The Skeleton Twins

The Skeleton Twins bercerita tentang pertemuan kembali dua anak kembar setelah sepuluh tahun putus komunikasi. Mereka dipertemukan lagi saat Maggie Dean (Kristen Wiig) mendapat kabar kalau saudaranya, Milo Dean (Bill Hader), dilarikan ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Ajaibnya, Maggie pun SEPERTINYA lagi berusaha mengakhiri hidupnya waktu kabar itu datang. Akhirnya Maggie nggak jadi bunuh diri dan menyusul Milo ke rumah sakit. Setelah diperbolehkan pulang, Maggie mengajak Milo untuk tinggal bersamanya dan suaminya, Lance (Luke Wilson), untuk sementara waktu. Milo pun bersedia. Setelah tinggal serumah lagi, mereka banyak berbagi cerita tentang semua kehidupan mereka, termasuk hal-hal yang selama ini hanya mereka simpan untuk diri sendiri.

Awalnya aku nggak begitu paham dengan makna The Skeleton Twins. Kalau diterjemahkan secara harfiah, skeleton berarti kerangka, sedangkan twins berarti kembar.  Aneh kan kalau diartikan? Jadinya kembar kerangka. Maksudnya apa? Lalu aku cari soal film ini di Wikipedia dengan harapan bakal mendapat penjelasan mengenai judulnya, tapi nggak ada juga. Akhirnya aku cari idiom yang pakai kata skeleton, dan ketemulah idiom skeleton in (one’s) closeta source of shame or disgrace, as in a family, that is kept secret. Artinya kurang lebih: sumber aib yang dirahasiakan, misalnya di dalam sebuah keluarga. Kalau judul film ini dihubungkan dengan idiom di atas, maknanya kira-kira: saudara kembar yang memiliki aib/masa lalu yang buruk, yang berusaha mereka tutup rapat-rapat. Penjelasan ini menurutku cukup mendekati dengan isi ceritanya.

Kedua saudara kembar ini memang memiliki kehidupan keluarga yang kurang indah. Mereka berasal dari keluarga broken home. Selain ditinggal pergi ibu mereka, sang ayah juga tewas karena bunuh diri. Sayangnya nggak diceritakan dengan pasti bagaimana kronologisnya, apakah ibu mereka yang meninggalkan mereka duluan baru ayahnya bunuh diri atau sebaliknya? Dari dialognya sih kayaknya ayahnya yang bunuh diri duluan. Terus aku juga masih bingung apakah setelah tewasnya sang ayah, mereka cuma tinggal berdua, bertiga sama ibu, atau justru ikut kerabat. Tapi setidaknya aku bisa mendapat titik terang mengenai aib/rahasia keluarga yang dimiliki kedua saudara kembar ini, yaitu kematian sang ayah karena bunuh diri dan kepergian ibu mereka demi (kalau nggak salah) pria lain.

Selain penjelasan di atas, bisa juga film ini diberi judul The Skeleton Twins karena kedua anak kembar ini sama-sama memiliki tato kerangka manusia di tubuh mereka. Mereka juga sama-sama punya semacam boneka berbentuk kerangka manusia yang diberikan sang ayah sewaktu mereka masih kecil.

Film ini diawali dengan opening yang emosional, lalu cerita berjalan biasa, kemudian diakhiri dengan adegan yang jauh lebih emosional lagi daripada opening-nya. Makanya film ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam buatku. Adegan Milo yang menyelamatkan Maggie dari usaha bunuh diri keduanya di kolam renang benar-benar mengharukan.

Isu yang diangkat pun menarik, yaitu soal gay, bunuh diri, bullying, dan broken home. Meski bukan tema baru, film ini menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa buruk dan traumatis di masa kecil akan selalu ada dalam alam bawah sadar orang yang mengalaminya. Namanya juga alam bawah sadar, jadi kadang si orang tersebut nggak menyadari kalau segala tindakan, kondisi jiwa, pilihan hidup, dan apa yang menimpanya sekarang sedikit banyak dipengaruhi oleh peristiwa buruk tersebut.

