13 Reasons Why S1 : E1 – Tape 1, Side A

Sebenarnya begitu habis baca bukunya, aku mau langsung nonton seriesnya. Tapi setelah dipikir-pikir, ada bagusnya mengendapkan dulu pengalaman membacanya supaya bisa menikmati seriesnya dengan lebih terbuka/independen. I mean, terkadang kalau aku selesai baca buku lalu langsung nonton adaptasinya, aku selalu berharap adaptasinya akan sama persis dengan bukunya. Padahal kan itu suatu interpretasi yang berbeda. Kalau terlalu sama persis, malah jatuhnya membosankan. Dan kalau terlalu melenceng juga nggak bagus. Kayak film Me & You Versus The World, tuh. Film sama buku jauh ke mana-mana. Dua dunia yang benar-benar berbeda. Dan ini dalam artian yang benar-benar negatif. I hate it so much. 

Ada saat aku nggak sabar dan memutar seriesnya sepotong-sepotong. Perasaanku waktu itu, “Ih, kok jelek sih seriesnya? Nggak suka sama nuansanya. Jelek. I love the book version more!” So, menonton episode pertama series ini bikin aku lumayan gelisah. Takut kecewa. But, hey, I was wrong. So wrong! This first episode is soooo awesome. Apalagi Selena Gomez menjadi salah satu produser eksekutifnya. Semakin terasa spesial aja, gitu. Pasti buku ini Thirteen Reasons Why berarti banget buat dia. Dan sepertinya ada hubungannya dengan pengakuan dia soal kesehatan mentalnya baru-baru ini.

Series ini mirip nggak mirip sama bukunya. Dengan kata lain ada perbedaan namun nggak merusak cerita aslinya. Satu perbedaan yang paling mendasar adalah waktu yang diperlukan Clay untuk mendengar kaset tersebut. Kalau di bukunya, Clay mendengarkannya dalam satu hari, sampai dia nggak tidur, kelayapan di luar mengunjungi nyaris semua tempat yang ditandai Hannah. And he didn’t ride a bike at all in the book. In the book, he just walked and walked or took a bus. Itu juga berarti Clay nggak ada adegan jatuh dari sepeda karena nyaris ketabrak seperti di series.

Clay (4)

Di series ini, baru dengerin satu kaset aja udah sampai malam hari, dan hari pun sudah berganti. Clay masuk sekolah keesokan harinya, dengan luka di dahi bekas jatuh dari sepeda semalam.

Clay (3)

Jadi apakah perlu waktu satu minggu buat Clay mendengarkan semua kaset itu? Satu hari satu kaset, gitu? Kalau benar akan lebih dari satu hari, aku lebih prefer yang di buku, karena menurutku ketika seseorang udah penasaran banget dia akan nonstop dengerin kaset itu. Nggak peduli waktu. Lagian satu kaset bolak-balik paling durasinya sekitar satu jam aja, kan?

Kalau dibandingin dengan deskripsi di bukunya, kaset-kaset yang diterima Clay di series benar-benar cute and adorable. Versi bukunya cuma bilang kalau di setiap bagian kaset itu ada nomor di sudut atas kasetnya, warnanya biru mirip kutek. Kelihatannya suram, gitu. Tapi kalau di seriesnya, nomor tersebut berada di tengah-tengah kaset. Selain itu bungkus kaset di seriesnya kelihatan meriah. Niat banget Hannah menghiasi semua bungkus kasetnya dengan gambar yang penuh warna. She’s so creative. Siapa yang bakalan menyangka kalau itu bakalan berisi “mimpi buruk”?

Buat kalimat pembuka Hannah pada kaset pertamanya, lumayan mirip sama di buku. Tentu aku nggak perhatiin banget banget banget. I’m not that obsessed, lol. Yang aku tangkap, di bukunya nggak dipakai kalimat ini: “Get a snack. Settle in.” Lalu ucapan-ucapan setelahnya nyaris mirip, diotak-atik dikit sama penulis skenarionya, but I liked it still. Selain itu, kalau di bukunya, peta dikasih sebelum Hannah bunuh diri, yaitu lewat amplop yang dimasukkan diam-diam ke dalam loker orang-orang yang masuk dalam daftar Hannah. Sedangkan di seriesnya, Hannah menyertakannya bersamaan dengan kaset tersebut.

