P.S. I Still Love You

Lara Jean didn’t expect to really fall for Peter.

They had just been pretending. Except suddenly they weren’t. Now Lara Jean is more confused than ever.

Then another boy from her past returns to her life, and Lara Jean’s feelings for him return too.

Can a girl be in love with two boys at the same time?

 

***

 

Sebelum masuk ke review, aku mau curhat dulu, ah. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis review buku di blog lagi setelah sekian lama absen. Soalnya beberapa hari yang lalu, aku baca reviewku sendiri dan aku merasa ada sesuatu yang spesial di review tersebut (memuji karya sendiri boleh, dong XD) Tapi memang, dengan membuat review, aku jadi ingat lagi jalan ceritanya, nama-nama tokohnya, plus minus buku tersebut, dan tentunya perasaan yang aku alami sewaktu membaca buku tersebut. Kalau nggak buat review kan ingatnya cuma sekilas. Di Goodreads memang sudah buat review, tapi nggak panjang dan tentunya spoiler free. Kalau pun ada spoiler, kan ada fitur untuk menyembunyikan spoiler tersebut. So, bagi siapa pun yang kebetulan baca reviewku di blog ini, hati-hati sama spoilernya. Karena memang review ini sesungguhnya buat catatan pribadi, tapi kalau ada orang lain mau baca juga boleh. Selama orang tersebut bersedia menanggung risikonya XD

Beberapa bulan lamanya aku libur menulis di blog karena nggak bisa meluangkan waktu. Selain itu, aku terbilang perfeksionis (iika itu memang istilah yang tepat). Maunya semua unsur dimasukkan ke review. Hal ini seringnya menghambatku untuk mereview buku di blog. Selalu merasa itu terlalu merepotkan, tapi nggak bisa juga kalau cuma bikin reviewnya kelewat pendek dan sederhana. Jadi akhirnya nggak buat review, deh. Apalagi aku mau jual buku-bukuku yang habis kubaca. Semacam kejar setoran. Maunya begitu baca langsung foto-foto buku dan upload di online shop. Tapi hati kecilku kembali merasa ada yang hilang. Rasanya aneh aja kalau habis baca buku langsung dijual. Apalagi kalau langsung ada yang beli, sedangkan aku nggak punya catatan apa-apa tentang buku itu. Cuma review pendek di Goodreads.

Akhirnya, setelah baca ulang salah satu reviewku di blog, aku tergerak lagi untuk membuat review di sini. Nggak usah superpanjang dan superlengkap, yang penting sih isinya bisa memberikan gambaran yang cukup jelas tentang buku yang pernah kubaca. Karena buku itu pasti akan sudah berpindah ke tangan orang lain. Biar nggak menyesal nantinya. Memang perlu niat yang kuat, karena bukan hal yang mengenakkan ketika lagi asyik baca, terus menemukan quote yang bagus, tapi malas untuk menulisnya di kertas orat-oret. Dulu sih bisa tinggal digarisbawahi. Tapi karena sekarang udah mulai jualan buku, itu bisa mengurangi harga buku (menurutku). So, yeah, aku harus punya niat yang lebih besar lagi.

Seandainya ada yang penasaran, aku jual buku-buku preloved-ku di link berikut: Tokopedia atau akun Instagram 

Buat review kali ini, aku buat seadanya aja karena memang nggak direncanakan untuk buat review di blog. Quote-nya cuma sedikit dan nama-nama tokohnya juga nggak dibuat bagian khusus. Nothing’s so perfect. Yang penting ada kenang-kenangan yang ku dapat dari buku ini.

***

 

Nggak nyangka aku selesai baca buku pertama series ini dua tahun yang lalu, tepatnya 4 Desember 2015. Banyak yang udah lupa dari isi buku tersebut. Untung reviewku di Goodreads lumayan jelas. Jadi aku ingat kalau aku ternyata nggak begitu menyukai jalan ceritanya. Aku baru suka saat sudah mendekati akhir cerita, di mana Lara Jean dan Margot saling musuhan gara-gara Josh. Josh ini kan pacarnya Margot, tapi mereka putus karena Margot mau kuliah di LN (di mana tepatnya lupa, mungkin Skotlandia, padahal di buku kedua udah disebutin tapi tetap nggak yakin). Saat itulah Lara Jean semacam pdkt ke Josh dan akhirnya Margot tahu saat dia pulang ke rumah untuk liburan.

Bagian tersebutlah yang bikin aku kasih tiga bintang (tadinya mau dua bintang) untuk buku ke satunya: To All the Boys I’ve Loved Before. Dan aku menanti baca buku keduanya, yang waktu itu lagi dalam perjalanan menuju rumah. Waktu bukunya tiba, aku nggak langsung baca karena tergiur sama bacaan lain. Akhirnya mulai baca pas bulan Desember tahun lalu (kebetulan banget bacanya sama-sama bulan Desember ya?) Dan aku lupa kalau dulu aku menantikan perseteruan antara Margot dan Lara Jean. Aku baru keingat sama apa yang kunantikan itu ketika baca ulang review buku ke satu di Goodreads. Tapi kenyataannya, di bab awal buku kedua hubungan Lara dan Margot tampak adem ayem aja. Kayak nggak ada masalah sama sekali. Mereka disibukkan sama acara tahun baru. Aku jadi berpikir, apa aku salah mengerti ya soal hubungan mereka di akhir bab buku ke satu? Mau ngecek, tapi bukunya udah dibeli orang. Tapi beneran, aku ingatnya hubungan Margot dan Lara Jean benar-benar memburuk. Gimana ceritanya mereka baikan? Dan aku pun terlalu malas untuk mengecek di bab-bab awal buku kedua. So, ya sudah… lupakan.

