Semua Ikan di Langit

“Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan Bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.”

ꟷ Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016.

Baca kalimat di atas di halaman belakang kover ini udah bikin aku merinding. Emang sehebat itukah karya Ziggy yang satu ini? Sampai juri memutuskan untuk nggak memilih pemenang kedua dan ketiga. Kejam atau lebay atau memang wajar? Nah, maka dari itu aku harus membuktikannya dengan membaca bukunya sendiri. Sebelumnya, perlu diketahui kalau aku bukan pembaca yang udah sering baca buku jebolan DKJ. Jujur aku masih anak bawang di dunia membaca. Seenggaknya, mungkin karya setipe Ahmad Tohari kali ya standarnya. Atau aku salah? Ah, sudahlah. Kita lanjut dulu bahas ulasanku.

Membuka halaman awal, sehabis ucapan terima kasih. Tunggu, ini udah masuk cerita apa belum, ya? Habis nggak ada judul apa-apa di atasnya. Lalu kubuka halaman selanjutnya. Prolog. Oh, berarti yang sebelumnya semacam kata pengantar dari penulisnyau. Nggak bisa bedain. Habis mirip ngedongeng juga, sih.

3

Proses membaca pun berlanjut. Kata demi kata kulahap. Tapi aku belum menemukan apa yang dewan juri sebut sebagai “keterampilan bahasa”. Soalnya diksi yang digunakan Ziggy biasa aja, tuh. Nggak rumit sama sekali. Atau mungkin aku aja yang gagal paham mengenai arti dari keterampilan bahasa? Dalam benakku, keterampilan bahasa itu adalah penggunaan diksi yang indah, cenderung mendayu-dayu kayak novel Melayu (iya gitu novel Melayu kakak gitu?) Yah, pada intinya mungkin aku memang salah menerjemahkan maksud para juri.

Sebelum lanjut, aku ceritakan sedikit tentang apa buku Semua Ikan di Langit ini. Diceritakan ada sebuah bus yang terbiasa dengan rutinitas hariannya. Melakukan perjalanan di trayek bersama Pak Sopir dan Pak Kondektur. Hingga suatu hari, bak mimpi, ada seekor ikan julung-julung menghampirinya di tempat kediamannya. Ikan itu bisa terbang. Ajaibnya, Si Bus pun bisa terbang. Dia mengikuti ikan julung-julung tersebut ke suatu tempat. Tempat sampah. Di sana dia bertemu dengan seorang anak kecil yang akhirnya dia sebut Beliau. Bersama Beliau, bus tersebut melakukan perjalanan yang penuh pelajaran bermakna mengenai kehidupan.

Beberapa ulasan di Goodreads bilang kalau buku ini mirip-mirip sama buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery. Untungnya aku udah baca buku itu jadi sedikit bisa membayangkan seperti apa buku ini nantinya. Begitu aku bertemu dengan sosok Beliau, yang merupakan sosok anak kecil dengan mantel biru yang kebesaran, aku bisa memaklumi anggapan para reviewers tersebut tentang kemiripan konsep buku ini dengan buku The Little Prince. Apalagi di buku ini juga disertai dengan ilustrasi-ilustrasi yang juga sekilas style-nya mirip dengan ilustrasi yang ada di buku tersebut. Ada sedikit rasa kecewa sih pas menemukan kemiripan ini. Tapi bukan “aku” namanya kalau memutuskan berhenti begitu saja saat membaca. Karena aku perlu tahu bagaimana kelanjutan kisah si bus damri ini. Juga untuk membuktikan keputusan para dewan juri.

Selama membaca seperempat halaman awal (kalau nggak salah karena aku pelupa), aku masih belum menemukan hal yang istimewa banget dari buku ini, selain daya imajinasi Ziggy yang memang patut diacungi jempol. Semacam kisah ngalor-ngidul yang nggak mengandung makna penting. Dan itu sebenarnya hal yang aku benci. Contohnya, kisah kucing bernama Bastet yang diselamatkan Beliau dari “perbudakan” di sebuah Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia. (Btw, aku suka sama semua subjudul yang digunakan Ziggy untuk menghiasi setiap kepala babnya. Keren dan unik!)

Ketika aku bertemu tokoh kecoak bernama Nad, ingatanku kembali ke sebuah cerita dalam buku karya Dee Lestari, Filosofi Kopi. Di buku itu aku dibuat terkagum-kagum oleh kepiawaian Dee dalam mengolah cerita. Bayangkan, kecoak yang banyak dibenci manusia di dunia nyata mendadak menjadi binatang yang mengundang simpatiku di cerita tersebut. (Tbh, aku nggak benci kecoak dan nggak takut juga, tapi jujur aku nggak suka sama bau kencingnya. Bau!). Nah, aku rasa Ziggy mencoba menciptakan formula yang sama dengan Dee. Lihat aja dari narasi ini:

“Seperti para orang Gipsi, kecoa memiliki hati yang hangat, selalu bahagia dan bebas, dan senang menghibur. Karenanya, kecoa menjadi makhluk baik yang selalu menghampiri orang-orang kesepian, berniat menghibur, meski kadang kebaikan hatinya itu ditanggapi dengan tidak ramah. Ada banyak kecoa yang menangis dan mati bersama saya karena kekejaman itu, tapi mereka tidak pernah berhenti mencoba menjadi teman bagi orang-orang yang selalu sendiri.”

Masih banyak contoh narasi lain yang mencoba mengubah opini orang banyak tentang makhluk bernama kecoak ini. Aku tentunya nggak menuduh Ziggy mencuri formula Dee karena kemiripan itu pasti nggak direncanakan. Tapi kalau disuruh memilih kisah kecoak mana yang lebih mengundang simpati, aku pilih cerita Dee. Karena di sana ada romance-nya, hehe. Nggak tanggung-tanggung, romance-nya antara seorang kecoak dan seorang gadis manusia!!! Amazing, kan? Selain itu kecoaknya Ziggy malah berakhir jadi nyebelin. Dia nggak tulus orangnya, eh, binatangnya.

Fyi, kalau di KBBI penulisan yang benar itu kecoak, lho, bukan kecoa. Ini sengaja apa gimana, ya? Lalu, apakah ada alasan khusus kenapa Ziggy memilih binatang kecoak dibanding binatang-binatang lainnya? Berdasarkan apa yang kubaca, Nad ini ditemukan oleh Beliau di sebuah ruangan penyiksaan. Nad berasal dari Rusia. Kalau udah menyangkut Rusia, bisa jadi ada hubungannya sama penjara atau teknologi. Jadi mungkin ruang penyiksaan itu semacam penjara yang canggih penyiksaannya, ya? Tapi di luar angkasa? Hmm, I’m consufed. But whatever. Intinya orang-orang yang berada di penjara tersebut diperlakukan semena-mena bak binatang, tepatnya binatang kecoak. Maka, jadilah Nad sebagai kecoak.

Di halaman-halaman selanjutnya barulah aku tahu apa rumah luar angkasa tempat Nad disiksa tersebut. Ternyata itu adalah Satelit Bion-M1 buatan Rusia yang membawa hewan dan tumbuhan ke planet Mars pada tahun 2007! Ini pas banget sama tahunnya Nad ditemukan! Misi Rusia tersebut memang nggak sepenuhnya berhasil. Sejumlah hewan yang kembali ke Bumi dalam keadaan mati karena adanya kesalahan teknis berupa matinya lampu kapsul dan juga tingkat stres yang tinggi karena gravitasi. Ini juga sesuai dengan kondisi yang dialami Nad dan anak-anaknya. Kalau mau lebih jelas, bisa klik link ini: Satelit Bion-M1

Baiklah, sekian tentang kecoaknya. Kita lanjut lagi ke review, okay?

Jika di buku Jakarta Sebelum Pagi Ziggy menghadirkan tokoh Abel yang merupakan cowok korban perang Aljazair, di buku ini juga ada tokoh korban perang Jerman bernama Shoshanna. Tokoh cewek ini cuma muncul sebentar dan nggak ada dialog sepanjang kemunculannya, kalau nggak salah. Lalu ada juga tokoh anak korban KDRT yang nggak disebutkan namanya. Kayaknya ini mirip-mirip sama tokoh di buku Ziggy yang lain, Di Tanah Lada. Memang aku belum baca buku itu, tapi dari sinopsisnya sepertinya bercerita soal kekerasan terhadap anak.

Nah, saat cerita memasuki bagian ini, dengan subjudul yang sangat sendu: “Anak yang Terlempar dari Ayunan”, aku mulai terhanyut dalam ceritanya. Sedih aja gitu membayangkan nasib si anak tersebut. Dan sumpah, narasi yang tertulis di sini bikin aku teringat sama cerita yang kubuat sendiri, berjudul Dear Kayla. Ada adegan dalam sebuah mimpi di mana tokoh ciptaanku bermain di ayunan yang mengayun begitu tinggi hingga ujung kaki mereka menyentuh awan dan langsung saja mereka tertarik ke dimensi lain. Mirip-mirip sama narasi anak malang di buku ini:

“…bermain ayunan berhari-hari sampai akhirnya dia berayun terlalu jauh dan terlempar ke luar angkasa.”

Sumpah demi Tuhan aku nggak meniru imajinasi Ziggy. Memang buku ini masuk ke daftar currently reading-ku di Goodreads sejak pertengahan Mei, tapi itu memang kebiasaanku begitu habis baca buku dan ngereview, aku pasti akan langsung pilih satu buku untuk masuk ke shelf currently reading.  Entah itu bakalan langsung dibaca atau enggak. Dan waktu itu aku cuma baru baca prolognya doang. Aku berhenti baca karena sibuk ngejar deadline buat naskah aku itu. Baru berhasil kusentuh lagi buku Semua Ikan di Langit pas aku udah kirim naskahnya ke editor tanggal 13 Juni kemarin. Jadi ini memang kesamaan ide yang nggak disengaja. Oops, maaf, ya, jadi sewot begini. Habis takut aja gitu dikira menjiplak ide kecil Ziggy padahal enggak sama sekali. Baru tahu rasanya kalau kesamaan itu memang benar-benar sesuatu yang TIDAK DISENGAJA. Seperti kemiripan kisah ini dengan kisah-kisah dalam cerita lain. Contohnya soal kecoak yang aku sebut sebelumnya. (Btw, boleh kan promo di blog sendiri. Kalau penasaran dengan ceritaku, bisa klik link ini: Dear Kayla Memang baru kuunggah 7 Bab karena waktu itu lagi sibuk banget. Doakan supaya bisa diterbitkan ya 🙂

Okay, back to the review.

