The Hunter (Pemburu) – Asa Nonami

Detektif Takako Otomichi adalah mantan polisi patroli sepeda-motor, satu dari sedikit perempuan di departemennya. Ia dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang pelakunya tampaknya bukan manusia. Untuk memecahkan kasus ini, Takako dipasangkan dengan Takizawa, detektif senior yang sinis dan tak senang mendapat partner detektif perempuan. Penyelidikan mereka mengarah pada penemuan yang mengejutkan.

The Hunter adalah karya Asa Nonami, penulis Jepang bestseller pemenang penghargaan Japanese Mystery and Suspense Award. The Hunter memenangkan penghargaan Naoki yang bergengsi pada tahun 1996.

***

 

TOKOH

 

 

  1. Masayo Kizaki: Pramusaji paruh-waktu, 19 tahun, murid sekolah kejuruan. Menjadi salah satu korban luka parah di kebakaran restoran tempatnya bekerja.
  2. Takako Otomichi: Tokoh Utama. Seorang detektif wanita, sudah bercerai dengan suaminya 4½ tahun yang lalu karena suaminya selingkuh. Bekerja di kepolisian Tokyo. Dia anggota Unit Investigasi Bergerak Ketiga. Tinggi dan ramping. Umur kira-kira 28 tahun.
  3. Tamotsu Takizawa: Detektif senior, berbadan gemuk, pendek, kekar, usia kira-kira 45 tahun. Dia dipasangkan dengan Takako dalam kasus yang sedang ditangani. Sama seperti Takako, Takizawa pun sudah bercerai dengan istrinya, tapi sudah memiliki anak yang sudah besar-besar (dua, kalau nggak salah)
  4. Wada: Detektif termuda di antara Detektif Takako dan Takizawa.
  5. Sorimachi: Detektif juga.
  6. Nagumo: Pimpinan DKM (Divisi Masalah Kriminal).
  7. Wakita: Kepala Divisi Investigasi Pertama Tachikawa.
  8. Miyagawa: Pimpinan pengolah TKP.
  9. Kapten Watanuki: Pimpinan investigasi.
  10. Takuma Sugawara/Teruo Hara: Korban tewas kebakaran di restoran. Umurnya 34 tahun. Takuma Sugawara adalah nama aslinya. Dia punya usaha Jasa Kencan yang mempekerjakan anak-anak SMA. Punya banyak kenalan wanita kaya dan kesepian.
  11. Sadako Kitayama: Ibu rumah tangga berumur 44 tahun. Kenalannya Teruo Hara. Dia sempat membuat janji temu dengan Teruo Hara di malam kejadian. Namun batal karena peristiwa kebakaran itu.
  12. Tomoko: Adik perempuan Takako. Bekerja di kantor pemerintah dan mempunyai hubungan gelap dengan suami orang.
  13. Kouko: Adik laki-laki Takako.
  14. Kazuki Horikawa: Lelaki pertama yang tewas digigit dan dicabik hewan buas.
  15. Mayo Uehara: Murid cewek kelas 2 SD, sering dirundung. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seorang wanita diserbu hewan buas sejenis anjing hingga tewas.
  16. Bu Yokota: Guru Mayo Uehara. Dia sepertinya membenci Mayo karena tak pernah membela Mayo setiap anak ini dirundung teman-temannya.
  17. Chieko Yoshii: Nama korban wanita yang diserang hewan buas hingga tewas. Nama gadisnya Inada. Berumur 28 tahun. Ibu rumah tangga yang belum genap satu tahun menikah.
  18. Tsutomu Yoshii: Suami Chieko.
  19. Hatakeyama: Direktur eksekutif Asosiasi Anjing Polisi.
  20. Funatsu: Seorang dokter di rumah sakit jiwa.
  21. Aki: Sepertinya dia salah satu pasien rumah sakit jiwa.
  22. Emiko Takagi: Pasien rumah sakit jiwa. Meski berumur 26 tahun, sikap dan cara berpikirnya persis anak-anak. Dia adalah anak bungsu Kasahara Takagi. Sebelum masuk RSJ, dia pecandu narkoba dan gaya hidup bebas.
  23. Topan: anjing serigala milik Emiko dan Kasahara Takagi.
  24. Umemoto: Pimpinan regu anjing serigala. Umur sekitar 40 tahun. Berwajah bundar dan sikapnya ramah.
  25. Katsuhiro Takagi: Ayah Emiko Takagi. Dia mantan anggota Departemen Kepolisian Prefektur Yamanashi dari Divisi Identifikasi. Dulu ia bertanggung jawab untuk melatih anjing-anjing polisi. Perawakannya pendek dan kekar. Pendiam. Sebelumnya namanya adalah Katsuhiro Kasahara, namun kemudian ia diangkat oleh ayah istrinya sebagai anak agar mau menggunakan nama keluarga Takagi. Akhirnya namanya menjadi Katsuhiro Takagi.
  26. Kanai: Entah siapa.
  27. Tatsuko Sawayama: Kepala perawat di rumah sakit yang merawat Katsuhiro Takagi.
  28. Tada: Polisi
  29. Akiko: Mantan istri Katsuhiro Takagi. Ibunya Emiko.
  30. Masanori Ogawa: Dia adalah pelaku pembakaran terhadap Teruo Hara. Dia memiliki usaha yang memproduksi dan menjual alat-alat kesehatan. Usahanya ini beroperasi di gedung yang sama dengan restoran tempat Teruo Hara tewas.
  31. Taku Mizutani: Korban tewas, yang diduga karena Topan.
  32. Imazeki: Mitra baru Takizawa. Seumuran dengan Takizawa dan mempunyai sifat keras kepala dan gigih.
  33. Teruko Iohara: Lupa siapa.

