Pretty Little Liars S1 : E1 – Pilot

Series ini sebenarnya udah tayang dari tahun 2010-an di Amrik. Ceritanya berdasarkan sebuah buku series dengan judul yang sama karya Sara Shepard. Tapi aku baru mulai nonton series ini belum lama ini karena ya baru dapat kesempatan sekarang aja nontonnya. Selain itu juga karena direkomenin sama teman. Katanya bagus. Aku coba ikutin sarannya dia meski nggak yakin bakalan suka. Entah kenapa juga aku udah berpikiran negatif duluan dengan series ini. Mungkin karena pemainnya nggak ada yang kukenal, selain Lucy Hale. Itu pun hasil nonton film dia yang menurutku biasa aja, yang judulnya pun udah aku lupa. Ada cinderella-nya gitu kalau nggak salah. Tuh, sampai googling pun aku enggan, Lol. (Sorry Lucy Hale). Jadi aku beranggapan series ini pun akan memiliki tema yang serupa. Kurang greget. Tapi ternyata dugaanku salah. Malah seru banget, ada misterinya.

Oke, mumpung aku lagi rajin, aku pengen bercerita soal series-nya perepisode. Biar asyik aja gitu. Dan biar ingat aja bagian penting dalam setiap episodenya. Beberapa episode bahkan ada yang aku kasih full dialogue-nya juga. Kurang rajin apa coba? (Atau kurang kerjaan, Lol) Seperti biasa, aku ini Miss Spoiler kalau udah nulis di blog. Jadi hati-hati aja dengan serangan ranjau spoiler dalam tulisan ini, okay? Oh, dan untuk episode satu ini, aku cuma kasih sedikit dialog karena ada perubahan rencana, tapi sayang juga kalau dialognya dibuang. Udah cape-cape ngetik, kan? And fyi, setting dalam series ini fiktif, alias nggak nyata, kecuali Pennsylvania-nya. Untuk info lebih lanjut, sila cek Sang Master Wikipedia.  And btw, episode satu ini nggak ada judulnya, cuma dibilang Pilot aja, gitu. Padahal apa susahnya sih kasih judul biar cantik? Hampir semua series, episode pertamanya pasti dikasih judul Pilot. Sebel!

Baiklah, daripada aku ngedumel terus, ktia capcus ke series-nya. Btw, ini kelihatan jelas nggak gambarnya? Baru nyadar gelap begini. Kalau nonton langsung, pas ada sambaran kilatnya jadi lumayan kelihatan. Tapi yang aku ambil gambarnya malah dapat yang lagi gelap begini. Oke, jadi gambar di bawah ini adalah gambar sebuah gudang. Nah, udah kelihatan, kan?

IMG_1786

Episode diawali dengan berkumpulnya lima orang gadis usia 15 tahunan di sebuah bangunan semacam gudang. Nama mereka adalah Alison DiLaurentis, Aria Montgomery, Emily Fields, Hanna Marin, dan Spencer Hastings (Sengaja berdasarkan alfabet biar nggak berantem. So lucky, Alison is always number one because she’s the boss. She’s their Queen B).

Pada malam itu, angin bertiup kencang di Rosewood, Pennsylvania, lingkungan mereka tinggal. Makanya itu menambah keinginan mereka untuk ngobrol-ngobrol sambil minum. Minum apa, aku nggak paham. Mungkin sesuatu yang mengandung alkohol. Nggak mungkin juga susu, kan?

Alison: It’s bad, huh? (Sambil melihat teman-temannya saling mencicipi minuman tersebut)
Lalu tiba-tiba lampu berkedip-kedip dan berakhir padam.
Hanna: What happened?
Spencer: It must be the storm.
(Aria lalu menggunakan senter di dekatnya untuk menerangi ruangan)
(Terdengar suara derit pintu)
Aria: Something’s out there.
(Pintu perlahan terbuka)
Hanna: Guys!

