White As Milk Red As Blood – Alessandro D’Avenia

“…mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam, bagai sungai yang tersembunyi di jantung bumi…”

Seperti kebanyakan remaja lelaki 16 tahun, Leo benci sekolah dan baginya guru adalah sekumpulan vampir yang selalu mencari mangsa. ia lebih suka nongkrong bersama teman-temannya, mendengar musik iPod-nya, main sepak bola, dan kebut-kebutan dengan sepeda motor kesayangannya. Namun, seorang guru filsafat pengganti di sekolahnya berhasil membangunkan semangatnya untuk hidup dengan mimpi.

Mimpi Leo adalah Beatrice, gadis berambut merah yang cantik di sekolahnya. warna merah adalah semangat hidup Leo. tapi, cintanya yang menggebu itu hanya sebatas melihat pujaan hatinya dari jauh. Mimpi Leo mendadak hancur saat Leo tahu bahwa Beatrice mengidap leukemia. warna merah itu pun pudar, berganti dengan putih, warna yang paling dibencinya. 

Saat Leo semakin terpuruk dalam kehampaan, Silvia, sahabat sejatinya, selalu mendampinginya untuk mewujudkan mimpinya. Meskipun hatinya remuk dan berdarah, Leo terus menggali ke dalam dirinya, dan sadar bahwa mimpi tak bisa mati.

***

 

 

TOKOH UTAMA

 

 

  1. Leonardo. Panggilannya Leo. Umur 16 tahun. Berambut gondrong. Suka musik dan kebut-kebutan naik motor. Nggak percaya dengan keberadaan Tuhan.
  2. Niko. Teman baik Leo dari kelas lain. Sama-sama satu tim futsal dengan Leo.
  3. Silvia. Teman baik dan teman sekelas Leo. Sangat perhatian dan benar-benar pendengar dan penasihat yang baik buat Leo. Suka melukis. Matanya berwarna biru cerah.
  4. Beatrice: Cewek yang ditaksir Leo di sekolahnya. Bermata hijau dan berambut merah menyala. Dia menderita leukemia.
  5. Si Pemimpi. Julukan yang diberikan Leo untuk guru sejarah dan filsafat pengganti di kelasnya. Entah siapa nama aslinya. Umur 30 tahun, bermata hitam, berkacamata. Hidungnya terlalu panjang. Orangnya ceria dan memiliki keyakinan yang penuh akan kekuatan sebuah mimpi.

 

 

ULASAN

 

 

Entah gimana ceritanya kok dulu sewaktu mau beli novel ini aku sempat berpikiran kalau novel ini tokoh-tokohnya udah gede alias dewasa? Nggak tahunya masih pada SMA. Yah, biasa. Aku kadang suka malas baca blurb. Bacanya nanti pas udah dibeli dan mau mulai baca, lol. Mungkin judulnya yang terlalu berani dan berlebihan untuk judul sebuah novel remaja? Tapi kalau ditelaah lagi, judul tersebut terbilang nyambung dan menyimbolkan kondisi kesehatan Beatrice yang menderita penyakit leukemia/kanker darah. Si darah putih melahap si darah merah sehingga populasinya melebihi si darah merah. Singkatnya begitu. Atau mungkin judul tersebut memiliki arti sama persis dengan yang diungkapkan Leo di novel ini:

“Rasa takut itu putih. Keberanian itu merah. Saat kau melihat warna putih, kau hanya harus berkonsentrasi pada warna merah dan menghitung sampai angka satu…”

Novel ini berkisah tentang cowok bernama Leo yang udah lama naksir sama teman satu sekolahnya, Beatrice. Meski terbilang cuek, Leo ternyata nggak begitu bernyali untuk menyatakan perasaannya. Pelan-pelan dia mendekati Beatrice lewat bantuan Silvia, sahabatnya. Silvia sebenarnya punya perasaan lebih buat Leo, namun itu nggak pernah disadari Leo. Leo baru tahu kalau Silvia suka sama dia setelah dia mulai dekat dengan Beatrice. So, kisah cinta yang terjadi di novel ini adalah kisah cinta segitiga, tapi nggak begitu drama sekalipun para tokohnya masih muda. Mereka semua terbilang dewasa dalam menyikapi perasaan mereka, terutama Silvia dan Beatrice.