***

 

 

ULASAN

 

 

Kover novel ini langsung menarik perhatianku begitu tertangkap mata. Warnanya yang kelam menggambarkan suasananya itu sendiri, dan rasa-rasanya semakin menambah kesan misterius sosok The Hunter yang dimaksud dalam novel ini. Ditambah lagi dengan tulisan di kover belakang yang bilang kalau buku ini mendapat penghargaan yang bergengsi di Jepang, yaitu penghargaan Naoki. Pasti ceritanya bakalan keren banget.

Novel ini bercerita tentang seorang detektif wanita bernama Takako Otomichi yang menangani sebuah kasus yang terbilang ganjil. Terjadi kebakaran di sebuah restoran 24 jam yang berawal dari terbakarnya seorang pria secara misterius hingga menewaskan dirinya. Anehnya, luka tersebut sebagian besar terjadi di area pinggang ke atas, sedangkan dari pinggang ke bawah malah jauh lebih ringan. Normalnya kan si api nggak pilih-pilih tempat, ya? Hal ini membuat tim kepolisian kesulitan untuk mengidentifikasi korban tewas tersebut. Kecuali bahwa dia adalah seorang lelaki.

Dalam kasus tersebut, Takako nggak bekerja sendirian. Dia berpartner dengan seorang detektif lelaki senior yang jutek dan irit bicara bernama Tamotsu Takizawa. Dari hari pertama dipasangkan, mereka udah bisa menduga kalau mereka saling nggak suka. Dan benar saja. Mereka memang nggak nyaman dengan satu sama lain. Selain rumitnya kasus, ketidakcocokan tersebut membuat penyelidikan semakin menguras tenaga dan perasaan masing-masing. Belum lagi dengan kehidupan rumah mereka sendiri.

Meski jarang banget berkomunikasi dan saling bertukar pikiran, mereka berdua terus mencoba untuk bekerja dengan profesional. Penyelidikan demi penyelidikan dijalani dengan penuh keseriusan meski pada akhirnya beberapa di antaranya hasilnya nihil. Hingga akhirnya beberapa pembunuhan sadis terjadi, yang mengarah pada keterlibatan seekor anjing serigala. Nggak cuma itu. Melalui temuan baru tersebut, diketahui bahwa korban-korban tewas itu memiliki cukup keterkaitan dengan satu sama lain, terutama dengan masa lalu mereka. Belakangan, baru mereka ketahui kalau sebenarnya itu adalah dua kasus dengan dua tersangka yang berbeda.

Mengacu pada keterkaitan beberapa tokoh yang tewas dengan masa lalu mereka, ada hal yang nggak begitu jelas diceritakan oleh penulis. Untuk kematian Teruo Hara dan Kazuki Horikawa, aku masih bisa berasumsi kalau mereka tewas karena tindakan mereka di masa lalu terhadap Emiko Takagi. Sayangnya, aku nggak mendapat penjelasan yang memuaskan kenapa Chieko Yoshii dan Taku Mizutani harus mati dengan cara yang sama seperti Kazuki Horikawa, yaitu melalui penyerangan ganas oleh anjing serigala. Penulis cukup berbaik hati mau memberikan sedikit kisah hidup Chieko Yoshii, meski tetap saja sulit untuk menghubungkan kematiannya dengan Emiko. Sementara Taku Mizutani ringkas banget riwayat hidupnya (kalau nggak salah dia adalah pendeta atau seseorang yang tinggal di kuil) dan tentu saja ini membuatku makin sulit untuk mengaitkan kematiannya dengan Emiko. Apa ada yang terlewat olehku? Nggak tahu, deh.