Walking to the Door
(Keempat gadis itu, kecuali Alison, yg entah di mana keberadaannya, berdiri berimpitan dan berjalan perlahan menuju pintu. Mereka menjerit ketika terdengar suara benda pecah. Bersama mereka berjalan semakin mendekat ke pintu. Tiba-tiba Alison muncul dari luar, di hadapan mereka, mengejutkan keempat temannya. Btw, gambar di atas tuh harusnya ada empat orang tapi baru sadar (lagi) kalau sekarang yang kelihatan cuman tiga aja. Si Emily gelap banget gambarnya, ya, Lol)
Alison: Gotcha! (Tertawa)
All the girls screamed so loud.
Spencer: That’s so not funny, Alison!
Alison: I thought it was hilarious, girls.
Hanna: Ali, did you download the new Beyonce?
Alison: Not yet (Duduk di kursi)
Emily: I’m loving her new video. (Ikut duduk di hadapan Ali)
Alison: Maybe a little too much, Em.
(Alison mengambil gelas berisi minuman dan memberikannya pada Aria)
Alison: Your turn. Go on.
Spencer: Careful, Aria. Take too much and you’ll tell us all your secrets.
(Semua kecuali Alison tertawa)
Alison: Friends share secrets. That’s what keeps us close. (Menatap Aria) Drink up.
(Semua pun tertawa)

Capek tertawa, mereka akhirnya tertidur di gudang tersebut. Hingga akhirnya Aria terbangun. Dia kemudian membangunkan Emily. Dan akhirnya Hanna pun ikut terbangun.

Hanna: Where’s Ali and Spencer?
Aria: We don’t know.
(Aria bangkit dan berjalan ke arah pintu yang terbuka. Dia mendengar suara langkah kaki)
Aria: Ali?
(Tapi yang muncul adalah Spencer)
Spencer: She’s gone.
Aria: What do you mean she’s gone?
Spencer: I’ve looked everywhere for her. I think I heard her scream.

Cerita satu tahun yang lalu itu berhenti di sana. Begitu saja. Karena dari sanalah misteri dimulai. Misteri hilangnya Alison DiLaurentis, teman mereka.

***

Satu tahun berlalu. Aria kembali ke Rosewood, setelah sebelumnya tinggal di Iceland bersama seluruh keluarga intinya. Sebuah koran berisi berita mengenai Ali tergeletak di jalanan beraspal.

The Paper

Di ruangan itu, Aria menatap bayangan dirinya di hadapan cermin. Boks-boks berisi barang masih menumpuk di ruangan itu. Datanglah ibunya, Ella.

 

Ella: Aria, are you okay?
(Aria berbalik dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya)
Aria: It’s weird to be home.
Ella: We were gone a year. When you’re 16, that’s a long time.
Aria: I still think about her everyday.
Ella: Why don’t you call your friends? They don’t know we’re back from dad’s sabbatical.
Aria: On the news, they’re calling it… the anniversary of Alison’s disappearance. Like it’s a party or something.
Ella: Why don’t you give them a call?
(Aria meringis)
Ella: You five were inseparable and those feelings don’t just go away.
(Adik Aria muncul tergesa di ambang pintu)

Mike
Mike: I need a ride to Lacrosse!
(Ella tersenyum seraya menyerahkan kunci mobil pada Aria)
Aria: (Tertawa) I’ll take him.
(Mike mencari-cari sesuatu di boks)
Byron (Their dad): Got Lacrosse today?
Mike: It’s first tryouts. And all my stuff’s in about a hundred boxes.
Ella: A hundred?
Mike: You know what I mean.
Ella: Come on, let’s go look in the garage. Come on.
(Sambil membawa secangkir kopi, Byron menghampiri Aria yang sudah bersiap pergi mengantar Mike)
Byron: Listen, I know coming back here brings up a lot of memories. You okay?
Aria: Dad, I’m still keeping your secret, okay?
Byron: I mean, are you okay with Alison?
(Mike dan Ella muncul, jadi Aria nggak sempat menjawab. Dia bersama Mike pergi keluar menuju mobil)
Ella: (Merangkul Byron) And they’re running off to practice. We are officially home.

