House of Cards Season 2

Setelah beres nonton Pretty Little Liars Season 2, aku lanjut nonton House of Cards Season 2 sampai tuntas tanpa dijeda series lain. Sebelumnya aku udah buat review dua chapter awalnya di dua pos terpisah. Nah, untuk sisanya aku buat di satu pos, yaitu pos ini. Dan kali ini nggak ada pos gambar karena Netflix mulai ikut-ikutan kayak iTunes, yang melindungi kontennya supaya nggak bisa di screenshot. Hiks (Nggak tahu kalau di PC). Sedih, sih. Tapi sebenarnya ini mengurangi kerjaku juga. Dengan nggak adanya foto, aku bisa lebih cepat menulis ulasan kecil-kecilanku mengenai series atau film yang udah aku tonton. Kalau pakai gambar kan aku harus mengedit dan mengubah ukurannya biar nggak terlalu besar. Repot deh, pokoknya. So, just look on the bright side, right?

Aku pun sekarang lagi agak malas menyertakan dialog yang kece. Paling juga cuma sekadar quotes yang nggak seberapa jumlahnya. Padahal season dua ini juga sama serunya dengan season satu dan dialog-dialognya banyak yang keren. Sedikit banyak bisa belajar menjadi orang kuat/nggak berperasaan dari tokoh-tokoh di series ini, terutama dari Frank dan Claire Underwood, tentunya.

Secara keseluruhan, aku puas dengan season 2 ini. Betapa cepat karir politik Frank meroket. Dari yang semula cuma Majority Whip (Which is also an important position, in my opinion), Frank diangkat menjadi Wakil Presiden. Lalu di chapter terakhir dia udah diangkat sebagai Presiden Amerika Serikat, menggantikan Presiden Garrett Walker yang terpaksa mengundurkan diri karena kasus aliran dana dan dugaan kesehatan fisik dan mentalnya yang terganggu. Namun buatku pribadi, chapter penutupnya nggak sebagus chapter-chapter sebelumnya. Ketegangannya justru sedikit menurun.

Di bawah aku udah buat ulasan tiap chapter-nya. Tentu ada bocoran ceritanya, dong. Karena tulisan ini juga sebagai catatan pribadi supaya nggak benar-benar lupa sama ceritanya. Buang-buang waktu juga kalau harus nonton ulang lagi, sementara masih banyak series lain yang baru yang menunggu untuk ditonton. Chapter 14 dan 15 ada di pos terpisah, chapter 16 aku nggak buat ulasannya, kayaknya.

 

 

CHAPTER 17

 

 

Sutradara: James Foley
Penulis Skenario: Laura Eason
Rating: 3½ dari 5 Bintang

Setelah melewati jarak yang cukup lama dari chapter terakhir yang aku tonton, yaitu chapter 15, aku merasa chapter 17 ini nggak begitu memukau. Kayak melempem aja, gitu. Mungkin pikiranku masih terperangkap di series Pretty Little Liars Season 2, lalu masuk ke House of Cards tiba-tiba merasa asing. Mungkin aku butuh adaptasi lagi untuk masuk ke series ini. Padahal ini tuh lagi chapter gawat, di mana Claire melakukan wawancara langsung dan mengakui kalau dia pernah diperkosa oleh seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi di militer. Dan, seperti pada chapter House of Cards lainnya, selalu aja ada bagian yang nggak aku mengerti. Apalagi kalau bukan mengenai kesepakatan politiknya. Jadi ya sudah, aku nggak akan terlalu memaksa otak. Lha wong politik di negeri sendiri aja masih banyak yang nggak aku pahami sistemnya, kok.

 

 

CHAPTER 18

 

 

Sutradara: John David Coles
Penulis Skenario: Kenneth Lin
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Lucas masih nekat untuk mengusut kasus kematian Zoe dan juga Peter Russo. Dia bertemu dengan seseorang yang katanya hacker. Aku nggak begitu paham apa peran si cowok itu. Yang jelas Lucas mendapat petunjuk dari cowok itu untuk membantu mengungkap kasus yang tengah dia tangani. Tapi sayangnya Lucas akhirnya ketangkap juga sama beberapa anggota FBI, padahal awalnya udah nyaris berhasil. Tinggal memasukkan USB aja, tapi keburu ketahuan. Terus nggak tahunya si cowok yang membantu Lucas itu juga orang suruhan. Mungkin aja dia orangnya Frank. Hmm, Frank ini benar-benar susah ditembus. He’s always one step ahead, just like A.