Hal lain yang kurang jelas tujuannya dari cerita ini adalah tokoh bernama Mayo Uehara. Tokoh gadis cilik ini diceritakan dalam beberapa halaman oleh penulis. Digambarkan ia memiliki imajinasi yang unik tentang seekor anjing. Selain itu, curahan hati Mayo mengenai sosok ibunya membuatku berpikiran kalau ibunya bukanlah wanita biasa, alias seorang penyihir atau sejenisnya yang berhubungan dengan dunia supranatural, atau mungkin punya gangguan jiwa. Narasi penulis mengenai sosok Mayo pun membuatku menduga kalau tokoh ini akan memegang peranan penting dalam pengungkapan misteri ini. Nggak tahunya tokoh ini nggak pernah muncul lagi di halaman-halaman berikutnya. Karena kehadirannya yang “unik”, aku beranggapan kalau tokoh Mayo adalah senjata penulis untuk mengecoh pembaca, dalam hal ini aku. Nah, mungkin kematian-kematian yang nggak begitu jelas kaitannya dengan Emiko Takagi pun berfungsi sebagai pengecoh? Bisa jadi, kan? Secara ini adalah novel misteri Kurang asyik kalau pembacanya nggak salah tebak pelaku.

Cukup berbeda dengan novel-novel misteri yang melibatkan detektif/polisi yang pernah kubaca sebelumnya, di novel ini banyak juga diceritakan mengenai awal mula pembentukan sebuah tim penyelidikan hingga proses-proses menguras energi yang dilalui mereka sebelum kasus tersebut benar-benar menemukan titik terang.

“Namun usaha sia-sia adalah bagian dari setiap investigasi. Bahkan seandainya kau berhasil menemukan seutas benang longgar pada gulungan besar benang yang mewakili sebuah kasus, dan memburainya sekuat tenaga, kemungkinan besar hal itu tidak mengarah ke mana-mana. Untuk menemukan seutas benang yang mereka kejar, para detektif terlebih dahulu harus memburai berutas-utas benang dengan sia-sia.”

(Hal. 101)

Dari kutipan di atas, aku baru sadar kalau aku, sebagai pembaca, sebenarnya tengah ikut merasakan kejenuhan dan kebuntuan pikiran yang sama dengan Takako dan Takizawa. Cuma awalnya aku mengira apa yang aku rasakan adalah kebosanan pada jalan ceritanya. Oke, mungkin ceritanya memang terbilang membosankan. Sebagai novel misteri, plot yang disajikan oleh penulis nggak begitu bikin gemas. Alurnya lambat dan penyelidikannya berganti dari satu penyelidikan ke penyelidikan lain, tanpa aku tahu kemana penyelidikan itu akan mengarah. Kalau di novel Agatha Christie biasanya aku udah punya tokoh yang aku curigai begitu suatu pembunuhan terjadi, tapi di novel ini aku masih meraba-raba dan terus meraba-raba. Belum beres penyelidikan, udah disuruh menyelidiki hal yang lain. Yang semula cuma berkisar di kebakaran di sebuah restoran, terus bergulir ke zat-zat berbahaya, dan ujung-ujungnya fokus berganti pada anjing serigala (khusus yang ini aku suka sih). Memangnya makhluk jenis apa sih yang membunuh korban-korban tewas itu? Di situ aku mulai merasa jengkel dan lumayan ogah-ogahan bacanya. Takutnya hasilnya nihil.

Namun ketika ditelaah lagi, bisa jadi penulis justru sudah berhasil mengajakku untuk merasakan apa yang kedua detektif itu rasakan? Karena memang seperti itulah dunia kerja para detektif di luar sana. Sebuah dunia yang penuh ketidakpastian dan gelap, di mana mereka hanya bisa meraba-raba dan memburai berutas-utas benang demi mendapatkan satu benang yang sekiranya akan memberikan jawaban atas kasus yang mereka hadapi. Kalau sudah memikirkan hal ini, agak berat juga kalau bilang buku ini membosankan. Apalagi novel ini menang penghargaan. Mungkin itu salah satu hal yang membuat para juri memilih novel ini sebagai pemenangnya. Tapi sebagai pembaca, aku tetap mengharapkan ada elemen yang bikin ketagihan dari setiap halamannya, elemen yang seru. Nggak sedikit orang yang memutuskan berhenti baca karena alur yang lambat dan kisah yang bertele-tele dan nggak jelas.

Dari segi terjemahan, aku cukup menikmati novel ini. Awalnya memang agak kaku, tapi lama-lama mulai terbiasa. Sebelumnya aku pernah baca novel Jepang terjemahan, tapi baru di novel ini aku sering menemukan kata nah. Bukannya nggak suka. Masalahnya, di beberapa kalimat, kata tersebut seperti salah tempat. Jadinya kurang nyaman sewaktu dibaca.

