. The results can be amazing . . . and scary. But it’s always cheaper than a therapist. I did that for a while. Poetry, not a therapist.”

(Hannah Baker)

 

“If you hear a song that makes you cry and you don’t want to cry anymore, you don’t listen to that song anymore. But you can’t get away from yourself. You can’t decide not to see yourself anymore. You can’t decide to turn off the noise in your head.”

(Hannah Baker)

 

“When we were alone, it was so easy to talk to Hannah. It was so easy to laugh with her. But whenever people came around, I got shy. I backed off. I didn’t know how to act anymore.”

(Clay Jensen)

 

“Normally, when a person has a stellar image, another person’s waiting in the wings to tear them apart. They’re waiting for that one fatal flaw to expose itself. But not with Clay.”

(Hannah Baker)

 

“You don’t know what went on in the rest of my life. At home. Even at school. You don’t know what goes on in anyone’s life but your own. And when you mess with one part of a person’s life, you’re not messing with just that part. Unfortunately, you can’t be that precise and selective. When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything . . . affects everything.”

(Hannah Baker)

 

“You can’t go back to how things were. How you thought they were. All you really have . . . is now.”

(Hannah Baker)

 

“Hannah wasn’t my first kiss, but the first kiss that mattered; the first kiss with someone who mattered. And after talking with her for so long that night, I assumed it was just the beginning. Something was happening between us. Something right. I felt it.”

(Clay Jensen)

 

“Mr. Porter said funerals can be a part of the healing process. But I doubted that very much. Not for me. Because on that corner, there wasn’t a Stop sign that night. Someone had knocked it over. And someone else . . . yours truly . . . could’ve stopped it.”

(Hannah Baker)

 

“Mr. Porter said before handing out my poem? He said that reading a poem by an unknown member of our school was the same as reading a classic poem by a dead poet. That’s right—a dead poet. Because we couldn’t ask either one about its true meaning.”

(Hannah Baker)

 

“I could picture life—school and everything else— continuing on without me. But I could not picture my funeral. Not at all. Mostly because I couldn’t imagine who would attend or what they would say.”

(Hannah Baker)

 

“We walked those streets together, Hannah. Different routes, but at the same time. On the same night. We walked the streets to get away. Me, from you. And you, from the party. But not just from the party. From yourself.”

(Clay Jensen)

 

“I wanted to wait. I wanted the phone to just keep ringing. I wanted life to stay right there . . . on pause.”

(Hannah Baker)

 

“And I walked for hours, imagining the mist growing thick and swallowing me whole. The thought of disappearing like that—so simply—made me so happy.”

(Hannah Baker)

***

 

Thanks for reading. Hope it’s useful and entertaining. See you on my next review.

Ciao.

 

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/ec/80/37/ec8037668d2b7e60e94efebff7ac0d64.gif

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s