Oksimoron – Isman H. Suryaman

Oksimoron: n Ling, frase yang terdiri dari dua unsur yang bertolak belakang. 
_______________________________

Alan dan Rine adalah pasangan muda yang berusaha membuktikan bahwa pernikahan bahagia bukanlah oksimoron. Konsekuensinya, mereka juga harus berjuang untuk menghadapi berbagai unsur bertolak belakang, seperti mertua dan kerukunan, tetangga dan kewarasan, hingga kehamilan dan aborsi.

“Lewat Oksimoron, seketika kita dapat menikmati selera humor Isman yang segar, berkualitas, dan mengasyikkan.”
–Dewi Lestari

“Tanpa menjadi guru atau penegur, Isman sudah menulis sebuah novel yang penting buat lelaki yang menghargai perempuan, komitmen, dan keluarga.”
–Ve Handojo

“Isman menghamparkan adegan-adegan yang terasa sangat nyata, bergerak, dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri.”
–Agung “Mbot” Nugroho

***

 

 

TOKOH

 

 

  1. Alan Kurniawan: Tokoh utama, bekerja di rumah. Kadang sebagai penerjemah lepas dan kadang juga menulis buku.
  2. Rine Kumalasari: Istri Alan. Rambut sebahu dan memakai kacamata. Kalau nggak salah kerja di bidang IT.
  3. Andi: Adik Alan. Udah gede, tapi kadang kayak anak kecil. Mungkin karena tetap dipanggil Adek sama Alan dan juga bapaknya? Biar begitu, badannya kekar.
  4. Dadan: Ayah Alan dan Andi, mertuanya Rine. Biasa dipanggil Papap.
  5. Turman Syaringgih: Ayah Rine, mertuanya Alan. Biasa dipanggil Papah.
  6. Ika: Istri Turman.
  7. Bi Nani: Asisten rumah tangga Alan dan Rine.
  8. Budi: Rekan kerja Rine di kantor, juga temannya sewaktu kuliah. Dia sudah lama naksir Rine, dan masih tetap menaruh hati meski Rine sudah menikah.
  9. Amri: Bawahan Rine di kantor.
  10. Cedi: Teman baik Alan.
  11. Charlene: Istri Cedi.

***

 

Oksimoron bercerita tentang pasangan suami istri baru yang memiliki pemikiran berbeda, terutama tentang apakah harus punya anak atau enggak. Alan sudah tahu dari sebelum menikah kalau Rine nggak mau punya anak. Karena cinta, Alan pun mau menerima keputusan Rine. Setelah mereka resmi menikah, perlahan-lahan keinginan Alan untuk punya anak pun muncul. Namun Alan nggak berani mengutarakan keinginannya. Akhirnya mulailah dia berbuat ‘jahil’ dengan melubangi kondom yang nanti akan ia gunakan. Sayangnya ulahnya tersebut keburu ketahuan. Dari sana Rine merasa amat dikhianati oleh Alan. Mereka akhirnya pisah ranjang. Bahkan Rine pun berniat untuk menggugurkan kandungannya. Yup, ternyata ada saat di mana mereka berhubungan dan nggak pakai pengaman dan langsung berbuah, lol. 

Masuk ke dalam cerita ini bukan hal yang mudah. Gaya berceritanya terbilang sulit dimengerti. Kalimat yang digunakan terlalu berbelit-belit dan nggak luwes. Mungkin aja cara kerja otakku berbeda sama penulis, yang sepertinya punya cara berpikir yang cerdas atau entah apa istilahnya. Jadi kalau buat dia, gaya menulisnya mudah dimengerti, tapi buatku sih agak susah. Ibaratnya guru yang pintar Matematika, tapi dia kesulitan dalam menyampaikan ilmunya. Kurang lebih begitu analoginya. Makanya kadang aku suka mumet sendiri bacanya. Padahal aku udah semangat membaca buku ini karena dihiasi pengantar sekelas Dee Lestari, dan kedua orang lainnya, yang mungkin orang penting di dunia tulis-menulis tapi sayangnya aku nggak kenal siapa mereka.

