Girlboss S1 : E1 – Sophia

Girlboss merupakan series original Netflix yang berdasarkan autobiografi Sophia Amoruso. Dia adalah pemilik sebuah perusahaan fashion terkenal bernama Nasty Gal Vintage. Sebelum dia sampai di posisi tersebut, jalan yang dia lalui terbilang memilukan. Hal ini udah bisa dilihat di episode pertama series ini, yang bersetting di tahun 2006, San Francisco. Dan aku sangat “menikmati” kemelaratan hidupnya, lol. I mean, it’s very inspiring. Betapa gigihnya seorang gadis berusia 23 tahun ini. Biarpun badannya mungil, tapi semangatnya jumbo. I can’t imagine myself living through the shitty life like she did. She’s one of those wondrous woman around the world!

Bayangin aja, mobilnya mogok di tengah tanjakan dan bikin antrian panjang di belakangnya, sewa apartemen nunggak, terus dipecat dari pekerjaannya, dan yang bikin miris, dia sampai memungut setumpuk sisa burger di tempat sampah. Dia udah mirip anak jalanan banget. Dekil. Sampai ayahnya sendiri bilang: “You smell like the street.” Scene waktu dia ngambil burger di tempat sampah lalu memakannya dengan cueknya adalah salah satu scene favoritku. Terlebih Britt Robertson, yang memerankan Sophia, kelihatan oke banget di scene tersebut. The best scene of her in this first episode.

Girlboss

Setting sewaktu mobil Sophia mogok di tengah tanjakan, bikin aku teringat sama series Charmed. Di series itu sering dilihatin sebuah jalan yang ada kereta wisatanya seperti di series ini. Mungkin ini tempat yang sama, ya. San Francisco. Bagus. Tapi ya gitu, kalau mobilnya mogok pas di tanjakan jadi repot banget. Kayak Sophia. Hmm, tapi memang mobilnya Sophia juga yang udah tua banget. Udah gitu dekil pula. Sama kayak yang punya, lol. Mobil Mr. Bean aja nggak sekotor itu. Btw, kenapa orang-orang di sekitar nggak ada yang ngebantu Sophia, ya? Tega ngebiarin cewek mungil itu ngedorong mobilnya sendirian? Is this just the way it goes in America? Dan entah gimana nasib mobil Sophia karena sampai episode habis, Sophia jalan kaki terus. Mungkin dibawa ke bengkel. Idk.

Di antara semua ulah Sophia, yang paling bikin kaget slash lucu adalah waktu dia dengan cueknya ngambil sebuah karpet yang dipajang di pinggir jalan dan dia melenggang begitu aja tanpa bayar. Padahal penjaga tokonya ada di depan mata dia. Yang lebih aneh lagi, penjaga tokonya pun kayak cuek gitu, nggak berusaha ngejar Sophia. Kok bisa, ya? Entah apakah nanti akan ada tuntutan atau gimana. Enak banget kalau nyolong barang bisa tetap bebas berkeliaran seperti Sophia. Aku juga mau kalo gitu.

Girlboss (2)

Di Wikipedia, aku baca kalau barang pertama yang dijual Sophia di eBay adalah sebuah buku yang dulu dicurinya waktu dia masih remaja. Jadi, yah, kayaknya mencuri udah jadi kebiasaannya Sophia. Makanya dia nyantai aja waktu nyuri karpet tersebut. But so far, menurutku bukan kleptomania juga sih, kayaknya. Karena dia emang memerlukan barang tersebut. Sedangkan kleptomania itu kan mencuri buat kesenangan aja.

Dari segala tingkah Sophia di episode pertama ini, udah kelihatan seperti apa karakter cewek yang satu ini. Sophia adalah cewek yang supercuek, gokil, benci menjadi dewasa dan hal-hal formal lainnya, dan berjiwa bebas. Orangnya nggak jijikan juga. Terbukti dia fine-fine aja makan burger di tempat sampah. Terus dia juga menikmati makan entah apa itu (mungkin nuttela atau sejenisnya) di toilet sambil pakai kutek. Such a weird multitasking, lol.

Girlboss (13)

Meski berjiwa bebas, dia nggak sembarangan kalau udah urusan seks. She avoids one night stand and she could stop it right there when she wanted it. Mungkin ini salah satu tindakan Sophia yang dianggap mengandung aura feminisme, seperti yang diungkapkan di beberapa online magazine yang kubacaShane (Johnny Simmons) jadi gigit jari karena ulah Sophia ini. Untungnya dia cowok yang baik. Nggak maksa. Udah gitu, dia mau aja disuruh buat suara laut sama Sophia, biar dia bisa cepat tidur, lol. Kata Annie (Ellie Reed), teman baiknya Sophia, bapaknya Shane adalah pemilik water park. I don’t know if it’s true or she was just joking. Oh, this is Shane, by the way. He’s a drummer. And on the left is Dax (Alphonso McAuley), Shane’s roomate and Annie’s boyfriend.