 

 

CHAPTER 19

 

 

Sutradara: John David Coles
Penulis Skenario: John Mankiewicz
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Chapter ini lebih seru dari dua chapter sebelumnya. Meski Lucas ditahan dan dipaksa mengakui tindakan kriminalnya karena memasuki gedung yang ia masuki di chapter sebelumnya (tbh, aku nggak paham itu gedung apa, lol), aku senang banget karena akhirnya Lucas nggak bergerak sendirian lagi. Tom bersedia membantu Lucas untuk melanjutkan menelusuri kasus Zoe dan Peter Russo. Tom bahkan akhirnya bertemu dengan Frank dan membicarakan masalah tersebut. Tanpa basa-basi Frank meminta Tom untuk menghentikan penelusuran kasus tersebut. Ini berarti nasib Tom pun terancam. Selain Tom, Janine pun kembali terseret ke masalah tersebut. Dia menemui Lucas di penjara, namun bukan untuk membantunya, melainkan memintanya untuk memenuhi tuntutan FBI. Sementara itu Claire mulai memberitahu Ibu Presiden, yaitu Patricia/Tricia soal Christina yang dulu pernah berselingkuh dengan atasannya. Tapi di sisi lain, Claire meminta Christina untuk lebih membantu Ibu Presiden dalam meningkatkan rasa percaya dirinya. Jadi, Christina dan Tricia kayak di adu domba gitu sama Claire. Yang kasihan ya Christina. Ibu Presiden yang awalnya menganggap sikap Christina biasa aja dan nggak merasa terancam, lambat-laun mulai termakan omongan Claire.

 

 

CHAPTER 20

 

 

Sutradara: James Foley
Penulis Skenario: Bill Kennedy
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Chapter ini pun nggak kalah serunya dari chapter sebelumnya. Perseteruan antara Frank dan Tusk semakin memanas. Kayaknya sih Tusk main belakang dengan membuat campaign/iklan yang memojokkan pemerintahan Demokrat. Karena hal ini, Frank dimarahin habis-habisan sama Presiden Walker. Aku kira Frank beneran dipecat, nggak tahunya itu cuma emosi sesaat. Malah habis itu mereka baikan dan hubungan mereka justru makin akrab. Ibu Presiden makin terhasut sama omongan Claire soal Christina dan ingin Christina dipindahtugaskan. Namun tentu Pak Presiden menolak karena kerja Christina memang bagus. Meski Frank dan Claire bukan orang baik dan cenderung licik, aku kagum sama mereka yang selalu kompak. Ibu Presiden aja sampai iri karena semenjak Walker jadi Presiden, kebersamaan mereka sangat sulit untuk dibentuk. Semoga Claire nggak sampai jahat banget menghasut Ibu Presiden. Tapi kayaknya nggak mungkin juga karena Ibu Presiden sepertinya udah benar-benar percaya segala ucapan Claire. Begitu juga Walker terhadap ucapan Frank.

 

 

CHAPTER 21

 

 

Sutradara: James Foley
Penulis Skenario: David Manson
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Hal yang menyedihkan dari chapter ini adalah dipecatnya Linda dari posisinya sebagai sekretaris presiden. Well, bukan dipecat. Linda mengundurkan diri. Awalnya karena ada argumen dengan Frank soal pembangunan jembatan. Linda semacam menyabotase usaha Frank untuk membuat Presiden menyetujui pembangunan itu. Karena kesal, Frank menghina Linda kalau dia nggak sepenting dirinya. Akhirnya Linda mengundurkan diri dan sempat berusaha mengutarakan pendapatnya soal jembatan, namun Presiden nggak mau dengar pendapat dia lagi. Tanpa diduga Linda, Presiden menyetujui pengunduran dirinya. Tentunya ini nggak lepas dari hasutan Frank.

Sementara itu, Patricia semakin percaya sama Claire. Dia menyetujui usulan Claire untuk menemui terapis dalam usaha mengatasi kemelut rumah tangganya. Tricia dan Walker pergi ke semacam gereja karena di sana mereka menemui seseorang yang mereka panggil Reverend. Sebelumnya, mereka menemui seorang pria berkursi roda. Entah siapa dia. Dan entah apa efek negatif dari kunjungan mereka ke sana karena berkali-kali Tricia selalu membicarakan kecemasannya mengenai anggapan publik soal keputusan mereka ini.

