Dawson’s Creek S1 : E1 – Pilot

Senang banget rasanya karena Hooq mau menayangkan Dawson’s Creek lengkap dari season 1 sampai season 6. Dawson’s Creek ini pertama tayang tahun 1998 di Amrik sana, entah kalo di Indonesia, aku lupa. Seingatku waktu itu aku masih SMA. Waktu itu tayangnya di TPI jam sepuluh malam, jam tidurku. Makanya kadang aku maksa-maksain diri buat nonton series ini. Buat ukuranku dulu dan juga kondisi moral Indonesia saat itu, isinya terbilang banyak mengandung konten dewasa. Jadi rasanya gelisah setiap nonton ini, lol. Tapi sebenarnya itu termasuk ke sex education, menurutku, meski terbilang kontroversial. Jadi, pandai-pandailah menyaring konten dan bersikap bijak.

Aku udah punya DVD ini lengkap (bajakan, sorry, karena gak ada yang jual aslinya di Bali), tapi sayang di beberapa episode ada yang rusak. Jadi lagi asyik-asyiknya nonton malah kepotong. Ternyata di Hooq juga sama. Di episode satu ada bagian yang kayak ngehang gitu. Gambarnya diam, tapi audionya jalan. Untung nggak merusak jalan cerita, jadi nggak kehilangan momen. Semoga ke depannya nggak ada lagi.

Oh iya, dulu waktu di Hooq, Dawson’s Creek ini nggak ada subtitle-nya sama sekali. Makanya aku minta kepada Hooq biar dibuatin. Prosesnya lamaaaaa banget. Itu tahun lalu. Tiap ngecek, masih belum ada. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu ada. Aku girang bukan main. Sayagnya subtitlenya cuma ada bahasa Indonesia dan Thai (Malah belakangan aku cek cuma tinggal bahasa Indonesia aja). Padahal aku berharap disertakan bahasa Inggris juga. Biar aku bisa quote-quote pakai bahasa aslinya. Bisa sih aku tulis sendiri karena lumayan ketangkap mereka ngomong apa, tapi malas. Aku coba putar DVD-nya untuk cari bahasa Inggrisnya malah eror. Jadi, ya sudah, aku quote pake bahasa Indonesia aja.

Episode awal ini bercerita tentang persahabatan Joey Potter (Katie Holmes) dan Dawson Leery (James Van Der Beek) yang tetap terjalin erat meski mereka udah beranjak dewasa. Joey yang menyadari perubahan pada fisik dan mungkin juga perasaanya, berusaha mengurangi kedekatan mereka. Dia nggak mau lagi nginap dan tidur seranjang dengan Dawson seperti dulu lagi. Dawson sendiri nggak menyadari hal itu. Tapi gara-gara diungkit Joey, dia jadi sedikit berpikir juga. Namun Dawson meyakinkan Joey kalau dia nggak punya perasaan lebih untuk Joey, selain sahabat.

Dawson's Creek (2)

Esoknya ada cewek baru di lingkungan Dawson. Dekatan rumahnya. Dia juga mau sekolah di tempat yang sama. Namanya Jen Lindley (Michelle Williams). Kedatangan dia langsung menarik perhatian Dawson dan Pacey Witter (Joshua Jackson). Jen ini anaknya rebel. Dia bilang dia pindah ke sana untuk bantuin neneknya ngerawat kakeknya yang habis operasi. Dari cara jalannya aja, Jen udah nantangin gitu ya.

Dawson's Creek (3)

Sebagai sahabat, Joey tahu Dawson naksir sama Jen. Dia mewanti-wanti Jen untuk tidak menyakiti perasaan Dawson. Mulai saat itu pula, Joey jadi benci sama Jen dan sering menyindirnya soal gaya hidupnya di New York. Akibatnya, Joey dan Dawson sering banget berantem semenjak kedatangan Jen. Nggak lama mereka baikan lagi, sih. Kayaknya Joey benci sama Jen gara-gara dia sebal sama perkenalan awal mereka. Fokus Jen cuma ke Dawson, Dawson, dan Dawson. Dia dianggap angin lalu aja. Kayaknya karena itu. Mungkin juga jealous.

Dawson's Creek

Pacey sendiri lagi sibuk mendekati wanita dewasa yang dia lihat pertama kali di tempat dia kerja bersama Dawson, yaitu di tempat penyewaan DVD. Aku juga mau kerja di tempat seperti ini. It’s heaven. Atau di toko buku.