Di scene waktu Shane lagi membuat suara laut tersebut ada kejadian unik. Awalnya aku berpikir ada Dax yang tiba-tiba menyelinap di antara mereka buat mengganggu, tapi ternyata enggak ada. Ini masalah teknis pegambilan gambar, kayaknya. Wajah Shane, yang berkulit putih, jadi terlihat menggelap. Padahal detik sebelumnya dia masih kelihatan jelas wajahnya, terus malah berubah gelap dan buram, jadi mirip Dax. Ah, pokoknya gitu deh. Mungkin ini cuma terjadi sama aku aja.

Back to Sophia, especially buat Britt Robertson yang memerankan tokohnya. I have to say, dia menurutku kadang cocok kadang enggak dalam memainkan karakternya. Dari wajah, somehow she looks old to be 23. (Padahal umur Britt 27 tahun pas syuting series ini. Itu harusnya nggak jadi masalah, kan? Kan beda umurnya cuma sedikit) Tubuhnya emang mungil, tapi kalau dishoot dari jarak dekat, kelihatan dia agak tua karena ada beberapa kerutan. Well, mungkin garis senyum, tapi tetap aja kadang dia kelihatan tua. Dan kalau lagi dishoot bagian wajahnya aja, aku malah ngebayangin kalau Sophia ini adalah wanita karir dengan pakaian formalnya. Nggak tahunya, pas di shoot seluruh badan, dia ternyata pakai baju yang rock and roll banget. Tapi ada saat dia kelihatan muda dan cocok jadi cewek berumur 23 tahun. So. it’s weird. Is it because of the angle? Here’s the picture: 

Kedua, dari jenis suaranya. Bukan jelek. Aku suka sama suaranya. Ceriwis dan enak didengar. Tapi ada saat di mana dia kurang lepas mengeluarkan suaranya, dan itu kurang cocok sama karakter Sophia. Contohnya pas dia lagi nyanyi-nyanyi di mobil dan kedua pas dia nyuruh pengendara mobil di belakangnya untuk mendahuluinya. Waktu dia teriak BAM! juga ada yang agak tertahan gitu. Tapi kalau sutradaranya udah setuju, mungkin memang sudah seperti itu seharusnya akting Britt sebagai Sophia? Itu satu sisi Sophia yang “imut” (suara tertahan), nggak seratus persen seenaknya dan lepas. Tapi aku berharap Sophia sebebas Annie dalam hal nada suara. Dia benar-benar lepas dan nggak ada filter, lol. Nyablak, kalau orang Betawi bilang. Sekali lagi, itu perbedaan mendasar antara jiwa bebas dan kekanakannya Sophia dan Annie.

This is Annie on the right and Sophia Amoruso (the real one) on the left. Kenapa justru the real Sophia lebih mirip sama tokoh Annie ya daripada sama tokoh Sophia? Kenapa bukan Ellie Reed aja yang jadi Sophia? Kayaknya dia bakalan lebih gokil. Wajahnya mirip-mirip orang Yunani atau Italia, which also runs in Sophia’s blood.

Ada dua tokoh di series ini yang mengingatkanku sama dua bahkan tiga karakter di film The Devil Wears Prada. Pertama, karakter Carol (Irene White), atasan Sophia di toko sepatu. Gayanya dia, line-nya dia, mengingatkanku banget sama tokoh Emily dan Miranda Priestly di film tersebut. I knew it because I’m a big fan of that movie. I don’t mind with that, actually. And I’m not saying unattractive/ugly people (sorry) can’t have style and attitude like Miranda or Emily, but Carol’s attitude really made me laugh so hard. She’s so confident with her appearance and that’s awesome, by the way. Pokoknya kehadiran Carol sangat menghibur. Dia juga natural banget aktingnya. The bad news is, dia cuman muncul di episode satu aja. Itu yang aku lihat di IMDb.

Girlboss (7)

And here’s the line that I’m talking about:

Sophia: Hey, Carol.
Carol: Oh, Sophia. I’m so glad you’re not injured or dead.
Sophia: What do you mean?
Carol: Well, you’re 27 minutes late. So, naturally, I assumed you were hit by a bus and bleeding out onto Market Street.
Sophia: Come on, Carol. I never take Market Street.
Carol: (Chuckles) Okay, now that you’re here. I’m going to be running inventory in the back. So I need you to man the fort and sell those shoes, girlfriend.

See? Do you find any similarities? If you don’t, then you’re not a big fan of The Devil Wears Prada as I am. Period. 

Lalu yang kedua adalah pemilik toko baju bekas. Penampilan dan gaya bicaranya bikin aku teringat sama Nigel di film yang sama, yang diperankan oleh Stanley Tucci. Sayangnya, aktor yang “berusaha” bergaya mirip Nigel ini nggak senatural Stanley Tucci aktingnya. Masih jauh banget!