Imajinasi Ziggy menurutku sungguh luar biasa. Aku jadi bertanya-tanya apa aja sih yang dilahap Ziggy sewaktu masih kecil? Pasti sering diceritain dongeng-dongeng hebat ya jadi ada beberapa yang masuk ke alam bawah sadarnya dan akhirnya membantu membentuk daya imajinasinya jadi setinggi itu. Oke, secara konsep kasar bolehlah menyerupai The Little Prince dan Si Bus cukup mengingatkanku pada phone booth ajaib di series Doctor Who, tapi tetap aja nggak gampang membuat cerita seperti yang dibuat Ziggy. Penciptaan galaksi, alam semesta, pohon raksasa di luar angkasa bernama Chinar (mendadak jadi teringat sama film Tree of Life yang keren banget itu), dan kisah si Membingungkan, lalu si Jahanam, dan juga kisah-kisah singkat penuh makna yang diceritakan oleh Chinar beserta anak-anaknya kepada Si Bus. Dari sini aku mulai menyadari keterampilan bahasa yang dimaksud dalam kutipan dewan juri di atas. Menuangkan imajinasi dalam benak kita ke dalam bentuk tulisan dengan kata-kata sederhana namun memiliki makna yang kuat dan dalam. Kira-kira itu kali ya maksud dewan juri perihal keterampilan bahasa Ziggy yang katanya di atas rata-rata? Kadang kan ada diksi yang begitu indah tapi maknanya dangkal. Dia terlihat tinggi karena berbalut diksi yang super. Sedangkan diksi dalam karya Ziggy ini terbilang sederhana namun memiliki makna yang dalam dan luar biasa. Meski begitu, aku ragu kalau ini disebut surealis. Sebagian kisah ini ditulis dalam gaya mendongeng atau fantasi dan bahkan cenderung diarish gitu. Sementara kisah tentang penciptaan alam semesta dan Sang Penciptanya adalah alegori. Well, I may be wrong but that’s my opinion.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Chinar kepada Si Bus begitu enak dibaca. Favoritku adalah kisah tentang kakak beradik yang sama-sama menyukai naga. Aku jadi teringat sama adikku sendiri yang tinggal jauh dariku sekarang. Dulu kita lengket banget. Hiks. Sekarang juga masih, tapi beda rasanya karena LDR-an. Sementara itu kisah tentang adik yang sangat membenci kakaknya bikin aku ketakutan. Because you know what, aku sangat membenci seseorang dalam kehidupan nyataku. Dia bukan adik aku tentunya, dan juga bukan saudara kandung, saudara sepupu atau saudara jauh, tapi kita dipersatukan oleh situasi dan kondisi hingga menjadi sebuah keluarga. Itu berarti masuk kategori “saudara” kan, ya? Dan Chinar bilang Beliau membenci orang-orang yang menyakiti saudaranya sendiri, tak peduli betapa orang itu baik kepada orang lain dan dielu-elukan orang lain, tapi kalau dia nggak bisa berlaku sama pada saudaranya sendiri, dia masuk pada kategori orang yang dibenci Beliau! Oh, Man. I’ll be damned!

See? How Ziggy’s words got me scared to death. Aku sih berharap ini nggak benar karena aku nggak yakin apakah aku bisa bersikap baik sama saudara jadi-jadianku itu.

Walaupun di atas aku sempat menyatakan kalau bahasa yang digunakan Ziggy sederhana, namun ada beberapa deskripsi yang lumayan sulit untuk dibayangkan. Contohnya yaitu soal penciptaan galaksi dan juga aksi penyelamatan Nad dari sebuah kapal berbentuk ubur-ubur raksasa. Untunglah Ziggy menyertakan ilustrasi-ilustrasi yang dibuatnya sendiri. Bagus lho gambarnya. I’m so amazed. Ziggy kok banyak amat ya bakatnya? Adakah bakat lainnya yang bikin aku berdecak kagum?

Sayangnya, untuk kapal ubur-ubur raksasa itu nggak ada ilustrasinya. Jadi aku cuma bisa bayangin roket aja. Untuk ilustrasinya sendiri nggak selalu langsung ditempatkan setelah deskripsi. Kadang bisa diselipkan cukup jauh sebelum atau sesudah deskripsi itu muncul, jadi ada sesi tebak-tebakan juga di sini, lol. Bikin aku bertanya-tanya kira-kira ilustrasi ini mengacu pada deskripsi yang mana ya?

Meski gambarnya keren, nggak semua ilustrasi Ziggy bisa kupahami. Ada satu-dua ilustrasi yang bikin keningku berkerut-kerut. Tapi yang satu ini yang lebih sulit kumengerti padahal udah baca deskripsinya. Kayaknya sih maksudnya itu, tapi tetap nggak yakin yang di bawah Beliau itu apa, lol. Ini dia gambarnya, yang posisi aslinya memang vertikal juga:

1

Kalau yang satu ini adalah ilustrasi yang nggak begitu aku suka:

2

Sementara yang di bawah ini adalah ilustrasi yang paling aku suka.

4

Sehabis baca bukunya sampai tuntas. aku baru tersadar kalau Ziggy nggak pernah membuat ilustrasi tentang sosok-sosok yang jahat, seperti si Jahanam atau pun para pengikutnya yang berwarna merah darah. Kenapa ya? Apakah takut bikin bukunya jadi semakin bernuansa seram? Padahal aku pengen tahu gimana ilustrasi Ziggy untuk mereka, yang dari deskripsinya aja udah bikin tubuh merinding dan mual. Aku juga penasaran sama ilustrasi Si Membingungkan yang begitu nyentrik.  Geli ngebayangin rambut-rambut di kakinya itu, lol.

Melalui buku ini, Ziggy mencoba mengurai sifat-sifat Tuhan yang kadang nggak logis atau bahkan aneh menurut manusia. Seperti apa yang membuat Tuhan sedih, apa yang membuat Tuhan marah, dan apa yang membuat Tuhan bahagia. Dan bagaimana kuasa Tuhan atas sebuah takdir manusia, apakah Beliau bisa mengubahnya atau tidak. Sifat-sifat dan kekuasaan Tuhan ini disampaikan dalam bentuk dongeng yang diceritakan oleh Chinar atau pun oleh keempat anaknya, yang bernama C, H, A, dan R.

Satu hal yang sangat menyita perhatianku adalah sewaktu Ziggy menceritakan ketika Si Bus menawarkan pada Beliau untuk menabrak lelaki muda yang membuat Beliau marah. Namun hal tersebut urung dilakukannya karena Beliau seolah menolak tawarannya.

“Beliau, menyadari tawaran saya, menghentikan gerakan para ikan. Amarahnya berkurang sedikit. Matanya memandangi lantai saya, seperti mengatakan bahwa, tidak, saya tidak usah mengotori moncong saya dengan urusan yang membuat Beliau marah. Kalau Beliau yang diusik, berarti Beliau yang akan mengurusnya. Tak usah repot-repot, Beliau bisa mengatasinya sendiri.”

Membaca kutipan di atas, mengingatkanku pada sejumlah kasus kekerasan yang terjadi dengan mengatasnamakan membela agama dan Tuhan. Juga sedikit mencerminkan suatu kasus yang sempat menjadi topik utama selama berbulan-bulan di televisi dan media cetak, yaitu kasus tentang penistaan agama atau penghinaan terhadap Tuhan suatu kaum oleh seorang tokoh penting di ibu kota.

Entah benar apa enggak yang Ziggy ungkapkan, tapi aku pribadi setuju banget sama pendapat Ziggy di atas. Ya, aku paham seseorang pasti ingin membela seseorang yang dicintainya, apalagi ketika mendapati orang lain menghina atau melecehkan orang yang dicintainya. Seperti yang dialami Si Bus dalam buku ini. Tapi haruskah dengan jalan kekerasan yang mengerikan seperti itu? Aku nggak tahu bagaimana sesungguhnya perasaan Tuhan ketika melihat sesama ciptaan-Nya terlibat dalam pertumpahan darah karena membela-Nya? Namun aku yakin Tuhan nggak butuh dibela sampai sedemikan rupa. Bukan jalan kekerasan yang Tuhan inginkan sebagai wujud cinta kita pada-Nya. Jangan lupa, Tuhan itu Mahahebat. Hanya dengan menyentilkan jarinya (mirip scene di series Sun Go Kong), maka habislah si penghina tersebut.

Lalu kenapa Tuhan nggak melakukan itu?

“Hanya karena Beliau bisa melakukan segalanya, bukan berarti Beliau akan melakukan segalanya.”

Cara mencintai Tuhan juga bukan dengan sikap obsesif, di mana kita hanya mencintai Tuhan, Tuhan dan Tuhan, tapi abai pada makhluk ciptaan Tuhan.

“Orang-orang yang hanya sedikit mencintai tidak punya tempat di sisi Beliau. Tidak akan pernah menjadi ikan di langit yang mengarungi dunia bersama Beliau.”

Ketika Si Bus mengalami perdebatan kecil dengan Nad soal nama yang sepantasnya diberikan pada Beliau, pikiranku langsung melayang ke istilah kafir yang sering terlontar oleh suatu pihak yang merasa dia paling benar dan membuat pihak lain yang mendapat sebutan itu jadi panas telinga dan panas hati. Memang benar kalau menurut KBBI kafir berarti orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Dengan kata lain, itu mengacu pada orang-orang diluar agama pihak tersebut. Tapi belakangan istilah tersebut memiliki pergeseran makna dan berkesan sangat negatif, seolah kaum yang tidak menganut agama tersebut tidak memiliki agama dan tidak memiliki Tuhan. Padahal orang-orang yang katanya “kafir” ini juga punya kepercayaan sendiri, kok. Semua hanya terletak dalam masalah nama, meski prakteknya juga berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Nah, menurutku melalui buku ini, Ziggy mencoba menyampaikan pandangannya tentang sikap tersebut.