Ella & Byron

(Ngomong-ngomong, kenapa Aria dan Mike nggak ada kemiripan sama kedua orangtuanya ya. Beda aja gitu menurutku. And you know what? Yang jadi Ella adalah yang memerankan tokoh Piper di series lawas tentang tiga penyihir cantik, Charmed)

Aria menurunkan Mike di sekolahnya untuk latihan.
Aria: Hey, what time am I picking you up?
Mike: Uh, six.
Aria: Okay, I’m gonna grab some food.
Mike: Bye.
(Aria melirik jam di mobil yang menunjukkan pukul 4.15. Masih lama. Dia lalu mengambil ponselnya, kayaknya mau menelepon sahabatnya tapi urung. Akhirnya dia melajukan mobilnya ke suatu tempat. Ke Hollis Bar & Grill. Di sana dia duduk di depan bar. Terpisah oleh satu kursi, ada seorang lelaki yang juga duduk di sana.)

Aria & Ezra in a Bar
Aria: Can I get a cheeseburger, please?
Waiter: You got it.
(Aria menatap jam di dinding bar. Jam lima. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah papan berisi kertas-kertas yang ditempel. Salah satu kertas itu adalah tentang Alison.)

Alison in a Board

(Tiba-tiba cowok di dekat Aria berbicara padanya)
Ezra: You all right down there?
Aria: I’m a bit jetlagged. I just got back from Europe.
Ezra: Where in Europe?
Aria: Iceland.
Ezra: I spent some time in Reykjavik. Before I went to Amsterdam. It’s a great city.
Aria: So do you go to Hollis?
Ezra: Just graduated. I’m gonna start my first teaching job.
Aria: Yeah, I think I’d like to teach.
(Sebuah lagu mengalun)
Aria: God, I love this song.
Ezra: B26. What’s your major?
Aria: (Sedikit terkejut) Uh, well, I’m leaning toward English.
Ezra: That’s what I’m teaching.
Aria: (Chuckle) Well, and I write too, but so far, it’s mostly personal. Just for me.
Ezra: I’m impressed.
Aria: Why?
Ezra: Well, I tried writing. (Berjalan untuk duduk di kursi di sebelah Aria)

Aria & Ezra in a Bar 2

Ezra: I didn’t get very far. You’re lucky. If you’re writing for yourself, it’s pure passion. Maybe you’d let me read something of yours.

Aria: Yeah? You’d really want to?
Ezra: Yeah. You’re smart, you’ve traveled. Great taste in music. Like to know more about you.
Aria: (Tersenyum) Yeah. I’d like to know more about you too.
(Habis itu, tahu-tahu mereka udah ada di depan cermin toilet aja, dengan Aria duduk di atas wastafel dan Ezra berdiri di hadapannya. They’re kissing so passionately. DAMN! Dan menurutku nih, mereka kalau ciuman itu kayak menghayati banget. Bibirnya Aria sampe keangkat-angkat gitu. Maklum sih, habis Ezra emang ganteng hehe)

Aria & Ezra Kissing

Sayang, kisah cinta yang so sweet itu harus hancur berantakan karena besoknya di sekolah, Ezra dan Aria ketemu di ruang kelas. Bukan, bukan sebagai teman sekelas. Tapi sebagai murid dan guru! Ezra ternyata guru Bahasa Inggris baru di sekolah Aria dan Aria yang baru pindah lagi nggak tahu soal itu. Mereka berdua benar-benar kaget kayak baru ngelihat hantu. Hal ini bikin seisi kelas menatap Aria, terlebih ketiga kawannya yang menatap aneh plus curiga.

Saat itu juga Aria dapat SMS. Ternyata itu dari A:

“Maybe he fools around with students all of the time. A lot of teachers do. Just ask your dad.”

Pas habis kelas, Aria meyakinkan dirinya untuk menemui Ezra dan berbicara soal kepura-puraannya di bar kemarin.