Selama membaca novel ini, aku menemukan beberapa poin yang mengingatkanku sama novel A Walk to Remember, The Perks of Being a Wallflower dan The Catcher in the Rye. Pertama, kondisi Beatrice yang menderita Leukemia mirip sama Jamie Sullivan di A Walk to Remember. Ditambah lagi dengan momen kedekatan Leo dan Beatrice selama Beatrice sakit. Ada bagian melihat bintang-bintang di langit dan berdansa sekalipun Beatrice dalam kondisi lemah karena penyakitnya. Terus hubungan unik antara Leo dan guru sejarah dan filsafat pengganti di kelasnya bikin teringat sama hubungan Charlie dan guru bahasa Inggrisnya, Bill. Sama seperti mereka, Leo cukup banyak dibantu menghadapi masalah kehidupan remajanya oleh gurunya, termasuk mengarahkan Leo untuk mengembangkan bakat menulisnya. Sementara itu, karakter Leo mengingatkan aku sama Holden Caulfield di novel The Catcher in the Rye. Sudut pandang yang dipakai, yakni sudut pandang orang pertama, dan pemikiran Leo yang cenderung filosofis sekaligus nyentrik dan meragukan keberadaan Tuhan, levelnya sebelas dua belas banget sama Holden. Sayangnya, Leo nggak selucu Holden.

Berkaitan dengan karakter Leo tersebut, novel ini banyak mengandung pemikiran seorang remaja berusia enam belas tahun yang sedang mencari jati dirinya. Meski cuek dan agak berandal, Leo bisa menjadi sosok yang begitu filosofis, jadi lumayan banyak muatan filosofis dalam buku ini. Apalagi Si Pemimpi juga memang seorang guru sejarah dan filsafat. Jadi makin banyaklah bahasan bidang tersebut. Juga ada beberapa bahasan mengenai agama Kristen yang datang dari seorang pastor tua yang dijuluki Gandalf oleh Leo.

Meski novel ini berkisah tentang cinta Leo pada Beatrice yang menderita Leukemia, nggak ada nuansa yang bikin pengin nangis seperti halnya novel A Walk to Remember, di mana aku benar-benar nggak bisa menahan air mata saking sedihnya. Hal ini menurutku karena penulis nggak pernah mengekspos interaksi Leo dan Beatrice di awal cerita. Nggak pernah ada percakapan di antara mereka kecuali bahwa Leo amat mengagumi Beatrice yang berambut merah. Jadi nggak ada empati yang terbangun untuk kisah cinta mereka, termasuk ketika akhirnya Beatrice dinyatakan sakit. Tapi aku lumayan bisa merasakan emosi Leo sewaktu dia melihat kondisi Beatrice yang memprihatinkan. Dari sana aku berpikir, mencintai seseorang ternyata butuh nyali yang kuat. Dulu Beatrice cantik bak malaikat, tapi karena Leukemia, fisik Beatrice berubah nyaris 180 derajat. Lalu apa Leo masih cukup bernyali untuk tetap mencintainya? Cuma cinta sejati yang nggak akan berubah.

Soal gaya bercerita, jujur aku nggak begitu mengagumi novel ini layaknya aku mengagumi novel The Catcher in the Rye. Bagiku ini agak menjemukan, seperti halnya The Perks of Being a Wallflower. Kayaknya sih karena sama-sama minim dialog. Tapi sebenarnya bukan itu juga. Aku bisa menikmati narasi yang panjang asalkan gaya berceritanya menarik buatku. Contohnya, Lelaki Harimau. Atau jangan-jangan karena terjemahannya? Nggak tahu juga, sih. Setidaknya aku banyak mendapat wawasan dari novel ini, terutama soal filsafat, sejarah, agama, dan tentunya beberapa aspek kehidupan di Italia yang berbeda dengan di Indonesia. Contohnya di bidang sekolah, di mana di Italia, sistem pendidikannya terdiri dari 5 tahun SD, 3 tahun SMP, dan 5 tahun SMA. Sama seperti Amerika, sepertinya pihak sekolah di Italia nggak menerapkan aturan yang ketat soal potongan rambut anak cowok. Leo bisa dengan leluasanya menggondrongkan rambutnya supaya bisa menyesuaikan dengan namanya, yang berarti singa.

