Crash Into You – AliaZalea

Hanya ada satu orang yang paling dibenci Nadia di dunia ini, seorang anak laki-laki bernama Kafka. Cowok jail itu tidak bisa berhenti mengisenginya setiap hari, enam hari dalam seminggu, selama hampir dua tahun. Terakhir kali Nadia bertemu dengannya adalah sekitar dua puluh tahun yang lalu ketika mereka sama-sama masih mengenakan seragam putih-merah. Semenjak itu Nadia berjanji untuk tidak akan pernah lagi sudi bertatap muka dengannya.

Tetapi ketika suatu pagi, di usia dewasanya, Nadia terbangun dengan hanya mengenakan pakaian dalam di kamar hotel Kafka, dia harus mengevaluasi ulang pendapatnya tentang laki-laki satu ini. Kafka bukan saja kelihatan superhot, tetapi Nadia secuil pun tak pernah membayangkan bagaimana cowok iseng dan jail itu kini bisa menjadi dokter jantung ternama yang menangani ayahnya.

***

 

 

TOKOH

 

 

  • Nadia: Tokoh utama. Bekerja sebagai web designer. Ngakunya sih ramah dan nggak pedean.
  • Kafka Ananta: Teman semasa kecil Nadia yang jahil. Di saat dewasa, dia menjadi dokter jantung papanya Nadia.
  • Mikhel: Kakak kandung Nadia
  • Viktor: Kakak kandung Nadia
  • Mama: Ibunya Nadia
  • Papa: Ayahnya Nadia
  • Adri: Sahabat Nadia
  • Jana: Sahabat Nadia
  • Dara: Sahabat Nadia
  • Gita: Junior Nadia di kantor
  • Karin: Klien Nadia sekaligus adik kandung Kafka
  • Elang: Teman Jana, yang dikenalkan pada Nadia lalu menjadi pelarian Nadia dari Kafka.

***

 

 

Ini kali pertama aku baca karyanya AliaZalea. Seperti ditulis di blurb-nya, buku ini bercerita tentang pertemuan kembali dua orang yang pernah mengenal sewaktu SD. Kalau dulu mereka seriiiing banget berantem, sekarang pas udah sama-sama beranjak dewasa, mereka… sama-sama masih suka berantem. Cuma jenis berantemnya udah beda.  Mereka sering perang SMS yang menjurus ke hal-hal seksual.

Awalnya aku mengira ini cuma novel Metropop biasa. Kenyataannya, ini juga masuk ke kategori novel dewasa. Padahal nggak ada label novel dewasa di kovernya. Adegan make out-nya terbilang berani meski nggak sejor-joran Fifty Shades of Grey. Nggak, kok. Nggak seberani itu dan nggak sebanyak itu, hehe. Cuma satu adegan, kalo nggak salah, lol. Tapi tetap saja. Seharusnya ini dilabeli novel dewasa.

Meski aku pada akhirnya membenci karya ini, aku mengakui kalau aku suka bagian prolognya sampai ke bab 2 (kalau nggak salah). Melalui gaya berceritanya yang renyah, penulis bisa membuatku tertawa di beberapa bagian. Terutama saat menceritakan sosok sang ibu, yang pengkarakterannya sangat khas ibu-ibu. Lalu aku lupa di bab mana tepatnya kisahnya jadi kurang menarik. Aku nggak habis pikir kok bisa-bisanya Kafka kayak bertindak berani ke Nadia (pegang-pegang tangan) di hadapan kedua orangtuanya. Padahal kan dia dokter dan baru kali itu mereka bertemu. Harusnya Kafka bisa menahan diri demi menjaga keprofesionalitasannya.

Selain itu, aku juga nggak habis pikir sama kedua kakak Nadia yang menjadikan topik hamil di luar nikah sebagai bahan candaan, bahkan di depan ibu mereka. Keluarga macam apa ini? Mungkin ini yang namanya keluarga demokrasi bablas. Padahal Nadia waktu SD itu juara umum. lho. Kok udah gedenya jadi hancur begitu ya? Maaf ya, memang sih jalan hidup nggak ada yang tahu. Dan pas banget semalam aku nonton Celebrity True Story-nya Luna Maya. Ternyata waktu SD, Luna Maya sering dapet ranking. Nggak dikasih tahu sih ranking berapa. Intinya, prestasi Luna sewaktu SMP benar-benar anjlok karena udah mulai suka main dan punya banyak teman. So… mungkin hal ini juga yang terjadi sama Nadia. Baiklah, aku coba mengerti untuk hal yang satu ini.

Nadia diceritakan punya tiga orang sahabat yang sudah lama saling kenal. Kalau nggak salah dari mereka masih SMP. Persahabatan mereka terbilang seru, tapi kadang aku bingung sama karakterisasi mereka. Nadia dan ketiga sahabatnya terlihat mirip. Benar-benar serupa. Jadi kalau baca dialog mereka, seperti keluar dari orang yang sama. Aku yakin aku nggak akan bisa membedakan mereka seandainya nggak dikasih tahu siapa yang bicara. Mungkin juga sih karena mereka udah lama saling kenal, akhirnya sikap dan cara berbicara mereka agak mirip. Tapi menurutku sih seharusnya nggak begitu. Tetap harus ada ciri khasnya. Ini kan cerita fiksi.