Leluconnya pun menurutku nggak semuanya lucu. Kalau pun lucu, nggak selucu yang dibilang Dee Lestari.  Ibarat lelucon Amerika, yang kadang nggak kelihatan lucu buatku tapi justru bikin orang Amrik terpingkal-pingkal. Dengan kata lain, selera humorku dan mereka (Dee Lestari dan Isman) berada pada level yang berbeda. Setidaknya aku berhasil menemukan beberapa quote yang menarik dan bikin kepala manggut-manggut setuju dan kagum dengan perumpamaan yang digunakan penulis.

Oh iya, penulis ternyata adalah seorang komika ternama (tapi aku nggak kenal karena jarang nonton acara stand up comedy) dan suami dari penulis Primadona Angela.

Cerita yang paling memusingkan dari novel ini adalah sewaktu Dadan, Turman dan Ika sepertinya sedang berusaha untuk memancing Rine dan Alan untuk segera punya anak. Aku tulis ‘sepertinya’ karena aku sendiri masih meraba-raba bagian ini. Yang aku tangkap adalah mereka mengirim kartu pos berisi foto keluarga dari salah satu teman lama Rine atau Alan yang sudah punya anak. Mungkin mereka juga yang mengirim DVD-DVD bertema keluarga pada Alan dan Rine, tapi Alan dan Rine malah mengira itu dari Budi? Duh, entahlah, aku masih belum paham betul bagian ini.

Adegan waktu Alan mencoba untuk membekuk pencuri di sebuah warnet pun luar biasa membingungkannya. Susah sekali membayangkan kejadian ini di otakku. Karena nggak mau pusing, aku nggak mau memaksakan diri. Lagi pula ini bukan adegan yang benar-benar penting untuk konflik utama ceritanya.

Nah, ngomong-ngomong soal konflik, aku merasa konfliknya kurang mengena. Nggak ada kegemasan yang sangat mengenai hal ini. Seperti halnya Rine, aku tuh kayak merespon dengan “Oh” aja dengan ekspresi wajah datar. Karena ya memang konfliknya terbilang datar. Nggak begitu kuat. Kenapa konfliknya bisa begini, menurutku karena penulis terlalu banyak membuang-buang halaman untuk cerita yang nggak menunjang konflik. Gesekan-gesekan perbedaan pendapat soal anak di antara Rine dan Alan nggak begitu dieksplor. Sekalinya bicara soal keinginan untuk punya anak, udah langsung bikin mereka berantem dan Alan memutuskan minggat dari rumah. Kayaknya nggak secepat itu deh sepasang suami istri memutuskan untuk pisah ranjang.

Sebenarnya aku suka dengan kisah yang dibuat penulis mengenai masa lalu Rine yang membuatnya sampai ke keputusan untuk nggak punya anak. Juga soal mimpi buruk yang sering dialami Rine dan saudara kembarnya yang sudah mati. Ditambah lagi soal kucing bermata hijau yang memiliki benang tipis dengan konflik batin yang sedang dialami Rine. Sayangnya, plotnya nggak diolah dengan begitu baik. Ini justru baru muncul menjelang akhir cerita. Sungguh disayangkan.

Aku berharap penulis lebih banyak membahas soal tersebut sehingga akan terjalin keterikatan yang kuat antara pembaca dengan tokoh-tokoh utama di dalamnya, yaitu Alan dan Rine. Ketimbang bercerita soal pencuri di warnet, Andi yang sering nyasar, usaha para ortu dalam memancing Alan dan Rine untuk punya anak, dan kisah lainnya yang kurang mengena, cerita akan lebih kuat jika lebih fokus pada hubungan Alan dan Rine. Bukan berarti para ortu dan Andi nggak boleh muncul, lho. Porsinya aja yang sedikit dikurangi, karena aku sadar keempat tokoh ini juga punya keunikan. Bayangkan, ayah Rine dan Alan ternyata dulunya teman dan sempat bersaing memperebutkan cinta mendiang Ibu Alan dan Andi!