Lalu soal donor darah bagi anak di bawah umur. Aku sempat googling kalau di Indonesia pun diterapkan usia minimal pendonor darah, yaitu 17 tahun. Tapi aku nggak tahu apakah di Indonesia pun akan seketat di Italia dalam hal pelaksanaannya. Karena di bagian ucapan terima kasih, penulis mengemukakan hal ini:

“Di Italia, peraturan mengenai penyumbangan darah dari anak di bawah umur lebih kaku dan rumit dari yang mungkin tercermin dalam novel ini. Hanya untuk kemudahan bercerita sajalah kemiripan dengan situasi yang sebenarnya itu tidak terlalu diikuti dengan saksama.”

Kadang kan kalau di sinetron dan mungkin novel (seingatku belum pernah baca novel tentang ini) kayaknya nggak begitu dibahas pelaksanaan persyaratan ini, apalagi kondisi pasien yang perlu darah lagi darurat. Di novel ini pun kondisi Beatrice lagi gawat tapi tetap aja masih harus dimintai izin dari ortu. Lalu realitanya lebih rumit dari novel ini? OMG! Memangnya nggak ada pengecualian ya?

Yang asyik dari novel ini adalah babnya yang pendek-pendek. Terutama di awal cerita. Jadi terasa cepat bacanya. Pesanku buat proofreader atau editor atau siapa pun itu yang bertanggung jawab akan EYD, ada penggunaan yang masih nggak sesuai yang kutemukan di novel ini, yaitu penggunaan kata contek, mencontek, dan contekan. Seharusnya kan sontek, menyontek, dan sontekan. Mungkin masih ada lagi yang lain.

Novel ini udah difilmkan dengan judul Bianca come il latte, rossa come il sangue, yang artinya kalau dibahasainggriskan sama dengan judul novel ini. Penginnya lihat foto-foto filmnya di IMDb tapi cuma ada beberapa poster aja. Sepintas tampilan fisik pemerannya sesuai dengan deskripsi novel ini. Jadi pengin nonton.

***

 

 

QUOTES

 

 

“Setiap hal memiliki warna. Setiap perasaan memiliki warna. Kesunyian itu putih. Putih memang warna yang kubenci: warna yang tak memiliki batas. Mengibarkan bendera putih, memiliki rambut putih, muka yang seputih kapas… malahan, putih itu sebenarnya bukanlah warna. Putih bukanlah apa-apa, sebagaimana kesunyian. Hal yang tak berarti apa-apa, tanpa kata dan tanpa irama. Dirundung kesunyian sama artinya dengan dirundung warna putih.”

(Leonardo, hal. 1)

 

 

“Kenapa sih mereka tak memahami rambutku? Pertama-tama mereka bilang kau harus unik, kau harus berani mengungkapkan perasaanmu, kau harus jadi dirimu sendiri! Lalu, saat kau mencoba menunjukkan jati dirimu, kata mereka, kau tak punya kepribadian, kelakuanmu sama saja seperti yang lainnya.”

(Leonardo, hal. 6)

 

 

“Aku memilih sendiri teman-temanku. Inilah indahnya pertemanan, sebab kaulah yang memilih mereka dan kau merasa nyaman dengan mereka sebab kau memilih sendiri sesuai keinginanmu. Beda halnya dengan orang-orang di sekelilingmu. Mereka kebetulah saja ada di dekatmu dan sering kali menyebalkan.”

(Leonardo, hal. 10)

 

 

“Aku tak tahu alasanku melakukannya, aku tak tahu alasanku senang melakukannya, dan aku tak tahu alasanku akan melakukannya lagi.”