Jacky dan Remy makin dekat. Tapi kelihatannya sih yang paling pakai perasaan di sini adalah Jacky. Secara dia perempuan. Tapi nggak tahu juga, sih. Frank juga akhirnya tahu kalau Remy itu orang suruhan Tusk. Banyak orang yang udah didatangi Remy untuk mengungkit masa lalu pasangan Underwood, khususnya Claire. Dari mantan karyawan Claire sampai selingkuhannya. Eh, tapi entah aku yang baru nyadar sekarang atau dari dulu Frank udah curiga. Yang jelas keberadaan Seth di dunia kerja Frank semakin membantu Frank. Doug tentu masih sangat bisa diandalkan. Oh iya, Doug kayaknya suka sama Rachel tapi masih enggan menunjukkannya. Sayang, Rachelnya lagi jatuh cinta sama Lisa. Yes, they’re both girls and they just kissed. Wow.

Penutup dari chapter ini adalah keputusan Tusk untuk meluncurkan berita perselingkuhan Claire dan Adam, si fotografer yang sempat muncul di season satu itu. Meski itu bisa menjadi berita besar, aku yakin mereka bisa menghadapinya. They’re tough as hell.

 

 

CHAPTER 22

 

 

Sutradara: Jodie Foster
Penulis Skenario: Beau Willimon
Rating: 5 dari 5 Bintang

Chapter ini luar biasa seru makanya aku nggak ragu kasih 5 bintang. Ternyata penulis skenarionya Beau Willimon, yang juga membuat series ini untuk versi lama yang tayang di Inggris. Mungkin ini salah satu faktor kenapa aku suka banget chapter ini. Dan seperti diketik di atas, ini disutradarai oleh Jodie Foster. Bagus juga arahannya. Keren!

Di sini diceritakan bagaimana Claire dan Frank menghadapi fitnah perselingkuhan yang dikeluarkan oleh Remy dan Tusk, melalui perantara media. Bukan fitnah juga sih namanya, karena kan memang benar terjadi. Claire aja yang mengaku-ngaku difitnah. Serius, aku suka banget dengan cara Claire menepis gosip perselingkuhannya. Yang kasihan ya Adam, karena dia ditipu mentah-mentah oleh Claire. Reputasinya hancur. Selain itu, hidupnya jadi nggak tenang.

Karena fitnah pertama nggak mempan menghancurkan Claire dan Frank, Remy akhirnya mendatangi Adam lagi untuk minta bukti lain perselingkuhannya dengan Claire. Remy mengancam dengan menunjukkan kode kota Bogota pada Adam. Awalnya aku nggak paham apa maksudnya, kecuali itu adalah kota tempat tinggal pacarnya. Belakangan baru tahu kalau ternyata yang diancam adalah ayahnya pacar Adam. Nggak lama ‘fitnah’ baru pun keluar di The Daily. Gambarnya nggak begitu jelas, tapi kayaknya foto itu menunjukkan Claire lagi mandi di shower. Untuk melawan ‘fitnah’ yang satu ini, Seth mencari model yang perawakannya mirip Claire. Kita tunggu kelanjutannya. But I think I already know where it goes. 

Ngomongin Seth, aku agak bingung mengenai awal mula dia bisa masuk ke kehidupan Frank dan Claire. Seth ini orangnya cerdas, makanya dia bisa menyingkirkan Conor, yang juga nggak begitu aku perhatikan keberadaannya di chapter-chapter sebelumnya. Kayaknya sih Conor ini semacam penasihat, gitu. Karena dia yang membantu dan memberi ide soal wawancara langsung Claire waktu itu. Seth pun mulai sering bertemu dengan Doug dan kayaknya Doug mulai nggak nyaman dengan keberadaan Seth. Lebih tepatnya, dia merasa terancam. Ketidakcocokan sering muncul di antara mereka dan mereka juga suka saling caper ke Frank dan Claire. Lucu juga sih ngelihat persaingan di antara mereka.

Tusk makin merajalela dengan perangnya terhadap Frank di media. Selain menebar berita perselingkuhan Frank, dia juga memunculkan kedekatan Frank dengan Freddy, si tukang BBQ itu. Freddy ini ternyata dulu anggota geng. Anaknya juga bermasalah. Kedekatan Frank dan Freddy ini bisa jadi citra buruk untuk Frank. Aku kira nggak bakalan berpengaruh, karena itu kan kejadian dulu. Sekarang Freddy udah berubah. Sentimen warga Amrik memang tinggi, ya. Mmm, mungkin di Indonesia juga gitu? Kayak isu pelanggaran HAM Pak Prabowo yang selalu diungkit-ungkit sama lawan politiknya. Iya, kan?