Ezra in His Class

Aria bilang kalau dia ingin hubungan mereka berlanjut dan memastikan pada Ezra kalau dia tetap gadis yang sama dengan yang dikenalnya kemarin di bar. Ezra sendiri nggak bisa meneruskan hubungan itu. Dia lalu meninggalkan Aria sendirian begitu aja. Kasihan Aria. Akhirnya sih Ezra juga mengakui kalau dia nggak bisa merelakan Aria. Dia bilang itu pas di suatu acara. Jadi… yah, mereka berniat melanjutkan hubungan itu, diam-diam tentunya.

***

Hanna berada di sebuah toko kaca mata di Rosewood Mall. Dia lagi mencoba-coba salah satunya.

Hanna
Hanna: Could I see the Pradas in the front?
Salesman: I’ll have to put some in the back.
Hanna: (Melepas kacamatanya) But they’re all maybes.
Mona: (Menunjukkan scarf yg dipakainya) Hey, is this me?

Mona
Hanna: Or is it a little too much your mother?
(Mona berpikir dan kembali masuk ke booth)
(Salesman menyerahkan kacamata yg ingin dicoba Hanna. Hanna pun lalu mengenakannya)
Mona: I am loving those glasses. How much?
Hanna: 350.
(Hanna melihat ke lantai atas dan di sana dia melihat Spencer yang sedang memilih-milih baju.)
Hanna: (To the salesmanI’ll be right back.
(Pramuniaga tersenyum dan rela aja kacamata itu dipakai Hanna. Dia pasti udah terbius sama kecantikan dan keseksian Hanna)
Hanna: I cannot believe Spencer Hastings actually has time to shop. I mean, you’re interning for the mayor, taking classes at Hollis, and redoing the barn. And in your leisure moments, you facebook and tweets.
Spencer: (Tersenyum) You know me. I like to stay busy.

Spencer

(Btw, penampilan Spencer kayak udah mau pergi kondangan aja, ya. Tinggal pake kebaya, udah deh cocok. Padahal umurnya ceritanya masih 16 tahun, loh. Yang lain juga begitu, sih. Mungkin begitulan penampilan anak sekolah di Amrik (Di Indonesia juga udah mulai ngikutin, sih). Yang paling natural adalah Emily. Maybe because Emily is a swimmer. She’s kind of boyish and tough, meski agak penakut juga, sih)

Hanna: It’s called a summer vacay, Spence.
Spencer: You spent yours sunning and shopping.
Hanna: Tweet-tweet.
Spencer: (Tertawa) Did you see the paper today?
Hanna: Yeah.
Spencer: She’s gone, but she’s everywhere.
Hanna: I can’t believe it’s been a year.
Spencer: Do you remember what Ali said that night, about our secrets keeping us close?
(Hanna mengangguk)
Spencer: I think it was the opposite.
(Jeda beberapa saat di antara mereka)
Hanna: So! What’s the occasion?
Spencer: Family dinner. We’re meeting Melissa’s fiance.
(Spencer berjalan sambil membawa baju pilihannya ke kasir)
Hanna: Did Miss Perfect find a Mr. Perfect?
Spencer: He’s a med student, so everyone’s thrilled.
Hanna: Then that’s not the right top. (Memilihkan baju lain) You need to turn heads.
Spencer: Away from Melissa? Please.
(Hanna Menunjukkan baju yang dipilihnya pada Melissa)
Hanna: She doesn’t always have to win.
(Spencer akhirnya menerima gaun pilihan Hanna)
Hanna: See you around the playground.
Spencer: See you.