(Leonardo/Bart Simpson, hal. 13)

 

 

“Kesialan berwarna ungu, sebab ungu adalah warna orang mati.”

(Leonardo, hal. 14)

 

 

“Beatrice berwarna merah, sedangkan Silvia biru, seperti halnya seorang teman karib. Sedangkan si guru pengganti hanyalah setitik noda hitam pada sepanjang hari putih yang tak bisa diperbaiki lagi.”

(Leonardo, hal. 15)

 

 

“Mohammad el-Magrebi tinggal di Kairo, di sebuah rumah kecil berkebun mungil, tempat terdapat sebatang pohon ara dan air mancur. Dia begitu miskin. Suatu hari, dia terlelap dan memimpikan seorang pria basah kuyup yang mengeluarkan sekeping uang emas dari mulutnya seraya berkata padanya: “Keberuntunganmu ada di Persia, di kota Isfahan… kau akan menemukan harta karun… pergilah ke sana!” Mohammad pun terbangun dan buru-buru berangkat. Setelah menghadapi ribuan mara bahaya, akhirnya dia tiba di Isfahan. Di sana, saat sedang mencari makan dan kelelahan setengah mati, dia disangka pencuri. Mereka memukulinya dengan batang bambu dan nyaris menewaskannya, sampai pemimpin mereka bertanya, ‘Siapa kau? Dari mana asalmu? Mengapa kau ada di sini?’ Mohammad menjawab dengan jujur, ‘Aku memimpikan seorang pria basah kuyup yang menyuruhku datang ke sini karena katanya aku akan menemukan harta karun. Ternyata yang kudapati malah pukulan!’ Si pemimpin kawanan itu menertawakannya dan berkata, ‘Wahai orang dungu, kau percaya pada sebuah mimpi? “Eh.. aku pun pernah bermimpi tiga kali mengenai rumah kecil di Kairo dengan pekarangan mungil, tempat terdapat sebatang pohon ara, dan di balik pohon ara itu ada sebuah air mancur, dan di bawah air mancur itu ada harta karun yang amat berharga! Tapi aku tak pernah beranjak dari sini, Pandir! Enyahlah, Manusia Dungu!” Mohammad pun kembali ke rumahnya, dan saat menggali di bawah air mancur di pekarangannya, dia menemukan harta karun itu!”

(Si Pemimpi, dari kumpulan dongeng Seribu Satu Malam, hal 19)

 

 

“… kita berbeda dari binatang, yang hanya melakukan hal-hal yang disuruhkan alam saja. Sebaliknya, kita bebas. Inilah karunia terbesar yang sudah kita terima. Berkat kebebasan ini, kita bisa menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang. Kebebasan memampukan kita untuk bermimpi, dan mimpi adalah denyut kehidupan kita, meskipun sering kali membutuhkan perjalanan Panjang dan beberapa pukulan. ‘Jangan pernah berhenti bermimpi! Jangan takut untuk bermimpi, meskipun orang lain tertawa di belakangmu!’ begitulah nasihat kakekku, ‘sebab jika tidak begitu, berarti kau melawan kodratmu.’”

(Si Pemimpi, hal 20)

 

 

“Sejarah adalah sebuah kuali besar yang sarat dengan cita-cita yang diwujudkan oleh orang-orang yang menjadi besar karena memiliki keberanian untuk mengubah impian-impian mereka menjadi kenyataan, dan filsafat adalah keheningan tempat bersembunyinya impian-impian tadi. Meski sayangnya, terkadang impian-impian orang-orang tadi itu adalah mimpi buruk, terutama bagi mereka yang menanggung harganya. Saat impian-impian itu tidak bersembunyi di balik keheningan, maka mereka menjadi mimpi-mimpi buruk. Sejarah, bersama dengan filsafat, seni musik, sastra, merupakan cara terbaik untuk menemukan jati diri manusia. Aleksander Agung, Kaisar Augustus, Dante, Michelangelo… semuanya adalah orang-orang yang mempertaruhkan kebebasan mereka untuk hal yang lebih baik, dan dengan mengubah diri mereka sendiri, mereka sudah mengubah sejarah.”