96430DCD-9CCA-40C7-9DF8-5D6D4E1AB9AB

Sebelum tahu kalau kaset tersebut berisi suara Hannah, Clay mendengarkan rekaman tersebut lewat radio tape milik bapaknya. Namun tombol play/stop tape tersebut rusak, makanya Clay berpikiran untuk meminjam Walkman milik Tony. Nah, kalau di bukunya, alasan utamanya bukan karena rusak. Melainkan karena Clay merasa nggak nyaman mendengarkan rekaman tersebut di tape. Dia perlu ruang untuk menyendiri sambil mendengarkan kaset Hannah. Akhirnya dia pergi ke rumah Tony dan pinjam Walkmannya tanpa bilang-bilang. I was hoping that the color would be yellow just like the book said instead of just unattractive plain black like this.

Walkman

Well. Tony adalah Tony. Mungkin dia bukan tipe cowok yang suka warna-warna cerah buat barang-barang yang dia punya. Kalau mobil merahnya yang ngejreng kan memang warisan turun-temurun dari ayahnya dan juga dari kakeknya. So, okay, I get it. Here’s Tony Padilla. (Di buku dia nggak punya nama panjang, cuma Tony aja)

Tony

And by the way, narasi di bukunya juga nggak menunjukkan kalau ayah Tony, Arturo Padilla (Gary Perez) sebagai sosok yang galak dan “diktator”. Dia cuma sekadar orang yang cuek dan suka bercanda dan sarkastiku. But, wooow, he’s kind of scary in the series. He talks like one of those mafias in Godfather:

“You ever do that to your mother, I will kill you, you understand me? I’ll kill you dead.”

Here’s Tony’s dad. So scary, right?

Tony's Dad

Lalu, kalau di bukunya Clay disuruh sama ayahnya Tony untuk menghidupkan mesin mobil, di seriesnya Clay berinisiatif untuk melakukan itu. Dan ini menurutku jauh lebih makes sense dibanding yang di buku. Ini sejalan dengan rencana awal Clay untuk meminjam Walkman Tony diam-diam, yang ditaruh di dalam mobil, dekat tumpukan kaset miliknya.

Soal pertemuan pertama antara Clay dan Hannah. Versi buku, Clay pertama kali melihat Hannah di pesta perpisahan Kat, yang diadakan di rumah Kat. Sedangkan di series, nggak diceritakan pasti di mana mereka pertama kali bertemu (mungkin ya di bioskop). Yang jelas, Clay digambarkan udah kerja di bioskop bareng Hannah dan dari sana Hannah mengundang Clay ke acara perpisahan Kat yang diadakan di rumah Hannah.

Ini dia Kat (Giorgia Whigham).

Kat

Anaknya cuek abis dan easy going. Dia bahkan nyantai aja waktu Hannah mengakui kalau dia suka sama Justin:

“I’m learning all these new boy names, and I’ve dragged most of the old ones into the Trash icon in my head.”

This is what fellow girls should do. Be supportive to each other. Jangan malah saling menjatuhkan! Melihat wajah Kat, aku merasa nggak asing lagi sama dia, tapi begitu aku cek di IMDb, daftar film/series yang udah dimainkannya nggak ada yang aku kenal, ternyata. Mungkin dia cuma mirip seorang aktris lain yang kukenal. Aktingnya di sini lumayan lah. Kadang natural tapi kadang agak maksa. It’s an okay from me. 

Di pesta perpisahan Kat ini pula Hannah pertama kali melihat Justin Foley (Brandon Flynn) dan Zach Dempsey (Ross Butler) dan mereka saling bergelut main-main di atas keran penyiram rumput otomatis yang menyemprotkan air dan membasahi tubuh mereka.

13 R Why (16)

Kalau di bukunya, Hannah belum pernah bertatap muka langsung dengan Justin dan Zach. Dia cuma melihat dari jarak yang agak jauh dan dia udah menaruh hati gitu sama Justin. How come, ya? Gimana kalau dia cuma cakep dari kejauhan doang tapi pas dilihat dari jarak dekat malah amit-amit? Okay, kalau begini lebih logis yang di series, ya. Secara Justin ini orangnya lumayan kecil buat seorang pemain basket. Zach lebih tinggi dari dia. Yang jadi Zach ternyata yang main di Riverdale. Dia jadi cowok cool di sana. Tapi kalau di sini, menurut bukunya, karena perannya dia belum begitu besar di episode pertama ini, Zach tipe orang yang agak pemalu dan baik hati. Mirip-mirip Clay gitu. Bedanya, dia bisa gaul bareng Justin, yang katanya lumayan banyak fans ceweknya.