(Hanna meninggalkan Spencer dan turun menggunakan eskalator. Kacamata masih bertengger di atas kepalanya. Dia melewati sekuriti tanpa rasa takut. Lalu ia menurunkan kacamatanya. Salesman yang tampak bingung melihat kepergian Hanna cuma bisa melongo. Dia lalu menghitung ulang kacamata yang digelar setelah dicoba Hanna tadi. Hanna berjalan dengan percaya diri dan tiba-tiba sekuriti menghampirinya dan menarik tangannya. Hanna berbalik dan terkejut.)
Security: You forgot your bag.
Hanna: (Tersenyum lega) Thank you.
(Hanna melanjutkan perjalanannya lagi. Tak jauh di depan muncul Mona dengan scarf waran merah yang tadi dicobanya.)
Mona: I so thought you were busted.
Hanna: Nice scarf.
Mona: Nice glasses.

Bandel banget kan dua cewek itu. Ternyata barang-barang keren dan bermerek yang mereka pakai itu hasil curian? Ewww, sampai segitunya ya mereka pingin bergaya. Yang lebih mengejutkan lagi, Hanna dan Mona ini dulunya culun banget. Iya, dulu, waktu Alison masih ada. Mona malah sering dicuekin sama Alison. Kalo Hanna masih suka diajakin gabung.

Nih dia penampilan Mona dulu sebelum berubah jadi salah satu the it girl di sekolahnya.

Old Mona

Kalo Hanna sih masih mending penampilannya. Masalah dia cuma di berat badan aja. Agak gendut gitu, ceritanya. Meski nggak beda-beda amat sama sekarang kalau menurutku. Buktinya, sisa-sisa masa lalunya itu masih bisa kelihatan sampai kini dia jadi the it girl. Dia masih perlu olahraga buat mengencangkan tubuhnya, apalagi kelihatannya dia sering pakai baju bertali spaghetti kayak di bawah ini nih. Well, it’s hard to be so perfect, right, Hanna?

Hanna's Fat

Back to the main story. Awalnya usaha Hanna berhasil. Dia bisa pergi bebas membawa kacamata itu. Tapi pas lagi makan malam cantik di rumahnya, tiba-tiba ada detektif datang ke rumah bersama seorang polisi. Namanya Detektif Wilden. Ternyata ada CCTV yang merekam tindakan pencurian Hanna. Akhirnya, Hanna diborgol dan dibawa ke kantor polisi. Mamanya, Ashley, menemani dia ke sana.

Sementara Ashley bernegosiasi dengan si detektif, Hanna menunggu di luar. Saat itulah dia juga mendapatkan pesan dari A! Heran kok A bisa tahu banyak hal ya? Begini pesannya:

“Be careful, Hanna. I hear prison food makes you fat.”

Ashley udah buat kesepakatan dengan Wilden. Dan Ashley juga akhirnya tahu kalau Hanna udah lumayan sering nyolong-nyolong barang gitu. Ashley tahu Hanna melakukan itu hanya untuk menarik perhatian ayahnya yang udah lama pergi meninggalkan mereka berdua.

Di suatu malam Hanna lagi nonton tivi. Pada saat itu terdengar ada yang membuka pintu. Tenryata itu Ashley dan Wilden. Mereka ciuman dan berjalan masuk ke kamar Ashley. Dari sana Hanna tahu kalau itu adalah perjanjian yang harus dibuat mamanya supaya dia terbebas dari hukuman mencuri kacamata. Hiks.

 

***

Byron punya sebuah rahasia yang hanya diketahui Aria. Bahkan Ella aja nggak tahu. Well, masuk akal sih. Soalnya rahasianya kan tentang perselingkuhan dia sama seorang muridnya di universitas. Semenjak balik lagi ke Rosewood, Byron jadi agak trauma gitu. Dia terus mewanti-wanti Aria biar nggak cerita sama Ella. Dan dia juga nggak bosan-bosannya meyakinkan Aria kalau dia sangat mencintai Ella. Aria jadi flashback ke masa di mana dia melihat dengan matanya sendiri perselingkuhan itu, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu dia lagi bersama Alison.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

***

Rumah Alison, yang bersebelahan dengan rumah Emily, dijual dan kini sudah ditempati oleh penghuni baru. Salah satu penghuninya seusia Emily. Namanya Maya st. Germain. Dia udah punya pacar, LDR-an sejauh 3,000 miles. Ibu Maya pemain cello, dan Maya juga bisa main alat musik tapi bukan cello. Yah, nggak mungkin juga cewek dengan penampilan seperti Maya bisa main cello. Kayaknya sih gitar, ya. Tapi kalau hobi Maya yang satu ini sih cocok sama style-nya dia, yaitu mengisap ganja. Tanpa malu-malu, dia melakukannya di depan Emily. Akhirnya Emily yang belum pernah nyoba jadi pengen nyobain.