Selain itu, film ini ingin menunjukkan kepada penonton kenapa seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Dalam film ini, Maggie nggak mengerti kenapa ayahnya sampai harus bunuh diri sewaktu dia masih kecil. Dia merasa itu tindakan pengecut. Maggie pun seakan mengecilkan keputusan Milo yang selalu punya pikiran untuk mengakhiri nyawanya. Namun perlahan Maggie mulai mengerti kenapa bunuh diri menjadi pilihan seseorang.

But I get it. Dad just… saw a way out. I guess you did too.”

Dari segi akting, agak susah sebenarnya membayangkan Kristen Wiig berperan sebagai seorang wanita yang suka selingkuh. Dari beberapa film yang pernah kutonton sebelumnya, rata-rata dia memerankan wanita yang kehidupan percintaannya nggak se-adventurous di film ini. Ada sih satu film di mana dia selingkuh, tapi itu cuma sama satu orang, yaitu tukang kebunnya. Sedangkan di sini dia sering selingkuh. So, it’s a bit unbelievable.

Meski agak susah menerima, aku akui perannya di sini cukup meyakinkan. Dia bisa menghilangkan aura komedian di wajahnya. Bisa kelihatan bedanya dengan peran-peran dia di film yang lain. Ekspresi wajahnya bisa terlihat dingin dan sinis ketika diperlukan. Aku suka banget sama scene menjelang akhir, di mana dia melabrak Milo karena udah menghancurkan pernikahannya dengan Lance.

Pemeran Milo pun aku suka. Dia mampu menunjukkan dari bahasa tubuhnya kalau dia adalah seorang gay. Tentunya aku nggak bermaksud menghakimi kalau seseorang dengan bahasa tubuh seperti Milo itu pasti gay. Chemistry-nya dengan Kristen Wiig dapat banget. Tapi sayang waktu adegan dia berdebat sama Maggie di pesta Halloween nggak begitu bagus, menurutku. Padahal Wiig sendiri udah bagus, jadi seolah Hader merusak emosi yang udah dibangun Wiig dengan amat baik. Untungnya, di scene menjelang akhir, Hader dan Wiig sama-sama bagus aktingnya, jadi bikin merinding. Btw, aku suka setiap lihat Milo menyilangkan satu kakinya dengan gaya khas perempuan dan satu tangannya ditaruh di pelipis atau kadang di pipi. Gemesin banget.

Bagian favoritku selain endingnya adalah bagian waktu Milo dan Maggie nyanyi bareng. Pantas aja adegan ini masuk nominasi Best Musical Moment di MTV Movie Award karena bagian ini memang seru. Lagunya cocok buat mereka berdua dan memiliki efek bikin tersenyum. Sementara buat candaannya sendiri, aku nggak begitu suka sama adegan kentut itu. Awalnya suka, tapi terus-terusan diulang jadi agak jijay. Aku juga ngefans sama scene pesta Halloween.

Ada adegan yang awalnya aku nggak paham kenapa Maggie tiba-tiba girang banget waktu duduk di toilet sebuah restoran. Di sana dia tersenyum sambil mengambil sesuatu dari kotak di dinding. Setelah diputar ulang, barulah aku sadar kalau dia mengambil tampon. Enak ya restoran di Amrik ada yang menyediakan tampon di toiletnya. Entah itu bagian dari service atau bayar. Kalau di Indonesia kayaknya belum ada restoran yang menyediakan hal itu.

Sebenarnya aku berharap kalau hubungan Maggie dan Lance bisa diselamatkan, tapi mungkin karena film ini fokus ceritanya ada pada reuni dua saudara kembar Maggie dan Milo, makanya kisah Lance dan Maggie dibuat sad ending. Padahal, seperti halnya Milo, Lance orangnya pemaaf dan baik banget (mungkin ini alasan Maggie suka selingkuh: karena Lance bukan seorang bad boy seperti selingkuhannya di tempat kursus diving). Jadi dengan isengnya aku membuat kisah lanjutan mereka di mana Lance akhirnya mau memaafkan tindakan Maggie yang minum pil KB secara diam-diam padahal mereka berdua berkomitmen untuk segera punya anak.

