Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terrenggutkan dari tangkai pohonnya.

 

Itu adalah blurb dari buku karya Tere Liye yang baru aja kubaca: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama otakku sampai bisa berpikiran kalau tokoh yang mengucapkan kata-kata di atas pasti lagi jatuh cinta sama salah satu anggota keluarganya. Entah itu adik atau kakak kandungnya, atau mungkin om kandungnya. Lagi kena sindrom apa aku, ya? Atau sepertinya harapanku terlalu ekstrem untuk kisah cinta yang biasa ini. Walau kisahnya terbilang biasa, tapi penulisnya sanggup membuat aku penasaran setengah mati dengan akhir cerita mereka berdua.

Nama Tere Liye udah sering aku dengar di dunia tulis-menulis. Meski begitu, buku ini adalah buku Tere Liye yang pertama kali kubaca dan kumiliki. Beberapa ada yang baru beli pas lagi diskon gede-gedean di SCOOP pas ulang tahun Jakarta kemarin. Kalau Tere Liye nggak menjadi salah satu coach di Gramedia Writing Project 3 yang sebentar lagi akan kuhadiri, kayaknya buku ini masih belum akan kubaca, deh. Dia akan tetap menyempil di antara tumpukan bukuku yang lain.

Seperti yang sudah tersirat di dalam blurb-nya, buku ini mengisahkan perasaan cinta seorang gadis bernama Tania kepada Danar, lelaki yang dia anggap sebagai malaikat dalam keluarganya. Berkat Danar, Tania dan adiknya, Dede, bisa kembali bersekolah dan mengukir prestasi yang amat membanggakan. Kehidupan mereka pun semakin membaik dari waktu ke waktu. Sayangnya, di tengah kebangkitan itu, mereka harus kehilangan Ibu tercinta, yang meninggal karena kanker paru-paru. Semenjak itu, mereka tinggal seatap dengan Danar. Dan itu semakin mengukuhkan posisi Danar sebagai malaikat pelindung dalam kehidupan mereka. Bersamaan dengan itu, semakin dalam juga cinta Tania kepada Danar, sekalipun jarak memisahkan ketika Tania harus menuntut ilmu di Singapura.

Lalu apa makna dari judul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin?

Kalimat tersebut diucapkan pertama kali oleh Danar ketika Tania dan Dede menolak pulang setelah pemakaman ibunya.

“Ketahuilah, Tania dan Dede… Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tania, kau lebih dari dewasa untuk memahami kalimat itu… Tidak sekarang, esok lusa kau akan tahu artinya… Dan saat kau tahu apa artinya, semua ini akan terlihat berbeda.”

Kalimat tersebut juga akhirnya menghiasi pusara sang Ibu beberapa tahun kemudian. Dan dari kalimat tersebut, Tania pun belajar untuk mengikhlaskan Danar menikah dengan Ratna, sekalipun itu bukan hal yang mudah. Karena sudah bertahun-tahun lamanya Tania memendam perasaan cintanya pada Danar, bertanya-tanya apakah Danar juga merasakan hal yang sama. Usia mereka memang terpaut jauh, 14 tahun, tapi itu nggak menghentikan Tania untuk mencintai Danar.

Rasa cinta Tania seperti orang yang sudah terobsesi. Begitu pula yang diakui oleh salah satu tokoh dalam novel ini. Sayang aku lupa siapa tepatnya yang bilang itu, entah Anne atau justru Tania sendiri. Bayangkan, Tania masih menyimpan saputangan putih pemberian Danar ketika pertama kali mereka bertemu. Dan, karena Danar begitu sering mengenakan pakaian berwarna biru, Tania jadi ikut-ikutan suka warna biru.

Ngomong-ngomong soal saputangan, aku jadi teringat sama tokoh Sayuri di novel Memoirs of a Geisha. Dia juga melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan Tania. Gadis kecil itu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang lelaki yang umurnya jauh lebih tua darinya, bahkan rentang usia mereka lebih jauh dari rentang usia Tania dan Danar. Lelaki itu menolong Sayuri ketika ia nyaris terjatuh dari tempat yang tinggi. Lelaki itu lalu memberikannya es krim dan sebuah saputangan padanya. Saputangan itu selalu disimpan Sayuri hingga ia dewasa dan bertemu kembali dengan lelaki pujaannya itu. Uuuh, aku jadi kangen baca novel itu.

Baik, kembali ke novel ini. Terus endingnya gimana?