Maya

Btw, aku belum kasih lihat foto Emily. Ini dia:

Emily

Penampilannya paling natural kan di antara ketiga kawan lainnya? Sama kayak Maya, Emily juga udah punya pacar, namanya Ben. Mereka sama-sama perenang di tim sekolah mereka. Kalau Aria dan Hanna punya masalah yang serupa perihal ayah mereka, Emily justru bermasalah dengan ibunya, Pam Fields. Emily merasa kalau ibunya cuma menganggap dia properti karena hidup di rumahnya penuh dengan aturan. Tentu aja Pam menyanggah pendapat Emily tersebut. Dia sayang Emily, katanya. Nah, kalau Emily dan ibunya baru mirip banget ya. Terutama warna kulitnya. Kayak ibu dan anak beneran.

Pam

Emily dan Maya semakin akrab. Makanya Emily mulai mau cerita sama Maya perihal Alison. Dia cerita ke Maya apa yang terjadi dengan Alison, gadis yang hilang musim panas tahun lalu. Pas mau berpisah, Maya mau kiss goodbye sama Emily. Tapi entah dia usil atau apa, dia hampir cium bibirnya Emily. Dan ini bikin Emily kaget. Dia nggak marah sih, Cuma senyum aneh aja. Kayak suka gitu. Hayooooo!!!

Emily & Maya

Lalu saat di loker olahraga, Emily kan ngebuka lokernya dia. Di sana dia menemukan sebuah kertas berisi tulisan, dan ternyata itu dari A!

“Hey Em! I’ve been replaced. You’ve found another friend to kiss!”

***

Nah, sekarang kita ngomongin Spencer. Dia adalah cewek yang paling pintar dan tegas di antara keempat cewek itu. Selama musim panas dia menghabiskan waktunya membenahi sebuah gudang. Kalo gak salah, ini mirip kayak gudang tempat kelima sekawan berkumpul setahun lalu. Spencer udah gak sabar pindah ke sana. Namun impiannya harus kandas ketika Melissa, kakaknya yang so perfect melihat-lihat gudang itu. Hmm, penampilan Melissa di bawah ini udah mirip banget sama Nancy Drew ya. Formal amat, lol. Well, buat aku yang suka gaya casual mungkin penampilan Melissa terbilang formal, tapi buat Melissa mungkin itu penampilan sehari-harinya dia.

Melissa

Setelah melihat gudang itu, Melissa memuji hasil karya Spencer. Spencer yang udah senang karena nggak biasanya Melissa memuji harus kesal begitu Melissa bilang kalau dia dan Wren, tunangannya akan pindah ke sana setelah menikah nanti. Karena mereka butuh tempat tinggal sementara rumah mereka dibangun di luar Rosewood. Sejak itu kebencian Spencer pada Melissa semakin menjadi. Dia semakin merasa dianaktirikan. Inilah masalah Spencer dengan keluarganya. Dia selalu merasa nggak dicintai seperti layaknya Melissa. Apa-apa Melissa. Spencer selalu jadi yang kedua. Sebel, kan?

Tapi ada yang aneh dengan Spencer. Maksudnya, baru kali ini dia nggak benci sama pasangan Melissa. Padahal biasanya dia suka ikutan sebal. Mungkin karena Wren berinisiatif meminta maaf soal keputusan Melissa untuk tinggal di gudang milik Spencer. Kejadian ini nggak berhenti sampai di sana. Wren dan Spencer makin menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Bahkan di suatu kesempatan, Wren dengan senang hati menawarkan untuk memijit Spencer yang saat itu lagi pake baju renang yang seksi! Awww! Ekspresinya Spencer udah lebay gitu, padahal dipijitnya nggak seberapa kencang kayaknya, lol.

