Pretty Little Liars Season 2

Akhirnya bisa tamat nonton season 2 series ini dengan jangka waktu kurang dari sebulan! Yup, awalnya aku selalu nonton series secara giliran per episode dari satu judul ke judul series yang lain dengan tujuan biar nggak bosan. Tapi akhir-akhir ini aku justru lagi pingin ngelihat empat bersahabat ini terus. Ingin segera tahu nasib mereka yang setiap harinya selalu aja ditimpa masalah baru. Padahal sih aku udah tahu siapa A gara-gara waktu itu aku malah keterusan baca penjelasan Pretty Little Liars Season 2 di Wikipedia.  Serius aku nggak tahu kalau Wikipedia bakalan ngasih spoiler itu, soalnya nggak ada peringatan sebelumnya. Jadi bisa dibilang aku ketiban sial, lol. Sebal juga sih karena aku jadi merasa kurang greget nontonya. Tapi ada untungnya juga, yaitu aku jadi bisa lebih fokus memperhatikan gerak-gerik si A tersebut. Hmm, seandainya aku belum dapat bocoran siapa itu A, dijamin aku pasti akan sama terkejutnya dengan Hanna dan ketiga sahabatnya. Masalahnya, begitu banyak tokoh yang mencurigakan. Terutama si Jenna nyebelin itu. Melissa pun juga belakangan jadi ikutan dicurigai sebagai A.

In case you don’t know it yet, blog ini punya tagline The Spoiler Brat!!! Itu berarti di dalam tulisanku akan memuat banyak spoiler, jadi maaf aja kalau ada yang merasa ketiban sial setelah baca tulisanku. Meski kadang aku tanpa sadar masih suka berhati-hati dalam menulis karena khawatir ngebocorin cerita, lol (Aneh, kan?). Sekali lagi, pada dasarnya tulisanku adalah catatan pribadiku. Kalau mau baca boleh, asal udah siap dengan risikonya, yaitu spoiler.

Selama nonton season 2 ini, banyak banget episode yang seru. Tapi buat episode penutup, season kedua ini kurang begitu menegangkan. Mungkin karena aku udah tahu A adalah Mona dan mungkin juga karena faktor lain. Serius, aku sebal kenapa episode pamungkasnya harus meniru detail film Psycho? Ini lumayan merusak mood nonton. Aku yakin kru, khususnya penulis skenarionya, bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Coba aja bandingkan dengan pamungkas di season 1 yang benar-benar keren. Aku sampai speechless karena saking terpesonanya. Buatku, aksi meniru tokoh Norman dan motelnya di film Psycho benar-benar merusak. Sungguh disayangkan.

Btw, sama dengan pamungkas season 1, di season 2 ini pun nyawa Spencer yang menjadi taruhannya. Itu berarti dia benar-benar menjadi incaran utama A. Well, A is Mona, tapi kayaknya ada orang di atas Mona, deh. Bisa jadi kalau A itu juga adalah Melissa, kan? Soalnya sebelum Mona mengaku sebagai A, ada adegan di mana Jenna, yang ternyata udah bisa melihat tapi ngakunya masih blind, menyerahkan suatu bungkusan ke seseorang. Lalu, sewaktu Mona udah ditahan di semacam RSJ, ada orang datang berkunjung dan Mona bilang kalau dia sudah melakukan apa yang dia minta. So, itu berarti Mona cuma semacam A kecil. Yang A besar, I mean the real A, belum benar-benar terungkap identitasnya. Makanya masih ada sisa lima season untuk kutonton. Aku sih udah sering ngintipin IMDb dan lihat kalau Alison ada di season 7. So…. ada kemungkinan the real A is Alison. Kelihatannya simple. Tapi itu dugaan awalku sebelum ada penemuan baru oleh keempat sahabat ini bahwa Alison ternyata juga sering mendapatkan SMS teror dari A. Tentunya itu sebelum Alison menghilang dan dinyatakan tewas. Jadi makin bingung dan misterius kan sosok A ini?

Meski nggak seantusias nonton season 1, aku mengakui kalau season 2 pun masih mengikatku dengan segala misterinya. Lebih banyak episode yang menarik daripada yang kurang menarik. Apalagi sekarang orangtua Spencer pun ikut terlibat dalam kasus menghilang dan terbunuhnya Alison. Memang sih sejauh ini mereka nggak terbukti membunuh. Mereka cuma terlibat dalam penyembunyian alat yang diduga sebagai alat bukti demi melindungi anak-anak mereka. Di season ini juga akhirnya ketahuan kalau Jason, kakaknya Alison, adalah juga kakak seayah Spencer!

