TwinWar – Dwipatra

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Kerennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. “Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi.” Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk “menghancurkan” saudara kembarnya. Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?

***

 

 

TOKOH

 

 

  1. Mahisa Aryaji, dipanggil Hisa. Sekolah di SMA Pramana Jaya/Praja. Anaknya supel, mahir berolahraga, dan cukup pintar main gitar. Sayangnya, dia lemah di bidang akademik. Dia juga terbilang cuek/cool, apalagi kalau menyangkut masalah cewek.
  2. Hanggara Setiaji. Dia saudara kembar identik Hisa. Biasa dipanggil Gara. Sekolah di SMA Pandu Karya/Pakar. Berbeda jauh dengan Hisa, dia cenderung pendiam dan pemalu/culun. Sangat berprestasi di bidang akademik.
  3. Danu: Salah satu teman baik Hisa. Bertubuh gemuk karena hobi makan/ngemil.
  4. Johan: Teman baik Hisa juga. Dia yang paling cemerlang otaknya untuk urusan akademik,jika hanya dibandingkan dengan Hisa dan Danu.
  5. Keling: Teman sekelas Hisa. Berkulit gelap. Jahil.
  6. Dinara Syabil: Pacar Gara sekaligus rekannya di Klub Sains. Seperti halnya Gara, Dinar juga penerima Beasiswa Riset Sains SMA Pakar. Bertubuh mungil dan rambutnya hitam lurus sepunggung. Sudah enam bulan pacaran dengan Gara.
  7. Rian: Teman sebangku Gara tapi nggak begitu akrab kalau diluar kelas.
  8. Pak Kasman: Satpam SMA Pakar. Usia paruh baya, berkumis tebal.
  9. Pak Pri: Sepertinya guru BK di sekolah Gara.
  10. Ollivia Sadani Gunawan/Ollie: Salah satu cewek populer di sekolah Hisa. Kulit agak gelap, berlesung pipit, rambut hitam agak ikal di ujung. Berkepribadian ceria dan masa bodoh. Naksir berat sama Hisa, meski dia tahu kalau Hisa terlalu cuek untuk membalas perasaannya.
  11. Gian: Sepupu Hisa dan Gara.
  12. Papa/Pak Aji: Ayah Hisa dan Gara
  13. Mama/Bu Nuri: Ibu Hisa dan Gara
  14. Pak Syam: Pelatih tim lari SMA Praja. Berwajah oriental. Tubuhnya tinggi tegap. Orangnya bijaksana banget.
  15. Miss Galuh: Guru privat Ollie.
  16. Ali Akbari: Tunangan Miss Galuh. Belakangan terkuak kalau cowok ini memiliki hubungan sedarah dengan Hisa dan Gara.
  17. Luna: Teman satu klub Gara (lupa klub apa). Bertubuh tinggi, rambut bob sebahu. Diam-diam dia naksir Gara dan suka stalking.
  18. Resa: Teman sekelas Luna.
  19. Faisal Hariarsa: Junior Hisa, kelas XI. Dia satu tim lari dengan Hisa. Bertubuh jangkung, rambutnya ikal dan berkulit agak gelap.
  20. Bayu: Juga junior Hisa dan satu tim lari dengannya. Tubuhnya kecil.
  21. Pak Heri: Guru BK Gara
  22. Bu Anita: Wali kelas Gara.
  23. Pak Alam: Wakil Kepala Sekolah SMA Praja.
  24. Tante Nura: Saudari kembar ibunya Hisa dan Gara.
  25. Pak Wahyu: Guru pengawas waktu Hisa menjalani try out.
  26. Theo Sitepu: Junior Hisa yang ikut tim lari.
  27. Bu Ning: Wali kelas Hisa.