***

 

 

MY FINE LINE

 

 

“I don’t know. Maybe we were doomed from the beginning. I mean, it’s not like Dad was Mr. Sunshine. Sometimes I think all our problems came directly from him. But a lot of the good stuff did too. Remember what he always called us? The Gruesome Twosome. He told us to stick together, no matter what. God! What the hell happen to us?”

(Maggie Dean)

 

 

“Yeah, look at me. Another tragic gay cliche.”

(Milo Dean)

 

 

Dialogue

Maggie: I see you’re getting your sense of humor back.
Milo: Yeah, they can’t take that away from me.

 

 

“I love kids. Except the fat ones.”

(Milo Dean)

 

 

“I can’t wait to be the creepy gay uncle.”

(Milo Dean)

 

 

“You know what they say, everybody poops, right?”

(Maggie Dean)

 

 

“Stop trying, Judy. Stop trying. There are worse things than being a shitty mother.”

(Maggie Dean)

 

 

“I’m not most people, babe, and I think that’s why you love me. ‘Cause I set myself aside from the pack.”

(Lance)

 

 

“Imagine married to her. I’d probably jump off a bridge too.”

(Maggie Dean)

 

 

“I told you a secret. You have to tell me a secret.”

(Milo Dean)

 

 

Dialogue

 

Milo: I guess Lance just doesn’t do it for you.
Maggie: But why? He’s so great. He’s so sweet and cute and nice and he would make such a great dad, and he is the polar opposite of all the assholes that I’m used to dating. He doesn’t deserve a fucking whore as a wife.
Milo: You’re not a whore. So don’t say that, please.
Maggie: Oh, really? What would you call it, then?
Milo: You’re a restless housewife with whore-like tendencies.
Maggie: Shut up. It doesn’t help.
Milo: Do you love him?
Maggie: Yeah, I do. He’s… He’s good.
Milo: Maybe good isn’t your thing.
Maggie: Maybe.

 

 

Dialogue

 

Milo: Maggie, don’t freak out.
Maggie: What is going on?
Milo: You wouldn’t understand.
Maggie: Try me. You might be surprised.
Milo: I get depressed about my life and I do stupid things. That’s it.
Maggie: We all get sad about our lives, Milo. That doesn’t mean we go jumping off of rooftops.
Milo: I wasn’t gonna jump.
Maggie: Okay, well, how do I know that?
Milo: Okay, I’m sorry.

 

 

Dialogue

 

Milo: Do you remember Justin Meyer in eighth grade? Jock, asshole, he used to fuck with me all the time?
Dad, he told me… You know, he said, “Guys like Justin, like, high school is the best it’s ever gonna get for them. They’re gonna peak in high school, and the rest of their life is just gonna be a disappointment.” And that kids like me, that I would soar after high school. And, in fact, you know, I would sit there, I would fast-forward 10 years into the future and I would think about our high school reunion and seeing Justin, and he would just be this fat, balding guy who, you know, is the assistant manager at some sporting goods store, and I would be this famous actor who lives in L.A. or New York and I have this beautiful boyfriend. And I’m happy.
Do you know how I looked Justin up online? And do you know what he’s doing now? He’s an electrician. And he has two beautiful daughters and a pretty wife. And he’s happy. And it turns out that… It just turns out that I’m the one that peaked in high school. You know, if that’s not depressing, then…
Maggie: So that’s it, sweetie? You’re not a famous actor? ‘Cause I got news for you. No one’s a famous actor.
Milo: George Clooney’s a famous actor.
Maggie: Okay, George Clooney, I guess that’s one exception. But the rest of us are just walking around trying not to be disappointed with the way that our lives turned out. And either we find a way to deal or…
I need to know you’re not gonna check out on me.
Milo: I’ll do my best.

