Margarita with a Straw

Agak aneh juga rasanya di Netflix aku malah lebih sering nonton series ketimbang film. Padahal dulu waktu subscribe justru karena pingin nonton filmnya. Mungkin karena filmnya ternyata nggak baru-baru amat, ya? Nah, supaya berimbang dengan porsi nonton series, aku akhirnya mengunduh dua judul film. Salah satunya, Margarita with a Straw. Sebuah film indie dari India. Ceritanya pingin nonton film yang nggak lagi atau pernah hype. Padahal sih nggak begitu aware juga sama film-film yang lagi beredar di bioskop, lol.

Hal pertama yang menarik dari film ini adalah kovernya yang penuh warna. Ditambah sosok seorang cewek yang tersenyum ceria sambil meminum sesuatu menggunakan sedotan. Ceritanya pun sepertinya bakalan nggak biasa karena nggak bercerita tentang tokoh yang memiliki kehidupan “normal”, melainkan tentang tokoh yang mengidap palsi serebral.

Oh iya, palsi serebral atau istilah Inggrisnya cerebral palsy adalah “gangguan saraf yang disebabkan oleh kerusakan atau perkembangan yang tidak normal. Ini terjadi pada bagian otak yang mengatur gerak, postur, dan keseimbangan. Sering kali, gangguan ini berkembang pada janin saat masih dalam masa kehamilan, namun ini juga dapat terjadi ketika atau setelah persalinan. Meski tidak progresif atau mengancam nyawa penderita, kondisi ini tidak dapat disembuhkan, bersifat permanen, dan berpotensi membuat penderita lemah.” Untuk lebih jelasnya bisa buka link di berikut: palsi serebral.

Setelah mulai nonton, ternyata yang mengidap palsi serebral adalah cewek yang di kover itu. Aku kira bukan dia. Habis di gambar itu dia terlihat ceria. Nama cewek itu Laila. Dan seperti di kover, kepribadiannya memang ceria. Dia jago bikin lirik dan melodi lagu. Nggak seperti di film-film bertemakan kekurangan fisik lainnya, di film ini nggak ada yang namanya bullying. Laila punya banyak teman yang sayang sama dia. Bahkan dari awal sampai akhir film, nggak ada satu pun penghinaan dari siapa pun yang diterima oleh Laila. Agak aneh juga, sih, jadinya. Biasanya pasti ada satu atau dua orang yang menjelekkan orang berkebutuhan khusus seperti Laila. Apa di Amerika atau di India memang sesopan itu ya orang-orangnya? Atau mungkin karena Laila udah kuliah makanya perundungan itu nggak terjadi?

Sebenarnya ada sih yang mengarah ke penghinaan. Ceritanya band kampus Laila dimenangkan di sebuah kompetisi musik hanya karena lagunya diciptakan oleh Laila, yang diketahui dewan juri menderita palsi serebral. Hal ini bikin band kampus Laila tersinggung abis. Terutama, tentunya, Laila.  Dia ingin diakui karena kemampuannya, bukan karena belas kasihan seperti itu. Apalagi lagu buatan Laila memang bagus. Banyak pendengar yang menikmati lagunya.

Kondisi seperti di atas pernah juga aku alami. Waktu itu ada sepasang wisatawan berkursi roda yang makan di restoranku. Guide-nya diajak makan oleh tamunya. Harusnya tamunya tambah porsi satu orang, tapi guide-nya membujuk supaya dikasih gratis karena katanya dia makannya nggak banyak. Akhirnya aku kasih dengan catatan ini kali terakhir, lain kali nggak boleh lagi. Terus aku bilang: “Ini pun saya kasih karena kasihan sama tamunya.” Detik itu aku tersadar harusnya aku nggak ngomong begitu. Sialnya, sama guide-nya malah disampaikan ke tamunya kalau mereka nggak perlu bayar tambahan satu porsi karena kasirnya kasihan sama mereka. Makanya tamunya jadi agak cemberut pas bayar di kasir. Sungguh aku merasa menyesal dan bersalah udah ngomong begitu. Maunya membantu, tapi sikapku justru malah berkesan mengasihani, karena dikasihani mungkin hal yang paling dibenci oleh orang-orang berkebatasan fisik seperti mereka.

Kadang kita suka nggak memahami benar perasaan mereka. Kedua pihak memang harus saling hati-hati dalam bertindak dan memahami maksud sebenarnya satu sama lain. Seperti para dewan juri di kompetisi itu. Niatnya mungkin ingin membantu atau membahagiakan Laila, tapi jadinya malah seperti mengasihani dan tidak mau mengakui kalau lagu buatan Laila memang layak menang.

Okay, back to the movie. Awalnya aku merasa film ini biasa aja. Malah aku cenderung sebal sama Laila karena dia suka menunjukkan wajah memberengut setiap cowok yang dia suka justru malah tertarik sama cewek lain. Laila kayak nggak mau menerima kenyataan dan dia seolah menganggap kalau cowok tersebut nggak suka sama dia karena dia “berbeda”. Harusnya Laila nggak ngedumel seperti itu. Ikhlasin aja, gitu. Toh perasaan nggak bisa dipaksakan. Dan aku yakin ada kok cowok yang nggak melihat cuma sebatas fisik. Selain itu, belum tentu juga cowok yang ditaksir Laila itu nggak tertarik sama Laila karena keterbatasan fisiknya.