Frank nggak terima Freddy diusik-usik oleh Tusk. Apalagi Freddy mau mulai franchise kedainya. Yup, semenjak muncul berita di koran kalau Frank suka makan steak di kedai Freddy, pelanggan Freddy langsung meningkat drastis. Tapi gara-gara Tusk, kontrak franchise itu pun langsung dibatalkan. Fuck Tusk! Btw, Tusk juga kayaknya ada yang ganggu, yaitu seorang reporter yang juga ternyata adalah Miss Tehran, namanya Ayla Sayyad. Dia tahu banyak soal bisnis Tusk, termasuk soal wacana jembatan itu. Tusk merasa terancam oleh kehadirannya. Aku nggak ngerti terancam gimana, lol. Kalau nggak salah, aku udah sering lihat cewek ini di chapter-chapter sebelumnya. Dia suka tanya-tanya hal ke Seth.

Sekali lagi, chapter ini keren banget! Remy nggak bisa mendahului Frank. Ya iyalah! Wapres dilawan! Raymond Tusk kalang kabut menerima laporan dari Remy soal pekerjaannya, sampai burung peliharaannya dipelintir lehernya gara-gara berisik terus. Sadis! Mungkin nanti giliran Tusk yang menderita. Freddy akhirnya jual BBQ-nya. Sedih sih, tapi Freddy kuat. Aku yakin itu. Semoga suatu hari nanti Freddy dan Frank bisa ketemu lagi.

 

 

CHAPTER 23

 

 

Sutradara: Robin Wright
Penulis Skenario: Laura Eason & Beau Willimon
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Lagi-lagi teror untuk Claire dan kali ini murni untuk Claire. Ada yang mau mencelakainya berkaitan dengan bill sexual assault yang tengah diprosesnya. Nggak paham amat sih kenapa Claire sampai diteror. Mungkin karena tindakan aborsi Claire bikin orang lain ikut-ikutan? Sebab memang pria yang melakukan teror itu pun istrinya melakukan hal yang sama tanpa sepengetahuannya. Akhirnya dia berusaha meledakkan rumah Claire. Meski alasannya tampak jelas, bagiku pribadi si pria itu terlalu sembrono menyalahkan orang. And, to be honest, apa sih isi bill sexual assault yang diajukan Claire itu? Serius, aku nggak nyimak.

Karena teror itu, Meechum menawarkan diri untuk menjaga Claire 24 jam. Dengan senang hati usul itu diterima Frank dan Claire. Aku jadi curiga, apa dia suka sama Claire ya? Mungkin aja kan? Atau dia cuma sekadar setia? Kalau benar Meechum suka sama Claire… seru juga sih. Apalagi Claire pun kayak kurang kasih sayang dari Frank. Makanya dulu pun dia selingkuh sama Adam.

Btw, ada kejadian lucu antara Meechum dan Frank. Meechum sempat memergoki Frank lagi nonton video porno di laptop. Kira-kira apa tanggapan Meechum soal kehidupan rumah tangga majikannya itu ya? Frank sendiri berlagak santai.

Claire dan Jackie bersitegang masalah bill sexual assault. Jackie nggak mau menyetujui bill itu dan Claire curiga Jackie bertindak begitu karena takut persetujuannya mempengaruhi elektabilitsnya. Lagi-lagi aku nggak paham. Emang pemilihan apa ya? Mungkin midterms? Karena Jackie sering ngomongin itu sama Remy. Tapi apa itu midterms dalam dunia politik Amerika? (Di Indonesia ada nggak ya? Atau itu semacam pengecekan kinerja?) Kayak yang baru-baru ini terjadi, yaitu 100 Hari Kerja Anies dan Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Bedanya, kalau di midterms itu kayaknya jabatan seseorang bisa dicopot kalau nggak memiliki cukup voting. Entahlah. Yang jelas, karena hal ini, Claire marah besar sama Jackie. We’ll see what she can do about it. Must be epic.

Sementara itu Frank makin sering mendengarkan Seth ketimbang Doug. Seth akhirnya menyarankan menghancurkan Tusk lewat Ayla karena dia reporter. Dengan demikian, campur tangan Frank nggak akan kelihatan. Great Seth. Meski begitu, saat beritanya keluar, mau nggak mau nama Frank pun jadi terseret karena aliran dana dari luar ini, yang sedikit banyak mempengaruhi kebijakan politik Amerika, sudah terjadi semenjak Frank masih menjabat sebagai Majority Whip. Hal ini tampaknya sudah diperhitungkan Frank, karena ini jalan yang paling ampuh untuk menyingkirkan Tusk.

