Luka Dalam Bara

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.”

 

Luka Dalam Bara bukanlah sebuah novel. Buku ini pun nggak sepenuhnya bisa disebut sebuah kumpulan cerpen. Seperti yang diakui penulisnya sendiri, ini merupakan penggalan-penggalan kecemasan dan kesedihan yang dirasakannya. Dengan kata lain, buku ini berisikan curhatan-curhatan penulisnya. Meski curhatan, ini bukan sekadar curhatan nggak jelas yang nggak ada manfaatnya buat orang lain. Ada. Buktinya aku mengutip beberapa kalimat dari buku ini.

Btw, ini buku Bernard pertama yang aku baca. Sebelumnya cuma sering mendengar namanya aja. Dan, sekali lagi, jika bukan karena GWP (Gramedia Writing Project), di mana Bernard menjadi salah satu coachnya, aku mungkin belum membaca karya Bernard yang mana pun. Soalnya aku nggak begitu suka romance. Apalagi pure romance, yang merupakan genrenya Bernard. Begitu yang aku dengar. Malah ada yang bilang Bernard suka menulis yang galau-galau. Jadi tambah ragu untuk mencoba membaca karyanya. Dulu. Tapi pas udah baca ini, aku cukup menikmati. Dan, ternyata, aku juga butuh romance dalam bacaanku.  Karena tanpa romance nggak manis jadinya. Iya, kan?

Hal pertama yang paling menarik dari buku ini tentu saja kovernya yang luar biasa cantik. Pemilihan warnanya pun sangat tepat dan enak dipandang mata. Dan terus terang, ilustrasinya mengingatkanku sama Love Is.. karya Demi Park. Sekilas, loh. Karena aku belum pernah baca buku itu. Cuma ngintip-ngintip dikit waktu ke Gramedia. Nah, sekarang jadi pingin beli, deh.

Meski buku ini berisi curhatan Bernard, gaya menulisnya nggak asal-asalan atau alay dan sejenisnya. Menurutku malah terbilang puitis, indah. Ada juga beberapa yang santai. Tema yang diangkat nggak jauh-jauh dari cinta dan wanita pujaan sang penulis, kegemarannya akan buku, kegalauan dan renungannya soal kehidupan, dan tentu saja soal kehidupan Bernard sebagai seorang penulis. Mengapa dia menulis, lebih tepatnya. Ada juga sedikit pembicaraan politik, teman, dan juga seni.

Di beberapa bagian ada tulisan yang dibuat dalam bentuk dialog. Pembicaraannya memiliki muatan filosofis. Aku suka dengan isi pembicaraannya dan setuju dengan pendapat Bernard karena seperti itu pula yang aku rasakan sebagai makhluk sosial.

“Dunia ini tidak dapat menerima seseorang dalam wujudnya yang paling jujur.”

Meski buku ini adalah curhatan, siapa sangka kalau aku juga bakalan mendapatkan satu plot twist yang cukup menggemaskan. Yaitu di bagian Mencintai Dua Orang Perempuan. Aku udah mikirnya selingkuh, nggak tahunya malah begitu endingnya, lol. Menghibur. Aku juga suka sama bagian Metafora Ombak, baik itu bagian satu atau bagian dua. Bagian tersebut secara nggak langsung menunjukkan kepekaan Bernard terhadap alam dan posisinya sebagai seorang penulis.

Ketika menyangkut sebuah curhatan, yang berarti kisah nyata, kebetulan-kebetulan yang kadang bisa terasa janggal di sebuah cerita fiksi, malah jadi terasa mengagumkan saat terjadi dalam kisah nyata. Begitulah takdir bekerja. Dan itu pula yang terjadi pada hubungan Bernard sama ceweknya. Aku jadi penasaran banget sama cewek bernama J yang menjadi sosok yang sering disebut Bernard di sini. Dia pasti cewek keren. Aku aja yang seorang cewek udah kagum setiap membaca deskripsi Bernad soal dia.

Oh, btw, ada satu kalimat yang bikin aku bertanya-tanya apakah Bernard ini sebenarnya udah menikah atau belum sama cewek tersebut, dan punya seorang anak?