Here’ a better shot of Zach Dempsey:

Zach Dempsey

Oke, fokus ke Justin. Pertama kali ngelihat dua cowok bermandikan air semprotan rumput, aku mikir… mana nih yang jadi Justin? Hannah katanya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok itu. He must be the handsome and the cute one. Sekilas, dari kedua cowok itu nggak ada yang masuk kriteria sebagai Justin, menurutku. Lalu Kat menyebut nama Justin dan akhirnya aku tahu yang mana Justin. Dia yang buka baju itu. Ih, dari gayanya aja udah sok kecakepan banget. Entah karena gelapnya malam yang bikin cakepnya nggak kelihatan, tapi aku memang nggak bisa melihat apa yang menarik dari Justin. I couldn’t even see the smile that Hannah adored.

“So, you see, that’s where the trouble began. That smile. That damned smile.”

Lalu aku teringat ucapan Clay di buku:

“What did Hannah see in him? I never got that. Even she admits she was unable to put her finger on it. But for an average-looking guy, so many girls are into Justin. Sure, he is kind of tall. And maybe they find him intriguing.”

He’s not that tall, by the way, Clay. I think he’s shorter than you.

Baru pas sekolah dimulai, dan cahaya begitu terang, aku bisa melihat apa yang menarik dari Justin Foley. Nggak cakep-cakep banget, sih. Kegantengan dia kayak hilang-timbul gitu, lol. Raut mukanya juga kadang kayak anak baik-baik, kadang kayak anak yang songong, kadang juga kayak yang agak culun gitu. So many sides of his face. Setidaknya senyumnya memang manis. Di buku diceritakan kalau tangannya bergetar waktu dia menulis nomor handphone Hannah. And real bad boy don’t act like that, right? So, he’s not that oh so glorious flawless popular kind of bad boy. Tapi aku suka perubahan wajahnya yang dramatis. Dia pintar memainkan ekspresi wajahnya. Lihat aja foto-foto di bawah ini. Dia seperti orang yang berbeda di setiap ekspresinya.

Menurut bukunya, Justin adalah seniornya Hannah dan mereka nggak pernah punya kelas bareng. Tapi di sini nggak disebut tegas soal jenjang kelas mereka (mungkin ngikutin di buku aja) dan malah Justin dan Hannah pun pernah sekelas, yaitu kelasnya Mrs. Bradley, Peer Communication. Di kelas inilah foto Hannah yang diambil Justin (di buku, Justin cuma mengarang cerita “hot” aja soal kencannya dengan Hannah di taman, nggak pake foto-foto di hape), disebarkan ke orang-orang dan bikin Hannah tertekan. Ya iyalah, siapa yang nggak tertekan kalau foto semacam ini dilihat orang banyak?

13 R Why (15)

Memang bukan Justin yang nyebarin, melainkan Bryce Walker (Justin Prentice). Tapi tetap aja tindakan awalnya bermula dari Justin! Kurang ajar banget anak ini! Bryce Walker juga! Dari tampangnya aja udah brengsek! Mirip-mirip Ian Thomas di series Pretty Little Liars. This is Ian Thomas on the right and Bryce Walker on the left. Pas banget nemu yang bajunya kotak-kotak pula. Kalian mencemarkan nama baik Pak Jokowi!

Meski tampangnya udah lumayan brengsek, aku masih sulit menerima Justin Prentice sebagai pemeran Bryce. Kukira dia seharusnya cowok yang lebih keren dari itu. Bryce yang ini agak chubby. Di bukunya digambarkan dia tipe cowok yang suka seenaknya sama cewek, termasuk pacarnya. Dengan kata lain, he’s a jerk tapi banyak cewek yang tetap mau sama dia, termasuk Hannah. Berarti dia ganteng bak model gitu lah, dan atletis pula. Tapi ini kan enggak?

Hannah sempat suka gitu sama Bryce waktu ketemu di farewell party-nya Kat. Aku jadi bingung kenapa Hannah seleranya aneh-aneh, padahal dia cantik. Benar kata Kat:

“…from my limited observation, she has terrible taste in guys.”