***

 

 

ULASAN

 

 

Akhirnya karya pemenang juara satu Gramedia Writing Project Batch 3 diterbitkan juga. Sekadar info, aku juga turut ambil bagian dalam ajang lomba menulis tersebut. Sayangnya, langkahku cuma sebatas ikut workshop di Jakarta Creative Hub. Meski begitu, aku bersyukur karena udah bisa ketemu para penulis dan calon penulis berbakat yang punya mimpi sama denganku, yaitu menerbitkan karyanya. Usaha mereka untuk meraih mimpi tersebut amat patut diacungi jempol. Kalau dibandingkan denganku, usahaku sih nggak ada apa-apanya banget. Apalagi kalau dibandingkan dengan penulis novel ini, yaitu Dwipatra. Tekadnya besar banget! Bayangkan, Patra (itu nama panggilannya, kalau nggak salah) menyertakan dua naskah untuk ajang tersebut dan kedua-duanya terpilih! Jadinya Patra harus bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan dua naskah tersebut. Aku yang cuma menyelesaikan satu naskah aja udah kalang kabut. Well, mungkin Patra udah mempersiapkan dari jauh-jauh hari salah satu atau kedua naskah tersebut. Tapi aku perhatikan cuitannya di Twitter saat itu penuh curhatan bertemakan stres, lol. Jadi, meski mungkin naskahnya udah setengah jadi, bahkan udah jadi, kita semua yang terlibat dalam ajang tersebut pasti merasakan tekanan yang sama, yaitu tekanan batin.

Dari pengalaman workshop tersebut, aku semakin yakin kalau seseorang dengan mimpi yang sama berada dalam satu kelompok yang sama, saling mendukung dan mengkritisi karya masing-masing, maka jalan untuk meraih mimpi tersebut akan semakin dekat. Terbukti bahwa sebagian besar pemenang GWP Batch 3 tersebut adalah sekawanan pemimpi yang sudah sejak lama berjuang bersama untuk mewujudkan mimpi mereka. Dan pada hari itu, impian mereka terwujud dalam waktu yang bersamaan. Amazing, kan?! Sekali lagi, aku kagum dengan semangat kalian semua.

Sebenarnya naskah yang sempat kubaca di website GWP bukan yang sekarang ini dibukukan, tapi yang judulnya Loser Like Me. Bercerita tentang cewek yang dirundung banyak orang karena kasus plagiarisme. Untuk TwinWar sendiri aku cuma sempat baca blurb-nya, kalau nggak salah. Dan seingatku Patra justru menjagokan naskah yang kubaca itu. Nggak disangka-sangka, justru TwinWarlah yang berhasil merebut hati para juri. Setelah membaca habis novel ini, aku paham kenapa novel ini yang dipilih juri, meski aku belum tahu cerita lengkap Loser Like Me. Dan aku juga mengerti kenapa TwinWar bisa menyabet juara satu Gramedia Writing Project Batch 3, walaupun aku belum baca karya pemenang lainnya. Singkatnya, unsur-unsur novel yang baik bisa ditemukan di dalam buku bacaan ini.

Novel TwinWar bercerita tentang dua cowok kembar identik bernama Hisa dan Gara. Meski identik, kepribadian mereka sangat bertolak belakang. Hisa berprestasi di bidang olahraga, sedangkan Gara juara di bidang akademik. Keduanya selalu berusaha menunjukkan prestasi siapa yang lebih hebat dan lebih membuat bangga kedua orangtua mereka. Seringnya sih Gara yang harus menelan kekecewaan karena ia merasa Papa dan Mama lebih memuji prestasi Hisa dibanding prestasinya. Sementara itu, Hisa semakin menggebu dalam menambah koleksi medalinya karena dia nggak mau berbagi spotlight sedikit pun dengan Gara.

Persaingan dan ketidakharmonisan di antara kedua saudara kembar itu terjadi saat Gara lebih mengutamakan ambisi pribadinya ketimbang memenuhi janjinya kepada saudaranya sendiri, yaitu untuk selalu bersekolah di SMA yang sama. Gara dan Hisa memiliki impian untuk masuk ke SMA pilihan mereka, yaitu SMA Pandu Karya. Karena Hisa nggak lolos seleksi, cuma Gara yang bisa diterima di sekolah tersebut. Dengan berat hati Gara tetap memilih untuk bersekolah di sana karena itu memang sudah cita-citanya. Banyak keuntungan akademis yang bisa diperolehnya. Dia nggak tahu kalau hal tersebut akan menjadi awal mula konflik dirinya dan Hisa.