“O! Beliau yang baik hati! Mungkin bagi Belliau, sebutan untuknya memang tidak jadi masalah. Beliau adalah Beliau. Tidak jadi masalah bagaimana caranya dan apa bentuknya: Bagi Beliau, yang penting adalah menyebut dan mengingat dirinya, dan terus menyayanginya.”

Ketika seseorang begitu cerewet, banyak mempertanyakan keberadaan Tuhan, apakah Beliau benar ada atau hanya dongeng semata, beberapa orang mungkin menganggap kalau orang tersebut kurang ajar atau tak bertuhan. Padahal apa salahnya kan mempertanyakan hal itu? Bukankah itu suatu cara kita lebih mengenal Tuhan? Tak kenal maka tak sayang, kan? Dan patut diketahui, pada dasarnya sesuatu itu berasal dari Tuhan. Apa yang terjadi pada kita, apa pun itu, berasal dari-Nya. Dan semua mengandung maksud bagi orang tersebut ataupun bagi orang-orang disekitarnya. Termasuk kecerewtan si penanya keberadaan Tuhan tesebut.

Kalau dalam Bahasa Bali, dikenal ungkapan: Nak mula keto, yang artinya kurang lebih “memang begitu”. Banyak orang Bali yang hanya melakukan upacara dan persembahyangan tanpa tahu maknanya. Setiap ada yang tanya pasti dijawab: Nak mula keto, dengan nada cenderung kesal, yang mengisyaratkan: “Ngapain sih kamu banyak tanya? Udah, kerjain aja. Bawel!” Hal ini aku rasa juga berlaku di agama dan kepercayaan lain. Lihat saja para ilmuwan dan filsuf zaman dulu yang sering sampai harus dipenjara dan dibakar karya-karyanya karena diduga mencoba menyampaikan ajaran-ajaran sesat.

Dalam buku ini ada pandangan Ziggy soal hal di atas yang disampaikan melalui dialog seorang kakek dengan seorang lelaki muda. Meski ucapan Si Kakek di bawah ini agak ironis karena hanya mengacu pada orang zaman sekarang, lol.

“Yah, begitulah orang zaman sekarang. Kalau tidak percaya pada hal yang sama dengan mereka, kau setan. Tidak boleh berpikir sama sekali, sepertinya. Saya rasa, mereka rasa, berpikir itu kerjaannya setan! Padahal kita kan disuruh sering-sering berpikir, benar tidak?”

“Dan, tidak apa-apa, mempertanyakan yang katanya dikatakan Tuhan. Ucapan Tuhan itu membingungkanꟷseperti dijelaskan pelajaran filsafat oleh profesor, sementara kita masih belajar bicara. Makanya Dia berikan kita otak, bukan? Kita kan punya otak yang dimaksudkan Dia untuk digunakan berpikir; jadi kalau kita memikirkan Dia, justru saya rasa, itu adalah bentuk pujian dan syukur yang jauh lebih baik daripada menerima ini-itu secara bulat-bulat.”

Hal ironis lainnya dari Si Kakek ini (mungkin juga Ziggy? mungkin juga bagian dari karakter Si Kakek?), ketika dia tampak marah ketika seseorang yang dugaanku adalah Aristoteles, (si Kakek Cuma bilang Aristo-sesuatu itu), bilang bahwa perempuan itu adalah lelaki yang tidak sempurna. Kakek itu tak terima karena Aristoteles seperti meremehkan Tuhan. Menganggap Tuhan menciptakan sesuatu yang tak sempurna. Di sini aku bingung. Kenapa Kakek harus marah kalau Aristoteles berpikiran begitu? Bukankah itu haknya dia untuk berpikir dan berpendapat seperti itu? Apa karena Aristoteles bukan sekadar mempertanyakan Tuhan, tapi juga mencoba membuat ajaran yang sesat? Btw, batas antara sesat dan tidak sesat itu masih saru dimataku. Tipis banget. Sulit mau percaya yang mana. Ikuti kata hati aja, deh.

Tapi kemudian Si Kakek bilang begini:

“Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, Dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin saja membuat sesuatu dengan tidak sempurna. Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara yang berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna. Mereka anggap sesuatu ini, anggap sesuatu itu; padahal sebenarnya penilaian mereka itu tidak ada artinya. Sempurna itu hanya konsep buatan, diciptakan karena merekaꟷkitaꟷsuka menilai dan menghakimi satu sama lain. Yah, begitulah manusia!”

Setelah membaca itu, keironisan Si Kakek di benakku pun hilang tak berbekas. Kakek yang bijak. Seharusnya seperti itu pula sikap orang-orang dan para ilmuwan atau orang-orang hebat di dunia ini yang merasa sombong karena bisa menyamai ciptaan Tuhan. Aku nggak antiteknologi. Aku sangat menikmati teknologi. Tapi kadang aku miris kalau udah ada seseorang yang bilang:

“Sebagus apa pun teknologi/bangunan itu, nggak ada yang sehebat ciptaan Tuhan.”

Atau seseorang yang bilang:

“Lihat nih, aku juga bisa buat gunung seperti Tuhan.”

Duh, mereka itu bego apa gimana, sih? Nggak sadarkah mereka kalau kecerdasan mereka itu berasal dari Tuhan? Segala sesuatu yang kita punya, secara langsung atau tidak langsung, adalah anugerah Beliau. Jadi ketika ada sesuatu yang hebat, pujilah orang itu, jangan merendahkan karyanya, karena sesungguhnya kita memuji kehebatan Tuhan. Ada sentuhan Tuhan di sana. Begitu juga dengan si sombong. Kamu nggak akan punya otak sehebat itu jika bukan atas kehendak Tuhan.

Sikap menerima apa adanya dan berpikir kritis mengenai Tuhan nggak seratus persen baik atau pun seratus persen buruk. Si Bus digambarkan sebagai tokoh yang mencintai Tuhan apa adanya dan mempercayai bahwa Beliau mampu menciptakan banyak keajaiban yang memang sudah disaksikannya sendiri. Sedangkan Nad, karena dia pintar, selalu penuh prasangka kepada Beliau dan segala ciptaan-Nya. Nad sangsi bahwa Beliau mampu menciptakan galaksi dan menembus ruang dan waktu padahal dia sudah melihat dan mengalami sendiri hal itu. Di sinilah batas ketika sesuatu yang berlebihan itu patut diwaspadai. Si Bus yang mencintai apa adanya Beliau, tanpa banyak tanya, juga orang-orang yang mengerjakan suatu bakti kepada Tuhan tanpa tahu maknanya, sepertinya berada dalam posisi “aman”, ya. Mereka hanya mencintai dan mencintai dengan tulus, dan itu adalah salah satu hal yang membuat Beliau bahagia. Akan tetapi, Nad, yang kekritisannya sudah membuatnya membenci Beliau, pada akhirnya harus menerima getahnya sendiri.

Dari kalimat terakhir di atas, pasti banyak yang mengira kalau Tuhan membenci orang yang mempertanyakannya dengan begitu kritis, hingga Beliau memutuskan untuk memberikan pelajaran padanya. Namun tidak seperti itu yang diungkapkan Ziggy dalam buku ini. Dan ini benar-benar membuatku terkejut layaknya sebuah plot twist.

“Ah, saya paham sekarang. Beliau hanya ingin menghindarkan saya dari rasa sedih, yang akan berkembang menjadi kemarahan, dan bahkan, mungkin, kelak akan jadi rasa benci terhadap Nad yang cerdas itu. Bukan karena Nad tidak percaya padanya, melainkan karena Nad melukai hati saya. Beliau tidak peduli pada apa yang dirasakan atau dilakukan makhluk-makhluk lain kepadanya; Beliau hanya ingin melindungi saya.”

Ziggy juga menggambarkan bahwa Tuhan tidaklah posesif. Tuhan tidak pernah mengharapkan manusia hanya terpaku padanya. Tuhan bersedia memberikan ruang dan waktu pada manusia untuk menikmati kehidupan dunia, menjalani takdirnya sebagai sebuah makhluk bernama manusia. Bahkan jika digali lebih dalam lagi, Tuhan memberikan ruang pada manusia untuk berbuat dosa dan melupakan-Nya. Iya. Itulah yang kurasakan saat membaca paragrap ini:

“Beliau membiarkan saya bekerja selama beberapa hari lagi. Saya sangat gembira, bisa berjalan-jalan seperti bus dalam kota biasa sekali lagi. Dan Beliau sepertinya paham kalau bukannya saya tidak menyukai perjalanan dengan Beliau, hanya saja, ini adalah bagian dari saya yang lainꟷ separuh dari kehidupan saya yang melibatkan manusia biasa dan binatang-binatang biasa.”

Jika bercermin pada kehidupan nyata, banyak sekali orang-orang yang dulu bergelimang dosa menjadi begitu dekat dengan Tuhan. Dan nggak sedikit juga yang dulu begitu dekat dengan Tuhan namun perlahan mulai menjauhi-Nya. Seperti itulah manusia. Dan Tuhan selalu menerima manusia yang siap kembali kepada-Nya dan melanjutkan perjalanan bersama-Nya. Karena sesungguhnya kita nggak akan tahu artinya rasa manis kalau belum pernah merasakan rasa pahit. Betapa mulianya Engkau, Tuhan.

Seperti sebuah kutipan Oscar Wilde yang sangat aku suka:

“Every saint has a past, and every sinner has a future.”