Seperti di buku, Justin dan Hannah menggunakan pengandaian soal matematika sebagai kode janji temu mereka di Eisenhower Park, meski akhirnya ada sedikit perubahan yang signifikan. This is the dialogue from the series:

Hannah: Two trains leave at different times, but when do they meet?

Justin: Oh! I get it. Um…Train “A” is leaving my house in a few minutes. Train “B” is leaving your house…

Hannah: In 30 minutes. 

Justin: Thirty minutes seems like an awfully long time for two trains going full speed, huh?

Hannah: (Chuckles) Eisenhower Park. Rocket slide. 

Di bukunya, justru Justin yang memulai perumpamaan itu. Lagi-lagi, aku lebih suka versi seriesnya karena lebih menggambarkan betapa “slutty“-nya Hannah yang ngajakin cowok ketemuan dulu, iya, kan? Tapi bukan berarti semua cewek yang ngajakin cowok ketemuan dulu itu slutty, Aku cuma mencoba menyesuaikan perandaian tersebut dengan ucapan Hannah selanjutnya.

“I know what you’re all thinking. Hannah Baker is a slut.”

Akhirnya mereka ketemuan di taman itu malam-malam and Hannah finally had her very first kiss right there at the bottom of the rocket slide. Just a kiss, nothing more. Apa yang didengar para murid di sekolah cuma rekaan si Brengsek Justin Foley!

Hannah & Jason Kissing

Ngomong-ngomong soal Hannah Baker yang diperankan oleh Katherine Langford (dia cocok jadi Hannah karena wajahnya yang melankolis. Okay, aktingnya juga lumayan, lah), dari episode satu udah kelihatan kepribadian Hannah yang lumayan cepat berubah-ubah. Di satu sisi dia tampak kuat, cuek dan easy going, tapi di sisi lain dia begitu rapuh. Susah ditebak suasana hatinya. Aku berharap di series ini akan ada cerita masa lalu Hannah di sekolah lamanya. Karena kalau dibukunya ada satu kalimat yang menyatakan kalau kehidupannya dulu juga nggak menyenangkan.

“I was being a little sensitive, but I had hoped—silly me—that there would be no more rumors when my family moved here. That I had left the rumors and gossip behind me . . . for good.”

Jay Asher nggak begitu detail dalam menjelaskan perawakan Hannah dan juga tokoh-tokoh lainnya. Hannah di sini digambarkan badannya cukup berisi. Meski begitu dia cantik banget. Sampai rasanya di setiap scene dia begitu eye-catching. Semua pingin aku screenshot, lol. Yang paling menarik, dia mirip banget sama Natalie Portman. Bibirnya itu, lho. Matanya juga. She’s just so sweet and pretty. Sama Amanda Seyfried juga ada kemiripan, tapi jauh lebih mirip sama Natalie Portman.

Katherine/Hannah Baker memang cantik, tapi, jujur, cara jalannya dia agak aneh, mirip cowok, bahkah kayak bebek. Dan itu kelihatan banget waktu scene di bioskop. Entah apakah disuruh begitu, karena dari pakaian yang dikenakan Hannah di series ini terbilang tomboi, atau memang aslinya begitu. Ada juga gaya dia yang mirip Kristen Stewart, yang suka menyugar rambutnya ke samping. Hmm, memang sih model rambut begitu memang selalu minta disugar. But the point is, a girl with this kind of face is always be my favorite. I just adore this face of Katherine Langford. Ketambahan dia memainkan tokoh yang rapuh, jadi tambah gemes. (Tenang, aku juga suka karakter yang strong, kok, seperti Katniss Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence.) Jadi jangan heran ya kalau aku banyak ngambil screenshot Hannah Baker/Katherine Langford di sini. Fotogenik banget, sih. Selain itu juga teknik pengambilan gambarnya bagus banget (sinematografikah, namanya?) Segalanya begitu memanjakan kedua mataku. Amazing!

Now let’s move on to Dylan Minnette as Clay Jensen.  He’s really a perfect cast to play Clay Jensen. Dari perawakannya juga udah dapet banget. Pendiam dan pemalu, gitu. Ada kejutan di series ini yang nggak ada di bukunya, yaitu bahwa Clay sempat diduga gay oleh anak-anak di sekolah. Sadis amat, ya. Untunglah rumor itu perlahan menghilang.