Btw, aku juga pernah berada dalam posisi Gara. Meski itu terjadi sembilan tahun yang lalu, sampai sekarang aku masih suka teringat kejadian tersebut. Selalu ada rasa nggak enak di hati. Setiap keingat itu, aku selalu bertanya-tanya, apa tindakanku jelek atau justru wajar? Semoga sepupuku nggak ingat lagi kejadian itu, karena siapa yang bisa tahu pasti isi hati seseorang, apakah dia benar-benar menerima baik keputusanku atau jsutru mengumpat di dalam hati?

Okay, kembali ke ulasan.

Novel TwinWar memiliki apa yang diperlukan dalam sebuah novel untuk bisa mengikat pembaca dari awal hingga akhir cerita. Segala pertanyaan dan persoalan yang menyelubungi benak pembaca pada akhirnya akan memperoleh jawabannya. Jadi nggak ada istilah cerita yang menggantung. Bahkan, novel ini mampu memberikan plot twist yang menarik, yang sungguh di luar dugaan. Sebagai orang yang suka menebak-nebak jalan cerita, aku kagum dengan cara penulis mengecoh pembacanya, namun masih tetap bisa menjaga kelogisan kisahnya.

Berbicara soal kisah, rasanya hampir semua elemen yang menyangkut emosi manusia ada di dalam novel ini. Dari mulai rasa cinta, benci, marah, senang, sedih, takut hingga cemburu bisa turut kurasakan. Setiap kisah disampaikan dengan baik dan bisa menggambarkan dunia remaja sebagaimana adanya. Salah satunya, tentang larangan pacaran dari orangtua. Serius deh, novel ini kok rasanya begitu dekat dengan kehidupan remajaku, lol. Dan nggak melulu bercerita soal dunia remaja, novel ini memberikan gambaran sekilas mengenai kehidupan orangtua Hisa dan Gara, terutama sang ibu, yang masih memiliki hubungan yang kuat dengan dunia remaja. Rasanya seperti mendapat wejangan yang berharga dari sebuah “kisah nyata” yang menyayat hati.

Karakterisasi para tokohnya pun terbilang kuat. Sebagai pemeran utama yang digambarkan kembar identik, aku bisa melihat perbedaan mendasar antara Hisa dan Gara. Bukan cuma tergambar lewat narasi dan deskripsi penulis, kekonsistenan penulis dalam hal karakterisasi bisa dilihat dari keputusan-keputusan yang diambil para tokohnya, yang (menurut pandanganku), sudah sesuai dengan watak mereka. Cuma nih, sewaktu Hisa dan Gara menanyakan perihal Ali Akbari pada Mama, kok mereka jadi mirip anak SD, ya? Entah itu masalah pemilihan kata atau apa.

Keistimewaan lain dari novel ini yaitu kekuatan chemistry yang terjalin di antara para tokohnya, sehingga kisah yang dibawakan menjadi semakin menarik untuk diikuti sampai akhir. Pasangan favoritku di novel ini adalah Hisa dan Ollie. Yang satu adem ayem, sedangkan yang lainnya blak-blakan dan cenderung nggak punya gengsi. Persahabatan antara Hisa, Danu dan Johan pun nggak kalah seru. Makanya nggak heran kalau Gara merasa iri dengan kehidupan sosial Hisa.

Nah, setelah mengungkapkan segala kelebihan dari novel ini, saatnya berbagi ruang dengan hal yang dinamakan kekurangan. Dari mulai typo, kalimat kurang lengkap, kalimat yang aneh, detail cerita yang meragukan, hingga blurb yang keliru. Khusus buat typo dan kalimat kurang lengkap, nggak akan aku bahas karena bisa menebak sendiri maksudnya. Sementara untuk yang lainnya, mungkin ada bagian yang terlewat olehku hingga terjadi kesalahpahaman isi cerita atau cuma sebatas perbedaan preferensi antara pembaca dan penulis.