Hal lain yang bikin film ini awalnya kurang menarik adalah nggak ada ledek-ledekannya seperti yang sempat aku utarakan di atas. Akibatnya film ini kurang begitu realistis. Dan maaf beribu maaf, aku agak takut juga melihat gerak tubuh penderita palsi serebral. Ini kan bukan hal yang bisa ditemui setiap hari, jadi harap maklum kalau aku merasa nggak nyaman dengan tawa, gaya bicara dan gerak tubuh mereka. Semoga nanti bisa lebih terbuka pikiranku.

Aku juga terkendala sama subtitle film ini. Film ini menggunakan bahasa India dan juga bahasa Inggris dan memang ada subtitle bahasa Inggrisnya setiap kali si tokoh bicara pakai bahasa India. Sayangnya, subtitle nggak selalu tersedia kalau si tokoh ngomong pakai bahasa Inggris. Mungkin dipikirnya yang nonton ini adalah orang dengan kemampuan listening bahasa Inggris yang bagus, makanya subtitle baru dimunculkan kalau seandainya pengucapan bahasa Inggris si tokoh, yang sebagian besar orang India, nggak begitu bagus/sesuai standar native speaker. Jadi ada beberapa percakapan yang nggak aku pahami.

Satu-satunya hal yang paling menarik dari film ini adalah isu seksualnya. Film ini seolah menyadarkanku kalau penderita palsi serebral pun, terlepas dari keterbatasan gerak tubuhnya, memiliki hasrat seksual yang sama dengan manusia normal lainnya. Mereka sama penasarannya dengan anggota tubuhnya. Apalagi Laila sudah memasuki usia dewasa, di mana hormon-hormon yang memicu hasrat seksual tengah meningkat. Di film ini diceritakan Laila suka membuka website-website porno dan kemudian menyentuh bagian sensitif di tubuhnya untuk memuaskan hasrat sekaligus rasa ingin tahunya. Nggak cuma menyentuh-nyentuh tubuh sendiri, di awal film malah Laila pernah mengajak cowok berkursi roda di kampusnya untuk ber-french kiss. Cowok ini seolah jadi semacam alat eksperimen, gitu. Tapi nggak lama mereka berpisah karena Laila belajar di Amrik.

Ini akhirnya membuatku berpikir kembali, bagaimana kalau Laila nggak pernah mengalami apa yang sebagian manusia normal alami? Let’s get real. Menikah mungkin bukan sesuatu yang pasti untuk Laila. Lalu, kalau sudah nggak menikah, siapa yang akan memberikan nafkah batin itu pada Laila? Mungkin bisa memuaskan diri sendiri, seperti yang sudah pernah dilakukannya, tapi tetap aja ada yang bikin penasaran mengenai kehidupan seksual mereka. Dariku, yang terbaik aja untuk mereka. Mark O’Brien aja, yang menderita kelumpuhan dari mulai bagian leher ke bawah karena komplikasi polio di film The Sessions, bisa memenuhi kebutuhan seksualnya, yaitu dengan menyewa seorang wanita untuk melepas keperawanannya sebagai seorang cowok.

Setelah rasa penasaran mengenai kehidupan seksual para penderita palsi serebral memenuhi otakku, eh nggak tahunya malah dikasih ledakan plot sama film ini. Laila akhirnya bisa juga merasakan keintiman itu! Semua ini berawal dari pertemuannya dengan Khanum (Sayani Gupta) yang tunanetra. Bersama Khanum, Laila mulai mengenal perasaan cinta terhadap sesama jenis. Iya, Laila jadi pacaran sama Khanum, alias lesbian! Dan mereka udah ML! Nggak cuma sama Khanum, beberapa hari kemudian Laila malah ML sama Jared, coba! Jared ini teman kuliahnya di Amrik yang ditugasi pihak kampus untuk membantu Laila kalau ada kesulitan belajar. Nggak nyangka banget kalau Laila bakalan bisa mengalami itu dalam waktu yang berdekatan. Incredible, I have to say.  Entah itu anugerah atau bencana. Mungkin ini lebih ke bencana, karena semenjak Laila mengakui perselingkuhannya pada Khanum, hubungannya putus. Lalu, setelah Laila mengakui pada ibunya kalau dia dan Khanum pacaran, ibunya langsung masuk rumah sakit karena ternyata kanker ususnya selama ini kambuh lagi dan ini dirahasiakan oleh kedua orangtuanya. Nggak lama ibunya pun meninggal. Sedih banget, pokoknya.

Meski udah banyak hal yang sesungguhnya menarik dari film ini, aku masih aja merasa film ini biasa. Seolah ledakan-ledakan plot itu cuma sesuatu yang digunakan penulis skenario untuk memeriahkan dan mempercantik film. Sekali lagi, mungkin karena karakter Laila yang cenderung nyebelin? Dan karena dia nggak diejek orang karena kondisinya? Atau mungkin memang ada yang salah sama selera filmku?