Pandangan pertamaku waktu melihat pemeran Clay, aku langsung teringat sama cowok di The Hollywood Medium, Tyler Henry. Dari postur mirip banget, tapi tentu Clay nggak sekemayu Tyler.

Oh iya, waktu Clay menghadiri pesta perpisahan Kat, di bukunya diceritakan kalau Clay yang gugup begitu bertemu Hannah jadi nggak bisa membetulkan tali sepatunya yang lepas. Hannah pun membantunya menalikan tali sepatunya itu. Kalau di seriesnya, bukan hal itu yang jadi “sentuhan” di antara mereka. Clay datang ke pesta pakai kemeja yang kancingnya ditutup semua. Hannah membuka satu kancingnya yang paling atas biar nggak kelihatan sesak and I think it’s way more sweet than the shoelace thing. Kalau tali sepatu kesannya jadi kayak anak TK, ya, nggak, sih? Pintar banget nih penulis skenarionya membuat segalanya jadi lebih menarik. So great!

Clay & Hannah (3)

Sentuhan yang lainnya yaitu waktu Hannah membetulkan rambut Clay yang sedikit berantakan gara-gara pakai helm sepeda. Dari sana Hannah suka meledek Clay dengan sebutan “Helmet”. Kalau di bukunya kan Clay nggak mengendarai sepeda (justru Hannah yang suka naik sepeda warna biru), jadi ini murni ciptaan seriesnya. Aku penasaran apakah Hannah akan naik sepeda juga nantinya karena kalau di bukunya, sepeda itu nantinya bakalan dikasihin ke Tony.

Clay & Hannah (2)

Ada yang lucu nih dari julukan Helmet ini. Waktu Hannah lagi nonton pertandingan bola basket, dia masih duduk sendirian, nggak ada teman. Lalu dia ngelihat Clay yang lagi nyari tempat duduk. Hannah lalu memanggil dia berulang kali, tapi dia nggak nyadar terus padahal udah lumayan kencang suaranya. Giliran dipanggil Helmet, baru dia nyadar, lol. 

Ada satu hal tentang Hannah dan Clay yang paling aku ragukan, yaitu apakah di bukunya Clay juga sempat memuji potongan rambut baru Hannah. Mmm, tapi kayaknya enggak, deh. Clay cuma memuji dalam hati. Seingatku , aku juga nggak menuliskan ini di review buku ini. Damn. Tapi sementara ini aku yakin Clay, menurut versi bukunya, nggak pernah memuji soal rambut baru Hannah secara langsung.

Meski aku puas banget sama pemeran Clay dan Hannah, benci lalu suka sama pemeran Justin, masih ragu sama pemeran Zach Dempsey dan juga Bryce Walker, Sekarang aku mau cerita soal tokoh-tokoh yang nggak cocok di mataku dengan kadar yang lebih tinggi. Pertama, yaitu Courtney Crimsen (Michele Selene Ang).

Courtney Crimsen

Seriously, aku nggak menyangka kalau yang jadi Courtney adalah cewek Asia! Karena ya memang nggak pernah disebut di buku kalau Courtney adalah cewek Asia. Kecuali bahwa Courtney adalah cewek yang cantik, kulitnya bagus, rambutnya indah dan ramah ke semua orang,  Jadi, fakta bahwa Courtney di series adalah cewek Asia adalah hal yang paling bikin aku “shocked“. Selama membaca buku, aku membayangkan sosok Courtney kurang lebih seperti Alison di series Pretty Little Liars. Dia penuh tipu daya dan penuh sandiwara. And of course she is popular! Ketambahan lagi disebutkan di bukunya kalau Courtney mengarang cerita tentang sesuatu di kamar Hannah yang kemungkinan besar berbau sensual ke sejumlah cowok di pesta. Dia juga yang punya ide dimassage sama Hannah untuk menciptakan kesan mereka lesbian pada Tyler Down. So… wajah seperti Alison DiLaurentis di bawah inilah yang menurutku cocok banget jadi Courtney.

Alison-dilaurentis

Well, memang sih waktu Asian Courtney menyapa Clay dengan ramahnya, cukup meyakinkan kalau dia cewek yang fake, seperti yang dibilang Hannah di buku. Dan aku harus sadar kembali kalau cewek populer itu bukan cuma cewek dengan penampilan seperti Alison aja, tapi cewek yang ramah seperti Asian Courtney pun bisa dianggap populer dan “mematikan”. I hope Michele will convince me more in the next episodes to accept her as Courtney Crimsen. (God, I hate those pearls on her body.)