“Sangat aneh bagiku jika tidur tanpa mendengar suaramu sebelumnya, itulah mengapa aku selalu berusaha untuk bicara denganmu di telepon, meski kamu misalnya sedang berusaha menidurkan malaikat kecil kita dan karenanya tidak bisa bicara denganku di telepon karena kamu tidak ingin membuatnya terbangun.”

BenzBara

Waktu acara GWP, Bernard kebagian mengisi materi soal penting tidaknya media sosial bagi seorang penulis. Isi materinya bagus dan penyampaiannya mudah dipahami. Dan yang terpenting, suaranya Bernard jelas dan enak banget didengar. Jadi betah dengerinnya. Bahkan aku bela-belain meski kebelet pipis banget, banget, banget, untuk tetap berada di kelas karena nggak mau ketinggalan materi apa pun dari Bernard.

Aku sebenarnya udah punya versi ebook dari buku Luka Dalam Bara ini. Berhubung akan ketemu Bernard, aku bela-belain beli versi cetaknya biar bisa minta tanda tangan Bernard. Sayangnya, karena aku kebelet pipis banget, aku suruh temanku buat mintain tanda tangan sama Bernard pas akhir acara. Akhirnya dia juga yang dapat foto bareng Bernard. Well, sebenarnya foto bareng penulis atau siapa pun nggak begitu penting buat aku karena sejujurnya aku agak alergi sama yang namanya selfie or wefie, alias nggak suka sama hasil fotoku, lol. Jelek.

Luka Dalam Bara (2)

Karena aku udah punya versi ebooknya, aku mau kasih satu buku versi cetaknya sama salah satu dari kalian. Tapi lembar yang ada tanda tangan Bernardnya aku sobek buat aku simpan, hehe. Pertanyaannya: buat yang udah/lagi pacaran, apa atau siapa yang pernah menyelamatkan hubungan kalian dari perpisahan? Buat yang belum pernah pacaran, siapa yang pernah menemukan benda kesayangan kalian yang sempat hilang dan mengembalikannya ke kalian. Ceritakan kisahnya minimal dalam satu paragraf ya. Kisah harus nyata, bukan rekayasa. Diutamakan yang belum pernah dapat giveaway dariku dan jawaban ditunggu sampai 3 Agustus 2017. Semoga banyak yang ikut, hehe. Kalo nggak ada… nanti kupikir lagi, deh. XD

Ada kejadian lucu begitu acara usai. Aku dan teman-teman lagi ngumpul di lobi. Lalu datanglah Bernard yang mau pulang. Dia tanya arah keluar sama kita. Lalu aku, yang posisinya paling dekat sama Bernard, menunjuk tangga ke bawah. Padahal aku nggak yakin benar itu jalannya. Aku nggak hafal jalan, tapi entah kenapa aku nekat. Nggak lama Bernard muncul lagi dari bawah. Katanya salah jalan. Aku, yang merasa bersalah, cuma bisa minta maaf sambil ketawa malu. Untung sih Bernardnya nggak marah, lol. Terus temanku bilang nggak apa-apa, itu berarti kamu dinotice sama Bernard. Haha, tapi tetap aku merasa nggak enak udah bikin orang lain nyasar.

Salah satu hal yang aku kagumi dari Bernard adalah dia masih muda. Lebih muda dari aku tapi pengalamannya lebih banyak dari aku, terutama di dunia tulis-menulis. Dia nggak mudah menyerah dalam meraih mimpinya. Ini salah satu hal yang patut aku tiru. Pengalaman Bernard tersebut nggak diceritakan di buku ini, tapi di sebuah sesi wawancara yang aku temui di internet.  Kalau kalian juga penasaran, bisa buka link berikut: Wawancara dengan Bernard Batubara

Oh, cewek yang sering disebut Bernard disebut dua kali pakai baju atau celana warna biru telur asin. Yang satu pas adegan berantem, yang satu pas adegan happy happy. Tapi Bernard justru paling suka sama sweter putih gading. Nggak penting, sih, tapi ada sesuatu yang unik di sana.