Bagian paling favoritku dari buku ini adalah sebuah bab berjudul Mereka yang Gagal Terbang. Membaca bab ini, aku semakin terharu dengan betapa baiknya Tuhan pada kita, para manusia. Betapa Beliau mencintai kita. Padahal kita ini apa coba? Cuma anak-anak bandel yang suka melawan. Menyesal sebentar, tapi habis gitu bandel lagi.

“Beliau suka sekali pada manusia. Heheheh … Lebih dari semua hal di dunia yang Beliau keringkan dan di taman bermain yang Beliau angkat, Beliau menyukai manusia. Heheheh … Dari semua bola-bola gula yang menciptakan jutaan bintang, dari semua kepakan sayap burung, dari semua aroma bunga pada pagi hari; manusialah yang paling disukai Beliau. Heheheh … Hingga pohon akhirnya disebut pohon, dan timun akhirnya disebut timun – bukan karena Beliau yang menyebutnya begitu, tapi karena Beliau begitu menyukai manusia, sampai Beliau membiarkan segala miliknya menjadi milik manusia. Heheheh … “

Hampir lupa bahas judulnya. So, judulnya unik banget kan? Semua Ikan di Langit. Mana ada ikan di langit? Yang ada ikan di laut. Langit itu tempatnya bintang dan benda-benda angkasa lainnya. Terus kenapa dipilih ikan? Well, setelah aku coba renungkan, kayaknya ini nggak bermakna apa-apa. Maksudku, Ziggy memilih sesuatu yang kontradiktif sebagai salah satu alegorinya dalam buku ini. Dari kekontradiktifan ini akan menimbulkan suatu efek keajaiban. Karena segala hal yang berkaitan dengan Tuhan biasanya sesuatu yang magical. Maka dari itu, ikan yang biasanya berenang di air kini digambarkan sebagai makhluk yang bisa terbang di langit. Itu sesuatu yang ajaib, kan? Dan aku langsung berpikiran ikan itu pasti ikan jadi-jadian atau ikan titisan dewa. Kalau dipilih burung, nggak ada yang spesial wong dia udah biasa terbang. Lagi pula burung udah punya tugas lain di buku ini. Jadi seperti itu kayaknya.

Ikan-ikan ini sepertinya alegori untuk jiwa-jiwa yang sudah berada di sisi Tuhan. Yang mencintai Tuhan sehingga diberikan anugerah untuk berkelana bersamaNya. Ikan-ikan ini juga menjadi wujud apa yang dirasakan oleh Beliau. Jika beliau bahagia, maka ikan-ikan tersebut akan memuntahkan titik-titik cahaya yang akan menjadi jutaan bintang di langit. Jika Beliau bersedih, maka ikan-ikan tersebut akan menjadi tetes-tetes hujan yang membunuh keajaiban. Dan kemarahan menjadikan ikan-ikan tersebut bagai pedang yang menusuk.

Ketika cerita ini mendekati akhir, aku semakin terpukau dengan plot yang dibentuk Ziggy. It’s so wonderful yet sad. Di sana aku seperti melihat awal kehancuran dunia/kiamat. Dan aku juga melihat sebuah perputaran kehidupan/rotasi, di mana batas antara awal dan akhir begitu kabur. Di manakah awal ceritanya, apakah kehancuran itu atau pertemuan Si Bus dengan Beliau? Pokoknya keren banget! Satu hal yang pasti:

“Tidak ada yang pertama, dan tidak ada yang terakhir, selain Beliau.”

5

Pada akhirnya aku merasa buku ini adalah sebuah dongeng atau imajinasi seorang Ziggy mengenai alam semesta ini dan Tuhan Yang Maha Esa. Meski ini hanya semacam imajinasi, tapi apa yang Ziggy tuturkan sangat indah dan masuk akal. Masuk akal di sini bukan berarti apa yang Ziggy tulis benar-benar menerangkan seperti itulah terjadinya alam semesta. Bukan. Itu tentunya cuma alegori. Tapi sekiranya apa yang Ziggy sampaikan bisa membuatku percaya bahwa seperti itulah kehidupan ini terbentuk. Seperti itulah sifat-sifat Tuhan dan segala hal yang diciptakan-Nya. Sebuah pemikiran yang juga selalu menjadi pertanyaan dalam hidupku.

Bersama buku ini, aku merasakan segala emosi yang berhasil dituangkan dengan baik oleh Ziggy. Karakter-karakter yang digambarkan dengan cara yang unik dan beberapa terlihat lucu, terutama ketika karakter keempat anak Chinar muncul. Aku tertawa geli membayangkan gaya bicara mereka berempat, hihi. Selain itu narasi yang Ziggy gunakan juga nggak membosankan meski terbilang padat. Kisah yang bahagia, sedih dan mengharukan, juga kisah-kisah yang mengerikan dan bikin wajah meringis, semuanya terasa menyenangkan untuk dibaca dan begitu berkesan di hati. Buku ini benar-benar bikin aku takjub! Aku senang banget karena nggak melewatkan membaca buku yang superkeren ini. So it is highly recommended. Dan buat para juri, aku setuju dengan pendapat kalian mengenai keterampilan bahasa Ziggy. Buku ini pantas menempati juara satu Sayembara Novel DKJ 2016. Tapi aku agak kecewa juga sih karena atas keputusan ini, jadi nggak ada juara kedua dan ketiga. Sedih aja, gitu.

***

SETTING

  1. Toko Pembuat Sepatu.
  2. Tempat parkir bus.
  3. Tempat Sampah: Di mana Si Bus pertama kali bertemu dengan Beliau.
  4. Kamar: Perhentian pertama si Bus bersama ikan julung-julung dan Beliau. Tidak ada bangunan yang menaungi kamar ini. Mengapung-apung di luar angkasa, dengan kasur dan lemari dan meja belajar dan ember yang terus-terusan meluncur dari satu sisi ke sisi lain setiap kamar itu bergoyang di tengah langit kosong. Kamar ini berantakan banget.
  5. Dunia yang Datar: Berupa dataran yang dipenuhi pasir. Tempat Bastet akhirnya berada.
  6. Di tengah-tengah angkasa.
  7. Ubur-ubur raksasa/rumah luar angkasa: Tahun 2007. Ini ternyata adalah ruang penyiksaan Nad.
  8. Bumi: Auschwitz, Jerman,1944.
  9. Kota: Sebuah pemukiman yang mungkin telah menampung si malang Shoshanna.
  10. Pasar.
  11. Ruang hampa di luar angkasa: Sebuah tempat yang sunyi dan gelap, tidak ada bentuk, tidak ada apa pun. Hanya ruang kosong seperti lubang di tengah-tengah angkasa yang tidak berisi dan tidak berakhir. Di sini Beliau menunggu seorang anak perempuan korban kekerasan.
  12. Ke kota si Bus: Bandung. Abad 21.
  13. Kota yang indah.
  14. Toko roti pertama: Jendelanya besar, mengilap, dengan kaca berwarna gelap. Di belakangnya di pajang roti-roti di dalam keranjang anyam berlapis kain merah. Segala macam roti ada di sini.
  15. Toko roti kedua: Ukurannya lebih kecil dan jauh lebih sepi. Tidak ada pajangan roti di depan jendelanya. Hanya ada dua buah rak di dinding kanan dan kiri. Karena kebaikan pemiliknya, ikan-ikan emas yang melayang dari toko roti pertama mendarat di toko roti kedua milik mereka.
  16. Di hutan: Tempat si Bus bertemu dengan lelaki muda yang membawa pacul.
  17. Pantai: Di sini Beliau menunjukkan keajaibannya pada Nad yang meragukannya. Di sini juga pertama kalinya Beliau mengedipkan matanya. Namun tetap saja Nad enggan mengakuinya. Sikapnya membuat si Bus sakit hati dan kecewa. Akhirnya ikan-ikan menjatuhkan batu di atas Nad. Dia pun penyek dan tidak pernah berubah menjadi ikan. Too bad, Nad.
  18. Daerah berbukit-bukit dan sangat hijau: Di tempat ini Beliau mencoba membantu si Bus mengeluarkan rasa sakit hatinya akibat perbuatan Nad dan juga atas keputusan Beliau mematikan Nad. Di sini ikan-ikan Beliau menempelkan diri di seluruh permukaan si Bus. Tubuh mereka bergetar kencang dan memancarkan cahaya. Bukan memuntahkan bulir cahaya atau meledak menjadi bulir-bulir cahaya; mereka berubah menjadi cahaya, Ikan-ikan ini menjadi keajaiban murni. Akhirnya si Bus mengeluarkan air mata. Dia menangis! Bersama itu, kesedihan yang membebani Si Bus turut keluar.
  19. Sebuah pulau di tengah perairan luas: Tempat keempat anak Chinar tinggal.
  20. Kota-Kota Datar: Sebuah tempat di mana penduduknya suka sekali bertengkar. Namun ada satu keluarga baik hati yang nggak mau ikut-ikutan hobi itu. Para tetangga berniat mengubah mereka. Akhirnya para ikan mengajak keluarga ini pergi sementara Beliau membakar habis kota tersebut.
  21. Lautan: Di sini rombongan bertemu dengan serdadu bawah laut dan Si Membingungkan.
  22. Taman Besar: Taman ini sangat indah dan dipenuhi banyak bunga. Akan tetapi di sinilah awal si anak jahat mulai menghasut seorang wanita melalui bunga mulut singa yang sengaja disihirnya menjadi mirip tengkorak. Hasutannya ini semakin menyebar hingga membuat para manusia saling membunuh sesamanya dan makhluk hidup lain untuk mengincar tengkorak mereka. Tubuh mereka pun mulai dilumuri darah karena anak jahat bilang warna merah adalah warna yang paling cantik.
  23. Danau: Tempat si jahanam/anak jahat memberikan “mukjizatnya” berupa botol bir milik si Membingungkan. Botol itu dijatuhkan ke dalam danau, membuat airnya berwarna ungu kemerahan. Semua manusia merah berusaha menciduk airnya. Bahkan ada yang melompat masuk dan menghirup airnya dengan rakus hingga danau itu dengan segera menjadi kering-kerontang. Para manusia itu mulai saling cabik dan saling makan karena kelaparan. Inilah awal dari kiamat. Si anak jahat pun berubah bentuk menjadi sosok yang benar-benar menjijikkan dan menyeramkan.