Dawson's Creek (7)

Nah, wanita itu cantik dan seksi. Tapi jujur aku nggak suka sama betisnya. Kok kayak betis cowok. Gede. Udah gitu jalannya agak ngangkang, lol. Dan kalau dilihat secara lebih detail, raut wajahnya juga kayak cowok gitu. Apa jangan-jangan dia sebenarnya transgender? Damn, sorry. Btw, ternyata wanita yang bernama Tamara Jacobs (Leann Hunley) ini adalah guru bahasa Inggrisnya Pacey loh! Hmm, jadi berpikir, kenapa series teen Amrik banyak mengupas soal hubungan asmara antara murid dan guru, ya? Dan gurunya itu kalau nggak guru bahasa Inggris, pasti guru musik. Guru-guru yang penuh pemikiran melankolis gitu kayaknya. Mungkin guru Filosofi juga, lol.

Aku suka banget dengan ambisi Dawson dalam dunia film. Dia benar-benar terobsesi dengan Steven Spielberg sampai kamarnya dipenuhi dengan karya-karyanya dia. Hidupnya terlihat sempurna. Punya orangtua yang saling mencintai, meski dia sendiri justru curiga ibunya punya hubungan spesial dengan rekan kerjanya (Ibunya bekerja sebagai pembaca berita). Ini dia orangtua Dawson: Mr. Mitch Leery (John Wesley Shipp) and Mrs. Gail Leery (Mary – Margaret Humes)

Aku juga suka dengan ketomboian dan kecuekan Joey. Dia hidupnya nggak seindah Dawson. Ayahnya dipenjara karena kasus narkoba. Dia tinggal dengan kakaknya yang hamil diluar nikah bersama cowok berkulit hitamnya (ini aib menurut neneknya Jen). Dan kayaknya kakaknya agak-agak galak gitu (Mungkin bawaan hamil). Yang aku suka dari kebiasaan Joey, dia selalu naik perahu saat hendak pergi ke rumah Dawson. Dia juga suka memanjat pakai tangga ke kamar Dawson. Dan selalu dengan senang hati menjadi pemeran dalam film-film yang dibuat Dawson. Sekarang ceritanya dia lagi akting sama Pacey dalam film horor yang dibuat Dawson, yang akan diikutsertakan ke festival. Tapi mereka berdua keseringan berantem, jadinya filmnya molor sampai dua minggu. Semoga bisa beres sebelum festival benar-benar ditutup.

Ini adalah kakaknya Joey, Bessie Potter (Nina Repeta) dan kakak iparnya, yang entah siapa namanya.

Tokoh Jen juga nggak kalah menarik. Aku suka sama sikap dia yang lembut-lembut pemberontak. Maksudku, dia nggak perlu berteriak untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya dan itu udah cukup bikin neneknya, Evelyn ‘Grams’ Ryan (Mary Beth Peil) mengurut dada. Jen anaknya nggak suka segala hal yang berhubungan dengan Tuhan, termasuk berdoa dan pergi ke gereja. Jadi saat neneknya menganjurkan dia untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu, Jen menantang neneknya untuk mengucapkan kata ‘penis’ dulu baru dia mau pergi ke gereja. Neneknya tentu aja nggak mau. Jen, Jen.

Inilah Jen dan neneknya yang amat bertolak belakang. Entah gimana hubungan mereka ke depannya.

Di antara keempat tokoh utama, yang paling unik adalah tokoh Pacey. Dia sukaaaa banget sama makhluk yang bernama perempuan, apalagi kalau dia cantik dan seksi. Bahkan dia rela babak belur demi bisa berkencan dengan Tamara. Uniknya, ketiga saudara kandungnya cewek semua jadinya dia suka ketularan baca majalah Cosmopolitan dan cari tahu kehidupan seks orang dewasa. Parah. Meski saudaranya cewek semua, nggak ada aura kemayu dalam diri Pacey. Juga sepertinya nggak ada kata sedih dalam kamus Pacey, kecuali waktu merasa dipermainkan oleh Tamara. Intinya, Pacey is the class clown.  

Dawson's Creel

Episode pertama ini seru banget. Penasaran dengan kisah kelanjutan mereka berempat, baik sebagai teman dan sebagai pribadi masing-masing. Apalagi episode ditutup dengan Joey yang melihat Mrs. Leery ciuman sama seorang lelaki, yang bukan Mr. Leery. Itu berarti dugaan Dawson ada benarnya! Damn!

***

 

 

MY FINE LINE

 

“Menurutku hormon baru kita akan mengubah hubungan di antara kita dan aku sedang berusaha membatasi dampaknya.”

(Joey Potter)

 

“Tidak, aku tidak merasakan sesuatu tentangmu, Dawson. Aku mengenalmu terlalu lama. Aku sudah lihat kau muntah, berserdawa, mengorek hidung, menggaruk pantat. Aku tak merasakan apa pun denganmu.”