Spencer & Wren
Suatu malam saat Spencer lagi asyik baca buku, tiba-tiba dia mendengar suara gelak tawa Melissa dan Wren dari kamar sebelah. Mungkin dia merasa cemburu kali, ya. Lalu sesuatu mengusik rasa cemburunya itu. Ada email masuk di laptopnya dan itu dari A!

“Poor Spencer. Always wants Melissa’s boyfriends. But remember, if you kiss I tell.”

Ya ampun! Gimana caranya sih A bisa tahu semua kegiatan mereka berempat ya? Emang berapa CCTV yang dia pasang? Nyamar jadi apa sih dia? Heran, deh

Hal itu bukan cuma bikin Spencer kaget, tapi juga flashback ke suatu kejadian bersama Alison dulu. Waktu itu Ali memaksa dia bilang ke Melissa kalau dia udah ciuman sama pacarnya, Ian. Spencer nggak mau dan Alison pun bilang kalau dia yang akan lapor ke Melissa soal itu. Akhirnya Spencer ngancam Alison kalau dia akan cerita soal Jenna Thing kalau Alison nggak tutup mulut. Alison pun pergi.

Alison & Friends

Mumpung ada gambar di atas, kelihatan kan kalau Hanna dulu nggak gendut-gendut amat. Dia cuma nggak pede aja pakai baju seksi kayak yang lainnya.

Okay, back to the main story again. Habis baca email, Spencer pergi ke jendela kamarnya dan melihat ke kamar di seberang. Di sana dia menemukan hal yang jauh lebih mengejutkan lagi. Dia seperti melihat Alison di sana, dengan rambut panjang pirangnya. Memang cuma sekilas, tapi itu terasa nyata! Kelihatan kan cewek berambut pirang di bawah ini? Dia bukan cuma sekadar patung. Dia bergerak!

Maybe Alison

***

Alison akhirnya ditemukan tapi sudah dalam bentuk jenazah! Dia ditemukan di halaman belakang rumah Maya. Nggak dilihatin mayatnya, karena mungkin udah berbentuk tulang-belulang ya. Ngeri aja gitu. Tapi justru di situ jadi bikin bertanya-tanya, apa benar itu Alison? Secara ada sosok yang terus aja kasih pesan ke keempat sekawan itu dan kelihatan berada di sekitar mereka. Horor kan?! Tapi kalau polisi udah mengonfirmasi begitu, mau gimana lagi ya? Here’s the news:

“Current owners of the residence were in the process of demolishing the structure to make room for a renovation project when workers made the gruesome discovery. The parents of the deceased were unavailable for comment. But a family spokesperson has confirmed the gazebo was under construction the summer 15-year old Alison DiLaurentis disappeared.”

Alison Coffin

Keesokannya diadakan upacara pemakaman. Ada yang mengejutkan di sana, yaitu kedatangan Jenna. Padahal setahu keempat sekawan termasuk ibunya Alison, Jenna nggak pernah terlihat dekat dengan Alison. Waktu itu Jenna diantar oleh seorang cowok. Entah siapa dia. Sejauh ini belom bisa cerita apa-apa soal Jenna karena belum ada cerita lebih lanjut soal dia, kecuali bahwa dia seseorang yang pernah menjadi masalah dalam kehidupan kelima sekawan itu.

Jenna

Saat upacara berakhir, Detektif Wilden yg mengurus Hanna saat nyolong kacamata, langsung menemui empat sekawan. Dia bilang dia perlu menanyai mereka lagi karena kasus Alison yang sudah berubah dari kasus orang hilang ke kasus pembunuhan. Dengan kata lain, mereka dicurigai sebagai pembunuh Alison. OMG!