Sudut pandang yang digunakan pun kadang bikin aku sedikit bingung dalam memahami siapa yang sedang berbicara atau berpikir: si tokoh itu sendiri atau naratornya/penulis. Nggak sering sih. Kadang-kadang aja. Novel ini sendiri menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi aku nggak tahu pasti apakah ini masuk ke sudut pandang orang ketiga serba tahu atau pengamat. Mungkin yang pengamat? Nah, membedakan isi pikiran Takako dan Takizawa bukan hal sulit. Yang cukup sulit itu adalah memutuskan di mana Takako dan Takizawa selesai menuangkan isi pikirannya/curahan hatinya, dan bahwa tulisan/jalan cerita sudah kembali menjadi milik narator, bukan lagi para tokohnya. Setahuku, kalau tokoh sedang berkeluh kesah dalam hati, tidak diucapkan, maka penulisannya harus pakai cetak miring. Tapi hal itu nggak aku temukan di novel ini, padahal jelas-jelas si tokoh sedang berbicara di dalam hati. Inilah yang bikin bingung. Apalagi kadang nggak diganti ke paragraf baru, tapi terus aja disambung dalam satu paragraf. Apa benar itu pemikiran si tokoh? Atau udah berganti ke pemikiran si narator? Atau, apa aku salah paham ya soal aturan cetak miring itu? Entahlah. Yang jelas kadang aku mengalami sedikit kebingungan seperti yang aku ceritakan di atas.

Kembali ke isi cerita. Selain membahas proses kerja para detektif, novel ini juga memberikan gambaran yang cukup gamblang mengenai lingkungan kerja mereka. Meski settingnya di Jepang dan dibuat oleh penulis Jepang, yang memungkinkan ini berdasarkan riset penulis atas kehidupan kepolisian di Jepang, bisa jadi di Indonesia pun lingkungan kerjanya nggak jauh beda dengan yang dituturkan di sini. Posisi wanita sebagai seorang detektif masih dipandang sebelah mata, karena beberapa tokoh di sini menganggap kalau detektif adalah tugasnya seorang lelaki. Ini pekerjaan yang berat dan seorang wanita nggak akan bisa menyamai kinerja mereka.

Aku jadi penarasan, apa di Indonesia ada juga ya detektif wanita? Beda kan ya dengan Polwan? Soalnya di Indonesia jarang banget ada cerita atau film detektif yang tokohnya wanita. Kalau jurnalis kan udah melimpah. Seandainya ada, apakah dia juga mengalami apa yang Takako alami?

Oh iya, kalau nggak ngecek Wikipedia, aku nggak akan tahu kalau novel ini ternyata udah diadaptasi ke layar lebar, judulnya Howling. Yang buat bukan orang Jepang, tapi orang Korea. Semua pemerannya kalau nggak salah orang Korea. Sempat ngintip sedikit isi filmnya. Di bagian awal udah ada perbedaan tentang peristiwa kebakarannya. Selain itu, anjing yang digunakan di film itu kayaknya bukan anjing serigala karena ukurannya nggak sebesar yang dideskripsikan di novel ini. Padahal aku cek di Google, anjing serigala itu memang besar banget ukurannya jika disandingkan dengan orang dewasa.

Wolfdog (2)

***

 

 

SERBA-SERBI

 

 