Tokoh kedua adalah Mrs. Pam Bradley yang diperankan oleh Keiko Agena. (Di buku, dia cuma disebut Mrs. Bradley)

Mrs. bradley (2)

Oh-My-God! I swear, at first I didn’t recognize that that woman was Keiko Agena who played Lane Kim in Gilmore Girls, until I heard her voice, which was so familiar in my ears. Tapi, serius?! Kok wajahnya kelihatan tua banget, sih? Agak keriput. How come? Alexis Bledel yang jadi Rory, yang diceritakan seusia sama Lane di series tersebut, masih imut dan kencang wajahnya. Lalu kenapa dia malah mirip wanita yang usianya di atas empat puluh limaan gitu? Kurus pula pipinya, nggak setembem waktu di Gilmore Girls. Aku sedih dan kaget ngelihat dia begitu. Apa yang terjadi sama kehidupan dia yang bikin penampilannya jadi seperti itu? I miss the young and energetic Lane Kim.

Lane Kim and Rory

Berawal dari keterkejutan itu, akhirnya aku memutuskan cek Wikipedia. Dan aku malah dibuat makin terkejut lagi. Ternyata Keiko Agena ini kelahiran tahun 1973! Umurnya sekarang 43 tahun. Lalu aku cek profilnya Alexis Bledel. Dia ternyata kelahiran tahun 1981 dan umurnya sekarang 35 tahun. Mereka ternyata beda delapan tahun!!! OMG, kenapa dulu di Gilmore Girls dia bisa kelihatan seusia dengan pemeran Rory dan sekarang bisa kelihatan beda banget dengan Rory? Why oh Why? I just don’t get it. Forty three shouldn’t be that old and wrinkled. Apa jangan-jangan itu hasil make-up ya biar kelihatan tua sehingga lebih cocok jadi peran guru? Aaargh, I’m just too shocked with how time flies and changes everything. I wish you all the best, Keiko Agena. I hope you’re happy with your life.

Lalu apa keberatanku dengan tokoh Mrs. Bradley ini? Well, lagi-lagi karena tokohnya Asia. Bukannya aku antiAsia, I’m Asian my self. Cuma heran aja kok cukup banyak tokoh berdarah Asia di series ini dan ini menurutku melebihi porsi yang biasanya terjadi. Biasanya paling satu doang. Tapi kali ini ada Courtney Crimsen, Mrs. Bradley dan juga Zach Dempsey. Dia dari Singapura, ternyata. Tokoh Tony juga digambarkan berdarah latin padahal di bukunya nggak ada pembicaraan soal ras. Oke, mungkin series ini ingin menciptakan suatu series di mana tokohnya berasal dari ras yang beragam. Biar bervariatif, kayaknya. Jadi, ya, baiklah. I’ll embrace the diversity. 

Tokoh yang ketiga yang belum meyakinkan pada pandangan pertama adalah pemeran Tyler Down (Devin Druid). Sorry, lagi-lagi karena aku begitu membandingkan buku Thirteen Reasons Why sama series Pretty Little Liars yang juga lagi kutonton waktu itu. Di series tersebut ada tokoh Lucas, yang juga seorang fotografer untuk buku tahunan. Dia sering bawa kamera dan mengambil gambar kegiatan siswa di sekolah atau pun di party. Secara nggak sadar, aku jadi membayangkan tokoh Tyler Down seperti Lucas, yang tampangnya agak-agak culun, lucu, dan oon gitu. Mukanya anak baik-baik dan tenang. Sedangkan wajahnya Tyler Down di sini justru berkesan songong dan psycho, lol. Udah gitu dia kayak menganggap Clay berada di bawah dia, padahal sewaktu baca bukunya, aku beranggapan mereka punya status sosial yang sama di sekolah. Kalau diperhatikan lebih lama, barulah Tyler Down dan Lucas kelihatan lumayan sama culunnya. Cuma raut wajah Tyler nggak se-oon raut wajah Lucas.

This is Tyler Down on the right and Lucas in Pretty Little Liars on the left.