Hal itu belum cukup mengejutkan karena ada satu lagi kejutan. Mereka berempat sama-sama dapat SMS dari Alison dalam waktu yang bersamaan!

“I’m still here, bitches. And I know everything.”

Text

Empat sekawan, yang semenjak hilangnya Alison nggak pernah berkomunikasi lagi, kini mulai dekat kembali dan berjanji untuk saling menjaga satu sama lain agar terbebas dari dugaan pembunuhan karena mereka nggak membunuh Alison. That’s what they say. But we’ll see, right? And this is how the story ends for this episode. 

Again, I can’t stop commenting on Hanna’s appearance. Her head is SO BIG! Biggest of all the other girls. Is it just her hairstyle or her head is real FAT. Sorry again, Hanna. I don’t know what kind of diet you have to go through to make your head look smaller. Hfftt. 

By the way, soundtracks-nya bagus-bagus deh. Yang aku kenal cuma satu, lagunya Colbie Caillat, judulnya I Won’t. Tapi kok aku ngerasa aneh aja lagu ini dipake buat salah satu ost-nya. Kayak nggak cocok aja gitu. Jadi berasa nonton Dawson’s Creek.

Buku yang disebut-sebut di buku ini adalah buku karya Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Buku ini dijadikan bahan diskusi di kelasnya Ezra. Ini buku klasik dan terkenal dan memang bagus dan kayak jadi buku wajib buat dibaca para pelajar, jadinya sering disebut di film remaja karena dijadikan bahan di kelas. Aku udah baca dan suka. So, aku menanti buku selanjutnya aja buat referensi.

Before I go, aku lupa satu gambar ini, gambar ibunya Alison. Menurutku serem gitu mukanya. Cocok buat cast film hantu. Kalau Alison kan bagus rambut pirangnya, tapi ibunya enggak. Sekali lagi, menyeramkan. Mungkin faktor wajah dan usia ya, lol.

Alison's Mom

Nah, udah panjang lebar aku bercerita. Menurutku episode pertamanya menggugah banget. Seru! Penuh misteri. Apakah Alison benar-benar mati? Lalu siapakah sosok A itu? Kira-kira sampai kapan aksi A meneror keempat cewek itu sampai akhirnya terbongkar? Aku lihat udah sampai season 7 loh di Netflix. Jadi sosok A ini nggak akan ketahuan terus gitu sampe sepanjang itu ceritanya? Hmm, aku jadi nggak sabar. Dan perjalananku masih panjaaaaang banget. Btw, aku baru beli buku pertamanya. Entah kapan bisa baca. Segera, deh, ya.

***

 

 

MY FINE LINE

 

 

“Not Everyone dreams of making it Rosewood, mom. Some people dream of making it out.”

(Emily Fields)

 

“Well, you know what they say about hope. Breeds eternal misery.”

(Spencer Hastings)

 

“I actually like you. That’s what’s unusual.”

(Spencer Hastings)

 

“I think Alison’s playing with us. It’s Alison that we’re talking about here. I mean, wasn’t that her favorite sport?”

(Aria Montgomery)

 

“It’s funny. I mean, even though I grew up here, I feel like a total outsider.”

(Aria Montgomery)

 

“In Rosewood, you don’t have room to make a mistake.”

(Ashley Marin)

 

“I don’t know what I feel worse about. Having to stay away from you or being a jerk about it.”

(Ezra Fitz)

 

“Popular in life and death.”

(Spencer Hastings)

 

 

 

MY BEST SHOT

 

***

 

Sutradara: Lesli Linka Glatter

Penulis Skenario: I. Marlene King & Maya Goldsmith

Berdasarkan Novel Karya Sara Shepard: “Pretty Little Liars”

Musik: Mike Suby

Sinematografer: Dana Gonzales

Desain Kostum: Maya Mani

Tayang Perdana: 8 Juni 2010

Durasi: 45 Menit

Nonton di: Iflix (Di Netflix Juga Ada)

Rating: 4 dari 5 Bintang

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s