Karakter Nadia pun cukup membingungkan. Berulang kali dia bilang kalau dia memiliki penampilan biasa dan nggak pede. Tapi dari tindak-tanduknya dan cara berpikirnya yang tertuang di narasi kok dia gayanya sok banget. Seolah-olah dia itu secantik dewi. Dan dengan santainya dia mengaku kalau dia udah nggak virgin.  Aku juga nggak paham dengan rasa benci Nadia ke Karin. Pertama, karena Karin itu kliennya. Kedua, keburukan Karin kurang begitu nampak. She looks fine to me. Kalo begini, malah jadinya Nadia yang justru nyebelin. Tukang nyinyirin hidup orang lain.

Hal lain yang membuat Nadia semakin menyebalkan di mataku adalah apa yang tertulis di SMS-nya untuk Kafka. Serius, itu SMS nyebelin banget. Ada ya cewek kayak Nadia. Sok nggak mau digodain tapi dia sendiri malah nantangin untuk make out. Hahaha, dia ketagihan kali ya? Pura-pura nggak mau padahal mengharap banget Abang Kafka mencumbu dirinya.

“U know what, aku capek dengerin kamu muji diri sendiri. Kalo kamu mo make-out sama aku that bad, temuin aku di Empire b4 midnight. Tapi kalo kamu telat satu detik aja, not only that I get to NOT make-out w/ u, tapi kamu juga stop SMS aku. Deal?
(Hal. 158)

Memang sih Nadia menantang Kafka untuk berbuat begitu karena dia yakin Kafka akan terlambat. Tapi nggak ada jenis tantangan lain, apa? Lagi pula ada cara yang lebih simple dan elegan untuk menghentikan tindakan Kafka: cuekin aja. Beres, kan?

Nadia juga selalu bilang kalau dia adalah wanita yang ramah. Padahal dari narasinya , menurutku dia nggak seramah yang dia akui. Lalu tiba-tiba di suatu halaman diceritakan kalau keramahan Nadia hanyalah topeng? Lha, jadi gimana nih karakter Nadia yang sesungguhnya? Mungkin Nadia sendiri ragu dengan kepribadiannya ya, lol.

“Intinya aku kembali bersembunyi di balik topengku sebagai orang yang ramah, tapi kini aku mencoba membuat diriku mengerti bahwa sifat ramahku bukanlah topeng melainkan wajahku yang sebenarnya.”
(Hal. 219)

Ada satu adegan di mana Nadia tampak seksi banget, udah gitu sambil basah-basahan kena air hujan. Dia lagi berargumen gitu sama Kafka. Lucu aja gitu ngebayanginnya. Gimana kalau ada orang lewat?

“Aku bahkan tidak peduli bahwa cheongsam yang menempel pada kulitku karena basah kini sudah naik dan belahan kakinya berada di pinggang bukan lagi di paha.”
(Hal. 238)

Dari segi penulisan, seperti yang sempat aku utarakan sedikit di atas, lumayan oke. Terbilang renyah dan cocok untuk genre Metropop. Namun kelogisan ceritanya memang perlu dipertanyakan. Menjelang akhir cerita, mulai muncul penulisan yang membingungkan. Salah satu contohnya, penggunaan kalimat yang memiliki makna yang bertentangan disimpan dalam satu paragraf. Pada akhirnya aku mengerti kalau Nadia sebenarnya sedang mengalami konflik batin. Tapi ada baiknya ditambahkan beberapa kata yang pas supaya nggak mengurangi pemahaman. Berikut kalimat yang aku maksud:

“Dan kusadari bahwa inilah jenis hubungan yang kuperlukan. Sesuatu yang meskipun kelihatan membosankan tetapi aman. Jenis hubungan saat kalau aku mau aku bisa menarik diriku kapan saja tanpa ada penyesalan yang mendalam. Tetapi lain dengan sebelum-sebelumnya, kini aku merasa tidak puas dengan hubungan ini dan untuk pertama kalinya aku merasa bersalah kepada Elang karena telah membuatnya percaya bahwa perasaanku padanya lebih dalam daripada yang kini kurasakan.”
(Hal. 220)

Sedangkan buat kalimat yang satu ini, sumpah, aku nggak mengerti maksud kalimat ini meski sudah dibaca berulang-ulang. Biasanya kalau ada kurang atau lebih kata, aku bisa memahami dengan menduga-duga mungkin maksudnya itu. Tapi nggak demikan dengan kalimat ini. Aku benar-benar menyerah. Mau diotak-atik bagaimana pun tetap  aja blank:

“Saat itu aku sadar seberapa kalau aku ini cinta mati sama kamu yang hanya bisa ngelihat aku kayak aku ini…”
(Hal. 244)

Nadia sudah sebegitu menyebalkannya. Tapi rasa benciku semakin memuncak ketika sampai di halaman 240. Mungkin ini memang risiko dari menggunakan sudut pandang orang pertama. Segala isi pikiran si tokoh utama ketika dihadapkan pada suatu konflik jadi tertuang di narasi. Mungkin juga memang cara pikir Nadia yang benar-benar aneh dan terlalu emosional dan kekanak-kanakan makanya aku jadi habis kesabaran sama dia. Intinya, dari sepanjang aku membaca buku lokal, Nadia aku nobatkan sebagai Tokoh Utama Perempuan Paling Menyebalkan di Dunia.

***

 

 

QUOTE

 

 

“Banyak orang yang bilang bahwa manusia akan belajar dari pengalaman, yang mereka tidak pernah katakan adalah bahwa pengalaman itu membawa rasa sakit hati yang tidak tergambarkan. Kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan bercampur menjadi satu gumpalan besar yang membutakan mata kita untuk melihat makna pengalaman itu.”

(Nadia)

***

 

 

Penulis: AliaZalea

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 

Tahun Terbit: 2014 (Pertama Kali Terbit Tahun 2011)

Tebal: 280 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 59.000

Rating: 1 dari 5 Bintang

 

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s