Ada satu pertanyaanku buat Bernard tapi aku enggan tanya langsung, cuma bisa mengutarakan di sini aja. Kali aja Bernard iseng baca review ini, hehe.

So, Bernard… Kamu bilang ketakutan terbesarmu adalah kehilangan cewek bernama J. Kamu lebih memilih kehilangan kesehatanmu. Lalu di beberapa bagian setelahnya, kamu bilang kamu takut kehilangan penglihatanmu karena itu berarti kamu nggak akan bisa baca buku lagi. Satu hal yang amat kamu sukai. Yang mau aku tanya, sekarang kamu lebih takut mana, kehilangan J atau kehilangan penglihatan? Hayooo. XD

***

QUOTES

 

“Kedalaman cinta seseorang dapat dilihat dari kesedihan yang ia rasakan dan keterpurukan yang ia alami selama mencintai seseorang. Semakin kentara sedihnya, maka semakin dalam cintanya.”

(Hal. 17)

 

“…bahwa seindah-indahnya mimpiku, kenyataanku lebih indah. Kamu, adalah kenyataanku, yang lebih indah dari ribuan mimpi-mimpiku.”

(Hal. 18)

 

“Kita mampu berharap dan memperhitungkan. Namun hari esok akan selalu menjadi misteri. Waktu terus mengalirkan peristiwa-peristiwa dan cara terindah mensyukuri cinta. Bersamamu adalah menikmati yang ada pada saat ini.”

(Hal. 20)

 

“Kamu. Adalah kamu. Adalah kamu yang membuatku percaya pada diriku sendiri.”

(Hal. 22)

 

“Cinta bukan sekadar persoalan bagaimana melangkah bersama, tetapi juga tentang mempertahankan langkah pada saat salah satu mulai lelah, agar tetap mampu berjalan. Cinta bukan tentang berlari kencang mencapai tujuan, tetapi tentang menikmati perjalanan, langkah demi langkah, tidak penting bergegas atau lambat. Cinta adalah tentang menghayati setiap langkah yang telah diambil, dan meletakkan kepercayaan pada langkah satu sama lain.”

(Hal. 24)

 

“Kamu tahu, pada akhirnya aku merasa bukan hanya aku dan kamu yang mencintai kata-kata. Kata-kata pun, menyayangi kita.”

(Hal. 30)

 

“Adalah sebuah keindahan ketika seseorang menginginkanmu. Keindahan itu semakin besar, ketika ia tidak hanya menginginkan kehadiranmu, tapi menghadirkan dirimu ke dalam hari-harinya, menjadikanmu bagian dari hidupnya.”

(Hal. 33)

 

“Kata orang, saat kita merasa rindu pada sesuatu atau seseorang, alam bawah sadar kita mencetak imaji sesuatu atau seseorang tersebut dalam wujud yang kian hari kian jelas, dan imaji tersebut terproyeksi pada hal-hal lain yang kita lihat sehari-hari. Kita merasa melihat orang yang kita rindukan di antara kerumunan, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak ada dia.”

(Hal. 36)

 

“Bagiku, pertengkaran adalah petunjuk bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu. Tentu saja kamu juga tahu, bahwa dua orang tidak akan bertengkar jika mereka tidak sedang memperjuangkan apa-apa.”

(Hal. 47)

 

“Kehadiranmu adalah penyembuh. Obat-obatan dari resep dokter hanya penunjang.”

(Hal. 54)

 

“Sesungguhnya aku adalah seseorang yang sering diliputi ketakutan. Kehilanganmu adalah ketakutanku yang terbesar saat ini. Kehilangan kesehatanku? Tidak apa. Tapi kalau aku kehilanganmu, mungkin aku juga akan dengan segera kehilangan kesehatanku, dan aku tak ingin kesehatanku kembali. Kamu adalah kesehatanku. Kamu adalah penyembuhku.”

(Hal. 54)

 

“Kamu adalah kebiasaanku. Aku ingin terus terbiasa denganmu.”

(Hal. 55)

 

“Aku telah menyaksikan bagaimana politik tiba pada titik yang tidak membuatku senang: dia menghancurkan pertemanan. Tidakkah ini menggelisahkanmu?”

