The Adventures of Pinocchio – Petualangan Pinocchio

Di sebuah desa di Itali, Geppetto, seorang pengukir kayu yang sudah tua, mendapatkan potongan kayu yang tampaknya cocok dijadikan boneka tali. Tapi ketika dia mulai bekerja, terjadi keajaiban—potongan kayu itu mulai berbicara. Setelah selesai dibentuk, si boneka tali ternyata bisa berjalan, berlari, dan makan seperti anak lelaki biasa. Oleh Geppetto, boneka tali itu dinamai Pinocchio.

Pinocchio nakal sekali, dan suka berbohong. Setiap kali dia berbohong, hidungnya bertambah panjang. Dia juga gampang termakan omongan manis, sehingga sering ditipu dan nyaris celaka. Ulahnya ini sangat menyusahkan ayahnya, namun setelah mengalami berbagai kemalangan, akhirnya Pinocchio belajar dari kesalahannya dan berusaha menjadi anak baik. Dan usahanya ini berbuah manis. Dia mendapat hadiah dari Peri cantik yang selama ini mengamatinya.

***

Perkenalan pertamaku dengan tokoh Pinocchio bukanlah melalui sebuah buku, melainkan lewat sebuah film lawas buatan Indonesia yang dibintangi oleh dua komedian ternama saat itu, yakni Ateng dan Iskak. Judul filmnya Si Boneka Kayu, Pinokio, yang pertama kali tayang tahun 1979. Waktu kecil, aku nggak begitu mendapat akses ke dunia buku. Semua banyakan dari tivi. Cerita anak-anak dunia semacam Cinderella dan Putri Salju pun kukenal dari tivi.

Ingatanku memang samar-samar soal film Pinokio tersebut. Yang paling aku ingat, Pak Geppetto diceritakan sebagai lelaki tua yang hidup sendiri namun dia sangat mencintai anak-anak. Berbeda dengan Mastro Geppetto di buku ini yang justru diceritakan sebagai sosok pemarah dan galak pada anak-anak jadi banyak yang nggak suka sama dia. Dia akan mencak-mencak ketika anak-anak tersebut mengejek soal wignya. Bahkan ada yang bilang dia diktator sama anak-anak. Aku bingung sekaligus sedih dan nggak terima Pak Geppetto digambarkan sedemikian rupa di buku ini. Kenapa Pak Geppetto begitu?

Sebelum aku buat review ini, aku iseng cek Hooq. Dan sepertinya aku lagi beruntung. Di Hooq tenyata ada film Si Boneka Kayu, Pinokio yang pernah aku tonton waktu kecil dulu! Jadi, sebelum lanjut buat review, aku memutuskan untuk nonton filmnya dulu. Satu, karena aku penasaran dengan ingatanku soal sosok Geppetto yang selama ini kukenal. Kedua, pengen bernostalgia lagi. Ternyata ingatanku cukup mumpuni. Pak Geppetto versi filmnya memang pencinta anak-anak. Dan Jimmy Jangkrik, yang di bukunya bernama Jangkrik Berbicara, nggak mati di awal seperti versi bukunya, melainkan terus mengikuti Pinokio dalam wujud seorang manusia, yang kadang juga bisa menghilang. Memang sih di versi bukunya, pada akhirnya si Jangkrik Berbicara akan “menghantui” Pinocchio lagi.

Buku Petualangan Pinocchio ini diceritakan dalam bentuk dongeng. Di awal cerita ada seorang tokoh yang sedang mendongeng pada sejumlah anak-anak. Aku berasumsi kalau si pendongeng itu pria karena dia pasti penulis buku ini, Carlo Collodi, yang merupakan seorang pria. Dongengnya nggak bermula dari Mastro Geppetto, melainkan dari Mastro Antonio/Mastro Cherry. Dia lah yang pertama kali menemukan kayu menangis, yang nantinya akan diberikan pada Mastro Geppetto untuk dijadikan boneka tali bernama Pinocchio.

