Daddy’s Little Girl – Putri Kesayangan Ayah

Ketika Ellie Cavanaugh berusia delapan tahun, kakaknya, Andrea, tewas dibunuh di dekat rumah mereka di Oldham-on-the-Hudson. Ada tiga tersangka: Rob Westerfield, pemuda tampan dari keluarga kaya setempat, yang diam-diam menjalin hubungan dengan Andrea; Paulie Stroebel, teman sekelas yang diam-diam mencintai Andrea; dan Will Nebels, pekerja serabutan yang suka menawarkan jasa kepada para tetangga.

Kesaksian Ellie membuat pria yang ia yakini pembunuh kakaknya, dipenjara selama 22 tahun. Namun si terhukum tak pernah mengakui kesalahannya. Ketika orang ini dibebaskan bersyarat, Ellie memprotes pembebasannya. Namun si pembunuh tetap dibebaskan, dan kembali ke Oldham. Tak ingin nama orang ini dipulihkan, Ellie juga kembali ke Oldham dan melakukan penyelidikan untuk membuktikan orang ini memang bersalah. Penyelidikan itu ternyata mengungkap peristiwa yang lebih mengerikan, yang selama ini tidak diketahui.

 

***

 

Perkenalan pertamaku dengan karya Mary Higgins Clark adalah waktu aku masih SMA kelas satu. Zaman di mana akhirnya perpustakaan sekolah menyediakan buku-buku fiksi, meski jumlahnya masih sedikit. Kalau waktu SMP, bangunan perpustakaan beserta isi-isinya benar-benar nggak mengundang minat baca. Hasilnya, kartu perpustakaanku terbilang bersih dari catatan kunjungan. Paling ke perpus buat cari bahan yang diminta guru.

Judul buku tersebut aku udah lupa. Yang aku ingat cuma warna kovernya yang pink bergradasi dengan warna ungu, dengan gambar sebuah rumah mewah. Ceritanya sama, bertemakan misteri dan benar-benar menarik. Page turner banget. Makanya pas lagi browsing internet buat cari buku-buku Agatha Christie dan lainnya yang udah nggak ada di toko buku, aku juga memutuskan untuk membeli beberapa buku Mary Higgins Clark. Berharapnya sih dapat buku yang dulu kubaca di SMA. Tapi ya itu, judulnya lupa. Aku berangan-angan aku mengalami deja vu pas lagi baca karena ternyata salah satu buku Mary Higgins Clark yang aku baca adalah juga buku yang dulu ku baca sewaktu SMA.

Begitu mulai membaca buku ini, alih-alih bernostalgia dengan karya Mary Higgins Clark, aku malah merasa ceritanya agak membosankan. Padahal blurb-nya sangat menarik. Aku merasa kesulitan untuk masuk ke dalam ceritanya. Lima bab pertama diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, yang sempat membuatku bingung karena di Ucapan Terima Kasih, Mary Higgins bilang kalau cerita ini ditulis dari sudut pandang orang pertama.

Di bab-bab tersebut, Ellie masih berusia delapan tahun. Meski begitu, aku merasa Ellie tidak diperlakukan seperti layaknya gadis cilik. Lebih tepatnya, keluguan seorang gadis cilik tidak begitu tergambarkan dengan baik. Ellie tampak seperti gadis remaja. Pun ketika Ellie akhirnya menjadi salah satu saksi pembunuhan kakaknya. Sulit bagiku untuk membayangkan kalau Ellie hanyalah gadis berusia delapan tahun. Ditambah lagi dengan sikap kedua orangtuanya yang terlalu hanyut dengan kesedihan mereka sendiri hingga melupakan perasaan Ellie, namun Ellie masih tampak tegar. Juga keteguhannya dalam menyimpan rahasia Andrea soal pertemuan diam-diamnya dengan Rob, benar-benar sulit dipercaya. Padahal jelas-jelas Andrea sudah terbunuh, tapi Ellie masih nggak mau cerita soal itu. Hal ini semakin membuat kisahnya nggak masuk akal. Itu pendapat pribadiku soal kisah Ellie sewaktu kecil.

