SOPHISMATA

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya—mantan aktivis 1998 – yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.

Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

***

Ini adalah perkenalan pertamaku dengan karya Alanda Kariza. Membaca lembar tentang penulis, ternyata sudah banyak juga ya karyanya. Dan melihat karya-karya sebelumnya, sepertinya ini salah satu karya Alanda yang tokohnya dewasa dan dunia yang diangkat terbilang serius, yaitu dunia politik.

Dari judulnya buku ini sebenarnya udah menarik perhatian banget. Sophismata. Apa sih artinya? Aku coba cari di kamus bahasia Indonesia online tapi nggak ada. Akhirnya aku cari kata tersebut di kamus Inggris online. Di sana ada kata yang mendekati, yaitu sophism: a plausible but fallacious argument — pendapat yang masuk akal namun keliru. Kata ini berasal dari Bahasa Yunani dan Latin: sophisma: ingenious trick. Mungkin artinya kurang lebih adalah tipu daya. Sudah jelas banget penulis mencoba menggambarkan dunia politik yang rumornya penuh dengan tipu daya. Alasan kenapa jadi Sophismata, aku nggak tahu. Masih misteri. Mungkin ada yang bisa bantu?

Nggak jauh-jauh dari buku bertemakan politik yang pernah kubaca sebelumnya, yaitu Pusaran Amuk, di novel ini pun penulis menceritakan tentang intrik dan skandal yang dialami salah seorang tokoh dalam novel ini, yaitu Johar Sancoyo. Dan seperti yang tertulis di sinopsis soal menggelikan, ending dari skandal tersebut memang “lucu”. Meski begitu, aku tetap penasaran: itu serius apa enggak, ya? Aku menganggap ini bagian dari misteri yang sepertinya sengaja ditinggalkan penulis. Terserah deh pembaca mau berpikiran bagaimana. Kalau ternyata itu bukanlah misteri. alias kasusnya sebenarnya sudah tuntas terjawab, berarti ada yang salah dengan entah siapa, aku atau penulis, lol. Yang jelas, skandal dan intrik tersebut pada kenyataannya memang sempat menghiasi berita baik di koran maupun media cetak, meski untuk tokoh tertentu aku amat meragukan kebenaran rumor tersebut.

Sebenarnya aku sempat melihat tagline “Perempuan dalam Politik” sehubungan dengan buku ini, tapi entah di mana.  Mungkin di Twitter atau mungkin di bukunya sendiri tapi aku lupa tepatnya di mana. Nah, berkaitan dengan tagline tersebut, buku ini pun mencoba menggambarkan kehidupan Sigi, seorang perempuan cerdas lulusan S1 yang susah naik jabatan jadi staf ahli hanya karena dia belum mengambil S2. Padahal di saat ada presentasi penting di hadapan Kepala Staf Presiden, Sigi lah satu-satunya yang mampu menyelamatkan muka Johar dan kedua staf ahlinya dari rasa malu.

Selain itu, buku ini juga sepertinya ingin menunjukkan bagaimana posisi perempuan di lingkungan kerja yang sebagian besar lelaki, dan ketika si perempuan tampak nggak bisa mengontrol emosinya, rekan kerjanya selalu menghubungkan hal tersebut dengan PMS.

”Sudah ada riset yang mengonfirmasi bahwa PMS itu mitos. Sekarang laki-laki sudah nggak punya kesempatan untuk memberi reaksi kosong dengan bilang ‘Mungkin kamu cuma sedang PMS’,”

Tapi, jika salah satu tujuannya memang mencoba mengangkat topik bagaimana kaum perempuan diperlakukan dalam dunia kerja, dalam hal ini dunia politik, bagiku ini masih ringan. Dalam artian, nggak dibahas secara mendalam dan cenderung numpang lewat. Well, mungkin ini cuma topik pendukung. Selain contoh di atas, ada juga susunan keanggotaan di bakal partai milik Timur yang kebanyakan diisi oleh kaum lelaki dan itu disindir oleh Sigi.