Well, seperti yang kubilang, buku ini bikin aku penasaran setengah mati. Tapi jujur, aku harus kecewa dengan endingnya. Kecewa di sini tentu hanya masalah pribadi antara harapan dan kenyataan. Rasanya baru kali ini aku nemu tokoh dalam novel yang benar-benar “bisu”. Bisu dalam mengungkapkan perasaannya. Siapa lagi kalau bukan Danar? Nggak ke Ratna, nggak ke Tania, dia selalu diam setiap kali ditanya soal perasaannya. Dia memang baik, suka menolong, tapi apa Danar tahu bahwa sikap bisunya itu benar-benar menyiksa? Secara nggak langsung, dia udah melukai hati dua orang perempuan. Jadi please… jangan diam aja. Ngomong, dong! Nggak perlu kamu jadi lelaki yang baik banget, mengangkat derajat sosial dan kehidupan banyak orang, menghibur banyak anak, tapi kamu menyakiti orang-orang yang amat mencintai kamu.

Memang nggak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan Danar. Jadi, sepertinya hal ini juga menjadi salah satu topik yang coba diangkat oleh Tere Liye. Ditengah sisi kemalaikatan seseorang, ada “iblis” kecil yang bersembunyi di baliknya. Kepribadian Danar ini adalah salah satu bagian yang paling bikin GEMES. Astaga. Diam. Terus, diam. Mengangguk atau menggeleng juga enggak. Dikutuk bisu baru tahu rasa!

Masuk ke dalam cerita ini di halaman-halaman awal memang terbilang nggak mulus karena narasinya padat dan bahasa yang digunakan terbilang baku dan kaku, pake aku dan kau. Jadinya agak membosankan. Ini hal yang wajar sebenarnya, karena setiap penulis memiliki cara sendiri untuk membuka cerita. Hal ini juga sering terjadi setiap aku mulai membaca novel baru. Untungnya, titel membosankan ini nggak terus-terusan melekat dalam buku ini. Gaya penulisan, kehidupan jalanan yang menjadi keseharian tokoh utama, dan curahan hati seorang gadis kecil yang mencintai lelaki yang jauh lebih tua darinya mampu mengikatku pada cerita ini. Apa yang dirasakan, dilihat, dan didengar oleh Tania juga bisa kualami. Aku pun nyaris menangis sewaktu Ibu Tania berbicara pada Tania sebelum ajal menjemputnya. Kenapa nyaris? Habis ucapan Ibu Tania di akhir bikin aku sebal, Masa ibunya bilang Tania nggak boleh menangis sedikit pun, demi siapa pun kecuali demi Danar? Memangnya apa salahnya menangis? Menangis bukan berarti cengeng, kan? Jadinya air mata yang udah nyaris tumpah itu menguap dan berganti rasa kesal.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama tunggal, yaitu Tania. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju mundur. Cerita berselang-seling antara kejadian kini, di mana Tania yang sudah beranjak dewasa pulang ke Indonesia untuk menemui Danar dan mencari tahu apa yang terjadi padanya hingga “menelantarkan” Ratna. Tania pun bermaksud untuk menanyakan pada Danar apakah dia juga mencintainya, meski sebenarnya Tania sendiri sudah mulai bisa melupakan Danar. Sedangkan alur mundur adalah ketika Tania mengenang masa kecilnya sebagai pengamen bersama Dede, adiknya, hingga ia akhirnya dipertemukan nasib dengan Danar melalui ulah sebuah paku payung yang menusuk telapak kakinya di lantai bis kota. Mungkin karena alurnya mundur, ada bagian di mana sudut pandang pertamanya terlihat nggak konsisten. Meski nggak berada di tempat kejadian, Tania bisa menceritakan bagian tersebut dengan jelas. Apa ini yang namanya sudut pandang pertama serba tahu? Ada gitu? Mungkin.

Settingnya sendiri bermacam-macam dan begitu real. Dari mulai toko buku sampai Singapura, bisa tergambarkan dengan baik lewat deskripsi yang dibuat Tere Liye. Gambaran Tere Liye tentang ASEAN Scholarship dan NUS pun begitu meyakinkan. Dari mulai prosesnya, sekolahnya, asramanya, murid-muridnya, aku nggak mengalami kesulitan dalam membayangkannya. Aku pun mendapat pengetahuan baru karena sebelumnya aku nggak tahu ada ASEAN Scholaship,

Ada bagian setting yang bikin aku bosan, yaitu waktu Tania menggambarkan gerai fotokopi yang banyak dikunjungi pasangan di saat hujan. Setiap habis flashback, Tania pasti cerita soal gerai fotokopi ini, Bosan jadinya. Memang cukup beralasan karena saat itu Tania lagi berdiri di lantai dua toko buku yang berdindingkan kaca sehingga bisa melihat keluar. Dan gerai fotokopi tersebutlah yang selalu menjadi fokus perhatian Tania. Tapi, sekali lagi, aku bosan sama bagian ini.