KARAKTER

  1. Nad: memiliki antena di kepalanya, karena dia kecoak. Kecoak wanita. Berpengetahuan luas. Tingkah lakunya anggun bak ratu. Suaranya tenang dan berwibawa. Nama lengkapnya Nadezhda, yang berarti harapan. Dia berasal dari Rusia dan sudah melahirkan 33 anak.
  2. Saya: Dia adalah bis bertubuh gembrot. Namanya Damri (kalau ada yang tanya namanya) Polos. Setia. Memiliki sedikit pengetahuan. Senang mendengarkan cerita. Usianya sudah tua (kira-kira 33 tahun) dan sudah pensiun. Tanpa disadarinya, mantel biru yang Beliau pakai berasal dari puing-puing dirinya dan jarum yang dipakai Beliau untuk menjahit adalah bagian terakhir dirinya yang berhasil ditangkap Beliau sebelum jatuh.
  3. Anak lelaki/Beliau: Matanya bundar seperti kancing, bulat dan terbuka lebar dan tak pernah berkedip. Kulitnya begitu pucat dan tubuhnya sangat kecil. Meski tangan dan kakinya kurus, kedua pipinya tampak berisi. Wajahnya nggak bisa dibilang tampan, tapi dia memiliki paras yang menarik. Rambutnya bergelombang dan warnanya lebih gelap dari malam, menutupi separuh mukanya. Beliau mengenakan mantel biru yang panjangnya dua kali lipat tingginya sendiri. Mulutnya tidak pernah terbuka, bahkan ketika dia “makan”, “minum”, dan “merokok”. Dia juga tidak pernah bicara. Wajahnya tak berekspresi. Hidungnya tak mengembuskan napas. Beliau selalu memperhatikan. Beliau tidak pernah tidur. Suka menjahit dan melihat orang menjahit. Chinar bilang usianya tujuh. Entah tujuh apa.
  4. Bastet: Kucing gendut, hampir botak, kumisnya tinggal tiga dan bengkok. Ekornya terkulai dan terlalu lemah untuk bergoyang-goyang. Awalnya tinggal di Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia. Nad bilang Bastet sesungguhnya adalah Dewa Kucing.
  5. Chiro: Suka diam di depan kampus di Bandung. Awalnya kukira Chiro ini adalah manusia, nggak tahunya dia kucing jalan, lol.
  6. Umi Yuyun: Seorang ibu rumah tangga yang sering naik bis setiap pulang dari pasar. Dia ahli soal ikan karena suaminya gemar makan ikan asin dan juga pedagang ikan hias.
  7. Shoshanna: Seorang perempuan berumur 19 tahun. Dia korban perang Jerman. Ketika ditemukan, gaunnya compang-camping dan kotor. Rambutnya dicukur habis, atas kepalanya ditutupi topi tebal dengan simbol elang.
  8. Lelaki muda di pasar: Dia yang membuat Beliau marah karena menendang kakek kurus kering berkulit hitam. Akibatnya ikan julung-julung memelesat dan menusuk-nusuknya dengan ganas. Beliau pun menjahit matanya tertutup.
  9. Anak perempuan di ruang hampa: Juga dikenal sebagai anak yang terlempar dari ayunan. Rambutnya lurus berwarna gelap, tergerai melewati bahu. Gaunnya berwarna kuning pucat dengan corak bunga-bunga kecil berwarna ungu, dihiasi renda-renda kecil berwarna putih di tepiannya, dan pita kain terkait di bawah kerah bajunya yang berbentuk kotak. Kakinya memakai sepatu berwarna hijau, tapi hanya sebelah kirinya saja. Sepatu sebelah kanannya tertinggal di luar rongga angkasa. Kulitnya putih pucat dihiasi semu biru dan ungu; hijau dan kuning di beberapa tempat. Matanya besar, dengan bola berwarna cokelat madu; tapi tertutupi separuhnya oleh kelopak mata yang bengkak. Hidungnya merah. Gadis ini mendekati Beliau dan menyusup, dan berubah menjadi ikan julung-julung. Gadis ini sudah mati.
  10. Pak Sopir: Sudah tua. Suaranya serak tapi tetap suka merokok
  11. Pak Kondektur: Lebih cerewet dan suaranya lebih keras dari Pak Sopir
  12. Gusti: Remaja perempuan. Memakai kerudung warna merah muda, pakaiannya warna abu-abu, membawa tas besar berisi macam-macam peralatan gambar. Kakinya dilapisi sepatu berhak tipis. Senyumnya manis sekali. Dia naik si Bus, mau ke Braga tapi akhirnya memutuskan naik ojek. Sempat bicara sebentar dengan Beliau,
  13. Wanita gendut: Pemilik toko roti pertama yang dikunjungi Beliau. Orangnya pelit. Beliau membuat uang-uangnya, dalam bentuk mirip ikan julung-julung berwarna emas, melayang terbang dari dalam kotak uangnya.
  14. Kakek di toko roti kedua: Tentu dia pemilik toko roti kedua. Wajahnya galak. Berjalan dengan bertumpu pada tongkat kayu dan jalannya sudah goyah. Meski wajahnya galak, tapi ternyata orangnya baik. Dia memberikan roti yang baru dipanggang pada Beliau.
  15. Nenek di toko roti kedua: Mungkin dia istri kakek di atas. Sama baiknya. Dia membekali Beliau dengan banyak roti.
  16. Lelaki tua di toko sepatu: Dia sedang mengisap tembakau dari pipa tuanya ketika Beliau datang ke tokonya. Memakai sarung tangan wol yang sudah bolong-bolong dan bulukan di cuaca yang dingin itu, membuat jemarinya gemetar. Dia membuatkan sepatu untuk Beliau dan memberinya kaus kaki tebal.
  17. Wanita gemuk di toko sepatu: Hidungnya mirip hidung anjing. Kaya raya. Jadi dia beli sepatu secara impulsif saja.
  18. Lelaki muda di toko sepatu: Badannya tegap dan kumisnya lebat. Memakai setelan jas dan mantel cokelat muda bagus, sewarna dengan topi bagus di kepalanya. Rambutnya warna cokelat muda. Memakai syal rajut. Dia minta dibuatkan sepatu dari kulit sapi muda.
  19. Chinar: Pohon yang sangat besar di luar angkasa. Lebih besar daripada Bumi; bahkan lebih besar daripada matahari. Dia satu-satunya pohon di luar angkasa, dan pohon tertua di seluruh jagad raya. Setiap detik, di pohon ini, ada ratusan telur yang retak dan dari dalamnya keluar bayi kecil yang berkilauan. Suaranya berat dan serak. Chinar juga sering dikenal sebagai ‘Pohon Pesawat’. Chinar mengaku usianya hanya beberapa waktu lebih muda daripada Beliau. Pekerjaannya adalah beternak jiwa. Suka mengakhiri ucapannya dengan “hm, hm”. Chinar memiliki empat orang anak di Bumi.
  20. Si Hebat: Telur istimewa yang baru terbentuk. Kata Chinar dia memang sangat hebat. Suatu saat, kalau sudah perlu, dia akan menggali lubang di angkasa nanti. Di halaman mendekati akhir, Chinar menjelaskan bahwa hanya orang dari negeri China yang mengingatnya. Mereka menyebutnya Yu. Kedatangan Yu sudah ditunggu-tunggu oleh Beliau. Yu ini akan menggali lubang untuk mengeringkan sebagian dari air di Bumi, dan semua air itu akan dia bawa ke tempat lain. Sebelum dapat penjelasan lanjutan, aku kira si Hebat ini adalah Neil Armstrong, lol. Dia gali lubang di bulan untuk pasang bendera, maksudnya, HAHAHA. Btw, Yu ini beneran ada, lho. Dia terkenal karena berhasil mengendalikan banjir besar yang saat itu terjadi di Cina/Tiongkok. Untuk lebih jelasnya, bisa buka link berikut: Si Hebat Yu