  1. Natto: Nasi kedelai.
  2. Kotatsu: Penghangat yang berbentuk meja pendek, di bawahnya ada pemanas listrik, lalu di atas meja tersebut dilapisi dengan futon (jenis perangkat tidur tradisional Jepang). Penghangat tersebut dipakai dengan cara memasukkan kaki sampai ke pinggang di bawah meja agar tubuh terasa hangat. Klik di sini untuk lebih jelasnya.
  3. Tanmen: Bakmi dengan kuah asin serta ditaburi daging goreng dan sayur-sayuran.
  4. Kurofuku: Terjemahan harfiahnya “setelan hitam”
  5. Neologisme: menciptakan kata-kata baru yang adalah salah satu gejala schizophrenia.
  6. Prosedur resmi menyebutkan bahwa pernyataan-pernyataan itu (keterangan saksi) harus didapatkan secepat mungkin, sementara orang-orang masih dikuasai ketegangan; karena begitu ketegangan awal itu lenyap, orang-orang cenderung menghindar untuk mengatakan apa pun yang bisa memberikan kesan buruk bagi diri mereka sendiri.
  7. “Posisi petinju”, alias postur bersiaga adalah posisi khas korban-korban (kebakaran) yang mengalami luka bakar parah.
  8. Untuk alasan apa pun, dari semua profesi, para dokter adalah yang paling tidak terkesan dengan polisi.
  9. Ada beberapa alasan pribadi kenapa Takizawa tidak suka memiliki partner seorang Takako:
    Pertama, ia tidak memercayai wanita. Mereka plin-plan. Mereka emosional. Mereka pembohong. Mereka menikammu dari belakang.
    Kedua, Takizawa pada dasarnya tidak setuju dengan adanya detektif-detektif perempuan. Ini pekerjaan laki-laki, dunia laki-laki. Bahaya mengintai di setiap sudut dan pekerjaannya berat. Kau melihat sisi gelap mentalitas manusia. Stres menumpuk, jam kerja tidak teratur, dan pekerjaan yang membutuhkan keputusan cepat dan tindakan cepat. Siapa pun yang mendaftar untuk pekerjaan seperti ini harus mempunyai keberanian dan tekad untuk menekuninya.
    Ketiga, kaum wanita sama artinya dengan banyak masalah. Hal-hal remeh seperti buang air kecil. Mereka tak bisa melakukannya di mana pun seperti laki-laki. Dan saat mereka pulang ke rumah di larut malam, kau jadi mencemaskan mereka karena berjalan sendirian dalam gelap. Kau bahkan harus menjaga bicaramu; kau tidak bisa seenaknya mengatakan apa pun yang kauinginkan dengan bebas dan mudah, seperti yang bisa kaulakukan dengan laki-laki lain.
    Keempat—sesungguhnya, alasan inilah yang entah mengapa justru terasa paling berat bagi Takizawa—ketika Takako Otomichi pertama kali muncul di kantor pusat, terdengar gumaman di antara para polisi di sekitarnya:
    “Sejak kapan kita mempunyai wajah secantik itu di kepolisian.”
    “Aku tak keberatan ia menjadi mitraku beberapa kali.”
    Terus terang, Takizawa sendiri juga berpikir bahwa Takako adalah wanita yang menarik, hanya untuk dipandang. Itu saja nilai dirinya.
    Seandainya mau ketik alasan Takizawa benci Takako, ada di hal. 85.
  10. Anjing serigala, seperti yang bisa ditebak dari namanya, adalah ras yang diciptakan dengan cara mengawinsilangkan serigala dengan anjing. Meskipun, di Jepang dan di Amerika Serikat, anjing serigala tidak diakui secara resmi oleh klub-klub anjing. Itu artinya klub anjing tidak mau mengeluarkan surat-surat stambom untuk mereka. Oleh karenanya, mereka tidak bisa turut berpartisipasi dalam pertunjukan atau perlombaan apa pun yang disponsori klub-klub anjing.  Padahal anjing serigala bukan langka; sesungguhnya jumlah mereka cukup banyak. Di Prancis, mereka diakui secara resmi.
  11. Jenis serigala yang terutama dipakai untuk membiakkan adalah serigala kutub, serigala padang es, serigala kayu, dan serigala British Columbia. Serigala hutan, yang dikenal karena ukuran tubuhnya yang besar dan daya tahannya terhadap hawa dingin, adalah pilihan yang populer untuk dibiakkan. Mereka dikawinsilangkan dengan anjing-anjing lokal. Di Eropa, yang menjadi pilihan adalah anjing herder, tapi di tempat pembiakan kami di Alaska, kami biasanya mengawinsilangkan serigala dengan anjing huski.
  12. Dari penampilan luar, anjing serigala biasanya berukuran satu koma satu meter sampai satu koma enam meter dari kepala sampai bokong, dengan ekor sepanjang 30-50 sentimeter. Tinggi pundak mereka sekitar 65-75 sentimeter pada umumnya.
  13. Bobot anjing serigala sedikit bervariasi, berkisar dari 25 kilo sampai 75-85 kilo pada spesies-spesies yang lebih besar. Secara rata-rata bobot mereka sekitar 50 kilo.
  14. Anjing serigala mempunyai kaki lebih panjang daripada anjing biasa, dan jauh lebih berotot sehingga mempunyai tenaga yang besar untuk melompat; ia dengan mudah bisa melampaui jarak sejauh lima setengah meter. Anjing serigala bisa berlari dengan kecepatan tinggi selama dua puluh menit; dengan kecepatan lebih rendah, sekitar empat puluh sampai lima puluh kilo, mereka bisa terus berlari cukup lama. Ada anjing-anjing serigala yang diketahui pernah mencapai jarak sejauh dua ratus kilometer dalam sehari; sebegitu tangguhnya mereka.