(Hal. 58)

 

“Selera humorku itu aneh. Jadi, kemungkinannya adalah, kamu lebih aneh  lagi, karena kamu bisa tertawa oleh lawakanku.”

(Hal. 61)

 

“Sesuatu yang membuatku mencintai seseorang begitu lama adalah, karena garis waktuku dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu yang terulur, cinta semakin dalam terpancang.”

(Hal. 62)

 

“Bagiku, mencintai seseorang berarti mencintai seluruh topeng yang ia kenakan, memahami alasan-alasan di balik setiap topeng yang ia miliki, dan bersabar dalam waktu yang cukup hingga ia memperlihatkan wajah aslinya.”

(Hal. 71)

 

“Ketika aku mengakui kesedihanku, aku akan mampu untuk mengikhlaskan. Ketika aku sudah mampu mengikhlaskan akan lebih mudah membuka ruang bagi cinta yang baru.”

(Hal. 73)

 

“Aku merasa, selalu menyeangkan kalau kita memiliki pilihan. Ingin tinggal di dunia yang ini, atau dunia yang kita imajinasikan. Tidak banyak orang yang beruntung memiliki pilihan dalam hidupnya, kamu tahu itu? Tetapi dengan menulis, setidaknya ini yang aku rasakan: aku memiliki pilihan.”

(Hal. 77)

 

“Cinta adalah menyembunyikan rasa sakitmu demi kesembuhan orang yang kamu cintai. Menutupi kekhawatiranmu demi ketenangan orang yang kamu cintai. Dan, membiarkan semesta merawatmu saat amu merawat orang yang kamu cintai.”

(Hal. 85)

 

“… satu-satunya cara menenangkan dan menumbuhkan cinta adalah berdamai dengan kecemburuan.”

(Hal. 90)

 

“Di dalam tubuh kita, senyawa kimia, jaringan, organ dan sistem organ, tidak ada satu pun dari mereka yang merdeka. Mereka terikat satu sama lain, untuk menjadikan kita… Bagaimana bisa kita terbebas dan terlepas dari ikatan, sementara kita sendiri tercipta dan terbentuk melalui ikatan-ikatan?”

(Hal. 91)

***

 

Penulis: Bernard Batubara

Penerbit: Noura

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 110 Halaman

Edisi: Hardcove

Harga: Rp 49.000

Rating: 3 dari 5 Bintang

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

6 thoughts on “Luka Dalam Bara

  1. Wah, pertanyannya memaksa kita untuk curcol yaaa.
    Saya mau coba ikutan ah. haha
    Bolehkah saya menjawab kedua pertanyaannya sekaligus ? hahahahaha

    Tidak ada yang menyelamatkan hubunganku dari perpisahan. Tidak ada dan tidak ada 😦 Dan Itulah mengapa belum ada juga yang menemukan dia (yg dulu berharga) yang hilang dari hidupku. lol
    Tapi tak apa, itu hanya cinta monyet masa sekolah dulu. Hahaha
    Jadi, kalau ada yang ingin hubungannya diselamatkan, satu-satunya yang akan menyelamatkannya adalah kalian sendiri. #sedaappp

    Semoga dapat giveaway. hohohoho

    Disukai oleh 1 orang

  2. Nama: Ahmad Azwar Avisin
    Twitter: @azwaravisin
    Domisili: Sidoarjo
    Link Share: https://twitter.com/azwaravisin/status/890453506066272256

    Apa atau siapa yang menyelamatkan hubungan kalian?

    Jawab: jika pertanyaannya adalah berupa apa, aku bisa menjawab dengan jawaban komunikasi adalah yang menyelamatkan hubunganku dengan pacarku. Semarah apapun semua harus dikomunikasikan, jujur, apa saja yang mengganjal di dalam hati diutarakan sebaik baiknya. Sebab jika salah satu menolak berkomunikasi, sudah pasti masalah akan menjadi berlarut larut tanpa kejelasan dan yang ada justru timbul masalah lain yang lebih kronis.