(Joey Potter)

 

“Kita sahabat, kan? Tidak peduli seberapa banyak rambut tumbuh di tubuh kita.”

(Dawson Leery)

 

Dialogue:

Jen: Kau terlalu muda untuk jadi ambisius.

Dawson: Spielberg membuat film dengan pita 8 mm saat berusia 13.

Jen: Kenapa memilih film?

Dawson: Aku menolak kenyataan.

 

“Begini, aku percaya bahwa semua misteri di alam semesta, semua jawaban tentang kehidupan ada di dalam film-film Spielberg. Itu teori yang sedang aku kerjakan. Saat aku punya masalah, aku tinggal menonton film Spielberg untuk mendapat solusi.”

(Dawson Leery)

 

Dialogue:

Joey: Kau berpikir terlalu jauh. Untuk apa dia tidur dengan pasangan pembaca beritanya? Ayahmu adalah contoh pria sempurna.

Dawson: Entahlah, tapi kupikir begitu.

Joey: Kau mencari keributan. Semuanya bisa jadi bahan cerita bagimu. Kecuali kehidupan sempurnamu, Dawson. Ini kenyataan.

 

Dialogue:

Jen: Ada apa dengan Dawson di sebelah rumah? Dia terlihat sangat berbeda. Dulu dia sepertinya pendek dan gemuk.

Grams: Jauhi dia. Anak laki-laki itu sumber masalah.

Jen: Mereka semua begitu, bukan? Lalu, bagaimana dengan gadis yang tinggal di pinggir sungai? Joey, apa itu namanya?

Grams: Anak gadis dari pinggir sungai itu selalu memanjat masuk lewat jendela kamar tidur anak laki-laki sebelah rumah itu selama 10 tahun terakhir. Mereka tidak pernah ke gereja. Aku yakin merekalah yang kau sebut sebagai elemen yang salah.

Jen: Benar.

Grams: Berdoa dulu, Sayang.

Jen: Tidak perlu. Nenek saja.

Grams: Tidak, lebih baik kau saja.

Jen: Menurutku tidak, Nek. Tapi terima kasih.

Grams: Apa ada alasan kau tidak brsyukur pada Tuhan pagi ini?

Jen: Nek, aku tidak ingin membahas ini karena aku belum lama di sini dan aku mudah sakit kepala dan lain-lain, tapi aku tidak terbiasa dengan gereja, alkitab dan berdoa.

Grams: Apa yang kau katakan?

Jen: Aku tidak percaya Tuhan. Aku seorang ateis.

 

Dialogue:

Jen: Hei, Joey. Boleh aku bertanya sesuatu?

Joey: Tentu.

Jen: Apa kau dan Dawson pacaran?

Joey: Tidak, kami hanya teman.

Jen: Seperti juga kita nantinya, kuharap. Nenekku minta aku hati-hati denganmu. Dia bilang kau anak bermasalah.

Joey: Jangan tersinggung, tapi nenekmu gila.

Jen: Kenapa dia benci padamu?

Joey: Banyak sebab. Ayahku seorang narapidana atau kakakku, yang dihamili pacar berkulit hitamnya.

Jen: Ayahmu di penjara?

Joey: Terlibat perdagangan ganja seberat 10.000 pon.

Jen: Wow. Lalu di mana ibumu?

Joey: Dia terkena kanker. Kanker itu membunuhnya.

Jen: Jadi kau tinggal dengan kakakmu?

Joey: Dan si pacar berkulit hitamnya. Dia menyukaimu, kau tahu?

Jen: Siapa, si pacar berkulit hitam?

Joey: Dawson. Jangan sakiti perasaannya.

 

Dialogue:

Pacey: Dengar, ini fakta bahwa kebanyakan wanita dewasa tertarik pada pria muda yang menjelang dewasa. Itu membuat mereka merasa terus muda. Aku membacanya di Cosmopolitan.

Dawson: Untuk apa kau membaca Cosmo?

Pacey: Aku punya tiga saudara perempuan. Cosmo adalah penyelamatku.

 

“Aku tahu kau khawatir tentang hubungan kita dan semuanya, tapi tidak ada yang harus berubah. Kita bisa bicara tentang apa pun.”

(Dawson Leery)

 

Dialogue:

Grams: Ke mana persisnya kau akan pergi?

Jen: Dawson punya senjata. Kami akan merampok toko minuman keras, lalu membuat tato.

Grams: Kenapa kau bicara seperti itu?

Jen: Aku hanya ingin bercanda dengan Nenek. Aku tak berbahaya. Lihat saja.

Grams: Kembalilah sebelum pukul 10.

Jen: Aku bisa lakukan itu. Terima kasih karena mengizinkanku. Kupikir nenek akan merantaiku ke kursi atau apa.