Kalau nonton versi filmnya, kisah Pinocchio ini kental sekali dengan dunia anak dan penuh dengan pesan-pesan moral. Nggak ada aksi kekerasan yang berlebihan. Seperti halnya buku The Wonderful Wizard of Oz, menurutku buku ini pun terbilang “kejam” untuk disebut sebagai buku anak-anak. Dari awal cerita udah digambarkan adegan perkelahian antara dua kakek. Terus Pinocchio yang dengan sadisnya membinasakan si Jangkrik Berbicara dengan sebuah palu. Untunglah pembuat film Pinocchio versi Indonesia, yang juga berdasarkan versi Amrik, memutuskan untuk mengubah banyak hal sehingga lebih layak untuk disajikan sebagai film anak. Jalan ceritanya pun dibuat lebih singkat tanpa menghilangkan nuansa petualangan Pinocchio sebagai anak nakal yang akhirnya berubah jadi anak baik.

Seperti halnya film Pinocchio versi Disney, Film The Wizard of Oz pun nggak meniru seratus persen kisah di bukunya. Dan ini benar-benar melegakan. Fakta ini membuatku berpikir apakah kisah klasik anak-anak dalam bentuk buku selalu diselipi adegan kekerasan baik fisik maupun verbal seperti ini, ya? Mungkin zamannya mempengaruhi. Who knows? Cerita Peter Pan aja kalau ditelurusi lebih dalam lagi sesungguhnya mengandung elemen-elemen semacam ini, tapi akhirnya malah jadi salah satu buku klasik anak-anak yang dikenal sepanjang masa juga, kan?

Karena buku Petualangan Pinocchio ini bercerita tentang seseorang yang sedang mendongeng, maka kisahnya pun terjalin dengan spontan. Kenapa aku bilang spontan? Karena aku berpikiran orang yang mendongeng itu nggak merencanakan ke mana kisahnya akan bermuara dan seperti apa pastinya perjalanan tokohnya. Intinya, semuanya terjalin dengan sendirinya. Jadi seperti itu pula kisah petualangan Pinocchio dalam buku ini. Ceritanya dibiarkan “mengalir” begitu saja dan terkadang tanpa memedulikan logika. Maka, nggak jarang aku dibuat bingung dengan jalan ceritanya yang “aneh”.

Contohnya, perkelahian antara Mastro Geppetto dan Mastro Cherry yang terkesan dibuat-buat, Mastro Geppetto yang lupa membuat telinga Pinocchio tapi Pinocchio tetap bisa mendengar dengan normal, perubahan emosi yang sangat fluktuatif dari Mastro Geppetto, dan Peri berambut biru yang mengaku udah mati tapi justru hidup lagi di bab-bab berikutnya. Juga nama Pinocchio yang tiba-tiba berubah jadi Marionette tanpa penjelasan apa-apa. Atau apa aku kelupaan sesuatu ya? Mungkin.

Berbeda dengan The Wonderful Wizard of Oz yang masih bisa diterima logika sekalipun itu fantasi “anak-anak”, buat Pinocchio ini aku agak bingung dan jadi pengen ketawa konyol pas bacanya. Kadang pikiranku melayang-layang sewaktu baca jadi kadang lupa sama jalan ceritanya. Makanya aku berpikiran karena ini mungkin dibuat seperti dongeng, jadi ya terserah pendongengnya mau cerita bagaimana. Yang penting anak-anak yang mendengarkan terhibur dan senang.

Poin plus dari kisah ini jika dibandingkan dengan The Wonderful Wizard of Oz adalah pesan moralnya yang langsung tepat sasaran alias tegas, bukan tersirat. Setidaknya, begitu pendapatku. Pesan moral dari rata-rata dongeng di Indonesia dan juga The Wonderful Wizard of Oz menurutku agak tersirat. Nggak to the point, yang kadang membuatku berpikir: jadi apa intinya pesan moralnya? Yakin anak-anak bisa mencernanya dengan baik tanpa bantuan penjelasan dari orangtua? Oke, mungkin aku berkesan meremehkan kemampuan berpikir anak-anak, lol. Tapi, beneran, kalau pesan moral di buku Petualangan Pinocchio jelas: nggak boleh membolos sekolah, nggak boleh berbohong, nggak boleh mudah tergoda, nggak boleh mencuri. Bahkan aku merasa melalui buku Petualangan Pinocchio ini, Itali mencoba menciptakan generasi-generasi antikorupsi dan antimalas. Keren! Pesan moral lebih lengkapnya bisa kalian lihat di kutipan-kutipan di bawah.