Kalimat-kalimat yang menurutku aneh:

  1. “Mungkin kali ini Hisa emang beneran belajar,” potong Danu lagi, masih sibuk mengunyah. “Udah sih, protesnya. Mending lo buruan makan. Keburu habis ini jam istirahat.” (Hal. 22) → kalau menurutku, kata sih diganti sama ah, pasti nggak bakalan aneh.
  2. “Dia ikut tegang saat-saat aksinya digelar…” (Hal. 115).  → Ini kayaknya kelebihan kata, deh. Kalau saat-nya satu aja baru nggak membingungkan.

 

Detail cerita yang meragukan/preferensiku sebagai pembaca:

  1. “Perabotan kamar masih persis seperti dua tahun lalu, bahkan posisinya tak bergeser satu senti pun.” (Hal. 7)
    Kalimat di atas menurutku berlebihan, secara udah dua tahun Hisa nggak masuk ke kamar Gara. Dan hitungannya adalah senti. Emangnya Hisa ngukur pakai penggaris, gitu? Kecuali ditambah kata ‘sepertinya‘ setelah ‘posisinya‘, bakalan lebih mudah diterima.
  2. Di sekolah Gara pun demikian, tak ada yang tahu ia punya saudara kembar.” (Hal. 11).
    Tapi kemudian, Dinar tiba-tiba bilang: “Aku jadi kepikiran soal masalahmu sama Hisa.” (Hal. 25)
    Itu berarti ada satu orang yang tahu bahwa Gara punya saudara kembar, yaitu Dinar.
    Kemudian ada narasi berikut:
    “Gara tidak terlalu terkejut mendengar jawaban Dinar. Memang, dia sudah menceritakan alasan sebenarnya kenapa ia membolos kemarin.”  (Hal. 25)
    Well, bisa jadi itu berarti Dinar sebelumnya memang nggak tahu kalau Gara kembar, tapi akhirnya dikasih penjelasan sama Gara karena Dinar tanya kenapa dia bolos sekolah. Dan akhirnya Dinar pun tahu kalau Gara punya saudara kembar. Mungkin. Tapi tetap aja hal tersebut mengganggu pemahamanku.
  3. Jam masuk di sekolah Gara yang terbilang siang, kira-kira jam 7.30. Sebenarnya dulu sempat dengar pemberitaan soal jam sekolah di Indonesia yang katanya kepagian. Mungkin itu alasannya. Lalu apa anak SMA sekarang pada masuk jam segitu? Kalau iya, duh, iri banget sama mereka. Dulu di sekolahku masuknya jam tujuh teng.
  4. Gara ini kelewat polos anaknya. Kalau aku jadi Gara, aku pasti bakal mengerjai Hisa juga. Caranya, dengan berfoto mesra waktu Gara lagi makan es krim sama Ollie, biar kayak orang pacaran. Lalu foto itu dipakai untuk mengancam Hisa balik, hehe. Biar tahu rasa tuh si Hisa.
  5. Aku heran kenapa Ollie nggak menyadari lebam di pipi kanan Hisa. Padahal kayaknya lukanya kentara, seperti yang ditunjukkan oleh narasi berikut:
    “Yah, sulit untuk melewatkan lebam kebiruan itu memang. Dia sudah melihat sendiri semengerikan apa pipi kanannya tadi pagi.” (Hal. 126)
    Apa karena Ollie terlalu antusias dengan nilai try out Hisa yang memuaskan makanya lebam itu terabaikan?
  6. Nggak begitu penting, sih, tapi ini bikin aku bingung. Di halaman awal sepertinya diindikasikan kalau Pak Pri itu adalah guru BK di sekolah Gara. Lalu di halaman 145, ternyata guru BK-nya Gara adalah Pak Heri. Memang sih di sekolahku dulu ada beberapa guru BK, tapi memang udah ditetapkan pembagian kelasnya. Ada guru BK kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Begitu.
  7. Aku merasa keberatan dengan hukuman skors selama seminggu yang diberikan pihak sekolah kepada Hisa dan Gara. Mereka kan udah kelas XII, di mana seharusnya mereka nggak boleh ketinggalan pelajaran sama sekali, kecuali sakit parah. Ekskul aja sebenarnya udah nggak disarankan, apalagi “diliburkan” seperti itu. Memang, di rumah mereka diwajibkan belajar dan merekam kegiatan tersebut, tapi habis itu siapa yang tahu? Kedua ortunya juga kerja (kalau nggak salah). Mendingan kasih hukuman lain yang manfaatnya lebih banyak, tanpa harus membuat mereka ketinggalan materi baru di sekolah. Well, sebagai orang yang pernah buat cerita, aku sebenarnya paham kenapa Gara dan Hisa harus sampai diskors, karena itu berhubungan dengan jalan ceritanya. So… mungkin ke depannya penulis bisa lebih mempertimbangkan lagi jalan ceritanya, hehe.
  8. “Setiap pagi, Pak Syam akan mengetes kecepatan lari seratus meter Hisa. Jika kecepatan larinya masih dalam rentang normal waktu yang biasa Hisa capai, Pak Syam akan mengizinkan Hisa ikut try out. Entah cara ini akan dipakai untuk sekarang saja atau saat UN juga, Hisa tidak tahu. Yang jelas, akan sangat melelahkan kalau dia harus lari dulu sebelum mengerjakan soal matematika atau fisika.”  (Hal. 258)
    Yang buat aku bingung, kenapa Hisa harus mempertanyakan apakah UN pun dia akan dites demikian? Bukannya UN itu diadakan serentak ya? Apa UN zaman now udah berubah pelaksanaannya? Serius aku nggak tahu.
  9. Kegiatan ekskul/hobi Hisa dan Gara nggak mendapatkan porsi yang berimbang. Padahal minat Gara dengan dunia serangga nggak kalah menarik dengan ekskul lari-nya Hisa.
  10. Editornya siapa ya sebenarnya? Di halaman awal tertulis editornya adalah Miranda Malonka. Tapi di Ucapan Terima Kasih, penulis menyebutkan nama editornya adalah Mbak Raya. Nama panggilan kali, ya? And btw, tumben lho Ucapan Terima Kasihnya ada di halaman belakang.