  21. Lelaki muda yang membawa pacul: Dia adalah petani. Jatuh cinta kepada seorang wanita anak pemilik peternakan besar. Dia ke hutan karena mendengar ada monster besar di sana. Rupanya monster yang dimaksud itu si Bus, lol. Tahun berapa ya itu? Di hadapan Beliau, dia menyebut dirinya Hamba.
  22. Wanita yang dicintai si petani: Rambutnya panjang sekali, dan bergelombang kecil-kecil. Matanya besar dan bulat. Kulitnya seperti mentega tawar, dan kakinya pendek tapi cepat. Senyumnya sangat indah dan suara tawanya sangat menawan.
  23. Adik lelaki: Orang yang sangat membenci kakak perempuannya. Sudah berpetualang ke banyak tempat dan bertemu banyak orang. Meski dicintai banyak orang, tapi karena dia membenci kakak kandungnya sendiri, Beliau menjatuhkan stalaktit ke kepalanya. Dengan begitu, dia tak bisa memenuhi impiannya untuk menua bersama petualangannya. Dia mati muda.
  24. Kakak Perempuan: Dia sangat mencintai kursi pemberian orangtuanya dan ingin menua bersamanya. Hal ini membuat adiknya merasa jijik dan membencinya. Namun dia tetap mengharapkan kepulangan adiknya. Meski impiannya untuk menua bersama kursinya terwujud, dia sedih karena adiknya tak juga kembali.
  25. Kakak Perempuan 2: Suka cahaya terang, suka binatang, suka naga. Suka berpetualang. Dia bahkan berkesempatan berpetualang bersama Beliau untuk melihat naga. Namun ia akhirnya tewas dibakar naga. Dia kemudian berubah menjadi ikan terbang.
  26. Adik perempuan: Suka cahaya redup, tidak suka binatang, suka naga. Tidak suka pergi keluar rumah. Dia sedih sekali ketika kakaknya tewas. Dia pindah dari rumah kenangan berisi hiasan naga dan membeli rumah yang lebih kecil. Dia hidup sendiri dan akhirnya menyusul kakaknya menjadi ikan.
  27. C: Anak pertama Chinar. Ucapannya selalu diakhiri dengan “Ha!” Dia pohon yang paling gendut di antara keempat pohon.
  28. H: Anak kedua Chinar. Ucapannya selalu diakhiri dengan “Hohoho.”. Dia pohon yang paling tinggi di antara keempat pohon.
  29. A: Anak ketiga Chinar. Ucapannya selalu diakhiri dengan “Heheheh.”
  30. R: Anak keempat Chinar. Ucapannya selalu diakhiri dengan “Huh!” Dia pohon yang paling ramping di antara keempat pohon.
  31. Wanita yang mencintai gaunnya: Kaya raya dan cantik sekali. Berasal dari bangsa penguasa (Kayaknya Belanda, karena Ziggy bilang ini berasal dari negeri Si Bus) Rambutnya sewarna batang kayu dan bentuknya menyerupai akar-akar keempat pohon. Matanya seperti air yang mengelilingi pulau keempat pohon, dan bentuknya menyerupai daun paling bagus di kepala keempat pohon. Suarannya seperti kicau burung,namun lembut bagai tiupan angin. Dia pandai menjahit. Dia lalu membuat gaun sendiri dari kain bagus berwarna kuning. Dia sangat mencintai gaun karyanya tersebut, begitu juga orang-orang di sekitarnya. Gaun tersebut pun balas mencintai penciptanya. Wanita ini mencintai lelaki pribumi, yang tentu saja ditentang keluarganya. Kesedihannya membuat gaunnya turut merasakan hal yang sama. Akhirnya dia gantung diri, dan gaun kesayangannya itu melekat di tubuhnya saat dia melakukan itu.
  32. Cahaya pertama: Dia sangat cantik. Sudah ada dan menemani Beliau bahkan sebelum Chinar dan anak-anaknya lahir. Bersama Beliau, dia mengitari dunia yang belum terbentuk. Dia sangat dekat dan yang paling dekat dengan Beliau. Dia sangat mencintai Beliau hingga tidak bisa menerima kehadiran makhluk lain, yaitu manusia. Karena sikapnya tersebut, dia diusir dari sisi Beliau.
  33. Anak lelaki yang sangat disayangi Beliau: Dia sangat mencintai Beliau dan merasa bahwa tak ada yang lebih penting dari Beliau. Orang-orang di sekitarnya tak setuju dengan pendapat si anak. Orang-orang tersebut ingin menyingkirkan si anak lelaki tersebut. Namun karena dia adalah anak yang dicintai dan mencintai Beliau, usaha tersebut tidak pernah berhasil.
  34. Serdadu bawah laut: Ikan yang bersuara tinggi dan cara bicaranya aneh. Ucapannya keluar dari gelembung yang pecah. Mereka bertugas mengawal Si Bus yang membawa Beliau agar terbebas dari serangan hewan bahari.
  35. Si Membingungkan: Seorang lelaki penyendiri yang sedang mengapung-apung di tengah lautan luas. Tidak punya teman. Dia memakai rompi cokelat muda yang banyak kantongnya. Celananya pendek dan kantongnya juga banyak. Dia memakai sepatu bot di sebelah kanan, dan sandal jepit di sebelah kiri. Kaus baju dan kaus kakinya warna merah terang. Rambut keriting yang lebat menyembul dari atas karet kaus kakinya. Dia memiliki jenggot yang juga keriting dan lebat. Warnanya cokelat kemerahan. Jenggot tersebut berhiaskan potongan ranting, serpihan daun, mayat kumbang, ikan kecil, keluarga belatung, dan secuil kulit belut. Matanya biru cemerlang. Dia memegang sebotol bir di tangan kirinya dan rokok di tangan kanannya. Tubuhnya gendut dan suaranya serak dan sangat kasar. Meski begitu suaranya teduh. Pada akhirnya, bersama botol bir dan puntung rokoknya, ia tenggelam dilahap lautan.
  36. Anak lelaki di lautan: Ia terlahir dari puntung rokok si Membingungkan. Jadi puntung rokok itu menyala terang dan membakar diri, menimbulkan asap yang hitam dan bau. Asap itu membumbung tinggi, berwarna keabu-abuan keruh di udara, membentuk kekacauan di atas lautan, dan akhirnya, membentuk sosok. Sosok itu perlahan memadat, dan menjadi sesuatu yang begitu nyata: anak lelaki. Berbeda dengan Beliau, anak lelaki itu tampak seperti anak manusia biasa (yang melayang). Rambutnya hitam kelam. Pipinya bulat dan merona merah. Anak itu tampan. Sebelah matanya tertutup sedangkan yang lain berkedip. Senyumnya lebar. Suaranya manis seperti kicauan burung kecil. Siapa pun yang memandangnya akan terpesona. Namun lama-kelamaan dia berubah. Suaranya seperti ular, lidahnya terbuat dari api. Senyumnya culas dan penuh hasutan. Ya, dia adalah anak jahat! Iblis/setan. Si Bus menyembutnya Si Jahanam. Dia selalu mengikuti kemana Beliau pergi. Meski anak tersebut selalu mengganggu Beliau, Beliau selalu bersikap tenang dan terus menciptakan hal-hal yang indah.