Pendapatku mengenai film ini baru mulai berubah ketika aku merasa penasaran dengan sosok Kalki Koechlin yang memerankan Laila. Apa dia benar menderita palsi serebral atau dia sesungguhnya orang normal yang berakting menjadi penderita palsi serebral? Akhirnya aku ngecek Wikipedia. Di sana tertulis kalau dia adalah orang normal! OMG! Tapi kok bisa aktingnya semeyakinkan itu?! Serius, awalnya aku mengira dia memang penderita palsi serebral. Karena khawatir salah mengartikan tulisan di Wikipedia, akhirnya aku cek di YouTube. Ternyata Kalki ini memang benar orang normal. Man, keren banget akting aktris India yang satu ini. Standing ovation from me to you, Kalki.

Nggak cuma aktingnya keren, Kalki ini terbilang aktris yang cerdas. Pembicaraannya mengenai kaum wanita di YouTube keren banget. Udah gitu dia bisa bikin puisi dan jenis karya tulis lainnya. She’s so open minded about her surrounding. Mungkin karena kedua ortunya hippies? Kalau nggak salah dengar dan ingat, Kalki bilang ortunya hippies. Dia juga keturunan Prancis. Intinya, aku mulai mengagumi Kalki Koechlin dan pingin nonton film-filmnya yang lain. Kebetulan banget ada judul film dia yang lain di Netflix.

Selain akting tokoh-tokohnya yang mengagumkan (khusus pemeran Khanum, aku udah kagum duluan sebelum baca Wiki, karena suaranya yang bagus, hehe. Selain itu dia juga hitam manis. Dan aku makin kagum karena dia juga sebenarnya memiliki penglihatan yang normal), banyak hal yang patut diacungi jempol dari proses pembuatan filmnya. Persiapannya mantap banget dan memakan waktu yang terbilang lama. Makanya tokoh Laila dan Khanum bisa benar-benar meyakinkan sebagai penderita serebral palsi dan penyandang tunanetra. Bahkan untuk adegan seksnya pun ada coaching-nya pula! Katanya biar feeling-nya dapat. Duh, salut banget deh sama proses kreatifnya. Keren!

Selain penjelasan di Wiki, hal pertama yang bikin pendapatku berubah mengenai film ini adalah karena film ini mendapat banyak penghargaan. Jujur, sebenarnya aku nggak suka kalau terpengaruh sama embel-embel penghargaan itu. Kayak nggak punya pendapat sendiri aja. Tapi setelah membaca penjelasan di Wiki, rasa-rasanya film ini memang patut mendapat apresiasi lebih dariku, seperti halnya dari para kritikus film itu. Apalagi film ini dibuat oleh orang yang bersentuhan langsung dengan penderita palsi serebral dan biseksual. So… risetnya bisa dipercaya.

Film ini ditutup dengan sebuah kecerian yang menular. Aku ikut merasakan kebahagiaan yang dipancarkan oleh Laila. Dalam layar itu, Laila meminum margarita di dalam mug-nya menggunakan sedotan (karena Laila nggak bisa pegang gelas cantik yang biasa dipakai untuk minum margarita dan tentunya juga nggak bisa meminum langsung minumannya dengan mulutnya) dan tersenyum pada pantulan dirinya di sebuah cermin yang terletak di hadapannya. It’s a very poignant yet a very beautiful  moment to watch. Di saat yang nyaris bersamaan, Laila harus kehilangan ibunya dan juga satu lagi orang spesial dalam hidupnya, yaitu Khanum. Setidaknya Laila masih punya ayah dan juga adik cowoknya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku baca di Wikipedia kalau sewaktu ibunya meninggal, Laila memainkan sebuah rekaman berisi ucapan perpisahan darinya untuk sang ibu. Tapi kok aku nggak dapat bagian itu ya di Netflix? Aneh. Yang ada cuma Laila memutar rekaman suara ibunya yang lagi bernyanyi.

***

 

 

MY FINE LINE

 

 

 “Being friends with normal people won’t make you normal.”

(Dhruv)

 

 

“Even in their wildest dreams they wouldn’t guess that we’re lovers!”

(Khanum)

 

 

“It’s wonderful. But so scary.”

(Laila)

 

 

“No matter how educated Indian men are, on some level, all women are just maids to them! Look at your own father. Come what may, he just wants my cooking. They should be lined up and made to wash clothes!”

(Shubhangini Damle)

***

 

 

 

Sutradara: Shonali Bose & Nilesh Maniyar (co-director)

Penulis Skenario: Shonali Bose

Musik: Mikey McCleary

Sinematografer: Anne Misawa

Desain Kostum: Niharika Bhasin & Nikia Nelson

Tayang Perdana: 8 September 2014

Durasi: 1 Jam 40 Menit

Nonton di: Netflix

Rating: 3½ dari 5 Bintang

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s