Memasuki bab enam, sudut pandang pun berganti menjadi sudut pandang orang pertama. Saat itu Ellie sudah dewasa. Kira-kira umurnya tiga puluh satu tahun. Dari segi kelogisan, ini memang jauh lebih baik. Tapi dari jalan cerita, masih sama membosankannya. Alurnya juga terbilang lambat. Penyelidikan Ellie mengenai kehidupan remaja Rob dan beberapa ancaman dan tuduhan yang diterima Ellie, termasuk dari polisi setempat sekali pun, nggak bisa benar-benar membangkitkan selera. Pergantian setting antara masa kini dan masa kanak-kanak Ellie sedikit mengganggu kenyamanan membaca. Dan aku semakin terganggu setiap Ellie berbicara dengan tokoh lain, lawan bicaranya itu pasti hampir selalu menyebut nama Ellie sebelum memulai percakapan. Nggak ada kata-kata yang lainkah?

Mengacu pada halaman Ucapan Terima Kasih, kayaknya Mary Higgins Clark nggak terbiasa menulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Jadinya mungkin itu sebabnya jalan ceritanya pun kurang menarik. Meski aku juga nggak begitu menikmati bab yang memakai sudut pandang orang ketiga. Namun mendekati akhir cerita, terutama ketika Ellie bertemu dengan Paulie, yang juga pernah melihat liontin yang dikenakan Andrea, ceritanya mulai menarik.

Terlepas dari plotnya yang lambat dan cukup membosankan, dari awal sebenarnya misterinya sudah menarik. Aku dihadapkan pada dua tersangka dan aku lumayan mencurigai Paulie. Aku menduga Paulie pasti akan menjadi tokoh di balik plot twist yang “mengejutkan”, seperti halnya cerita misteri di buku lain atau di film-film.  Istilah pribadiku, plot twist pasaran tapi tetap mengejutkan. Begitulah pokoknya. Kenyataannya, plot twist buatan Mary Higgins Clark ini jauh lebih mengejutkan dari yang kukira. Dan itu jauh dari kata pasaran. Kuncinya memang dari liontin itu. Sebuah benda yang diduga hakim hanya imajinasi Ellie kecil. Pada saat itulah ceritanya mulai menegangkan. Kebosananku pada usaha para orang suruhan Rob untuk membungkam Ellie pun terbayarkan. Seandainya kepribadian Rob yang menyerempet ke kepribadian ganda bisa lebih banyak diceritakan, pasti bisa lebih menarik. Meski mungkin itu akan berakhir menjadi pengungkapan fakta yang terlalu dini. Hmm, susah juga ya buat cerita misteri yang bagus dan benar-benar memuaskan.

Hal yang menyentuh dari buku ini tentunya adalah merekatnya kembali hubungan Ellie dan ayahnya. Ditambah lagi kehadiran adik sambungnya yang baik banget. Untuk yang satu ini, meski kisah semacam ini sudah sering ditemukan di cerita lain, terutama di buku-buku karya Nicholas Sparks, tapi aku tetap terharu dengan cinta murni sang ayah pada Ellie. Untunglah pintu hati Ellie belum benar-benar tertutup.

Karena ending yang mengerikan (dan tak terduga) seperti yang dijanjikan di blurb-nya, aku yang awalnya mau memberikan dua bintang pada buku ini, akhirnya tergerak untuk menambah satu bintang. Semoga buku Mary Higgins Clark selanjutnya bisa lebih menarik ceritanya dari awal hingga akhir. Dan aku bisa ber deja vu dengan buku pertama Mary Higgins Clark sewaktu SMA.

***

 

 

Penulis: Mary Higgins Clark

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2004

Tebal: 439 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 30.000 (Beli Bekas)

Rating: 3 dari 5 Bintang

 

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram) — (SOLD)

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s