Dari awal membaca buku ini, nuansa beratnya sudah kerasa. Aku perlu waktu untuk memahami pembicaraan antara tokoh Johar dan Timur. Tapi akhirnya, dari percakapan mereka aku jadi paham kenapa sebuah partai memutuskan untuk berkoalisi dengan partai lain padahal dulunya mereka berseberangan. Karena dunia politik memang abu-abu dan dinamis. Hari ini bicara apa, besok bicaranya udah beda lagi. Dan para politisi tersebut sepertinya harus bertebal muka biar nggak malu setiap kali harus menjilat ludah sendiri, lol. Karena sudah pasti keputusan/kebijakan yang mereka ambil akan dihujat oleh orang-orang di luar sana yang “nggak paham” dengan aturan main di dunia politik.

Melihat antipati Sigi terhadap dunia politik dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, aku akui kalau aku memiliki pandangan yang sama dengan Sigi. Aku nggak bisa berada di zona yang abu-abu, harus hitam atau putih. Namun dari sisi keterikatan emosional dengan apa yang Sigi rasakan soal “ketidakadilan” yang dia dapatkan di kantornya dan beberapa adegan yang diceritakan, aku nggak begitu merasakan itu. Bahkan kepribadian Sigi yang dikatakan Timur sebagai “dingin” nggak begitu menjelma. Setiap kali Sigi marah atau kesal, emosinya nggak sampai ke aku. Begitu juga ketika Pak Johar marah-marah sama Sigi gara-gara apa yang diketahui Sigi bocor ke publik. Nggak ada gregetnya.

Anehnya, aku baru merasakan keterikatan dengan Sigi ketika penulis menggambarkan adegan “romantis” dengan Timur. Bagian itu benar-benar bikin aku terhanyut dan jantung berdebar. Aku juga nggak paham apa aku yang lagi kekurangan romance dalam hidup atau karena kemampuan penulis dalam menulis genre, yang katanya berada di luar zona nyamannya (tertulis di Ucapan Terima Kasih), belum begitu mumpuni. Konfliknya jadi terasa agak hampa. Bukan masalah intrik atau skandal yang klise, tapi ya itu. Ada yang nggak sampai kepada pembaca, dalam hal ini aku.

Meski aku nggak merasakan keterikatan emosional dengan Sigi, yang notabene adalah tokoh utamanya, aku justru bisa merasakan semangat Timur dalam persiapannya mendeklarasikan partai politiknya. Ambisinya sangat luar biasa dan mengalir hingga ke seluruh urat nadiku. (I know it’s lebay but it’s true). Dia benar-benar sosok pemuda yang aku harapkan akan banyak tumbuh di negeri Indonesia tercinta ini. Karena mereka-merekalah yang akan membangun negeri ini menjadi negeri yang jauh lebih baik lagi. Cuma sayang, penulis nggak membuat adegan di mana Timur lagi berpidato. Aku kan pengen dengar kata-katanya. Pasti mantap!

Buku ini nyaris nggak ada typo sama sekali. Mulus. Ada pun satu kata yang awalnya kukira typo, tapi justru aku yang salah mengerti, yaitu remunerasi. Nomor halamannya lupa. So, aku belajar satu kata baru dari buku ini.

Jika typo terdeteksi bersih, lain halnya dengan keganjilan kalimat. Aku menemukan beberapa kalimat yang aneh saat dibaca. Baik itu karena kurang kata/imbuhan atau kelebihan kata/imbuhan. Di bawah ini adalah beberapa keganjilan kalimat yang sempat aku foto.

  • Halaman 79:

InkedSophismata Hal. 79_LI

  • Halaman 127:

Hal. 127

  • Halaman 166:

Hal. 166

  • Halaman 195:

Hal. 195

  • Halaman 217:

Hal. 217

  • Halaman 225. Yang ini sepertinya yang dimaksud adalah “aku”, bukan kamu. Karena Sigi kan belum membaca berita tersebut.