(Si Pemimpi, hal. 21)

 

 

“Hanya saat manusia memiliki iman akan sesuatu yang berada di atas kemampuannya sajalah – inilah yang dinamakan impian – kaum manusia lantas membuat langkah-langkah gebrakan yang membantu mereka untuk bisa memercayai diri mereka sendiri.”

(Si Pemimpi, hal. 22)

 

 

“…mimpi tergantung dari reinkarnasi, dari siapa kita di kehidupan terdahulu.”

(Erika, hal. 25)

 

 

“Beatrice, misalnya, dia pasti adalah sebuah bintang di kehidupan terdahulunya. Ya, sebab bintang-bintang memiliki terang yang menyilaukan di sekeliling mereka: kau bisa melihat mereka dari kejauhan, dari jarak beribu-ribu tahun cahaya. Mereka adalah inti zat merah yang membara dan berkilauan.”

(Leonardo, hal. 27)

 

 

“Di kehidupan sebelumnya, Silvia pastinya seorang malaikat. Dia bisa paham segala hal dengan cepatnya, melesat begitu saja. Tampaknya para malaikat memang seperti itu, kalau tidak begitu, mereka pasti tidak punya sayap.”

(Leonardo, hal. 33)

 

 

“Setiap orang memiliki malaikat penjaga yang mendampinginya. Kau hanya perlu membicarakan apa yang terjadi padamu dan para malaikat itu akan langsung paham penyebabnya.”

(Anna, hal. 34)

 

 

“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

(Gandalf/Yesus Kristus, hal 39)

 

 

“… saat kita tampaknya tidak memikirkan apa pun, sebenarnya kita memikirkan hal yang melekat dalam hati kita. Kasih adalah sejenis daya gravitasi: tak terlihat dan universal, seperti juga tenaga fisik. Tanpa bisa dicegah, hati kita, mata kita, kata-kata kita, tanpa kita sadari, semuanya menuju ke sana, pada hal yang kita kasihi, bagaikan apel yang meluncur karena daya gravitasi.”

(Gandalf, hal. 41)

 

 

“Dalam hidup ini, yang berguna hanyalah hal-hal yang dinilai saja.”

(Leonardo, hal. 43)

 

 

“Aku merasa bagaikan sebuah kesalahan, kesalahan pengejaan. Seperti kata yang kelebihan huruf, atau kesalah penulisan lain. Seulas tip-ex saja, dan aku pun lenyap, seperti kesalahan-kesalahan lainnya. Kertasnya tetap putih, bersih dan tak seorang pun dapat melihat kepedihan yang tersembunyi di balik lapisan putih itu.”

(Leonardo, hal. 53)

 

 

“Kehidupan tanpa impian bagaikan taman tanpa bunga, tapi hidup yang penuh dengan impian-impian mustahil adalah taman yang dipenuhi bebungaan palsu…”

(Leonardo, hal. 60)

 

 

“Orang-orang dewasa memang ada di dunia ini untuk mengingatkan kami akan ketakutan-ketakutan yang tidak kami rasakan. Mereka sendirilah yang takut.”

(Leonardo, hal. 63)

 

 

“Ajukan pertanyaan pada setiap hal yang menggugah dan membangkitkan minatmu. Tanyakan pada setiap hal itu mengapa dia membuatmu tertarik. Di sanalah terletak jawaban  mengenai impianmu. Yang penting bukanlah perasaaan kita, melainkan kasih kita.”

(Si Pemimpi, hal. 66)

 

 

“Mereka mendorongmu untuk bermimpi, tapi melarangmu melakukannya saat kau baru saja memulainya. Semua hanya dengki! Mereka menduga bahwa untuk bermimpi kau harus meminta izin dulu dan jika kau tidak meminta izin itu, kau harus jadi orang dewasa dahulu.”