Buat kalian yang penasaran sama buku ini, siap-siap dikejutkan dengan kisahnya yang cukup berbeda dengan filmnya. Intinya sih sama. Tapi mungkin aja kalian justru menikmati salah satu kisah klasik anak-anak ini. Dan meskipun ratingku terbilang jelek untuk kisah yang satu ini, aku tetap mencintai Pinocchio dan tentu saja penulisnya. Jadi, selamat membaca. 🙂

***

 

 

NUKILAN

 

 

“Celakalah anak-anak yang tidak mau mematuhi orangtua mereka dan melarikan diri dari rumah! Mereka takkan pernah bahagia di dunia ini, dan setelah dewasa nanti, mereka akan menyesalinya.”

(Jangkrik Berbicara, hal. 19)

 

“Benar kataku tadi, yaitu kita tidak boleh terlalu cerewet dan rewel tentang makanan. Sayangku, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.”

(Mastro Geppetto, hal. 31)

 

“Tetapi ingatlah, seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya, kecuali kalau pakaiannya itu rapi dan bersih.”

(Mastro Geppetto, hal. 34)

 

“Jangan dengarkan omongan mereka yang menjanjikanmu kekayaan dalam sekejap, anakku. Biasanya mereka itu orang bodoh, atau penipu! Dengarkan aku, dan pulanglah.”

(Jangkrik Berbicara, hal. 57)

 

“Ingatlah bahwa anak-anak yang memaksakan keinginan mereka, lambat-laun pasti menemui nasib malang.”

(Jangkrik Berbicara, hal. 57)

 

“Lapar, anakku, bukan alasan untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu.”

(Cacing Pijar, hal. 93)

 

“Melampo sudah mati. Untuk apa menuduhnya? Yang mati sudah tiada, dan tak bisa membela diri. Yang terbaik adalah biarkan saja mereka dalam kedamaian!”

(Pinocchio, hal. 99)

 

“Berani sekali mereka menawarkan hal semacam itu padaku! Sebab kau harus tahu, meskipun aku ini boneka tali jahat yang pernah kekurangan, aku tidak pernah, dan takkan pernah, disuap.”

(Pinocchio, hal. 99)

 

“Kau harus ingat, anakku, rasa lapar adalah saus yang paling lezat!”

(Burung Dara, hal. 104)

 

“Dia ayah terbaik di dunia, meskipun aku anak terburuk yang pernah ada.”

(Pinocchio, hal. 108)

 

“Kalau begitu, Nak, kalau kau benar-benar lemas kelaparan, makan saja dua iris harga dirimu; dan kuharap kau tidak sakit perut karenanya.”

(Tukang Batu Bara, hal. 110)

 

“Apa kau tidak malu? Daripada menjadi pengemis di jalanan, kenapa kau tidak bekerja dan mencari uang untuk membeli makanan sendiri?”

(Orang-orang yang lewat, hal. 110)

 

“Hati-hatilah, Pinocchio! Teman-temanmu yang nakal itu lambat-laun akan membuatmu kehilangan semangat belajar. Suatu hari mereka akan menyesatkanmu juga.”

(Peri Berambut Biru, hal. 118)

 

“Kau pernah menyelamatkan aku, dan apa yang diberikan selalu dikembalikan. Kita ada di dunia ini untuk saling membantu.”

(Alidoro, hal. 136)

 

“…tetapi aku cukup bijaksana untuk berpikir bahwa kalau kita terlahir sebagai ikan, mati di dalam air lebih bermartabat daripada mati di penggorengan.”

(Tuna, hal. 183)

 

“Itu pendapatku, dan pendapat apa pun harus dihormati.”

(Tuna, hal. 183)

 

***

 

 

Penulis: Carlo Collodi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 208 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 34.000 (Tahun 2015)

Rating: 2½ dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s