Tokoh dalam novel ini memiliki berbagai karakter. Yang paling “unik” tentunya Danar. Tania sendiri memiliki pribadi yang kuat, tegas, dan agak jutek. Kalau Dede, punya kepribadian seperti layaknya adik laki-laki kebanyakan. Anaknya cuek, jahil, ceplas-ceplos, tapi diam-diam dia perhatian pada Tania dan juga kejadian di sekitarnya. Ratna digambarkan sangat anggun dan keibuan. Dia selalu berusaha mendekatkan dirinya dengan Tania dan Dede meski kadang penerimaan mereka buruk. Ratna selalu tulus menyayangi mereka berdua. Ada satu tokoh yang terbilang penting dalam setiap keputusan yang diambil Tania, yaitu Anne. Dia adalah teman seasrama Tania di Singapura. Kepadanya, Tania selalu menceritakan perasaannya terhadap Danar dan Anne akan memberikan nasihat yang seringnya berseberangan dengan keinginan Tania. Namun Tania selalu mengikuti saran Anne. Itulah gunanya sahabat, ya. Selalu memberikan saran-saran yang logis sehingga kita nggak mengikuti suasana hati yang biasanya impulsif dan kemungkinan besar berefek negatif jika dituruti. Dari semua tokoh di atas, aku paling suka dengan tokoh Dede dan Anne. Selain kepribadian dan pola pikirnya yang menarik, keberadaan mereka sangat membantu Tania yang kondisinya terbilang labil. Kalau nggak ada mereka, entah bagaimana nasib Tania.

Setiap novel nggak terlepas dari kesalahan, seperti typo. Di buku ini juga ada beberapa. Di awal halaman lumayan sering aku ketemu sama makhluk bernama typo ini. Typonya berupa tanda strip yang peletakkannya salah. Selain itu ada juga kalimat yang terasa janggal dan membingungkan ketika dibaca.

  • “Setelah lelah berkeliling hampir dua jam, dia mengajak kami makan di salah satu kedai ayam goreng yang ada di toko buku itu.” (Serius ada kedai ayam goreng di dalam toko buku? Entar buku-bukunya bau ayam goreng semua, dong, lol.)
  • “Juga hingga malam datang menjelang. Malah semakin ramai dokter-dokter yang lain.” (Sebenarnya aku paham maksud kalimat ini, tapi ketika pertama baca terasa janggal karena sepertinya ada yang hilang. Kalau ditambah kata “oleh” kayaknya lebih enak dibaca, deh.)

 

Terlepas dari bagaimana pendapat pribadiku mengenai novel ini, kisah yang tertuang di dalamnya mengandung pesan moral yang sangat patut dicontoh. Bagaimana “sepenggal” kebaikan Danar bisa membuka pintu kesempatan yang sebesar-besarnya bagi sebuah keluarga yang tengah terpuruk. Aku juga ingin seperti Danar, yang selalu berbagi kebaikan dan tak pernah menyerah dan putus harapan dengan nasibnya, yang juga menjadi seorang yatim piatu. Semoga di dunia ini akan ada banyak orang baik seperti Danar.

***

 

 

QUOTES

 

“Tania, kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh… Biarkanlah angin yang menerbangkannya…”

(Danar)

 

“Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung menghubungkan satu dan hal lainnya. Mencari-cari penjelasan yang membuat hatinya senang. Tetapi aku sudah memutuskan untuk memilah mana simpul yang nyata serta mana simpul yang hanya berasal dari ego mimpiku.”

(Tania)

 

“Kebaikan itu memang tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat. Tak selalu dalam bentuk uang dan materi. Dia berbagi banyak hal hanya dari sikap dan tabiat yang dicontohkannya. Anak-anak di kelas mendongengnya bisa menjadi saksi atas segala kebaikan itu. Dan itu terkadang jauh lebih berharga dibandingkan bantuan uang atau materi sekarung.”

(Tania)

 

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

(Danar)

 

“Pohon ini indah karena menakjubkan. Pohon ini indah karena bisa menumbuhkan sesuatu. Menimbulkan perasaan-perasaan yang tak pernah kita mengerti. Cinta. Pohon ini membuat kita berterus terang dalam kehidupan…”

(Ibu)

***

 

 

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 256 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 48.000 (Tahun 2015)

Rating 3½ dari 5 Bintang

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

2 respons untuk ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

  1. Buku Tere Liye yang ini salah satu wishlist ku dulu yang sampai sekarang belum juga bisa baca bukunya T.T. Well dari ulasan mbak eka jadi bukunya bertema cinta terlarang ya mbak? Membaca ulasan nya jadi tambah penasaran kepengen baca bukunya. 😀 Semoga dapat bukunya.

    Suka

    1. Well, bukan cinta terlarang juga sih sebenarnya. Karena itu kan dugaan awalku. Tapi sesuai janjiku di GR, yang komen pertama yang menang, jadi kamu yang dapetin buku ini, gak pake basa-basi deh hehe. So, bisa kamu kasih tau alamat lengkap dan nomor hp lewat inbox di GR. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s