Doug yang semakin merasa dianaktirikan oleh Frank mengubah keputusannya. Yang tadinya dia nggak setuju Rachel mengajak Lisa tinggal di rumahnya, akhirnya dia perbolehkan. Mungkin dia mulai berkurang loyalitasnya ke Frank? Atau dia cuma ingin berbaik hati sama Rachel? Mungkin. Doug kelihatan sedih dan selalu minta dibacakan sesuatu sama Rachel. Kasihan juga Doug. Oh iya, Doug mulai dimata-matai sama cowok hacker yg bawa anjing itu.

 

 

CHAPTER 24

 

 

Sutradara: John David Coles
Penulis Skenario: John Mankiewicz & Beau Willimon
Rating: 4½ dari 5 Bintang

Gara-gara kasus perselingkuhan dengan Adam, Tricia juga ikut mundur perlahan dari bill usulan Claire. Meski Tricia nggak begitu percaya dengan isu tersebut, Tricia nggak mau nama baik suaminya jadi ikutan buruk gara-gara dukungannya untuk Claire.

Kinerja Doug makin mengecewakan. Doug juga sempat ikut sharing group untuk kecanduannya pada alkoholWaktu di grup itu Doug bercerita soal perasaannya ke Rachel yang menurutnya seperti rasa sayang ke anak atau ke Ibu. Kok begitu ya jenis perasaannya? Sedikit mengerikan juga. Waktu Doug suka minta dibacakan sesuatu oleh Rachel, seperti ada nuansa kelainan psikologis gitu. Well, what’s normal anyway? Setiap orang pasti punya kecenderungan untuk menyimpang dari kebiasaan dengan kadar yang berbeda-beda.

Nah, semenjak ikutan sharing group itu, Doug berniat untuk melupakan Rachel karena dia sendiri mungkin merasa perasaannya nggak wajar/aneh. Sementara itu, Frank udah curiga kalau Doug minum-minum lagi, yang akhirnya mempengaruhi kinerjanya. Walau kecewa, Frank masih bersedia memberinya kesempatan, yang benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Doug. Bahkan dia nggak sungkan lagi bekerja sama dengan Seth. Dia juga mulai mengakui kehebatan Seth. Selain itu, dia memang nggak bisa mengerjakan tugas yang sekarang sendirian. Doug menyuruh Seth untuk mencari tahu soal Remy. Again, aku bingung soal kerjasama Remy dan Seth di chapter-chapter sebelumnya. Soal apa ya?

Meechum makin sering membantu Claire. Salah satunya, memperbaiki alat olahraga yang akan digunakan Claire. Frank tahu itu, tapi dia menanggapinya dengan santai. Fokus Frank memang masih di kasus aliran dana. Claire sendiri belum begitu menyadari kebaikan Meechum. Atau ini cuma aku yg terlalu sensi sama kebaikan Meechum?

Mengenai Jackie dan Remy. Dulu Jackie pernah bilang ke Remy kalau hubungan mereka nggak boleh mengganggu profesionalisme mereka. Tapi sekarang Remy harus mengancam Jackie untuk menjatuhkan Frank melalui kesaksiannya ke jaksa penuntut soal aliran dana dari pihak asing itu. Remy mengancam kalau ia akan membocorkan proses Jackie menjadi Majority Whip yang ditempuhnya dengan cara kotor. Jackie nggak peduli sama ancaman Remy. Malah dia jadi terbuka matanya kalau Remy nggak benar-benar cinta sama dia. Kalau dipikir-pikir, Remy cuma melakukan pekerjaan dia. Ini urusan profesional. Dari hal ini aku bisa menilai, setangguh apa pun Jackie mengira dirinya, tetap aja dia perempuan biasa yang punya perasaan. Sakit hati juga kalau diperlakukan seperti itu sama lelaki yang dia suka, padahal mereka sepakat untuk bersikap profesional. Aku pribadi yakin Remy pun sebenarnya nggak mau melakukan itu ke Jackie. Itu cuma tuntutan profesinya dan juga janjinya pada Tusk. That’s how complicated love/feeling is.  

Yang paling mengejutkan dari chapter ini adalah ulah Frank, Claire dan Meechum. Man, mereka nyaris threesome gitu! Cuma saling cium, sih, tapi tetap aja shocking. Berawal dari Meechum yang telapak tangannya terluka kena pecahan gelas. Claire mau membalut luka itu. Tiba-tiba Frank muncul dan menawarkan diri untuk membalut luka tersebut. Perlahan genggaman tangan mereka mulai nggak biasa. Claire yang melihat itu mendekati mereka dan mencium tangan Frank (atau Meechum? Kurang jelas kelihatan) Lalu Frank cium Claire, lalu Claire cium Meechum, lalu Meechum ciuman sama Frank. Kalau nggak salah begitu urutannya, lol. Udah sampai di sana aja karena memang nggak ada kelanjutannya. Langsung udahan.