  15. Tidak seperti profil anjing biasa, anjing serigala tidak memiliki cekungan di atas moncongnya; moncong anjing serigala, sebagai dampak keturunan serigalanya, berbentuk panjang dan agak lurus. Ujung hidungnya besar, dan indra penciumannya sangat tajam; mereka dilaporkan mampu mendeteksi bau mangsa sekitar dua setengah kilo jauhnya. Rahang mereka besar dan sangat bertenaga, dengan kemampuan menggigit—meskipun jauh di bandingkan harimau, puma, singa, atau binatang -binatang besar sejenisnya—kira-kira dua kali lipat kemampuan anjing herder, dan berkekuatan sekitar enam ratus lima puluh kilo per enam setengah sentimeter perseginya.
  16. Meskipun daya terjang dan indra penciuman anjing serigala merupakan ciri-ciri penting yang membedakan, namun yang benar-benar istimewa adalah kehebatan daya ingat dan kecerdasan mereka. Saat ini ada anjing-anjing serigala yang dilatih untuk menjadi anjing-anjing polisi, dan menurut informasi mereka memiliki catatan prestasi yang gemilang.
  17. Serigala sebenarnya seratus persen binatang liar. Anjing serigala tentu saja adalah campuran, tapi semakin besar rasio darah serigala terhadap darah anjing, semakin kuat ciri liar yang terkandung. Lebih baik apabila kita tidak menganggap mereka sebagai anjing; sebaliknya, anggap mereka sebagai jenis binatang yang benar-benar berbeda. Jenis yang sukses dilatih menjadi anjing-anjing polisi adalah jenis yang darah serigalanya lumayan rendah, sekitar delapan puluh persen.
  18. Anjing serigala adalah binatang pintar dengan berbagai karakter. Dalam cerita-cerita dongeng dan legenda-legenda rakyat, serigala biasanya dianggap sebagai penjahat, dan kita cenderung menganggap mereka buas dan menakutkan, tapi itu keliru. Pada dasarnya, binatang-binatang liar itu sangat penakut dan penuh kehati-hatian. Serigala juga sama. Kami menyebut mereka ‘pemalu’. Mereka takut terhadap orang asing. Mereka mempunyai perasaan yang peka, sehingga mereka juga bisa bersikap ramah kepada manusia yang memperlakukan mereka dengan ramah.
    Anjing serigala mewarisi ciri-ciri ini, sekali lagi dengan proporsi sesuai dengan jumlah darah serigala yang terkandung di dalam pembuluh-pembuluh darah mereka. Hanya segelintir yang diketahui membenci manusia dan penakut, tak mampu menunjukkan perasaan sayang kepada siapa pun selain kepada pemilik mereka, tak mampu berubah menjadi semacam binatang piaraan seperti yang diharapkan oleh para pemilik mereka. Sementara lainnya, tentu saja, dikenal sebagai binatang yang lebih ramah dan suka bermain-main, bahkan, secara keseluruhan, mereka kelihatannya hidup dengan aturan-aturan mereka sendiri. Mereka bukan jenis binatang jinak yang bisa dibentuk oleh manusia menjadi binatang piaraan sesuai dengan tujuan mereka sendiri. Oleh karena serigala biasa hidup bergerombol di alam bebas, anjing serigala pun butuh teman sepanjang waktu dan kasih sayang dalam jumlah banyak. Apabila kita memperlakukan anjing serigala sebagai anggota keluarga, menyayanginya, dan memenangkan kepercayaannya, ia akan mampu menjadi anjing yang hebat.
  19. Anjing serigala secara fisik adalah binatang berbakat. Tapi, lebih baik tidak menganggap anjing serigala sebagai anjing—bagi mereka, membela manusia bukan sebuah aspirasi hidup. Gengsi mereka tinggi, juga pencuriga. Anjing serigala hanya setia kepada seseorang yang dikenal dan dipercayainya. Mereka memiliki kharisma yang besar sekali—semacam keagungan yang bisa disamakan dengan keningratan.
  20. Kekuatan anjing serigala itu seperti pedang bermata dua. Apabila tidak ada langkah-langkah yang diambil sebagai pencegahan, anjing serigala berpotensi untuk menjadi monster yang liar dan tak bisa dikendalikan.
  21. Anjing polisi adalah anjing yang menerima latihan khusus pekerjaan kepolisian seperti melacak dan melindungi. Latihan tersebut dirancang untuk memanfaatkan sepenuhnya ketaatan, kecerdasan, dan kesigapan seekor anjing, serta yang terpenting daya penciumannya yang tiga sampai empat ribu kali lebih tajam daripada indra penciuman manusia. Anjing-anjing polisi dibagi dalam dua kategori: mereka yang dibiakkan di kantor-kantor polisi prefektur, dinamai anjing-anjing departemen, dan mereka yang dibiakkan oleh warga negara-warga negara tertentu, dinamai anjing-anjing kontrak. Saat ini kategori yang pertama berjumlah sekitar 150 ekor; mereka ditugaskan di Divisi Identifikasi, dan secara resmi digolongkan sebagai “peralatan”, atau barang-barang untuk dipakai, seperti halnya pensil dan buku tulis.