Girlboss

Oh iya, waktu Shane mengomentari sepatu unik/nggak banget yang dipakai Sophia, she said something about Gwyneth Paltrow’s long legs. Is that real truth? I thought she was so naturally beautiful and tall. Well, I gotta google it, anyway. Here’s what she said:

“It’s either wear these or get that surgery that makes your legs longer. You know, the one that Gwyneth Paltrow had.” 

Tapi meski aku pun bertubuh pendek, aku ogah kalau harus pakai sepatu mirip punya Sophia di bawah ini, lol. They are ridiculous. Only Sophia can look awesome on them. Not me. 

Girlboss (6)

Sekuat-kuatnya Sophia menghadapi cobaan hidup, ada momen di mana dia down juga. Strong girls do cry. I don’t blame her for that, of course. It makes her even more realistic and she made me feel better about myself, somehow. Because I cry a lot. This is another best shot from Britt as Sophia. 

Girlboss (10)

Walaupun hidupnya tengah dihimpit masalah, dia tetap nggak mau serumah lagi sama ayahnya, Jay (Dean Norris). Itu bisa dimaklumi, karena aku pun akan memilih tinggal sendiri ketimbang bareng ortu. Ribet hidup sama ortu. Nggak bebas. Tapi berkat pertemuan makan malam dengan ayahnya dan percakapan yang singkat namun to the point, Sophia seolah disadarkan akan tujuan hidupnya.

“What exactly are these dreams of yours, huh? Because you know what? You’ve never given any indication to me that you have ‘em.”

I’m so glad he said that to her. You’re a great parent, Dad. 

Girlboss (9)

Nah, Sophia punya online store di eBay. Kayaknya sih jarang ada yang menawar barang-barangnya, karena ekspresi wajahnya selalu sedih tiap dia buka akunnya. Sampai setelah percakapan dengan ayahnya tersebut, dan setelah dia membeli sebuah jaket bekas seharga $9, yang ternyata adalah jaket motor berbahan kulit sapi asli produksi 1970s East West yang kondisinya masih bagus, yang dibelinya dari si Nigel jadi-jadian itu, yang menurut Sophia nggak paham sama barang dagangannya, terbersitlah ide untuk melelang jaket tersebut di eBay. Dia lalu menggunakan karpet curiannya sebagai background fotonya, lol. Dia juga mengambil sendiri gambarnya. Pokoknya kreatif banget. Hasil jepretannya juga bagus. I really like it. Dia mematok harga pertama $10. Nggak lama, udah banyak orang yang melelang. Malah ada yang berani beli sampai seharga $185 dan sepertinya lelangannya akan masih terus naik. She’s so lucky. No, not just a lucky girl, I think. She’s so creative and a hard worker. So great!

Girlboss (7)

Episode pertama diakhiri dengan happy ending. Sophia, yang selama ini sepertinya males bawa-bawa SIM C-nya, karena itu mungkin menurutnya adalah identitas orang dewasa, akhirnya mengambil SIM-nya yang disimpan di bawah tempat tidurnya, saying“Bring on adulthood, motherfucker.” Tapi kok nama di SIM-nya bukan Sophia Amoruso ya, tapi Sophia Marlowe? I hope she’ll explain that later in the next episodes. 

Girlboss (9)

***

Selain ceritanya yang menarik, apalagi ini berdasarkan dari autobiografi, which is a real story (Duh!), soundtrack-nya juga bagus-bagus. Lagunya rata-rata bergenre rock dan bikin semangat. Dan tentunya menggambarkan energi dalam diri Sophia. Kayaknya ini juga genre musik favoritnya Sophia. I bet so. Gayanya juga udah rock and roll abis, kan? So, I really can’t wait for the second episode. I hope it gets better, terlepas dari fakta bahwa nggak akan ada season dua karena udah dibatalin sama Netflix. So, we’ll see. 😉

***

 

 

MY FINE LINE

 

 

“Adulthood is where dreams go to die. Grow up, get a job, become a drone. That’s it. Then it’s over. Society just wants to put everyone in a box. Well, guess what, society. There is no box.”

(Sophia)

 

“Just need to figure out a way of growing up without becoming a boring adult.”

(Sophia)

 

“Conformity is prison and the tattoo is more of a metaphor.”

(Sophia)

 

“I tried college for a year. Total bust. Everything you wanna learn, you could look up online. I know how to open champagne with a sword.”

(Sophia)

 

“Love you in case I die.”

(Sophia and Annie)

***

 

 

MY BEST SHOT

 

 

***

 

Sutradara: Christian Ditter

Penulis Skenario: Kay Cannon

Musik: Jeff Cardoni

Sinematografer: Christian Rein

Desain Kostum: Audrey Fisher

Tayang Perdana: 21 April 2017

Durasi: 26 Menit

Berdasarkan Autobiografi Sophia Amoruso: “#Girlboss”

Rating: 3½ dari 5 Bintang

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s