Gara-gara adegan ini, aku nonton lagi chapter sebelumnya, di mana Meechum menangkap basah Frank lagi nonton video porno di laptop. Ternyata video itu pun modelnya threesome. Mungkin kedua lelaki ini tergiur/terinspirasi dari video tersebut, ya? Gila!

 

 

CHAPTER 25

 

 

Sutradara: James Foley
Penulis Skenario: Beau Willimon
Rating: 5 dari 5 Bintang

Beau Willimon emang keren, nih. Tiap chapter yang ditulis sama Willimon selalu berhasil membuatku terpukau. Lagi-lagi aku kasih rating full.

Ternyata Dunbar, si jaksa penuntut (kalau nggak salah), mempertanyakan konseling presiden dan istrinya ke pendeta itu. Padahal Frank yakin itu nggak akan muncul ke permukaan. Makanya presiden mulai curiga dengan segala usulan Frank yang menurutnya sudah diperhitungkan demi keuntungan Frank dan menyudutkan Presiden. Presiden nggak percaya lagi sama Frank dan mungkin benci sama dia secara pribadi. Terapis/pendeta itu sih nggak membocorkan apa-apa ke Dunbar dan rela dibawa ke pengadilan karena apa yang diceritakan presiden itu rahasia. Ketambahan dia pendeta, jadi dia makin teguh sama janjinya. Tapi akhirnya sih kayaknya dibocorkan juga karena si Dunbar ini pintar banget bermain kata. Yang dibocorkan itu soal resep yang diberikan Pendeta Larkin ke presiden dan istrinya.

Jackie makin kesal sama Claire karena menurutnya Claire menghasut Megan untuk menjelekkan dirinya di media. Sementara itu Claire membujuk Tricia untuk ngomong ke Garrett (presiden) kalau Frank nggak bertanggung jawab soal bocornya kunjungan ke terapis itu. Namun Tricia enggan karena dia sendiri lagi pusing soal urusan rumah tangganya. Dia juga kayaknya nggak mau percaya lagi sama Claire.

Akhirnya, demi mengurangi tekanan pada Frank dan juga dirinya, Claire membatalkan Bill itu dan bersedia untuk bekerja sama dengan Jackie. Jackie, yang posisinya juga mulai kepepet gara-gara diancam Remy, mau mempertimbangkan kerjasama itu meski dia merasa berat karena itu berarti dia harus mengkhianati presiden. Jadi keputusannya belum pasti. Intinya, Claire dan Frank semakin menguatkan kekompakan mereka demi mempertahankan reputasi mereka. Sekali lagi aku salut sama kepiawaian mereka. Tapi ya itu… Perbuatan mereka bisa dibilang jahat dan nggak berperasaan. Kasihan Pak Presiden dan istrinya yang sepertinya akan menjadi korban kelicikan mereka.

Sementara itu, Seth diutus Frank untuk mendekati Tusk lagi. Dari dialog ini baru aku tahu kalau dulu Seth pernah bekerja dengan Tusk. Seth membocorkan pertemuan Remy dan Frank di gereja. Hal ini membuat Tusk mempertanyakan kinerja dan komitmen Remy. Jadi Remy mulai dicurigai sama Tusk.

Doug mencoba untuk melupakan Rachel. Dia menghapus nomor Rachel dari ponselnya. Tapi nggak lama, dia datang lagi mengunjungi Rachel. Nggak tahunya dia malah memergoki Rachel lagi ML sama Lisa. Kesal, keesokannya Doug mengancam Rachel agar mengusir Lisa dari rumah itu.

Meski ‘kehidupan asmaranya’ kecut, kehidupan profesional Doug dan Seth luar biasa menakjubkan. Aku suka banget sama kerjasama mereka berdua. Good luck for you guys!

 

 

CHAPTER 26

 

 

Sutradara: James Foley
Penulis Skenario: Beau Willimon
Rating: 4 dari 5 Bintang

Sebenarnya aku udah semangat nonton chapter terakhir ini karena ratingnya di IMDb gede banget, yaitu 9,6! Kenyataannya aku nggak merasakan antusiasme yang sama dengan penonton yang lain. Dan aku baru tahu kalau chapter ini pun ditulis oleh Beau Willimon. So, ternyata nggak semua skenario yang ditulisnya bisa membuatku benar-benar terpukau. Sad, but it’s true. 