  22. Anjing-anjing departemen bekerja rata-rata selama delapan atau sembilan tahun sebelum pensiun. Kadang-kadang pensiunan anjing polisi dipelihara oleh penduduk sipil untuk dijadikan anjing-anjing penjaga, kadang-kadang mereka menghabiskan usia alami mereka di sudut kandang anjing kepolisian. Begitu manfaat mereka sebagai “peralatan” habis, anjing-anjing baru dibeli dan dilatih sebagai pengganti. Tidak ada anggaran finansial bagi anjing-anjing tua, jadi para petugas yang menangani mereka harus berhemat dan menyisihkan uang guna membeli makanan bagi mereka.
  23. Dari setengah juta anjing yang terdaftar sebagai anjing-anjing polisi di seluruh negeri (Jepang), anjing-anjing kontrak adalah yang paling mampu, karena memenuhi standar kualifikasi tinggi; mereka ditugaskan berdasarkan permintaan khusus dari polisi-polisi yang menangani kasus tertentu. Secara keseluruhan ada 1.300 ekor di seluruh negeri. Keuntungan besar dari sistem ini adalah kepolisian bisa berhemat uang dalam jumlah lumayan besar karena tidak perlu membiakkan dan membesarkan anjing-anjing itu sendiri. Di samping itu, hal tersebut mempunyai dampak humas yang bagus, karena kepolisian dinilai bersedia bekerja sama dengan sektor swasta dan membina hubungan yang baik dengan masyarakat.
  24. Beberapa anjing kontrak dilatih oleh perorangan; sering kali oleh para pawang berijazah resmi, yang diperingkat menjadi tiga kelas oleh Asosiasi Anjing Polisi Jepang. Para pawang tersebut mengajar di sekitar 2.300 pusat pelatihan yang tersebar di seluruh Jepang.
  25. Pada dasarnya, istilah “anjing polisi” hanya merujuk pada kedua kategori anjing yang sangat terlatih ini; meskipun secara umum, hal itu juga merujuk pada anjing mana pun yang terdaftar sebagai anjing polisi dan telah menjalani pelatihan sebagai anjing polisi. Sebagai tambahan dari konvensi-konvensi regional, ada ajang-ajang nasional yang bertujuan untuk meningkatkan peringkat dan mengasah kemampuan anjing-anjing polisi; dua ajang terpenting adalah Perlombaan Kejuaraan Jepang dan Perlombaan Kejuaraan Anjing Polisi Nasional. Perlombaan Kejuaraan Jepang lebih menyerupai kontes kecantikan. Ketujuh jenis anjing yang diperkenankan mendaftar sebagai anjing-anjing polisi adalah herder, terrier Airedale, Boxer, Collie, Doberman Pinscher, Labrador retriever dan golden retriever. Mereka berlomba untuk mendapatkan hadiah sebagai anjing terkeren dalam kategori-kategori dewasa, remaja, anjing muda, dan anak anjing.
    Meskipun semua anjing yang berpartisipasi terlatih dengan sangat baik, penilaian atas mereka lebih ditekankan pada penampilan fisik secara keseluruhan, perkembangan otot, gigi dan sejeninsnya daripada tingkat intelegensi dan hasil-hasil pelatihan mereka. Semua peserta lomba adalah aning ras dan benar-benar rupawan.
  26. Perlombaan Kejuaraan Anjing Polisi Nasional, seperti yang tercermin dari namanya, adalah perlombaan yang menguji kemampuan. Kategori-kategorinya meliputi perlindungan, pelacakan, dan pencarian, di mana perlindungan sendiri dibagi menjadi dua kategori lagi, yaitu perlindungan dan penahanan. Para peserta lomba bertanding bukan atas dasar ras atau penampilan, melainkan atas dasar prestasi semata-mata, jadi suasananya terkesan serius sekali. Para peserta, yang semuanya lulus dari serangkaian pelatihan keras, dengan patuh berjalan atau berlari di sepanjang rute-rute yang telah ditetapkan, melompati penghalang-penghalang, menggonggongi seorang tersangka, mengejar dan menahan seorang tersangka, memilih sepotong pakaian milik tersangka, dan melacak tersangka dengan menggunakan bau dari salah satu barang miliknya. Mereka benar-benar mencerminkan sosok anjing polisi yang andal. Setiap anjing terlihat pintar, bersemangat, dan tak sabar memamerkan bakat-bakat mereka serta mendapatkan pujian dari para pemilik mereka. Tujuh puluh persen dari anjing-anjing yang berhasil menduduki peringkat atas dalam kontes ini adalah anjing-anjing kontrak.
  27. Aniing-anjing polisi departemen tidak pernah mengikuti kedua kompetisi tersebut. Mereka tidak mempunyai waktu; mereka harus siap bekerja kapan saja. Dan mereka tidak diperkenankan membuat kesalahan sedikit pun. Setiap anjing yang mengikuti ajang kepatuhan itu hanya untuk berjalan berputar-putar takkan pernah dianugerahi status anjing departemen, namun seekor anjing departemen, apabila diperkenankan mengikuti kompetisi seperti itu, sudah pasti akan dijagokan sebagai juara. Mereka profesional, namun bukan tipe anjing profesional yang mengunggulkan tampang semata; bagi mereka tidak ada yang namanya kontes kecantikan.
  28. Anjing serigala adalah “anjing dengan satu majikan”, tidak pernah membentuk keterikatan dengan orang lain selain dengan pemilik asli mereka. Anjing yang membutuhkan kasih sayang ekstra, yang membuka pintu hatinya hanya untuk beberapa orang terpilih.