Ini salah Jay Asher juga sih karena nggak begitu detail soal perawakan jadinya aku main comot aja karakter Lucas tersebut dan menerapkan perawakannya pada tokoh Tyler Down. Semoga Devin Druid juga bisa membungkam kecerewetanku soal penampilannya yang belum sesuai harapanku.

Oh iya, kalau di bukunya nggak pernah diceritakan tentang ayah Clay, kecuali dinarasikan bahwa dia pernah beli radio tape di yard sale, tapi di seriesnya ada. Diceritakan ayahnya tiba-tiba jadi perhatian gitu sama kegiatan Clay. Hal ini berkaitan dengan kematian Hannah dan juga karena pihak sekolah mewanti-wanti para ortu untuk lebih melibatkan diri dalam kehidupan anak mereka melalui komunikasi. Clay jadi merasa aneh diperlakukan seperti itu sama ayahnya.

Di kanan ini adalah ayahnya Clay, Mr Matt Jensen (Josh Hamilton) dan di kiri adalah ibunya Clay, Mrs. Lainie Jensen (Amy Hargreaves). Yang jadi mamanya imut banget, kayak kakaknya Clay. Kalau bapaknya kelihatan tua gara-gara jenggotnya yang awut-awutan. Perpaduan wajah mereka memang sepatutnya menghasilkan wajah Clay Jensen.

Kalau di bawah ini adalah mamanya Hannah Baker, Mrs. Olivia Baker (Kate Walsh) dan juga ayahnya, Mr Andy Baker (Brian d’Arcy James). Di buku mereka hanya diceritakan dalam narasi Hannah, dan itu pun sangat minim. Tapi kali ini mereka muncul dan berdialog. So, I’m happy to see them. Ini bisa semakin menggambarkan dengan jelas kehidupan Hannah di rumah. Aku lihat di IMDb mereka akan muncul di sebagian besar episode, nggak cuma di episode awal aja.

Hannah's Parents (2)

Di awal episode, udah kelihatan Mrs. Baker agak-agak keras gitu sama Hannah. Masa jawab SMS pas lagi ngerjain PR aja nggak boleh, sih? Namanya juga anak muda. Yang penting kan tugasnya pada akhirnya beres. Bisa jadi ini salah satu faktor Hannah bunuh diri? Siapa tahu Hannah jadi sulit terbuka sama ibunya, kan? Kalau Mr. Baker jauh lebih kalem. Tapi di bukunya Hannah nggak pernah mengeluhkan soal orangtuanya. Justru dia bilang kalau kedua ortunya amat menyayanginya meskipun ada masalah dalam bisnis mereka yang bikin kebersamaan di antara mereka sedikit berkurang.

“My parents love me. I know they do. But things have not been easy recently. Not for about a year. Not since you-know-what opened outside of town. When that happened, my parents became distant. There was suddenly a lot for them to think about. A lot of pressure to make ends meet. I mean, they talked to me, but not like before. When I cut my hair, my mom didn’t even notice.”

Aku bukan siapa-siapa dan belum tahu rasanya menjadi seorang ibu. Karena banyak juga para ibu yang menerapkan disiplin keras di rumah tapi anaknya justru menjadi anak yang sukses. Membesarkan seorang anak itu sungguh pekerjaan yang sulit. Yang jelas, kehilangan Hannah benar-benar menjadi pukulan yang berat untuk Mrs. Baker. Lihat aja penampilan dia dulu sewaktu Hannah masih ada. Kelihatan rapi, jauh beda sama penampilan di atas.

Hannah's Mom

Dia pun terkejut ketika mengetahui loker Hannah yang tampak sepi dari stiker. Nggak seperti loker-loker anak remaja kebanyakan, dan mungkin juga lokernya dia waktu masih remaja dulu, yang dipenuhi stiker, foto, atau apa pun yang ingin mereka tempel di sana. I wish you would’ve known it sooner that there’s something wrong with your only daughter, Mrs. Baker. 

Hannah's Locker

Setidaknya apa yang “teman-temannya” lakukan pada loker Hannah cukup menghibur kedua orangtuanya. Mungkin? It’s sweet, isn’t it?

13 R Why (7)

Uniknya, ada aja murid yang selfie-selfie di hadapan loker Hannah. Nggak tahu apa maksudnya? Mungkin itu salah satu cara unik mereka dalam mengenang Hannah? Setiap orang kan beda-beda. So… kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja jadiin kematian Hannah sebagai trending topic di Twitter.