Ngomong-ngomong, aku nonton chapter ini setelah semalam nyaris nggak tidur karena lagi merayakan hari raya Siwaratri. Kondisi badan kurang bagus dan bawaannya pusing melihat layar iPad. Jadi pas nonton chapter ini, maunya cepat-cepat selesai. Aku berpikiran mungkin karena ini aku nggak begitu amazed sama chapter ini. Jadi keesokan harinya aku nonton ulang chapter ini, dengan kondisi badan yang nggak sejelek kemarin. Ternyata hasilnya tetap sama.

Di chapter ini, giliran Linda yang diselidiki jaksa penuntut. Dan sewaktu Linda ketemu Presiden untuk melaporkan hasil penyelidikannya tadi, ucapan Linda seolah menunjukkan kalau dia ada bermain strategi dengan Presiden. Seolah pengunduran dirinya cuma sandiwara. Nggak tahu juga sih benar atau enggaknya.

Presiden kemudian meminta Linda untuk mendatangi Tusk dan menyuruhnya untuk menjatuhkan Frank. Presiden ingin Frank hancur dengan membuat opini seolah Frank gila kuasa. Nggak usah dibuat begitu pun banyak orang yang udah tahu kalau Frank itu gila kuasa. Mmm, mungkin publik belum banyak yang tahu. Lucunya, ternyata Frank juga punya rencana untuk menggunakan Tusk sebagai senjatanya. Ini sih siapa cepat dia dapat.

Kondisi Doug bikin penasaran banget. Apakah dia masih hidup atau udah mati? Kayaknya sih udah nggak bernyawa lagi, secara kepalanya dipukul pakai batu lebih dari sekali sama Rachel. Rachel sendiri berhasil melarikan diri dari Doug. Semoga Doug masih hidup. Kasihan dia.

Selain kondisi Doug, kelanjutan kasus Lucas masih menjadi tanda tanya buatku. Nggak tahu apakah akan diceritakan lagi di season selanjutnya. Begitu juga dengan nasib Christina, yang harus ikutan terhenti karirnya semenjak Linda mengundurkan diri sebagai Sekretaris Presiden. Padahal awalnya aku yakin kemunculan dia kembali di White House pasti membawa misi pribadi untuk mengungkap kematian pacarnya, Peter Russo.

Meski nggak begitu puas dengan chapter penutupnya, bagian ini lumayan mengharukan. Jarang-jarang lho ada momen mengharukan di series ini. Momen tersebut  menyangkut pidato pengunduran diri Presiden Garrett Walker. Wajah Garrett Walker benar-benar lelah dan frustrasi. Udah gitu Garrett dan istrinya, Patricia/Tricia, masih bisa senyum ramah sama Frank dan Claire. Well, mereka memang nggak tahu kejadian sesungguhnya di balik ini semua. Semoga mereka bahagia karena udah terbebas dari beban yang luar biasa berat sebagai seorang Presiden. Semangat juga untuk presidenku Pak Joko Widodo, juga presiden-presiden sebelumnya, yang pastinya juga mengalami kelelahan yang sama seperti Presiden Garrett Walker. Terima kasih sudah bersedia membagi pikiran dan kehidupanmu untuk terwujudnya Indonesia yang aman, damai, dan makmur.

***

 

 

MY FINE LINE

 

 

 
“The cook can’t blame his ingredients if he doesn’t like how they taste together.”

(Francis Underwood)

 

 

“Any pugilist worth his salt knows when someone’s on the ropes, that’s when you throw a combination to the gut and a left hook to the jaw.”

(Francis Underwood)

 

 

“We can’t avoid the battle, but we can choose the battlefield.”

(Francis Underwood)

 

 

“The gift of a good liar is making people think you lack a talent for lying.”

(Francis Underwood)

 

 

“If you want a punching bag, I will stand here and take the punches, as I have done time and time again, since I swore my oath.”

(Francis Underwood)

 

 

“Dismiss me or keep swinging, Mr. President.”

(Francis Underwood)

 

 

Dialogue

Remy: She and I don’t talk. We had a falling out.
Evelyn: Loyalty isn’t her thing.
Remy: No, it is not. I don’t think she’s loyal to anyone. Except maybe her husband.
Evelyn: Maybe… Maybe not.

 

 

“Why does everything have to be a struggle? Can’t some people just say “yes” for once?”

(Francis Underwood)

 

 

Dialogue

President Walker: Sometimes I feel like I’m losing control over my goddamn administration.
Frank: You’re under pressure, Sir, but you’re not losing control.

 

 

“Dogs are so predictable, aren’t they?”