***

 

 

QUOTE

 

 

“Semakin dalam luka itu, semakin lama sembuhnya. Rasa takut terhadap penyembuhan hanya semakin memperdalam luka itu.”

(Hal. 19)

 

 

“Anjing-anjing penyerang sesungguhnya dilatih untuk menangkap dan menggigit para tersangka, tapi biasanya hanya di bagian lengan atau bagian tubuh lainnya yang tidak vital; dan begitu si tersangka ambruk, atau jelas terlihat tak mungkin melarikan diri, anjing-anjing itu dilatih untuk melepaskan gigitan mereka. Tidak ada anjing polisi yang pernah membenamkan gigi mereka di tenggorokan, leher, atau tengkorak seseorang; gagasan tentang seekor anjing polisi yang suka membunuh manusia sungguh tidak masuk akal.”

(Hatakeyama, hal. 271)

 

 

“Asalkan mempunyai bakat yang diperlukan, kami siap menerima anjing dari jenis mana pun. Kami bahkan pernah mendapatkan anjing-anjing Shiba dan Akita untuk dilatih. Tapi mereka cenderung tak mampu mengikuti pelajaran-pelajaran sampai ke babak akhir. Otak mereka mungkin pintar, tapi stamina atau kekuatan mereka kalah. Padahal kedua-duanya dibutuhkan.”

(Hatakeyama, hal. 271)

 

 

“Dengan segala hormat, gagasan bahwa salah seorang pelatih kami akan mau melatih anjing polisi untuk melaksanakan serangan mematikan sungguh konyol. Lagi pula, bukan kami yang meluluskan semua pawang. Klub-klub anjing dan sejenisnya juga bisa mengeluarkan sertifikasi kepada orang-orang sebagai pawang anjing.”

(Hatakeyama, hal. 272)

 

 

“Kuberitahu ya, tidak ada yang lebih memikat hati daripada seekor anjing yang mematuhi setiap perintahmu.”

(Hatakeyama, hal. 274)

 

 

“Apabila kau begitu ingin tahu tentang kebenaran, pergilah dan berbuatlah kejahatan sendiri. Itu satu-satunya cara kau mengetahui jawabannya.”

(Bos Takako – hal. 372)

 

 

“Kuberitahu ya: wanita yang selalu ingin membuktikan sesuatu tak bisa dibilang memikat.”

(Tamotsu Takizawa – hal. 384)

 

 

“Namun tidak seperti wanita, ketika laki-laki menangis saat diinterogasi, itu artinya ia mengaku.”

(Hal. 422)

***

 

 

Penulis: Asa Nonami

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2012

Tebal: 536 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 69.000 

Rating:  3½ dari 5 Bintang

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram)

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

2 thoughts on “The Hunter (Pemburu) – Asa Nonami

  1. Baca novel ini tahun 2014. Tempo yang lambat dan bertele-tele, yang ga seperti kisah detektif fantastis ala Holmes atau Poirot, justru saya rada sukai, karena bisa merasakan gimana membosankannya pemeriksaan investigatif sesungguhnya. Kemarin udah donlot film Howling itu, meski belum ditonton, karena baca sinopsis kok kayak novel The Hunter, ternyata emang bener ya.

    Suka

    1. Iya betul. Apa yang kita lihat di film dan baca di buku detektif lain belum tentu sesuai kenyataan. Sebagian besar orang suka drama dan hal-hal yang memacu adrenalin, dan itu bisa didapat di buku/film, jadi mungkin itu alasan film dan buku suka mendramatisasi cerita. Meski awalnya bosan, tapi begitu punya sudut pandang lain soal buku ini, ya aku jadi menghargai.
      Aku belum nonton filmnya karena nyari yg ada subtitlenya susah banget. Baru bbrp hari ini dapat tapi mau streaming aja karena gak tahu gimana cara downloadnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s