TRIVIA

  1. Ikan tidak menjawab. Mereka tidak pernah menjawab; hanya mengikuti perintah Beliau.
  2. Chiro dan Umi Yuyun adalah orang yang paling disukai oleh Si Bus.
  3. Hiburan favorit Si Bus adalah kentut di jalanan.
  4. Mantel berwarna biru tua dalam ukuran dewasa yang dipakai anak lelaki diberikan oleh ikan julung-julung. Mereka menyelam ke dalam lautan sampah untuk mendapatkannya.
  5. Setiap hari, seekor ikan julung-julung kecil keluar dari sela-sela rambut Beliau lalu terbang dan bergabung bersama awan julung-julung yang mengapung-apung di atas kepala anak lelaki itu.
  6. Makanan, minuman dan puntung rokok yang dikonsumsi Beliau hilang begitu saja, dengan asap yang keluar dari sela-sela sempit di antara bibirnya yang tertutup rapat.
  7. Karena nggak pernah bicara, Si Bus jadi nggak tahu nama anak lelaki itu sebenarnya dan akhirnya Si Bus menyebutnya Beliau.
  8. Perhentian pertama Si Bus adalah sebuah kamar. Di kamar berantakan ini tinggal seorang cewek dan seekor kucing. Kucing ini kerjanya membersihkan kamar itu.
  9. Si Bus mendengar cerita lewat lantai. Orang-orang yang menapak ke dalam Si Bus, menginjak lantai Si Bus. Dari sanalah mereka menceritakan sebagian dari hidupnya, sedikit demi sedikit, tanpa mereka sadari.
  10. Si Bus nggak bisa mengetahui cerita ikan julung-julung dan Beliau karena mereka mengapung. Si Bus juga nggak bisa mendengar cerita bayi karena mereka digendong ibunya.
  11. Si Bus digerakkan/dikemudikan oleh ikan julung-julung dan Beliau dan mereka menggerakkannya sangat cepat namun tampak lihai. Mirip The Knight Bus di Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, nih, kayaknya.
  12. Pertemuan pertama Si Bus dan Nad terjadi karena Beliau.
  13. Nad berkata bahwa Bastet sudah jadi Dewa.
  14. Ikan tidak bisa disiksa, jadi tidak masalah kalau mereka hidup di dalam ruang penyiksaan di luar angkasa.
  15. Bayi-bayi kecoak Nad yang nyaris mati akhirnya menjadi ikan julung-julung.
  16. Beliau gemar menciptakan berbagai hal, dan Beliau gembira mendengar puji-pujian akan hasil karyanya itu.
  17. Kebahagian Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan Beliau berakibat fatal.
  18. Beliau selalu memandangi ke arah cahaya yang pergi. Ketika Beliau melakukannya, ikan-ikan akan mengeluarkan lebih banyak cahaya lagi.
  19. Seperti si Bus, ikan-ikan itu sangat menyayangi Beliau.
  20. Ikan-ikan itu ada begitu dekat dengan Beliau. Mereka ada di sekeliling Beliau, membantu gerakan Beliau, memahami perasaan Beliau. Pada satu titik, mereka bahkan berada di dalam tubuh Beliau; merupakan bagian dari dirinya, sebelum keluar menjadi sebuah ikan kecil yang kelihatannya tidak tahu apa-apa.
  21. Ikan yang bersedih memuntahkan kegelapan.
  22. Di dalam saya, ketika Beliau bergerak perlahan-lahan di sana, sepertinya waktu tidak pernah terlahir. Segalanya bergerak dalam gerak lambat, tapi tidak pernah ada yang berubah. Saya sudah tua; dapat dilihat dari karat dan kotoran di kulit saya, juga kentut saya yang semakin hari semakin hitam. Tapi, selama saya berada Bersama Beliau, tidak ada karat yang bertambah, tidak ada kentut yang keluar.
  23. Beliau suka burung. Saya menyadari hal ini ketika Beliau menghabiskan waktu lama sekali menonton burung-burung merpati di taman, pada suatu hari.
  24. Kulit pisang dan tulang ayam yang masih ada dagingnya adalah makanan kesukaan Nad.
  25. Si Bus berkata “ya” dengan menggerakan wiper kanan, “tidak” dengan wiper belakang, dan jika sedang lesu maka lampu kirinya tidak bisa menyala.
  26. Ikan-ikan bisa terlihat sebagai ikan, bisa terlihat sebagai benda lain, dan bisa juga sama sekali tidak terlihat, sesuai kebutuhan saja.
  27. Beliau awalnya tidak memakai sepatu. Namun akhirnya dia memakai sepatu hasil karya si kakek di toko sepatu. Warnanya cokelat muda.
  28. Tidak ada “hari” di luar angkasa dan di perjalanan antarwaktu.
  29. Pertama kalinya para ikan julung-julung menyentuh sesuatu yang berupa cairan adalah ketika mereka mencelupkan diri ke dalam sup bunga kol si lelaki petani.
  30. Si Bus masih menyimpan mangkuk milik si lelaki petani.
  31. Beliau suka orang-orang yang berusaha keras seperti si lelaki petani.
  32. Chinar dan Beliau sama-sama tidak suka melihat kakak-beradik yang terpecah.
  33. Beliau sangat membenci orang-orang yang meninggalkan dan menyakiti saudaranya.
  34. Menangis dengan seluruh tubuh adalah jenis tangisan yang selalu membuat Beliau datang.
  35. Sebelum bepergian dengan bus, Beliau bepergian dengan menaiki ikan paus. Begitu yang C, H, A, dan R bilang.
  36. Beliau bisa mengubah-ubah waktu.
  37. Kedua kalinya Beliau berkedip adalah ketika bertemu si Membingungkan yang sedang merokok.
  38. Ketika hancur, serpihan terakhir tubuh si Bus berupa sebatang besi tipis yang menyerupai lidi pendek. Sebelum terjatuh, Beliau mengulurkan tangannya dan menangkap serpihan itu.
  39. Benda-benda yang dibuat Beliau dengan menggunakan peralatan jahitnya:
    • Sebuah boneka beruang berwarna cokelat muda, dengan mulut cemberut, dan bahu yang terkulai. Beliau mengikat pita berwarna emas dan memasangnya di leher beruang palsu itu.
    • Pakaian untuk menghangatkan orang-orang yang tersesat pada malam hari.
    • Sebuah boneka kain berbentuk bus: kotak panjang berwarna biru laut dengan sedikit guratan putih, kaca-kaca jendela dan roda-rodanya terbuat dari kain hitam, dan ada secarik kain kuning yang diletakkan sebagai kartu tanda pengenal. Boneka tersebut diisi serdawa para ikan, yaitu bintang-bintang kebahagiaan.
    • Selimut kapas yang panjang sekali. Pinggirannya berwarna merah muda dengan bintik-bintik putih, di tengah-tengahnya Beliau jahitkan kain dengan berbagai motif dan warna: biru dengan garis-garis putih dan putih dengan bintik-bintik biru, kuning dengan bunga-bunga ungu, hijau daun dengan mawar-mawar merah … Beliau memotong pola dan menjahitkan bentuk-bentuk menarik di sana-sini: gadis kecil yang melakukan senam lantai di angkasa, lautan merah banyak orang berenang-renang di sekitarnya dengan tangan terangkat, taman-taman dengan binatang dan manusia yang saling berkejar-kejaran dengan riang gembira, burung putih yang membawa pohon raksasa di paruhnya … Selimut itu diletakkan Beliau di tengah-tengah si Bus, di lantai, menutupi koridor di antara deretan kursi. (Rupanya ini adalah takdir Si Bus. Si Bus baru mengalami gadis kecil yang melakukan senam lantai di angkasa, yaitu anak yang terlempar di ayunan. Kok bisa udah kejadian tapi ya? Oh, kayaknya Beliau menuliskan kelanjutan takdirnya dan soal gadis kecil itu sudah dibuat sebelumnya? Mungkin)
    • Kapal kecil berwarna cokelat emas. Kapal ini dibuat Beliau di toko roti kedua untuk kakek dan nenek yang merindukan anak lelaki mereka yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Namun kapal ini kemudian diterbangkan Beliau ke langit. Di akhir bab, Si Bus akan tahu bahwa kapal ini adalah Chinar yang mewujud sebagai kapal untuk menampung orang-orang mengarungi lautan. Amazing connection!
    • Sepatu yang dibuatnya di toko sepatu milik si kakek, dengan menggunakan bahan-bahan dari toko tersebut. Sepatu cantik itu terbuat dari kulit sapi muda.
    • Gaun pengantin yang berasal dari kulit bawang. Gaun itu diberikan kepada calon istri si lelaki petani.
  40. Beliau menciptakan empat buah sudut di Bumi yang bulat (mungkin untuk melindungi si Bus dan para manusia dari godaan setan) Keempat penjaga sudut ini seperti makhluk biasa yang ada di Bumi, hanya saja mereka bersayap.
    • Penjaga pertama, seperti manusia. Ia menyuruh Si Bus untuk tetap berpikir jernih selama menghadapi anak jahat yang mengikuti mereka.
    • Penjaga kedua, seperti singa. Ia memberikan keberanian pada Si Bus untuk terus melangkah bersama Beliau dan para ikan.
    • Penjaga ketiga, seperti burung elang. Ia mengingatkan Si Bus untuk berpegang teguh pada keyakinan dan rasa cintanya kepada Beliau.
    • Penjaga keempat, seperti kerbau. Ia memberitahu Si Bus untuk memikirkan apa yang akan dilakukan jika hanya tinggal dialah satu-satunya makhluk di dunia yang mau membela Beliau dari anak jahat dan orang-orang lain yang jadi jahat di bawah pengaruh anak jahat tersebut.

QUOTES

“Mungkin Beliau tidak memikirkannya karena Beliau tahu apa yang terjadi pada Bastet. Saya mencemaskan si kucing karena saya tidak tahu.”

(Si Bus)

“Tidak semua hal yang kita harapkan bisa didapatkan.”

(Si Bus)

“Akan tetapi, Beliau tetap tidak bicara, tidak menapak. Namun, perasaan yang begitu kuat memberi tahu saya bahwa, bahkan meskipun Beliau berbuat demikian, bukan berarti Beliau tidak mau dipahami. Mungkin ini adalah ujian: Apakah saya akan terus mencoba memahami dan memperhatikannya, meskipun Beliau tidak berkomunikasi langsung kepada saya?”

(Si Bus)

“Saya tidak tahu kalau sesuatu yang begitu ajaib seperti Beliau tetap menginginkan rasa diterima. Mungkin saya dibawa oleh Beliau untuk meyakinkan dirinya bahwa, bahkan benda gembrot tanpa nyawa pun dapat menyukai Beliau dan hasil karyanya.”

(Si Bus)

“Beliau seperti burung penyanyi kecil yang lincah dengan suara paling indah di dunia, tetapi hanya terbang di puncak tertinggi gunung bersalju; perlu perjuangan hanya untuk mendekatinya saja, dan bahkan dalam jarak yang begitu sempit pun, Beliau hanya bisa dilihat, tidak akan pernah bisa ditangkap.”

(Si Bus)

“Saya ingin lebih banyak mengenal Beliau. Dan saya ingin membuat Beliau selalu bahagia, sehingga langit akan dipenuhi begitu banyak titik-titik bintang sampai malam tidak akan pernah tampak gelap lagi.”

(Si Bus)

“Ada sesuatu yang membuat saya merasa bahwa saya begitu dekat dan begitu mengenal Beliau. Namun, pada saat bersamaan, saya tahu bahwa Beliau begitu jauh dari jangkauan saya, dan saya tidak akan pernah benar-benar memahami dirinya.”

(Si Bus)

“Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan.”

(Si Bus)

“Angkasa yang luas ini begitu gelap dan begitu hitam. Mungkinkah seluruh bagian angkasa ini dibentuk oleh kesedihan ikan-ikan, kesedihan makhluk-makhluk yang telah mati? Dan kebahagian Beliau, yang keluar sebagai titik-titik cahaya yang menjadi bintang, adalah upaya sia-sianya untuk menghilangkan kesedihan itu, sedikit demi sedikit? Inikah alasannya Beliau berjalan melintasi angkasa dan waktu: untuk menerangi langit?”

(Si Bus)

“Saya ingat betapa banyaknya kaki-kaki manusia yang mengeluh bahwa semakin lama, semakin sulit melihat bintang di langit. Mungkinkah kebahagian Beliau mulai kalah dimakan kekecewaan orang mati? Apa yang terjadi kalau Beliau berhenti merasa bahagia sama sekali? Apakah seluruh dunia, siang dan malam, akan dipenuhi kegelapan?”

(Si Bus)

“Akan tetapi, ketika Beliau mendengar, Beliau bukan hanya mendengar. Ketika Beliau mendengar, Beliau mendengar.”

(Si Bus)

“…Dibesarkan orang-orang yang akan menyayangi kami lebih baik daripada hidup bersama orang yang memang membuat kami, tapi tidak peduli pada kami.”

(Si Bus)

“… Rasa cemas tidak bisa disingkirkan semata-mata dengan mengetahui sesuatu.”

(Si Bus)

“Yah, orang-orang bilang kalau mati adalah satu-satunya cara untuk hidup, tapi orang-orang yang bilang begitu pun sebetulnya tidak mau mati, kan?”

(Kakek di Toko Sepatu)

“Semua hal di dunia; semua boneka, semua kecoa, semua manusia, dibuat oleh tangan Beliau. Bukan oleh mesin yang tidak peduli pada barang-barang sempurna, sejenis, serupa; tapi dengan tangan kecilnya yang menumpahkan usaha, rasa, dan sedikit eksperimen pada karya-karyanya. Beliau tidak menggunakan cetakan kue untuk membentuk setiap ciptaannya; semuanya dirangkai sendiri satu persatu, dengan hati-hati, dengan coba-coba.”

(Si Bus)

“Di dalam telur-telur itu adalah jiwa manusia, hewan, tumbuhan, dan beberapa jenis lain yang tidak begitu bisa dijelaskan dengan ketiga kategori itu – kuman, atau pegal linu, misalnya. Di bawah dedaunan saya, mereka mendengarkan cerita-cerita tentang kehidupan, kematian, tentang Beliau, tentang segalanya, hm, hm. Kalau mereka sudah cukup banyak mendengar, Beliau akan menjahitkan hidup mereka dari saat mereka keluar dari ibu mereka, sampai mereka kembali lagi kepada Beliau, hm, hm.