Hal. 225

  • Halaman 232:

Hal. 232

Meskipun aku nggak begitu merasakan apa yang Sigi rasakan dan konfliknya pun kurang greget, aku tetap mengapresiasi novel ini. Kehidupan politik yang diceritakan penulis semakin menambah wawasanku tentang  dunia yang penuh taktik dan strategi tersebut. Percakapan-percakapan Timur sangat menginspirasi dan lewat dialognya, dia juga memperkenalkanku pada tokoh-tokoh yang nggak pernah kudengar namanya sebelumnya. Bagi kalian yang ingin tahu lebih banyak tentang dunia politik, buku ini bisa menjadi salah satu pilihan bacaan kalian.

Nah, kali ini aku pun ingin memberikan satu buku yang habis kubaca ini buat kalian yang beruntung. Meski nggak bersegel lagi, bukunya masih dalam kondisi baik karena aku terbilang pembaca yang apik. Cuma ada sedikit lipatan di bagian sampul depan. Caranya gampang banget:

  1. Follow blog ini
  2. Follow akun Twitterku.
  3. Retweet tweet giveaway buku ini.
  4. Like review ini, hehe.  Dibaca lebih bagus lagi. Dijamin nggak spoiler-spoiler amat.
  5. Jawab pertanyaan berikut: Sebutkan satu tokoh politik yang paling kalian kagumi dan  sebutkan alasannya. Sertakan juga alamat akun Twitter kalian biar gampang dihubungi kalau kalian menang.
  6. Giveaway ini berakhir tanggal 10 Agustus 2017 dan akan diumumkan di blog ini pada tanggal 11 Agustus 2017, jamnya nggak pasti. Pemenang akan dihubungi langsung olehku lewat DM Twitter. So, what are you waiting for, guys?  

***

 

 NUKILAN

 

“Politik adalah tempat kepentingan yang berbeda-beda diakomodir.”

(Bernard Crick, hal 10)

 

“Saya hanya bercita-cita menjadi manusia yang bermanfaat. Untuk orang lain, untuk lingkungan saya. Manusia berguna yang bisa memajukan masyarakat. Tak hanya di kota, tapi juga di desa. Dengan bergabung di PRP, saya punya kendaraan yang lebih mumpuni untuk menggapai cita-cita itu. Politik itu kan soal kendaraan, Timur. Itu yang perlu kamu mengerti.”

(Johar Sancoyo, hal. 16)

 

“Menciptakan perubahan jauh lebih mudah dilakukan bukan ketika kita punya uang, melainkan ketika kita punya kekuatan.”

(Johar Sancoyo, hal. 17)

 

“The ballot is stronger than the bullet.”

(Abraham Lincoln, hal. 61)

 

“…bahwa hukum tanpa kekuasaan akan menimbulkan anarki. Sebaliknya, kekuasaan tanpa hukum akan meninggalkan tirani.”

(dr. Soekiman Wirjosandjojo, hal. 62)

 

“Terkadang, kita memang harus terpuruk dulu untuk bisa bangkit.”

(Timur, hal. 109)

 

“Dessert wine dari Australia, namanya Noble One, adalah salah satu wine terbaik di dunia—sering sekali dapat penghargaan. Gue pernah coba. Rasanya seperti madu, Gi. Ternyata, dibuatnya dari anggur-anggur busuk, atau yang sengaja dibuat busuk. Terkadang mungkin kita memang harus bekerja sampai busuk dulu untuk bisa memncapai sesuatu.”

(Timur, hal. 109)

 

“Tentu saja kita bisa mencapai apa yang kita mau tanpa kehilangan integritas, tapi butuh usaha yang lebih keras.”

(Timur, hal. 180)

 

“Sigi, baru tiga tahun. Candi Prambanan yang jadi dalam semalam, itu kan cuma legenda. Candi Borobudur saja butuh berapa lama, coba?”

(Timur, hal. 180)

 

“Politik adalah menunjukkan kepada pihak lain bahwa kita memiliki hal yang mereka butuhkan, tanpa benar-benar memberikannya.”

(Timur, hal. 193)

 

“Kalau memilih benar-benar bisa membuat perubahan, mereka nggak akan membolehkan kita melakukannya.”

(Mark Twain, hal. 197)

 

“Apa pun dan siapa pun yang berjodoh selalu bisa menemukan jalan menuju satu sama lain.”