Seperti novel-novel lain pada umumnya, novel ini pun dibagi ke dalam beberapa bab. Bedanya, sepertinya setiap bab dalam novel ini punya tema tersendiri. Tapi yang aku sadari itu cuma dua bab karena dua bab ini yang paling kentara temanya. Selain itu, karena aku sejujurnya merasa terganggu dengan ‘kekreatifan’ penulis dalam membangun ceritanya, yang jatuhnya malah membosankan karena berkesan monoton. Contohnya, di satu bab ada yang setiap adegannya dimulai dengan menggunakan kata, frasa atau suasana adegan sebelumnya. Hal ini membuat awal adegan baru jadi pendek dan hampir selalu diawali dengan percakapan.

Contoh 1: 

  • Akhir adegan 1: “Setelah membetulkan posisi figura ia meraih helmnya dan keluar.”
  • Awal adegan 2: “”Keluar?” tanya Alan.

Contoh 2:

  • Akhir adegan 1: “Sekalian deh. Kalau Pak Amri dan Pak Budi sudah datang, bilangin saya ngajak ngobrol di ruang rapat.”
  • Awal adegan 2: “Rapat banget sih,” keluh Alan memicingkan matanya.

 

Ada pun tema di bab lain yang bikin bosan yaitu tema gatal. Well, mungkin penulis ingin menunjukkan pada pembaca mengenai realitas gatal dan bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghilangkannya. Begitu pun yang dilakukan para tokoh di novel ini. Pertama Rine yang gatal punggung dan menggaruknya pakai alat penggaruk. Lalu di adegan berikutnya, Pak Turman mengalami gatal hebat di punggung saat umpannya berhasil dicaplok ikan (entah gimana dia menggaruknya karena memang nggak diceritakan). Di adegan berikutnya Andi diserang gatal di punggung pas lagi olahraga sandsack. Dia garuk pakai jari-jari tangannya tanpa kesulitan berarti. Giliran bab berikutnya, Alan didera gatal di bagian punggung. Dia nggak bisa menggaruk pakai tangan, akibatnya dia mengosok-gosokkan punggungnya ke dinding dengan gaya yang lucu.

Oh iya, aku sempat cerita soal kucing di atas. Di novel ini diceritakan hal mengerikan mengenai induk kucing yang memakan anaknya sendiri. Kucing itu memakan satu anaknya yang baru lahir, diduga karena kondisi si anak kucing itu nggak bagus. Jadinya daripada si anak menderita, induknya memutuskan untuk memakannya. Kira-kira itu benar terjadi apa enggak ya? Feeling-ku sih mungkin aja benar. Mungkin ini salah satu insting seekor kucing untuk mengurangi penderitaan anaknya. Sama halnya dengan keputusan yang diambil oleh Ibu Rine, yang mengorbankan satu anaknya untuk mati, yaitu kembarannya Rine.

***

 

 

QUOTES

 

 

“…Menemukan mitra hidup mirip seperti memilih kasur. Sebagai teman di kala sehat maupun sakit. Segar maupun lelah. Senang maupun sedih. Dan kita bisa yakin telah menemukan yang tepat tanpa harus menidurinya terlebih dahulu.”

(Alan Kurniawan, hal. 25)

 

 

“Kalau terlalu keras kepala, malah bisa kehilangan sesuatu yang berharga lho.”

(Dadan, hal. 100)

 

 

“Selama kamu masih sayang padaku kamu bakal sering mencemaskanku karena berbagai hal. Ada ancaman bomlah, terjebak banjirlah, atau mendadak demam. Kamu hanya bakal berhenti khawatir sama sekali kalau sudah nggak peduli.”

(Alan Kurniawan, hal. 196)

 

 

“Saya percaya mengungkapkan rasa sayang itu sebaiknya dilakukan seperti kencing. Jangan ditahan-tahan. Nanti bagian dalam kita membatu…”

(Alan Kurniawan, hal. 228)

 

 

“Penulis humor dibayar untuk berbohong. Seperti politikus tapi kami bisa mengatakannya dengan bangga.”

(Alan Kurniawan, hal. 261)

***

 

 

 

Penulis: Isman H. Suryaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 296 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 30.000 (Bukan Harga Asli)

Rating: 2½ dari 5 Bintang

 

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram)

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s