(Leonardo, hal. 75)

 

 

“Terkadang dalam musik bisa kita temukan jawaban-jawaban yang sedang kita cari-cari, bahkan tanpa berusaha mencari-carinya sekalipun. Seandainya kau tak berhasil menemukan jawaban itu pun, setidaknya kau akan menemukan perasaan-perasaan yang sedang melandamu. Seseroang sudah pernah merasakannya. Kau tak lagi merasa sendiri.”

(Leonardo, hal. 85)

 

 

“Membakar impian-impian adalah rahasia untuk melumpuhkan musuh-musuh, supaya mereka tidak bisa mendapatkan kekuatan untuk bangkit dan pulih lagi. Supaya mereka tidak memimpikan hal-hal indah di kota mereka, kehidupan orang lain, tidak memimpikan kisah orang lain yang begitu sarat dengan kebebasan dan cinta. Supaya mereka tak memimpikan apa-apa lagi. Jika kau tak mengizinkan orang lain untuk bermimpi, maka mudah saja memperbudak mereka.”

(Leonardo, hal. 88)

 

 

“Kurasa hari ini kau sudah mulai menjadi pria sejati: kau sudah melakukan sesuatu yang tak diusulkan atau diputuskan orang lain buatmu. Kaulah yang memilihnya sendiri.”

(Papa, hal. 101)

 

 

“Memang, kepedihan dan kemalangan tampaknya merupakan cara terbaik untuk membuat dunia ini memedulikan dan menyayangimu.”

(Leonardo, hal. 120)

 

 

“Impian-impian sejati dibangun di atas banyak rintangan. Jika tidak begitu, impian-impian itu tak akan berubah menjadi rencana, tetapi tetap berupa mimpi.”

(Si Pemimpi, hal. 125)

 

 

“Jika sebuah mimpi memiliki begitu banyak rintangan, artinya impian itu adalah mimpi yang tepat.”

(Si Pemimpi, hal. 126)

 

 

“Leo, memang tak ada jawaban yang meyakinkan mengenai kepedihan. Tapi semenjak Kristus mati di kayu salib bagi kita, kepedihan jadi memiliki makna. Maknanya ada…”

(Gandalf, hal. 130)

 

 

“Impian-impian itu bagaikan bintang-bintang: kau baru bisa melihat sinar penuhnya saat cahaya-cahaya lainnya sudah padam, meskipun mereka sudah ada di sana terlebih dahulu. Kaulah yang tidak bisa melihatnya, gara-gara disilaukan cahaya-cahaya lain.”

(Leonardo, hal. 136)

 

 

“Akan datang suatu hari saat kau memandangi dirimu di cermin dan bayanganmu berbeda dari yang kau harapkan. Ya, sebab cermin adalah bentuk kebenaran terkejam. Kau tidak tampak seperti yang sebenarnya. Kau ingin rupamu selaras dengan pribadimu dan kau ingin orang-orang lain, saat melihatmu, bisa segera mengenalimu sebagai seseorang yang tulus, murah hati, baik… tapi kenyataannya selalu perlu banyak kata dan tindakan. Kau harus membuktikan dirimu. Pastinya menyenangkan jika memperlihatkan diri saja sudah cukup. Pastinya segala hal akan jadi lebih sederhana.”

(Leonardo, hal. 159)

 

 

“Hanya orang yang bertanya secara mendetail sajalah yang berusaha memahami apa yang dirasakan hatimu. Detail. Detail: sebuah cara untuk menyayangi orang lain dengan sungguh-sungguh.”

(Leonardo, hal. 169)

 

 

“Ya, sebab jiwa memang berwarna putih dan untuk memperlihatkan dirinya, dia harus menjadi hitam bagaikan tinta. Lalu saat kau melihatnya di sana, kau bisa mengenalinya, membacanya, menatapnya, seperti saat kau bercermin menatap dirimu sendiri dan kemudian… kemudian kau menghadiahkannya.”

(Leonardo, hal. 172)

 

 

“Aku sudah merasa lebih baik. Aku, yang di hadapan sebuah kekeliruan berangan-angan hidup ini memiliki tombol untuk mengulang waktu. Tapi hidup tidak memiliki tombol semacam itu. Hidup terus saja berjalan maju dan memainkan lagunya, tak peduli kau suka atau tidak. Kau hanya bisa menaikkan dan menurunkan volumenya. Kau harus berdansa. Sebisa mungkin.”