    Hubungan tanpa komunikasi apalagi dalam kondisi tidak baik akan menjadi bom waktu yang sewaktu – waktu dapat meledak. Memang saat bertengkar pacarku juga nakal sih, semua messenger diblokir. Dan aku jelas kebingungan. Pernah kejadian emang, jadi aku sampai nyari mana yang belum diblokir, dan dia kelupaan sepertinya ada satu messenger yang masih bertaut kontaknya dengan akunku. Pokoknya gimanapun kondisinya harus komunikasi.

    Kalau ditanya siapa yang menyelamatkan, aku dan dia pernah melakukan kesalahan tak termaafkan. Sama sama nakal sama sama menyebalkan satu sama lain, jadi baik aku maupun dia pernah menjadi perusak dan penyelamat hubungan. Dan ajaibnya, kerendahan hati, maaf, dan keikhlasan juga cukup berperan dalam jalinan hubungan kami. Sudah mengetahui baik buruk masing – masing dan menghargai privasi masing masing sehingga tidak terjadi kesalahan tak termaafkan seperti di masa lalu, masa di mana sama sama nakal dan menyebalkan.

    Sekarang yang ada kami saling mendukung karier masing masing, kesukaan masing masing. Mendoakan dengan penuh ketulusan dan tidak lupa untuk bertemu minimal seminggu dua kali. Sesibuk apapun.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ditanya soal pacaran, mau tidak mau saya harus membongkar kisah menggelikan di masa lalu. Jujur saya pacaran cuma satu kali. Dan entahlah apa momen itu bisa dimasukan dalam kategori pacaran karena kisahnya yang begitu kekanakan. Faktanya saat itu hubungan hanya berjalan sekitar seminggu (reader dipersilahkan tertawa). Saya mengajak si dia untuk menyembunyikan hubungan ini dengan rapi tanpa tersibak sedikitpun oleh orang lain. Pasalnya, saat itu kami masih duduk di bangku kelas 1 SMP (reader dipersilakan untuk ngakak renyah). Singkat cerita, setelah beberapa hari menjalani cinta monyet, rahasia besar kami tercium oleh publik. Lantas langsung saja saya mengetok palu dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami untuk selamanya.

    Nah, jika ditanya apa yang bisa menyelamatkan kami dari perpisahan, tentunya jika masing-masing dari kami bisa menjaga rahasia. Simpel sekali tapi bisa diambil pelajaran, yang namanya pacaran itu kalau disertai syarat pasti susah dijalani, betul apa benar?
    Intinya bagi saya pribadi, andai saja ketika itu kami tidak menetapkan syarat-syarat tertentu dalam hubungan kami dan menjalaninya seperti air yang mengalir tenang, mungkin hubungan kami akan bertahan lebih lama. Tapi, namanya juga cinta monyet, kalau diibaratkan air ya, bukan air mengalir tenang, cuma bisa diumpamakan air dalam ember. Jangankan mau mengalir, untuk maju saja susah, mau tidak mau harus diangkat dengan campur tangan orang lain. Betul atau benar? Hehehe.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Ini cerita ketika aku SMA, kita lagi upacara bendera, terdengar suara grasak-grusuk gak jelas dari samping belakang depan, katanya hari ini razia, razia tersebut dilakukan oleh beberapa guru sewaktu semua para siswa upacara, siapa tau ada yg bawa hp atau sesuatu yg dilarang katanya. Aku santai saja toh nanggepinnya, kalo di tas cuman ada buku-buku, alat tulis sama dompet yg isinya SIM & STNK. Selesai upacara, aku ngecek tas kan, semuanya berantakan kaya habis digeledah. Tapi ada yg kurang, dompet aku gak ada, bingung juga kenapa dompet tiba-tiba diambil padahal kan gak ada yg mencurigakan, aku cerita keteman sebangku, dia berusaha nenangin katanya “mungkin saja salah ambil, nanti habis pulang sekolah kita kekantor nanyain”. Meskipun tidak ada uang dalam dompet khusus tersebut tetap aja aku khawatir, bagaimanapun juga kedua benda tersebut sangat berharga. Setelah pulang aku kekantor kan buat nanyain, kata gurunya “kami gak ada geledah kelas kalian”, sontak aku syok, gemetar, pingen nangis. Guru pun langsung ke TKP, geledah laci, lalu tas aku lagi, beliau bilang “bisa saja ketinggalan di rumah”. Tapi aku inget kalau aku bawa karena tiap berangkat pasti ditanyain “simnya udah” otomatis aku saat itu ngerjap-ngerjap cek semuanya dalem tas. Alhasil sampai sekarang gak ada lagi, gak ketemu, hilang tanpa jejak, sampai aku bikin SIM lagi yg semuanya diurus pihak sekolah. Aku cuman bisa ikhlas, entah suatu hari nanti ketemu atau tidak. Yg bisa ganti yg udah hilang adalah Tuhan, yg nemuin lagi DIA juga baik itu dgn sesuatu yg baru atau yg dulu. Kehilangan ada dua, bisa kembali bisa tidak, yg tidak pasti ganti atau ditemukan dgn sesuatu yg dapat mengganti yg hilang tsb, siapa dia yg dpt melakukan itu, dia Tuhan Semesta Alam.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Twitter: @mrtlrhmi_