Untuk kisah romansa antara Lara Jean dan Peter, lumayan menyenangkan dibanding di buku ke satu. Nggak cuma bercerita tentang kisah cinta anak SMA, melalui buku kedua ini, Jenny Han pun cukup banyak menyelipkan soal pendidikan seks dan bullying melalui media sosial (kalau nggak salah istilahnya cyber bullying?) Kebetulan bullying tersebut dialami oleh Lara Jean dan Peter sendiri. Video PDA mereka yang benar-benar hot waktu di hot tub tersebar. Yang menyebarkan adalah akun Anonybitch. Meski begitu Lara Jean benar-benar yakin kalau yang mengirim konten video tersebut ke Anonybitch  adalah mantan teman baiknya, Genevieve. Tapi Peter, yang notabene adalah mantan pacar Genevieve, nggak sependapat. Di buku kedua ini, banyak hal yang bikin Lara Jean meragukan cinta Peter padanya. Nggak jarang Lara Jean mendapati Peter lagi dekat sama Genevieve.

Lara Jean semakin meragukan hubungannya dengan Peter ketika ia mendapat kiriman surat dari seseorang bernama John Ambrose McClaren. Dia juga teman Lara Jean dan merupakan salah satu cowok yang mendapat kiriman surat cinta dari Lara Jean. Akhirnya mereka ketemuan dan Lara Jean kembali mengalami perasaan cinta yang pernah dia simpan untuk John. Ketambahan John lebih peduli sama dia ketimbang Peter, yang menurutnya perasaannya selalu terbagi antara dia dan Genevieve. Kehadiran John bikin hubungan Lara Jean dan Peter makin memburuk.

Yah, memang sih kalau dari pengamatanku, Lara Jean dan Peter sama-sama labil. Lara Jean tampak begitu mudah jatuh cinta dan Peter tampak nggak bisa move on dari Genevieve. Aku sendiri jadi sebal banget sama Peter karena nggak bisa menentukan pilihan. Tapi pas udah tahu penyebabnya kenapa Peter masih juga nggak bisa menjauh dari Genevieve, aku bisa mengerti. Meski begitu, kok aku malah lebih suka Lara Jean sama John, ketimbang dia balikan sama Peter? Padahal seharusnya aku bersyukur karena Lara Jean terbukti bukan cewek yang mudah jatuh cinta dan mudah berpindah ke lain hati, seperti dugaanku sebelumnya. Dia cuma belum tahu kenyataannya. Kasihan juga si John. Apalagi dia kayaknya udah suka sama Lara Jean dari dulu. Seolah-olah mereka udah sama-sama suka tapi sama-sama nggak punya keberanian. Beda halnya dengan Peter. Yang suka duluan kan Lara Jean. Jadi, meski akhirnya mereka balikan lagi, aku masih curiga kalau Peter cuma menganggap Lara sebagai pelariannya aja. So, we’ll see how it goes in the third book.

Kitty makin menggemaskan di buku kedua ini. Omongannya udah kayak orang dewasa yang punya banyak pengalaman dalam urusan cowok. Pokoknya menggemaskan! Margot semakin dewasa sebagai kakak. Lara Jean… Dia juga semakin dewasa dan mampu menggantikan peran Margot dalam menjaga Kitty dan ayahnya. Dia juga kreatif banget. Suka sama idenya untuk pesta yang diadakan di panti jompo Belleview. Tapi aku masih juga belum bisa suka sama namanya. Enakan namanya Jeanny aja, deh.

Ngomong-ngomong soal hubungan antara Lara Jean dan Genevieve, aku mengerti perasaan Lara Jean. Karena aku juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Ada rasa benci pada seseorang, tapi kita selalu saja dipertemukan. Meski aku benci, tapi aku merasa kasihan juga kalau orang tersebut tertimpa musibah. Namun bukan berarti aku akan ikut senang melihat orang tersebut bahagia. Aneh, ya? Hal ini semakin ditegaskan oleh Lara Jean dalam quote berikut:

“There’s a Korean word my grandma taught me. It’s called Jung. It’s the connection between two people that can’t be severed, even when love turns to hate. You still have those old feelings for them; you will always have tenderness in your heart for them. I think this must be some part of what I feel for Genevieve. Jung is why I can’t hate her. We’re tied.”

Ada hal unik yang sempat aku catat, nih. Di halaman 64 dan halaman 81, ada kalimat yang sama persis. Nggak salah, sih. Tapi bagiku, dengan jarak halaman yang cukup dekat, rasanya jadi monoton dan kurang kreatif saat membaca rangkaian kalimat yang nyaris serupa.

 

Hal. 64:

“When school lets out, I race to the parking lot, where Peter is in his car waiting for me with the heat on.

 

Hal. 81:

I race to the parking lot, where Peter is in his car waiting for me with the heat on.

***

 

 

QUOTES

 

 

“You can’t be close to someone, not truly, with secrets in between you.”

(Lara Jean Song Covey)

 

 

“You were really sheltered, hon. You can be very judgmental.”

(Chris)

 

 

“High school romances hardly ever last, you know. And for a good reason. We’re too young to be so serious.”

(Lara Jean Song Covey)

 

 

“There’s no way to protect yourself against heartbreak, Lara Jean. That’s just a part of life.”

(Daniel Covey)

 

 

“It can be tough with best friendships. You’re both growing and changing, and it’s hard to grow and change at the same rate.”

(Lara Jean Song Covey)

***

 

 

Penulis: Jenny Han 

Penerbit: Scholastic 

Tahun Terbit: 2015

Tebal: 337 Halaman

Bahasa: Inggris

Edisi: Paperback

Harga: $8,86 / Rp 124.704

Rating: 4 dari 5 Bintang

 

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram) — (SOLD)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s