(Leonardo, hal. 210)

 

 

“Kita semua memiliki sesuatu yang membuat kita malu. Kita semua pernah melarikan diri, Leo. Tapi inilah yang menjadikan kita manusia sejati. Saat wajah kita sudah tergores sesuatu yang membuat kita malu, barulah kita mulai memiliki wajah sejati…”

(Si Pemimpi, hal 210)

 

 

“Merasa takut itu normal. Begitu juga menangis. Itu tidak berarti menjadi pengecut. Menjadi pengecut adalah berpura-pura tidak ada yang terjadi, membalikkan badan ke arah yang lain. Tidak peduli.”

(Si Pemimpi, hal. 210)

 

 

“Kedewasaan tidak terlihat dari kesediaan untuk mati demi hal yang mulia, tetapi dari kesediaan untuk hidup deminya.”

(Si Pemimpi, hal 211)

 

 

“Membagikan kepedihan kepada orang lain adalah tindakan kepercayaan tertinggi yang bisa dilakukan seseorang.”

(Si Pemimpi, hal. 212)

 

 

“Ada dua cara untuk memandang wajah seseorang. Salah satunya adalah memandang mata seperti bagian dari wajah itu. Yang satunya lagi adalah memandang matanya dan hanya itu saja, seolah kedua mata itu adalah keseluruhan wajah. Itu adalah salah satu yang membuatmu ngeri saat kau melakukannya, sebab mata adalah miniatur kehidupan. Putih di sekelilingnya, seperti ketiadaan tempat kehidupan ini mengapung, iris yang berwarna, seperti hal-hal tak terduga yang menegaskannya, hingga terjun ke dalam warna hitam pupil yang menelan semuanya, bagaikan sumur tanpa warna dan tanpa dasar.”

(Leonardo, hal. 218)

 

 

“Cinta tidaklah ada untuk membuat kita bahagia, melainkan untuk menunjukkan betapa kuatnya kapasitas kita dalam menanggung kepedihan.”

(Si Pemimpi, hal. 236)

 

 

“Setiap bahasa memiliki sudut pandang yang berbeda. Misalnya saja, orang-orang Eskimo memiliki lima belas kata untuk mengatakan “salju”, tergantung dari suhu, warna, dan teksturnya, padahal buatku salju hanya satu saja, lalu kau harus menambahkan sebuah kata sifat untuk mengetahui jika kau bisa bermain snowboard di atasnya. Orang-orang Eskimo bisa melihat 15 jenis warna putih yang berbeda dalam satu warna putih yang kulihat, dan ini membuatku ngeri…”

(Leonardo, hal. 275)

 

 

“Orang-orang serupa dengan bintang-bintang: mungkin kilau mereka hanya terlihat dari kejauhan, tetapi mereka tetap berkilauan, dan selalu memiliki sesuatu yang menarik untuk diceritakan… tapi perlu waktu, kadang-kadang banyak waktu, sampai kisah-kisah itu mencapai hati kita, seperti juga cahaya memerlukan waktu untuk sampai ke mata kita.”

(Silvia, hal. 282)

 

 

“Hal buruk mengenai hidup ini ialah tidak adanya petunjuk manual. Kau sekaku mengikuti petunjuk manual. Jika ponselmu rusak, ada garansinya. Kau mengembalikannya dan mereka memberimu yang baru. Tapi tidak begitu dengan hidup ini. Jika hidupmu tak berjalan lancar, mereka tak memberimu hidup yang baru, dan kau harus mempertahankan hidup yang sudah kaupunyai, bekas, kotor, dan tersendat-sendat.”

(Leonardo, hal. 302)

 

 

“Kebenaran-kebenaran yang paling penting biasanya tersembunyi, tapi bukan berarti mereka tidak ada. Hanya saja mereka lebih sulit untuk ditemukan.”