(Chinar)

“Meskipun bukan berasal dari saya, sepertinya Anda punya jiwa, hm, hm. Kadang-kadang, Beliau membiarkan makhluk hidup yang berada di sekitar benda mati membagikan sedikit jiwanya ke benda mati itu. Kalau mereka cukup peduli dengan si benda mati, tentu saja, hm, hm…

(Chinar)

“Bukan pengetahuan tentang Beliau yang paling utama, bus yang baik, hm… Hal yang terpenting adalah mencintai Beliau, hm! Kalau Anda mencintainya, cara menunjukkannya tidak akan terlalu penting bagi Beliau. Hm! Hm!”

(Chinar)

“Di seluruh dunia, tak ada yang menyayangi semua makhluk dan semua benda lebih tulus dan tanpa batas daripada Beliau. Hm, hm … Tapi, makhluk-makhluk itu terlalu memikirkan cara menunjukkannya daripada memikirkan bahwa betapa yang Beliau inginkan hanyalah mereka untuk mencintainya sama tulus dan sama tanpa batasnya; setidaknya sejauh kemampuan mereka bisa melakukannya … Hm, hm …”

(Chinar)

“… Beliau tidak punya nama, tapi punya banyak nama, hm. Panggil saja dengan sebutan yang Anda sukai, hm. Beliau tidak pernah marah kalau hanya soal nama, hm. Dan jangan takut hanya karena ada banyak yang tidak Anda ketahui tentang Beliau. Seseorang tetap bisa mencintai orang lain yang bahkan tidak dia ketahui namanya, hm!”

Chinar)

“Kalau Anda bertamasya ke langit dan melihat rongga besar di udara yang tidak memakan apa-apa, namun mengeluarkan begitu banyak cahaya, berarti Anda sudah melihat seekor naga!” Hm!”

(Chinar)

“Yang saya tahu hanya, bahwa saya memercayai keajaiban Beliau. Tidak peduli apakah saya memahami cara keajaiban itu bekerja, atau kenapa keajaiban itu tiba – saya bisa merasakan kebahagiaan dari mengetahui bahwa keajaiban itu terjadi; itu sudah cukup bagi saya untuk menyandarkan diri pada setiap keputusan yang dibuat bocah kecil yang sendirian di udara itu. Dan kepercayaan seperti itu bukanlah hal yang bisa saya jelaskan kepada Nad, atau siapa pun yang mempertanyakannya.

(Si Bus)

“Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya “keajaiban” itu ada sama sekali.”

(Si Bus)

“Kepercayaan tidak bisa dijelaskan, juga tidak bisa dipaksakan.”

(Si Bus)

“…Mungkin selama ini yang saya pelajari dari kaki-kaki manusia itu salah. Ikan tidak seharusnya hidup di air; mereka seharusnya terbang. Tapi, mereka dipaksa tinggal di air, jadinya mereka terbiasa hidup di sana.”

(Si Bus)

“Para Chinar tidak terpengaruh dengan perubahan-perubahan yang dilakukan Beliau, huh! Usia kami dapat saja berubah, tapi jiwa kami terus maju, huh! Itulah yang terjadi kalau Anda hidup dengan menilai kebijaksanaan, bukan usia, huh! Kami terus maju, meskipun makhluk lain diubah-ubah, huh!

(R)

“Bukan perbuatan jahat yang membuat Beliau marah, Heheheh … Tapi, perbuatan jahat pada ikan. Heheheh …”

(A)

“Beliau tidak suka kalau makhluk-makhluk yang disukainya dijahati, huh.”

(R)

“Beliau tidak peduli pada apa yang dirasakan atau dilakukan makhluk-makhluk lain kepadanya; Beliau hanya ingin melindungi saya.”

(Si Bus)

“Ah, kadang-kadang justru makhluk yang tidak hidup, memiliki kemampuan lebih baik untuk mencintai, hohoho.”

(H)

“Makhluk tidak hidup, meskipun tidak hidup, punya kehidupan, hohoho.”

(H)

“Beliau tetap menerima si nona di antara ikan-ikannya, sama saja, hohoho. Yang sedikit berbeda hanyalah, ikan itu akan tenggelam dalam lautan kegelapannya sendiri, sampai dia berhenti bersedih dan melihat cahaya yang dikeluarkan ikan-ikan lain di sekitar Beliau, hohoho. Itu saja, hohoho.”

(H)

“Tidak apa-apa jika Anda memilih untuk mencintai Beliau, hohoho. Tidak peduli seperti apa, atau apakah Anda itu, rasa cinta Anda-lah yang penting untuknya, hohoho. Seperti benda mati yang tidak bisa hidup tanpa rasa cinta dari makhluk hidup di sisinya, Beliau tidak bisa merasakan kehidupan tanpa rasa cinta – dari mana pun, dari siapa pun, hohoho.”

(H)

“Mereka bilang, manusia adalah rangkuman dari jagad raya dalam bentuk makhluk hidup. Heheheh… Dua mata manusia adalah matahari dan bulan. Heheheh… Tulang-belulang mereka sekeras batu, daging mereka adalah tanah, urat nadi mereka bagai sungai dengan denyutnya yang mirip debur gelombang air … Heheheh … Beliau menuangkan semua hal yang pernah dia buat dan dia cintai dalam satu tubuh – menjadikannya satu bentuk, dan memberikannya jiwa sendiri … Heheheh …”

(A)

“Dari yang telah Anda dengar dan lihat sebelum ini, tentu Anda tahu hal yang paling tidak disukai Beliau. Heheheh … Bukan orang-orang yang tidak mensyukuri keajaiban yang Beliau hadirkan, atau orang-orang yang tidak mencintai kehadirannya. Heheheh … Tapi, orang-orang yang menyakiti hati orang-orang yang Beliau cintai. Heheheh … Untuk orang-orang seperti itu, tidak ada kesempatan untuk bisa hidup terus bersamanya sebagai ikan di langit. Heheheh …”

(A)

“Yang lebih penting dari mencintai Beliau adalah mencintai segala hal yang Beliau cintai. Heheheh …”

(A)

“Ha! Seluruh dunia ini adalah air! Ha! Dan, bumi? Ha! Ia hanyalah air yang sedikit dikeringkan!”

(C)

“Semua orang harus bingung di dunia. Kalau mereka tidak bingung, nanti hari terakhir dunia, ketika semua hal yang membingungkan akan dijelaskan sampai kita tidak lagi merasa bingung, akan terasa tidak seru. Tidak perlu ditunggu, jadinya. Yah! Kalau kita pikir seperti itu, kita harus merasa kasihan pada orang-orang yang pintar dan tahu segalanya soal dunia!”

(Si Membingungkan)

“Aku menganggap lautan adalah hasil tangisan Tuhan, tahu? Dia menangis lama sekali, sampai seluruh dunia jadi perairan. Mungkin karena kesepian. Makanya, setelah beres menangis, dia menciptakan banyak hal. Cahaya. Siang. Malam. Bumi. Langit. Matahari. Tanah. Binatang dan tumbuhan. Manusia. Lalu, dia berhenti di hari keenam, dan di hari ketujuh, dia sadar kalau dia membuat satu makhluk terlalu banyak.

(Si Membingungkan)

“Ah, seharusnya manusia tidak diciptakan saja. Seharusnya. Tidak perlu. Tidak ada gunanya. Manusialah yang membuat setan bertengkar dengan Tuhan. Manusia yang membuat binatang mati, tumbuhan mati, manusia lain mati. Orang pikir itu adalah ulah setan, tapi tidak juga. Setan boleh saja membujuk, tapi akhirnya, yang melakukan tetaplah manusia. Manusia adalah awal dari segala keruntuhan.”

(Si Membingungkan)

“Seperti inilah rasanya hancur: Tidak ada rasanya. Karena, ketika kita benar-benar hancur, semuanya terjadi begitu cepat dan begitu menyakitkan – begitu menyakitkan, hingga rasa sakit itu tidak bisa dikenali lagi oleh tubuh kita.”

(Si Bus)

“Akan tetapi, Beliau selalu melihat. Dan Beliau selalu mendengar.”

(Si Bus)

“Beliau. Beliau yang saya cintai. Ketika kita bisa mulai saling bicara, saya tidak bisa lagi mendengar.”

(Si Bus)

“Ah, Beliau yang baik. Beliau yang baik dan malang. Ketika Anda menangis, tidak ada yang bisa menghentikannya untuk Anda.”

(Si Bus)

“Dari lautan kegelapan yang menyelubungi kami, muncullah rangkaian langit yang membentuk kubah di tengah-tengah ketiadaan. Dan dari sana – dari langit itu – seekor burung putih mengepakkan sayap, melayang mendekati kami. Di paruhnya, dia membawa sebuah ranting. Dengan lembut, burung itu meletakkannya di bawah kaki Beliau. Ranting itu perlahan-lahan membesar, membentuk sesuatu … sesuatu yang saya kenal … Ah. Ini Chinar.”

(Si Bus)

6

Penulis: Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 262 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 37.500 (Lagi Diskon di Gramedia) 

Rating: 5 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

8 respons untuk ‘Semua Ikan di Langit

  1. Hallo Eka,

    Gue barusan baca resensimu ini…

    Kayanya kamu udah lama gak kelihatan di Goodreads? 😀

    Selamat atas bukunya yang sudah dikirimkan ke editor tanggal 13 juni yang lalu…
    Semoga berhasil untuk buku pertamanya ya…

    By the way, gue mau follow blog ini ya, Eka…

    Salam,

    Leonart Maruli

    Suka

    1. Iya, Leonart. Akhir2 ini aku sibuk, terutama buat beresin cerita di ajang GWP itu. Juga udah mulai punya blog jadinya kalau baca buku pengen buat rangkuman yang agak panjang gitu, lol jadi sekali baca lama banget.

      Makasih buat doanya juga ya. H2C. Tapi udah bisa expert class-nya aja udah seneng sih 🙂

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sama-sama, Eka..

        Ya, sayangnya waktu kita cuma 24 jam dalam sehari Eka, jadi begitu banyak buku bagus yang masih perlu dibaca… So many books, so little time, kata Frank Zappa :D, gue ngutip kalimat Zappa ini basi banget ya buat para pecinta buku… 😀

        Salam,

        Leo

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s