You Are the Apple of My Eye – Giddens Ko (Book)

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi
Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya dengan pulpen saat ia ingin tidur di kelas hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu…

***

 

 

TOKOH UTAMA

 

 

  1. Ke Jinteng. Cowok yang nggak berprestasi di kelas. Tapi mendadak dia jadi suka belajar (dan jadi cerdas) semenjak suka sama Shen Jiayi.
  2. Shen Jiayi. Cewek paling pintar di kelas dan suka juara umum. Dia adalah inspirasi bagi Ke Jinteng.

 

 

ULASAN

 

 

Buku ini sebenarnya udah berbulan-bulan lalu diselesaikan tapi baru sekarang sempat bikin ulasannya. Aku pun nggak sempat buat banyak catatan, termasuk siapa aja yang jadi tokoh utamanya selain dua tokoh yang udah aku tulis di atas yang paling aku ingat jelas perannya. Sebenarnya ada dua tokoh lain yang seharusnya masuk, yaitu teman terdekat Ke Jinteng, yang merupakan saingan Ke Jinteng dalam memperebutkan cinta Shen Jiayi, dan seorang cewek yang menjadi gebetan Ke Jinteng sebelum akhirnya balik lagi naksir Shen Jiayi. Bagian ini yang menurutku adalah bagian ternyata dari novel ini. Kadang kita selalu diputar-putar nasib dulu sebelum akhirnya menemukan cinta sejati kita, yang kadang adalah orang yang udah kita kenal lebih dulu. Amazing.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang Ke Jinteng. Jadi kita seperti membaca buku harian dia sewaktu masih muda. Kalau nggak salah sih ada bagian di mana Ke Jinteng seolah jadi narator, seolah dia menceritakan sosok lain gitu. Campur-campur kali ya sudut pandangnya. Kadang aku seperti merasa membaca perjalanan hidup Giddens Ko, yang disamarkan namanya di novel ini menjadi Ke Jinteng. Apalagi Ke Jinteng juga bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Apa mungkin ya ini memang kisah nyata dari penulisnya sendiri? Who knows? Mungkin ada info penting yang aku lewatkan dari buku ini, karena aku baca buku ini putus-putus dengan jarak yang lumayan lama. Jadi suka lupa dan nggak fokus.

Btw, barusan aku baca artikel tentang adaptasi filmnya di Wikipedia. Di sana dijelaskan kalau film You Are the Apple of My Eye merupakan adaptasi dari novel semi-autobiografi dengan judul yang sama. Dan Ke Jinteng memang nama asli Giddens Ko. Jadi benar buku ini menceritakan tentang kehidupan sang penulisnya sendiri. Wah, kehidupannya benar-benar penuh warna. Dan Giddens Ko ini banyak banget bakatnya. Segala hal mau dicoba, makanya dia bisa jadi penulis yang karya-karyanya banyak diminati pembaca. Pengalaman hidupnya juga bervariasi.

Tapi buatku pribadi, gaya berceritanya nggak begitu istimewa dan cenderung terlalu sederhana. Nggak tahu sih kalau karya dia yang lain. Biar begitu, aku berusaha untuk menikmati setiap lembarnya. Ketambahan aku nggak sabar nonton filmnya, yang katanya merupakan box office di Taiwan, Hongkong, Singapura dan Cina. Kayaknya sih bakalan lebih seru filmnya. Secara, kalau dari bayangan aku pas baca buku ini, kehidupan remaja Ke Jinteng terbilang seru. Teman-teman yang “aneh” dan juga kisah cinta yang unik dan berliku-liku.

***

 

 

QUOTES

 

 

“Dalam kehidupan tidak ada yang namanya “kecelakaan”. Hanya bisa bilang kalau takdir sudah digariskan.”

(Ke Jinteng, hal. 290)

 

 

“Film sering menggunakan banyak kalimat klasik untuk mengajarkan bahwa kita seharusnya membuka lebar mata kita dalam memandang hidup. Selanjutnya, kita menjadikan kalimat itu sebagai moto hidup kita. Kebanyakan dari kita hanya asal mengumbar dan membanggakan moto hidup. Namun untuk benar-benar mengamalkan moto hidup itu, hanya ada satu cara melakukannya: selalu berjuang menentukan nasib kita sendiri dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Hati kita bisa jadi sekeras besi, tetapi bisa juga menjadi lembut di saat yang tidak terduga.”

(Ke Jinteng, hal. 310)

 

 

“If you risk nothing, then you risk anything. Kalau Anda tidak berani mengambil risiko, maka Anda sedang berisiko kehilangan segalanya.”

(Moto Hidup Ke Jinteng, hal. 313)

***

 

 

 

Penulis: Giddens Ko

Penerbit: Haru

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 350 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 63.000 

Rating:  2½ dari 5 Bintang

 

Buat yang mau beli buku second novel ini, bisa mengunjungi link berikut 😀

Tokopedia, Instagram, atau Bukalapak

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s