Selfie

Kematian Hannah nggak cuma berpengaruh pada ayah dan ibunya aja. Orang-orang yang menerima kaset dari Hannah pun demikian. Of course, lah. Dia pasti merasa seperti dikejar dosa. Yang udah kelihatan banget adalah Justin Foley karena dia orang pertama yang mendapatkan kaset tersebut. Lihat penampilan dia yang kini tampak sengsara dan nggak keurus. Where’s your proud and sweet smile, Justin?

Justin Foley (6)

Menurut buku, Clay adalah orang ke sembilan yang menerima kaset. Sedangkan Courtney Crimsen dan Tyler Down lebih dulu menerimanya. Berbeda dengan Justin, Courtney dan Tyler kelihatan biasa-biasa aja, enggak sesemrawut Justin Foley. And it makes me really wonder. Is it really how they feel inside, too? Good for them, but at the same time, they’re heartless. So, we’ll see in the next episodes.

Aku juga penasaran kenapa Justin Foley harus dipanggil sama Mr. Porter dan Zach Dempsey menduga itu berkaitan dengan lawsuit? Ugh, apakah karena kasus penyebaran gambar tak senonoh Hannah atau ada tambahan lain yang diciptakan oleh seriesnya? Karena, berdasarkan bukunya, yang kesalahannya paling fatal adalah Bryce Walker. Well, I can’t wait to watch the next episode. 

“A rumor based on a kiss ruined a memory that I hoped would be special. In fact, it ruined just about everything… as you’ll soon see. And stick around, Justin. I’m not through with you yet. I know you probably didn’t mean to let me down. In fact, most of you listening probably had no idea what you were truly doing. But you’ll find out.”

***

 

 

MY FINE LINE

 

“I’ve lived here all my life. It’s like asking Han Solo “How is space?””

(Clay Jensen)

 

“Wow! You’re an actual nerd, aren’t you? I admire that. There’s courage in being a nerd.”

(Hannah Baker)

 

“You two are dangerous whey you coordinate.”

(Clay Jensen)

 

“It was just a party. I didn’t know it was the beginning of the end.”

(Hannah Baker)

 

“It’s like, around her, I can be different, you know? Like I’m the new and improved Clay Jensen: high school sophomore, archaeologist-slash-adventurer.”

(Clay Jensen)

 

“Okay, yeah, he’s kind of dumb, but he’s the sweet kind of dumb, which is the best kind.”

(Kat)

 

“The one and only Kat moved away before the start of school. She was the kind of friend that couldn’t be replaced, even by falling in love with the boy she left behind.”

(Hannah Baker)

 

“Being Kat’s boyfriend was kind of the only remarkable thing about you. But Justin, you were my Kryptonite.”

(Hannah Baker)

 

“I’m not angry you betrayed me. I’m angry that I trusted you in the first place.”

(Hannah Baker)

 

“My hair does the same thing no matter what, just sits there.”

(Clay Jensen)

 

“Don’t be jealous, Clay. You’ll fill out. Someday. Maybe.”

(Hannah Baker)

 

“Yo, bus with hot girl, car with idiots?”

(Justin Foley)

 

“Have you ever in your life been able to confront an issue head-on? Have you ever even had an issue?”

(Hannah Baker)

 

“I don’t think you’re socially awkward at all. I think you’re just scared. I think you’re waiting.”

(Hannah Baker)

 

“Mrs. Bradley doesn’t have a clue what it was like to be our age. ‘I find it best to confront the issue head-on by saying ‘Pardon me, but you really hurt my feelings.'”

(Hannah Baker)

 

“See, I’ve heard so many stories about me now. But I don’t know which one is the most popular. But I do know which is the least popular. The Truth.”

(Hannah Baker)

 

“See, the truth isn’t always the most exciting version of things, or the best or the worst. It’s somewhere in between. But it deserves to be heard and remembered.”

(Hannah Baker)

 

“The truth will out, like someone said once. It remains. So, thank you, Justin. Sincerely. My very first kiss was wonderful.”

(Hannah Baker)

 

 

MY BEST SHOT

 

***

 

 

Sutradara: Tom McCarthy

Penulis Skenario: Brian Yorkey & Nic Sheff

Tanggal Tayang: 31 Maret 2017

Durasi: 52 Menit

Berdasarkan Novel Karya Jay Asher: “Thirteen Reasons Why”

Rating: 4 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s