Buat romance-nya, kalau di season 1 aku sukaaaaa banget sama chemistry Toby dan Spencer di akhir season, di season 2 ini yang paling bikin baper adalah pasangan Aria dan Ezra. Awalnya mereka merasa bebas ketemuan dan bermesraan karena Ezra udah bukan gurunya Aria lagi di Rosewood High. Namun kenyataannya malah lebih menyusahkan untuk hubungan mereka. Kedua orangtua Aria akhirnya tahu hubungan mereka dan mereka benar-benar menentangnya. Karena bagaimana pun Ezra pernah menjadi guru Aria dan sebelumnya mereka juga udah sering dengar gosip kalau Ezra dekat sama muridnya. Makanya mereka benar-benar shock saat tahu ternyata gosip itu benar, terlebih anaknya sendiri yang dimaksud gosip itu. Sebisa mungkin mereka mencoba untuk memisahkan mereka berdua. Namun Ezra dan Aria tetap berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka. Dancing pertama mereka di tempat umum benar-benar bikin terharu.

Romance antara Hanna dan Caleb pun nggak kalah romantisnya. Keharmonisan mereka, meski yang satu terbilang gaptek dan yang satu technofreak, benar-benar menarik. Aku nggak menyesali keputusan Hanna yang mau menerima Caleb kembali karena terbukti Caleb benar-benar cinta sama Hanna. Selain itu, karena Caleb sebenarnya nggak ada salah apa-apa sama Hanna (in my opinion). He’s always there when she’s in pain and trouble. Menenangkan Hanna. Begitu juga sebaliknya. Kalau buat romance-nya Emily sih aku nggak begitu tertarik karena ya aku kan bukan homo, lol. And to be honest, aku suka agak nggak nyaman kalau ngelihat Emily bermesraan sama pasangannya. Meski begitu, aku turut sedih waktu Maya diketemukan tewas. Yes! You read it right. Episode pamungkasnya juga ditutup dengan ditemukannya mayat Maya, yang kalau nggak salah adalah di sekitaran rumah Emily. Aneh. Padahal setahuku Maya lagi ada di suatu tempat (lupa di mana tepatnya) yang jauh dari Rosewood. Maya seolah mengikuti jejak Alison. Ketambahan sebelumnya dia sering dapat SMS teror gitu. Maya bilang itu dari pacarnya dulu. Pacarnya itu cowok (padahal dia juga lesbian). Sebelum meninggal, Emily sering banget ngelihat Maya lagi ngobrol sama Noel padahal mereka nggak pernah dekat sebelumnya. Mungkin misteri ini akan terbuka di season selanjutnya.

Aku hampir lupa cerita soal Garrett. Sumpah, aku senang banget karena Garrett akhirnya ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan Alison (kalau nggak salah sih, haha, lupa). Tapi alasan utamanya dia ditangkap karena dia mencuri halaman lima keterangan kematian Alison. Garrett sempat menyerahkan halaman lima itu ke Jenna dan memintanya untuk membakarnya supaya polisi nggak bisa melacaknya. Tapi karena Jenna dan Garrett putus, yang alasan putusnya masih misteri, Jenna pun menyerahkan halaman tersebut ke polisi dan akhirnya Garrett ditangkap. Garrett ditangkap pas lagi ciuman sama Melissa, coba! Makin mencurigakan aja kan Melissa? Pokoknya aku senang banget Garrett ketangkap karena dia nyebelin banget tampangnya. Noel juga sama. Jenna juga. Ketiga orang ini kayaknya nggak ada tampang baiknya sedikit pun.

Yang bikin seru di season 2 yaitu kedatangan Kate, saudara tirinya Hanna, ke Rosewood. Dia juga sekolah di Rosewood High. Ini anak nyebelinnya minta ampun. Tukang fitnah banget. Dengan sengaja dia memfoto dirinya yang lagi topless pakai ponsel Hanna dengan harapan mendapat simpati. Akhirnya sih ketahuan juga karena Hanna melihat kalau Kate ternyata ada tanda lahir di perutnya sedangkan kalau di foto nggak ada. Ini ketahuan pas Kate lagi buka sweater. Kate melakukan hal ini karena dia merasa terancam dengan rahasia buruk yang diketahui Spencer mengenai dirinya sewaktu Kate ikut camp. Rahasia apa, aku juga nggak begitu yakin. Kayaknya sih wajahnya yang jelek karena emang nggak dilihatin fotonya. Cuma Hanna yang lihat.