(Sigi, hal. 217)

 

“Politik itu soal kekuasaan dan kepentingan. Aku pengin bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak, tapi untuk bisa memperoleh itu, ya aku harus punya kekuasaan dulu. Jalan menuju hal itu panjang dan berliku.”

(Timur, hal. 234)

 

“Negara ini butuh keduanya, dan kamu bebas memilih, Aku, dan mungkin Johar, merasa kami bisa menciptakan manfaat lebih besar dengan berpolitik. Dunia yang abu-abu. Tidak jelas, tapi memberi lebih banyak ruang karena ketidakjelasannya itu. Tidak ada garis-garis atau tembok-tembok yang memagari. Kalau kekuasaan jatuh di tangan orang-orang yang memang ingin membuat Indonesia jadi lebih maju, tentunya itu akan menjadi hal yang baik, kan? Di sisi lain, ada juga orang seperti kamu dan Pak Cipta yang mungkin memilih jalur yang lain. Yang mau semua jelas batasnya, hitam di atas putih. Dua-duanya nggak apa-apa. Tidak harus yang satu dibandingkan dengan yang lain.”

(Timur, hal. 265)

***

 

 

Penulis: Alanda Kariza

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2017 

Tebal: 272 Halaman

Edisi: Paperback

Harga: Rp 65.000

Rating: 3 dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

11 respons untuk ‘SOPHISMATA

  1. Halo, Kak. Salam kenal ya 😀

    Untuk tokoh politik aku sebenarnya nggak begitu ngikutin dan nggak terlalu mengidolakan begitu, tapi kalau disuruh pilih, aku pilih B.J. Habibie. Alasannya sederhana, karena Beliau memberi kesan jujur dan cerdas ke saya. Saya suka bagaimana beliau menjadi orang yang cerdas tanpa ngumbar itu semua dan juga saya suka sikap setianya ke mendiang istrinya :))

    Sukses giveawaynya, Kak 😀
    akun twitter: @sapta_resita

    Makasi.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Nama: Ahmad Azwar Aa.
    Domisili: Sidoarjo
    Link share: https://twitter.com/azwaravisin/status/893561813136154624

    Tokoh politik yang saya kagumi banyak dan saya harap boleh jawab lebih dari satu, bukan karena apa, karena emang mereka layak kok untuk diidolakan. Baik dalam negeri maupun luar negeri, mereka membuat banyak perubahan berarti.

    1. Ir. Soekarno
    Sebagai Bapak Proklamator Indonesia rasa kagum saya sama beliau nggak habis habis, beliau insinyur lho, namun berkat kepiawaiannya dan kepatriotannya yang tiada tara mampu membawa beliau sebagai proklamator, dan perlu diingat juga beliau memiliki kharisma yang bagus sekali. Ganteng juga. Prince charming banget. Dan lagi pak Karno hobi baca buku juga lho semua buku Beliau lahap habis. Cerdas bukan main. Proklamator dan politikus ulung. Jadi pengen ada time travel machine agar bisa hidup sezaman sama beliau.

    2. Nelson Mandela. Cerdas, berbudi luhur, dan memberikan jasa besar untuk menghapus politik pembedaan warna kulit. Sampai sekarang saya kagum sama Beliau dalam memperjuangkan persamaan hak, yang kalau nggak diperjuangkan akan selalu berjalan dalam pengkotak – kotakan yang justru memecah belah satu sama lain.

    3. Pak Ahok, terlepas dari kasus hukum yang kini menjerat beliau, saya kagum sama beliau sih, beliau pemimpin yang tegas, disiplin, dan kokoh. Jakarta dibikin sedemikian baiknya sih, walau ada kecewa juga saat akhirnya ada kasus itu dan vonis hukuman jatuh. Tapi life must go on, saya percaya becik ketitik ala ketoro. Baik maupun buruk kelihatan.

    4. Rieke Dyah Pitaloka, politikus mantap ini. Beliau ini aktris hebat juga lho. Aktingnya memukau. Enerjik juga, cerdas, nggak asal bicara kalau sedang berargumen. Salute pokoknya.