Grams: Sama sekali tidak. Kau mau pergi ke bioskop, pergilah. Bersenang-senanglah, asal kau ikut ke gereja denganku Minggu pagi.

Jen: Aku tahu pasti ada syaratnya. Maaf, tapi nenek harus menyerah soal yang satu itu.

Grams: Sayangnya aku memaksa.

Jen: Aku yakin dengan apa yang kupercayai. Harap hormati itu.

Nenek: Aku tahu apa yang terjadi di New York. Gereja dapat membuatmu lebih baik.

Jen: Biar aku yang menentukan itu. Gereja bukanlah jawaban untukku. Tapi aku janji aku akan tetap berpikiran terbuka dan menghormati keyakinan Nenek selama aku ada di sini.

Grams: Keputusan sudah diambil. Kau akan melakukan yang kuminta. Kau di bawah pengawasanku.

Jen: Aku berusaha sangat keras untuk menahan sifat pemberontakku. Begini saja. Aku akan ke gereja saat Nenek mengatakan “penis”.

Grams: Hentikan bicara seperti itu.

Jen: Itu hanya kata, Nek. Istilah medis dan teknis. Penis. Nek, aku sangat mencintaimu, tapi Nenek harus santai sedikit. Sampai nanti.

 

“Kalau seks begitu penting, lalu mengapa Spielberg tidak pernah menaruh adegan seks di film-filmnya? Dia menaruhnya dengan pantas di film, seperti kita di kehidupan nyata.”

(Dawson Leery)

 

“Aku mengerti semuanya. Aku bosan terus mengerti! Aku selalu harus mengerti!”

(Joey Potter)

 

Dialogue:

Joey: Kau yang tak mengerti, Dawson. Kau begitu jauh dari kenyataan, kau bahkan tidak bisa melihat yang ada di depanmu.

Dawson: Kau membicarakan apa?

Joey: Kehidupanmu. Itu adalah kisah dongeng basi dan kau bahkan tidak tahu itu. Kau hanya mau konflik untuk naskah yang kau tulis. Berhentilah hidup dalam film. Jadilah dewasa.

 

“Tidak, kau bukan pecundang, Dawson. Kau sangat manis. Dan pintar. Kau punya selera humor yang hebat. Kau keren tanpa terlalu menyebalkan. Kau sangat, sangat berbakat. Kau punya kulit yang bagus. Nilai tambah yang besar.”

(Jen Lindley)

 

“Terima kasih, Dawson. New York tidak begitu menyenakgkan untukku. Dan sekarang terlihat agak menakutkan, jadi terima kasih.”

(Jen Lindley)

 

Dialogue:

Pacey: Kenyataannya adalah, kau wanita sempurna yang memesona, yang sedikit kehilangan rasa percaya diri karena menjelang usia 40. Jadi ketika anak laki-laki seperti aku, menggodamu, kau menikmatinya. Kau memulainya. Kau berfantasi tentang bersama pria muda yang sedang menjelang dewasa itu. Karena itu menolongmu untuk tetap merasa menarik. Sehingga proses penuaan sedikit lebih bisa dihadapi. Kukatakan ini kepadamu, Kau menyia-nyiakannya, Nona. Karena akulah seks terbaik yang tidak akan pernah kau dapatkan.

Ms. Jacobs: Kau salah tentang satu hal, Pacey. Kau bukan anak-anak.

 

“Aku punya hidup yang sangat sempurna, dan aku tidak menghargainya. Maaf aku tidak sensitif. Aku pikir aku tidak seburuk itu.”

(Dawson Leery)

 

“Aku tidak mau kehilanganmu, Joey. Hubungan kita satu-satunya yang masuk akal buatku.”

(Dawson Leery)

 

Dialogue:

Dawson: Saat aku melihatmu di bioskop mengenakan pemulas bibir, aku ingat aku berpikir betapa cantiknya dirimu. Maksudku, aku mengabaikannya. Tapi aku berpikir seperti itu.

Joey: Benarkah?

Dawson: Tapi hanya sampai di situ, Jo. Tidak lebih jauh dari itu.

Joey: Saat aku melihatmu meraih tangan Jen, aku.. Maksudku, bukannya aku mau menjadi orang yang memegang tanganmu. Aku hanya tidak mau dia yang memegangnya.

Dawson: Lalu bagaimana dengan kita? Ini semua sangat rumit.

Joey: Kita tumbuh dewasa, Dawson. Itu saja. Bahkan Spielberg sudah terlepas dari sindrom “Peter Pan”

 

 

MY BEST SHOT

 

***

 

Sutradara: Steve Miner

Penulis Skenario: Kevin Williamson

Tanggal Tayang: 20 Januari 1998

Durasi: 44 Menit

Rating: 5 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s