    Ini cerita ketika aku SMA, kita lagi upacara bendera, terdengar suara grasak-grusuk gak jelas dari samping belakang depan, katanya hari ini razia, razia tersebut dilakukan oleh beberapa guru sewaktu semua para siswa upacara, siapa tau ada yg bawa hp atau sesuatu yg dilarang katanya. Aku santai saja toh nanggepinnya, kalo di tas cuman ada buku-buku, alat tulis sama dompet yg isinya SIM & STNK. Selesai upacara, aku ngecek tas kan, semuanya berantakan kaya habis digeledah. Tapi ada yg kurang, dompet aku gak ada, bingung juga kenapa dompet tiba-tiba diambil padahal kan gak ada yg mencurigakan, aku cerita keteman sebangku, dia berusaha nenangin katanya “mungkin saja salah ambil, nanti habis pulang sekolah kita kekantor nanyain”. Meskipun tidak ada uang dalam dompet khusus tersebut tetap aja aku khawatir, bagaimanapun juga kedua benda tersebut sangat berharga. Setelah pulang aku kekantor kan buat nanyain, kata gurunya “kami gak ada geledah kelas kalian”, sontak aku syok, gemetar, pingen nangis. Guru pun langsung ke TKP, geledah laci, lalu tas aku lagi, beliau bilang “bisa saja ketinggalan di rumah”. Tapi aku inget kalau aku bawa karena tiap berangkat pasti ditanyain “simnya udah” otomatis aku saat itu ngerjap-ngerjap cek semuanya dalem tas. Alhasil sampai sekarang gak ada lagi, gak ketemu, hilang tanpa jejak, sampai aku bikin SIM lagi yg semuanya diurus pihak sekolah. Aku cuman bisa ikhlas, entah suatu hari nanti ketemu atau tidak. Yg bisa ganti yg udah hilang adalah Tuhan, yg nemuin lagi DIA juga baik itu dgn sesuatu yg baru atau yg dulu. Kehilangan ada dua, bisa kembali bisa tidak, yg tidak pasti ganti atau ditemukan dgn sesuatu yg dapat mengganti yg hilang tsb, siapa dia yg dpt melakukan itu, dia Tuhan Semesta Alam.

    Disukai oleh 1 orang

  6. Terima kasih teman-teman yang udah ikutan giveaway ini. Cerita kalian asyik-asyik semua. Ada yang malu-malu, ada juga yang blak-blakan. Really appreciate it. 😀 Tapi aku harus menentukan satu orang pemenang yang beruntung mendapatkan buku Luka Dalam Bara karya Bernard Batubara. Dan pemenangnya adalah: Azwarav. Aku senang hubunganmu benar-benar diselamatkan oleh komunikasi. Dan kamu akan aku hubungi langsung via DM. Buat yang lain yang belum beruntung, jangan sedih. Masih banyak giveaway lainnya karena bukuku masih bertumpuk. So, jangan ragu untuk ikutan giveaway selanjutnya ya. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s