    5. Laat but not least, saya suka sama Gus Dur. Bapak pluralisme Indonesia. Dunia beliau awalnya adalah dunia santri, kyai, pondok pesantren, kampus, dan keagamaan. Namun berkat berkat yang tidak diduga membawa beliau jadi presiden. Meskipun masa menjabat hanya sekedip mata namun saya masih ingat kebaikan gusdur dan banyak yang sedih saat tokoh besar ini wafat beberapa tahun lalu. Jadi ikutan sedih nih. Juga yang tak akan dilupakan adalah kisah bagaimana etnis Tionghoa bisa mendapatkan dan merasakan hak haknya juga perayaan hari raya dirayakan. Saya rasa nggak lepas dari campur tangan Gus Dur juga.

    Terima kasih.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hmm… aku sendiri dulunya apolitik, dan punya pandangan jelek sama politikus, jadi agak susah kalau disuruh nyebutin siapa politikus favoritnya. haha.

    Tapi secara general aku tertarik sama orang yang suka baca buku dan gemar menuangkan kritik dan pemikiran melalui tulisan, dan aku kagum sama Moh. Hatta. Jadi mungkin dia satu-satunya tokoh politik yang bisa aku bilang “suka”. hihihi.

    Good luck giveaway-nya Mbak!

    Disukai oleh 1 orang

  4. Tokoh politik yang aku kagumi, Kiai Haji Agus Salim. Karena beliau fasih dalam berbagai bahasa asing. Berpikir kritis dan pemimpin yang mau hidup susah.

    Twitter : monicaindah5

    Disukai oleh 1 orang

  5. Twitter: https://twitter.com/ayuharyanips

    Halo, Eka! Ijin ikutan giveawaynya ya

    Tokoh politik yang saya kagumi adalah Bapak B. J. Habibie. Semua itu bermula sejak saya menonton film Habibie dan Ainun. Dalam film tersebut diceritakan bagaimana perjuangannya dalam membangun industri penerbangan di Indonesia. Bagaimana gigihnya beliau mempertahankan nasionalismenya meskipun banyak yang tidak menyukai beliau dan tidak menghargai karyanya. Padahal pihak luar negeri sangat mengapresiasi karya beliau. Bahkan sampai meraih Von Karman Award dan Edward Wanner Award atas ilmu terkait pesawat yang ia miliki. Tidak hanya itu saja, saya juga salut selama masa kepemimpinan beliau menjadi presiden, beliau mampu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga dibawah 10.000 rupiah. Mungkin inilah sedikit cerota dari tokoh politik yang saya kagumi. Terima kasih ^^

    Disukai oleh 1 orang

  6. tokoh politik yg aku kagumi banyak. tp setelah baca mengenai Sigi diatas, aku jadi kepikiran dan menjatuhkan pilihan kepada bu Tri Risma. Perempuan pertama yg menjbat sebagai walikota Surabaya. bagaimana tidak kagum, sepak terjang bu Risma di bidnag politik nggak perlu diragukan lagi. beliau yg pernah menjadi ketua dinas kebersihan dan pertamanan kota surabaya ini benar2 membuat saya kagum. bagimana tidak, dengan kepemimpinan beliau, Surabaya menjadi lebih asri. banyak taman yg dulu sepi sekarang menjadi area wisata. terlebih setelah tau secara langsung bagimana sikap tegas beliau saat insiden rusaknya taman bungkul akibat event bagi2 es krim gratis.

    menurutku bu Risma adalah wanita yg patut di contoh. sosok tegas, berkeinginan kuat menciptakan peeubahan ke arah yg lebih baik dan sikap tanggung jawab beliau berhasil membawa nama surabaya dalam penghargaan internasional dalam hal mengelola lingkungan. beliau juga pernah menjadi salah satu orang yg masuk dalam jajaran 50 tokoh berpengaruh di dunia versi majalah Fortune bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti CEO Facebook Mark Zuckerberg.