Dan yang terakhir soal blurb yang keliru. Entah ini salah tulis atau memang benar karena si pembuat blurb keliru memahami isi cerita, atau justru aku yang malah salah paham. Yang jelas, sudah menjadi kebiasaanku kalau setiap habis menyelesaikan sebuah novel, aku selalu baca ulang blurb-nya dan menilai apakah udah sesuai dengan isi cerita. So, aku jadi harus buka beberapa halaman awal lagi karena penasaran. Dan aku tetap yakin kalau blurb-nya memang keliru.

Di blurb tertulis kalau Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara, lalu dia memanfaatkan foto tersebut untuk “menghancurkan” saudara kembarnya. Tapi seingatku nggak ada kisah soal Hisa ngoprek-ngoprek ponsel Gara dan menemukan foto itu. Yang ada, Hisa memperoleh foto tersebut dari Luna, temannya Gara, yang memang suka mengambil foto Gara secara candid, termasuk ketika Gara lagi berduaan dengan Dinar.

Hal ini dipertegas di halaman 248. Di halaman itu Dinar tanya sama Hisa dari mana dia dapat foto-foto Dinar. Terus Hisa jawab:

“Gue dapat foto itu dari Luna, teman sekolah kalian. Kelas dua belas juga. Mungkin, kalian saling kenal.” 

Dan di halaman 255-256, Luna bilang:

“Kami sempat ngobrol-ngobrol, sampai dia pengin lihat foto-foto di kamera gue. Waktu lihat foto-foto itu, Hisa nemuin foto lo sama Dinar. Maaf karena gue ngambil beberapa foto kalian diam-diam. Lalu, Hisa minta dikirimi foto itu. Katanya dia cuma pengin lihat foto saudaranya yang lagi pacaran. Tanpa curiga apa-apa, gue kasih aja beberapa foto ke dia.” 

Di awal cerita pun, Hisa menyodorkan bukti pacaran Gara lewat selembar foto, bukan dari handphone. 