(Mama, hal. 303)

 

 

“Kita, seperti juga Ayub, hari ini meneriakkan kekecewaan kita ke hadapan Tuhan: kita tidak paham dengan apa yang sudah diputuskan-Nya, kita tidak menerimanya, dan ini manusiawi. Namun Tuhan meminta kita untuk percaya pada-Nya. Inilah satu-satunya solusi dari misteri kesedihan dan kematian: keyakinan akan kasih-Nya. Dan ini adalah sebuah karunia ilahi. Kita tak perlu takut jika sekarang kita tidak sanggup melakukannya. Malahan, kita harus berterus terang mengatakannya pada Tuhan: kami tidak paham!”

(Gandalf, hal. 324)

 

 

“Tapi, kita memiliki solusi yang tak dimiliki Ayub. Apa kalian tahu apa yang dilakukan burung undan saat anak-anaknya kelaparan dan tak punya makanan untuk diberikan? Dia melukai dadanya sendiri dengan paruh panjangnya dan mengeluarkan darahnya yang penuh nutrisi untuk memberi makan anak-anaknya, yang mengisap lukanya bagaikan air mancur. Itulah yang dilakukan Kristus bagi kita, dan karena itulah Dia sering kali dilambangkan sebagai burung undan. Dia sudah mengalahkan kematian kita, anak-anak-Nya yang haus akan kehidupan, dengan mencurahkan darah-Nya, kasih-Nya yang tak akan pernah lekang bagi kita. Anugerah-Nya itu lebih kuat daripada kematian. Tanpa darah ini, kita akan mati dua kali…”

(Gandalf, hal. 325)

 

 

“Siapa yang menanti akan mendapatkan apa yang dinantinya, tapi siapa yang berharap justru akan mendapatkan apa yang tidak disangka-sangkanya.”

(Heraclitus, hal 328)

 

 

“… mencintai adalah kata kerja, bukan kata benda. Bukan sesuatu yang diciptakan sekali untuk selamanya, tetapi berevolusi, tumbuh, naik, turun, tenggelam, bagaikan sungai yang tersembunyi di jantung bumi, yang meski begitu, alirannya menuju lautan tidak pernah terputus. Kadang-kadang mereka membiarkan bumi gersang, tetapi di dalamnya, di lubang-lubang yang gelap, mereka masih saja mengalir, lalu terkadang naik kembali dan membuncah, menyuburkan semuanya.”

(Mama, hal. 335)

 

 

“…ada dua kategori orang yang melukai kita, Leo; mereka yang membenci kita dan mereka yang mencintai kita.”

(Mama, hal. 336)

 

 

“Orang-orang Yunani mengisahkan bahwa pada awalnya manusia bertubuh bundar seperti bola. Untuk menghukum perbuatan-perbuatan jahatnya, Zeus membelahnya menjadi dua. Kedua bagian itu berkelana di dunia dan saling mencari. Kerinduan mendorong mereka untuk terus mencari dan mencari, dan saat mereka bertemu, bundaran itu ingin kembali bersatu. Kisah ini memang benar adanya, tapi tidaklah cukup. Saat kedua belahan itu bertemu kembali, mereka sudah menjalani hidup mereka sampai saat itu. Mereka tidak lagi sama seperti saat mereka terpisah. Kini mereka memiliki kekurangan, kelemahan, luka. Tidak cukup hanya bertemu kembali dan saling mengenali. Kini mereka juga harus memilih, sebab kedua belahan itu tak lagi bisa bertaut dengan sempurna, hanya cintalah yang bisa memampukan mereka untuk menerima ujung-ujung tajam yang tak lagi bisa bertautan dan hanya pelukanlah yang bisa melembutkannya, meskipun itu terasa menyakitkan.”

(Silvia, hal. 340)

***

 

 

Penulis: Alessandro D’Avenia

Penerbit: Bhuana Sastra

Tahun Terbit: 2015

Tebal: 363 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 59.000 

Rating:  3 dari 5 Bintang

 

Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: 

Tokopedia, Instagram, atau Bukalapak

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s