    @Kikii_Rye

    Disukai oleh 1 orang

  7. Halo, Kak Eka. Salam kenal 🙂

    Twitter saya: twitter.com/nihruu

    Ada beberapa tokoh politik yang saya kagumi, tiga di antaranya:

    1. Bang Ali, sebagaimana diberitakan banyak artikel di internet bagaimanabeliau melegalkan judi, untuk membangun Jakarta. Meskipun tidak banyak yang mengerti, bahkan beliau hingga dicap beginilah begitulah tanpa tahu lengkap dan mengerti mengenai kebijakan tersebut.

    2. Gus Dur, baru belakangan ini saya tahu latar belakang pendidikan Gus Dur dari buku biografi beliau yang ditulis oleh Greg Barton. Bagaimana kehidupan beliau ketika masa kuliahlah yang membuat saya semakin, semakin, dan semakin kagum dengan beliau. Saya kira kehidupan pendidikan seseorang seperti Gus Dur akan lancar-lancar saja. Tapi ternyata, Gus Dur juga manusia, yang kehidupannya penuh lika-liku dan tak pernah ada jalan mulus. Akan selalu ada jalan “makadam” yang harus dilalui. Bagaimana beliau menghabiskan semua buku di perpustakaan, berdiskusi dengan rekan, menonton berbagai film (yang saya juga baru tahu ternyata menonton film adalah hobi Gus Dur), dan bagaimana beliau mendapat kepala ikan gratis (yang di negeri tempat beliau kuliah tidak laku) dan beliau olah menjadi makanan yang enak untuk kawan-kawan satu rumah kontrakan. Tokoh toleransi nomor satu di Indonesia di mata saya. Mungkin Kak Eka tertarik untuk membaca bukunya.

    3. Bung Sjahrir, setelah membaca Setelah Revolusi Tak Ada Lagi karya Goenawan Mohamad, saya tidak menyangka Bung Sjahrir bisa mengubah keterasingan menjadi semenyenangkan itu. Saya makin kagum ketika membaca kutipan surat Bung Sjahrir kepada isterinya waktu itu, Maria, 12 Oktober 1936: “Pukul setengah lima pagi, saya sudah bangun dan siap, dan pukul setengah enam, kami sudah berada di laut. Kami mengatur sendiri layar dan kemudi. Selama tiga jam, perahu melaju, karena angin yang membantu. Melintasi kebun laut, menyaksikan matahari terbit yang gemilang. Kemudian mendarat kembali. Di pantai kami menghabiskan sisa hari, dan makan.” Betapa membahagiakan. Selalu menyenangkan bagi saya melihat sisi lain seseorang. Apalagi karena saya juga menyukai anak-anak. Walaupun gambaran saya di sini belum mewakili mengapa saya sampai bisa mengagumi beliau. Mungkin Kak Eka bisa mencoba untuk membaca bukunya. Siapa tahu bisa merasakan apa yang saya rasakan. Hehe. Bahkan, Goenawan Mohamad sampai berkata: “Saya membayangkan Sjahrir di paviliun itu: ia seorang hukuman yang berbahagia.” ketika Bung Sjahrir diasingkan ke Banda Neira bersama Bung Hatta.

    Disukai oleh 1 orang

  8. Makasih banyak ya teman-teman udah berpartisipasi dalam giveaway pribadi kecil-kecilan ini. Jawaban kalian benar-benar menambah wawasanku soal tokoh-tokoh politik yand ada di Indonesia maupun di luar Indonesia. Apa saja sumbangsih mereka buat Indonesia atau tempat mereka memimpin dan juga prestasi yang diberikan pihak lain pada mereka. Benar-benar menginspirasi. Terima kasih juga buat rekomendasi bukunya. Aku jadi penasaran dengan kisahnya. Gonna look for ’em. 🙂

    Pemenang giveaway kali ini adalah BOOKISHBROWN! Selamat, ya. Kamu berhak mendapatkan buku Sophismata karya Alanda Kariza! Semoga kamu bisa menjadi penerus Bu Tri Risma, baik itu melalui jalan politik atau pun nonpolitik :D. Buat yang belum beruntung, jangan kecewa. Masih ada giveaway lain diblogku, kok.

    So, see ya’ll on my next giveaway! xoxo

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s