 

 

“Every day was Christmas for Mamie Mortimer.

(Milo Dean)

 

 

Dialogue

Maggie: I saw your cellphone. Uh, you have a missed call from Rich Levitt. Are you sleeping with him?
Milo: Some of us have our secrets and some of us have our reasons, Maggie.
Maggie: Wow. So, what, you’re still attracted to child molesters? Is that it?
Milo: He’s not a child molester.
Maggie: You were 15 and he was your English teacher.
Milo: You didn’t see the way he treated me.
Maggie: He wanted to fuck you.
Milo: Who are you to judge, okay? You’ve had boyfriends since you were in the fifth grade, okay? I was 15. I had never been kissed before. So, what if he was my teacher?
Maggie: So what?
Milo: He made me feel good! He made me feel good about myself!
Maggie: I don’t want to hear how he made you feel. You know what? You wanna go hang out with Rich Levitt, go ahead. I am not gonna stop you. But when all that shit went down, I know, looking back, I was right. And I can’t feel guilty about it anymore. And it could’ve been a lot worse. He could’ve gone to fucking jail, Milo. Do you realize that? He is lucky that we dealt with this quietly. And I know you blame me, and I know you think I ruined this blossoming relationship between you and him. I know you think I ruined his life, that I ruined your life, but I did what I had to do.
Milo: Look, it had nothing to do with you.
Maggie: That is bullshit. You’re my brother. And we’re supposed to be there for each other. And if you don’t get that by now, then, I don’t know, I guess I’ll talk to you in another 10 years.

 

 

Dialogue

 

Maggie: You had no right!
Milo: Things were gonna crash down eventually.
Maggie: No, you were just trying to get back at me.
Milo: I was trying to help you.
Maggie:You just ruined my marriage.
Milo:What marriage?
Maggie:Fuck you.
Milo: Look, you’re miserable, and if you’re too chicken shit to do anything about it, then I will.
Maggie: Oh, so you know what’s best for me?
Milo:Yes, you’re my sister. We’re supposed to help each other out. You said that!
Maggie: This is different!
Milo: How?
Maggie: We are adults. This is my marriage.
Milo: If you think that’s a marriage, then you’re fucking nuts, okay? I’m sorry. Enjoy your marital bliss.
Maggie: Okay, yeah, go, go. Leave anyway. This is not working out.
Milo: You know what the sad thing is? Is that we’re a good team.
Maggie: Oh, yeah, and you’d be a real hoot to have around if you weren’t such a fuckup.
Milo: We’re both fuckups, okay? And I’m tired of you acting like you’re the healthy one and I’m your special needs kid.
Maggie: Oh, what does it even matter anymore, Milo? You got your revenge. You got it.
Milo: I was trying to lay it out on the table.
Maggie: You wanna lay it out on the table?
Milo: Yes!
Maggie: Okay, then, go for it.
Milo: You’re emotionally unstable.
Maggie: You’re a prick.
Milo: You need professional help.
Maggie: Oh, and this coming from a guy who just tried to kill himself.
Milo: Maybe I should try fucking all my problems away.
Maggie: Well, maybe next time you should cut deeper.

 

 

“I would do anything to take back what I said. For what it’s worth, I’m sorry. I love you. I screwed it up. I do that a lot, I guess. It’s kind of my thing. But I get it. Dad just… saw a way out. I guess you did too. I’m not scared anymore. I finally get it. See you later.”

(Maggie Dean)

***

 

 

 

Sutradara: Craig Johnson

Penulis Skenario: Craig Johnson & Mark Heyman

Musik: Nathan Larson

Sinematografer: Reed Morano

Desain Kostum: Mikaela Wohl

Tayang Perdana: 19 Januari 2014

Durasi: 1 Jam 33 Menit

Nonton di: Netflix

Rating: 3½ dari 5 Bintang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s