Bagian yang nggak penting dan aneh menurutku adalah sikap Mike. Entah kenapa anak ini tiba-tiba jadi bandel dan suka ngelawan ortu. Dia mengurung diri terus di kamar dan selalu marah setiap diajak ngomong. Perasaan waktu di season 1 dia fine-fine aja sewaktu ibunya balik lagi tinggal di rumah. Byron sih sempat khawatir kalau Mike menderita depresi seperti kakaknya. Tapi itu nggak menjelaskan alasan dia jadi suka masuk ke rumah orang tanpa izin dan mencuri beberapa barang nggak penting. Dugaanku sih ini sekadar menjadi alasan supaya kedekatan Jenna dan Garrett makin diketahui keempat sahabat. Diceritakan bahwa Mike masuk ke rumah Garrett dan dia mengambil barang secara random. Kebetulan banget salah satu barang yang diambilnya itu adalah kerajinan tanah liat yang dulu dibuat Jenna sewaktu dia bareng Aria ikutan semacam workshop di kampus jurusan kesenian. Yah, meski aku paham dengan tujuannya, tetap aja aku nggak suka cerita Mike jadi seperti terlalu mengada-ada. You can do much better than this for Mike’s story.

Satu detail kecil yang menyenangkan dari series ini adalah digantinya pemeran ibu Alison. Dulu waktu di season satu yang jadi ibunya memang cukup mirip dengan Alison, terutama di bagian rambutnya yang pirang keputihan. Cuman dia kayak bintang film horor dan dia cocok jadi hantunya. Anehnya, meski mukanya horor, wajahnya kayak orang baik. Kayak pendiam, gitu. Tapi kalau yang jadi ibunya di season dua jauh lebih cocok lagi karena aura jahatnya agak-agak mirip sama Alison, lol.

Oh iya, karena tiap episode kadang disutradari oleh orang berbeda, jadi sulit nih menentukan bagian tersebut sebagai credit title-nya. Ini review dadakan karena tadinya aku nggak akan buat review series langsung satu season. Dulu sempat bikin ulasan Pretty Little Liars per episode tapi baru sedikit. Baru publish dua episode aja. Padahal udah nonton satu season full dan bahannya udah dicatat. Sayang belum ada waktu, alias malas, jadinya langsung loncat dulu ke season dua full. Nanti lain kali mau review per episode tapi nggak dibikin di satu pos. Maksudku, satu pos itu isinya satu season full, tapi ada gambaran per episodenya. Begitulah pokoknya. Semoga bisa terlaksana. Dan aku juga berjanji pada diri sendiri mau buat ulasan Pretty Little Liars Season 1 episode lainnya yang udah aku catat bahannya. Sayang banget banyak dialog yang udah capek-capek aku ketik tapi nggak diterbitkan.

***

 

 

 

Berdasarkan Novel Karya Sara Shepard: “Pretty Little Liars”

Tayang Perdana: 14 Juni 2011

Nonton di: Netflix (Di Iflix Juga Ada)

Rating: 4 dari 5 Bintang

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

4 respons untuk ‘Pretty Little Liars Season 2

  1. HALO aku lagi nonton pretty little liars juga ni, tapi lgi kebinggunan mau nonton dimana,soalnya diiflix cuman ada season 1, kamu nonton di netflix ya?

    Suka

  2. Hallo! Aku punya pendapat berbeda tentang mike. Aku rasa cerita dia sangat tepat, menggambarkan kalau masalah orang tua, keributan antara bapak dan ibu itu ngefek besar ke anak. Mike sudah cukup kecewa dengan ayahnya yang selingkuh, tapi dia lebih kecewa lagi saat tahu ibunya meninggalkan rumah, bagi seoranh anak, mereka gak akan lihat dari sudut pandang seorang wanita yang disakiti tapi dari sudut pandang anak yang masih perlu kasih sayang dan perhatian 100% dari orang tua, bagaimana sakitnya saat dia tahu ibunya dengan “mudahnya” meninggalkan mereka, ya meski aku yakin ibunya ga mungkin ga mikirin anaknya, cuma namanya diselingkuhin, sebelum jadi seorang ibu ia adalah seorang wanita. Nah setelah akhirnya ibu nya balik, mike malah menjadi-jadi, jujur aku paham kenapa mike begitu, setiap anak memiliki kerentanan yang berbeda-beda, dan aku rasa mike tipe yang mudah jatuh. Jadi saat ibunya kembali, dia ingin mengambil semua perhatian terlebih saat itu orang tuanya lagi berkutat dengan masalah aria, jadi dia memutuskan dengan cara membuat masalah tadi, seolah oalh ingin mengatakan pada orang tuanya, beginilah kalau kalian hanya memikirkan diri sendiri. Dan kebetulan itu sangat membantu plot agar hubungan jenna dan garret diketahui.

    Suka

    1. Halo Khalda, maaf baru respon. Pendapatmu masuk akal juga. Sikap Mike sebagai bentuk kekecewaannya pada kedua orangtuanya. Pantaslah dia jadi berubah macam gitu. Cuma saya secara pribadi nggak sreg aja sama plot yang membantu agar hubungan Jenna dan Garret diketahui. Saya lebih prefer itu dikuak oleh orang lain, bukan Mike. Karena kesan “kebetulannya” terlalu maksa. Anyway, thanks for sharing your opinion. 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s