(Francis Underwood)

 

 

“I’ve never expected much from the world. it’s ugly. It’s not a fair place. I’m happy to have what I have. I’m glad I have this.”

(Lisa Williams)

 

 

“We should be each others’ support system. Not cause each other stress. The foundation of this White House is not brick and mortar. It’s us, Garrett.”

(Patricia Walker)

 

 

“I’ve never thought higher of her than I do at this moment. She lost… but she played to win.”

(Francis Underwood)

 

 

“This hurts us both. But it’s not my wound to suture. Claire must be the surgeon. Only she can stop the bleeding.”

(Francis Underwood)

 

 

“A little sibling rivalry isn’t such a bad thing, especially between adopted boys. They either push each other to be the best versions of themselves or one of them get booted back to the orphanage.”

(Francis Underwood)

 

 

“I won’t leave one of my own bleeding on the field.”

(Francis Underwood)

 

 

“My job is to separate fact from fiction, just like yours is, Candy. But maybe fact and fiction don’t matter as much to the artistic sensibility. Maybe the lines are blurred for him.”

(Seth Grayson)

 

 

“Freddy is dangerous because you care too much. When we care too much, it blinds us.”

(Claire Underwood)

 

 

“Staying focus requires strength.”

(Claire Underwood)

 

 

“I can’t take back the bad I done. All I can do is to make my own way, like I been doin’, you understand? Ain’t pride, Frank.”

(Freddy)

 

 

“The road to power is paved with hypocrisy and casualties. Never regret.”

(Francis Underwood)

 

 

“I ain’t one for lookin’ back. Eyes ahead.”

(Freddy)

 

 

“I’ve always loathed the necessity of sleep. Like death, it puts the most powerful men on their backs.”

(Francis Underwood)

 

 

“We don’t have the freedom we once did.”

(Francis Underwood)

 

 

“It’s not beginning the story that I fear. it’s not knowing how it will end. Everyone is fair game now, including me.”

(Francis Underwood)

 

 

“I’m a lawyer, I presume nothing. But public opinion doesn’t have a law degree.”

(A Man)

 

 

“I work for no one but myself.”

(Jackie Sharp)

 

 

“I’m the bitch to a lot of top dogs, I’m fully aware and willing, but you’re worse. You’re Frank’s bitch and refuse to believe it.”

(Remy Danton)

 

 

“I care about you more than I should. But I’m getting tired of having to say it.”

(Remy Danton)

 

 

“From the lion’s den to a pack of wolves. When you’re fresh meat, kill and throw them something fresher.”

(Francis Underwood)

 

 

“We’re not young men. If we fail, we’ll die in a cage.”

(Francis Underwood)

 

 

“Don’t worry. It’s a stumble, not a fall.”

(Francis Underwood)

 

 

“I have zero allegiance to Frank Underwood. I won’t be manipulated by him, and I sure as fuck won’t be manipulated by you.”

(Jackie Sharp)

 

 

“The heart can choke the mind when all its blood flows back unto itself.”

(Francis Underwood)

 

 

“This office breeds paranoia. Don’t give into it, Sir.”

(Francis Underwood)

 

 

“I serve this nation and my president, not myself.”

(Francis Underwood)

 

 

“I don’t like Frank, but I hate being in the minority even more. We can’t let the Republicans control both houses of Congress.”

(Rep. Donald Blythe)

 

 

“Nobody on this planet wants to see Frank Underwood go to jail more than I do. I just don’t want to be sharing a cell with him.”

(Raymond Tusk)

 

 

“The truth is a powerful thing.”

(Patricia Walker)

 

 

“If there’s one skill you can’t deny, it’s my ability to whip votes.”

(Francis Underwood)

 

 

“I wrecked them, I can repair them.”

(Francis Underwood)

 

 

“Puccini’s a downer. I prefer something much more optimistic.”

(Francis Underwood)

 

 

“We all must make sacrifices to achieve our dreams. But sometimes we must sacrifice ourselves for the greater good. It is my honor to make such a sacrifice now.”

(Francis Underwood)

 

 

“He’s in the darkness now. And I’m the only beacon of light. Now we gently guide him toward the rocks.”

(Francis Underwood)

 

 

“Public opinion is the adversary now. Facts no longer matter.”

(President Garrett Walker)

***

 

 

 

Berdasarkan Novel Karya Michael Dobbs: “House of Cards”

Musik: Jeff Beal

Sinematografer: Igor Martinovic

Tayang Perdana: 14 Februari 2014

Nonton di: Netflix

Rating:  4½ dari 5 Bintang

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s