“Hisa mengangsurkan selembar foto Gara yang tengah menggandeng mesra tangan seorang gadis.”

Nah, meski ada beberapa hal yang yang bikin bingung, secara keseluruhan, aku menikmati novel ini. Gaya bahasanya mengalir dan mudah dipahami namun tetap memiliki nilai keindahan. Dialog-dialognya keren. Tema yang diangkat sederhana tetapi memiliki pesan moral yang mendasar buat para remaja, biar mereka selalu mengutamakan kejujuran dan berjiwa besar. Dan yang paling penting, aku bisa merasakan keterikatan emosional dengan karakter-karakter rekaan penulis. So, sekali lagi SELAMAT untuk Dwipatra atas terbitnya karya debutmu ini. Semoga naskah Loser Like Me bisa segera menyusul dan mendapat sambutan yang hangat seperti halnya novel TwinWar.

***

 

 

QUOTES

 

“Tenang aja. Nggak akan ada masalah apa-apa. Lagian, kalau kita putus cuma gara-gara ini, sama aja kita kalah sama pikiran negatif sendiri. Kalah sama kekhawatiran bodoh kita.”

(Gara, hal. 26)

 

 

“…tingkat kedekatan pertemanan antarcowok bisa dilihat dari seberapa kotor dan kasarnya ejekan di antara mereka. Semakin kasar dan kotor, berarti persahabatan mereka semakin dekat.”

(Narator, hal. 114)

 

 

“Mungkin dia memang hanya pemeran pengganti di sini, tapi apa salahnya memberikan kebahagiaan yang tak mampu diberikan oleh pemeran utama, meskipun itu hanya sesuatu yang semu?”

(Narator, hal 115)

 

 

“Dibanding siapa pun, merekalah orang pertama yang akan menderita saat tahu kalian melakukan kecurangan seperti ini. Mereka pasti menanggung rasa malu yang bahkan tidak kalian pedulikan. Karena begitulah sejatinya orangtua, selalu rela menanggung derita apa pun karena anak-anak mereka, atas nama tanggungjawab. Mereka akan tetap seperti itu, bahkan di saat mereka sudah tak seharusnya melakukannya.”

(Pak Syam, hal 135)

 

 

“Kadang, berpikir akan kemungkinan terburuk pun belum cukup untuk benar-benar bisa mempersiapkan diri atas hal buruk yang akan menimpa.”

(Narator, hal. 145)

 

 

“Lakukan aja yang terbaik yang kamu bisa. Hasilnya nggak usah kamu pikirin dulu. Seburuk apa pun hasilnya nanti, kalau kamu udah ngelakuin yang terbaik, akan jauh lebih mudah diterima dan disyukuri.”

(Papa, hal. 166)

 

 

“Cowok yang nggak berani ngakuin rasa sukanya ke orang lain, itu pengecut namanya. Sama kayak cowok yang hobinya meras orang lain untuk kepentingannya sendiri.”

(Gara, hal. 175)

 

 

“Pacar memang bisa jadi sumber bencana. Tapi, bersama orang yang tepat, yang ada adalah bahagia dan cinta yang sesungguhnya.”

(Mama, hal 190)

 

 

“Satu orang pernah punya pengalaman buruk dengan sesuatu, bukan berarti orang lain juga perlu menjauhi hal itu.”

(Mama, hal. 190)

 

 

“Kadang memang seperti itu, kepentingan yang sama akan mampu mendekatkan dua pihak yang berseberangan, sebenci apa pun pihak-pihak itu pada satu sama lain.”

(Narator, hal. 192)

 

 

“Mungkin benar kata orang, sedih atau bahagianya kita tidak tergantung pada siapa pun selain diri kita sendiri. Kalau kita selalu melihat sisi baik dari sesuatu, kita akan merasakan bahagianya. Sebaliknya, kita akan selalu bermuram kalau hanya sisi buruk dan gelapnya yang kita lihat.”

(Narator, hal. 247)

***

 

 

Penulis: Dwipatra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 296 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 69.000 

Rating:  4 dari 5 Bintang

(Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: Tokopedia atau akun Instagram)

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s