Raksasa dari Jogja – Dwitasari (Book)

Bianca tidak kenal cinta. Satu hal yang ia pelajari dari kedua orang tuanya adalah bahwa cinta itu omong kosong. Ia tumbuh bersama kisah yang dibentuk dari air mata mamanya, makian dan pukulan papanya. Apa itu yang namanya cinta? 

Bianca tidak paham cinta. Tapi, dinding kamarnya penuh dengan cerita tentang itu. Buku-buku itu seperti peta ke ranah fantasi bagi Bianca. Sebuah tempat asing, tempat Joshua mungkin tinggal di dalamnya.

Bianca tidak percaya cinta. Saat satu-satunya lonceng pemanggil ke arah sana telah direnggut sahabat terbaiknya. Joshua telah direbut Letisha. Belahan hatinya memilih pergi dengan yang lain.

Bianca tidak punya cinta. Dengan itu ia pergi ke Jogja. Di kota itu seorang raksasa berhati lembut mencoba memperbaiki remuk hatinya. Mencoba mendekapnya untuk mengembalikan lagi kehangatan hati. Tapi apakah Bianca masih bisa percaya bahwa cinta bukan hanya bahan jualan penulis-penulis saja?

***

 

 

TOKOH UTAMA

 

 

  1. Bianca Dominique: Cewek yang nggak percaya cinta lagi.
  2. Gabriel: Cowok bertubuh raksasa yang suka sama Bianca.
  3. Letisha: Sahabat Bianca.
  4. Kevin: Sepupu Bianca.

 

ULASAN

 

 

Lagi-lagi satu buku yang dipilih untuk segera diselesaikan karena pengin nonton filmnya yang ada di Iflix. Padahal butuh perjuangan untuk mengakhiri buku ini. Udah gitu, filmnya sebenarnya udah lama juga sih, lol (apalagi bukunya). Jadi malu karena nggak pernah bisa up to date. But that’s the true reason why my blog name is Mollusskkame. See?

Ini adalah novel karya Dwitasari pertama yang aku baca. Dan ternyata ini juga merupakan karya debut dari sang penulis. Aku nggak tahu siapa dia kecuali dari beberapa ulasan di Goodreads yang bilang kalau Dwitasari itu seorang seleb tweet. Tweet-tweetnya katanya bikin galau. Ugh. Akhirnya aku iseng cari tentang penulis di Google dan ketemulah artikel ini: “Dwitasari”. Siapa tahu masih ada orang yang belum kenal siapa dia, bisa klik link tersebut.

Rasanya nggak perlu ditulis lagi novel ini tentang apa, karena dari blurb-nya aja udah jelas banget. Jalan ceritanya pun bukan hal yang baru lagi. Sedikit pembeda, si cowoknya punya postur tubuh yang jauh melebihi postur si cewek, makanya dibilang raksasa. Mungkin terinspirasi sama Donny Kesuma dan mantan istrinya kali ya? Atau kalau untuk contoh masa kini, bikin aku teringat sama Eric and Jessie Decker atau Shakira dan Gerard Pique. What a difference! 

Lalu ada bahasan soal kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh ibunda Bianca dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh Gabriel di Jogja yang menjadi ornamen dalam novel ini. Sayangnya isu berat tersebut cuma dibahas sambil lalu aja sama penulis jadinya kurang mengena di hati. Benar-benar cuma ornamen pembeda aja.

Like I said before, butuh perjuangan untuk menyelesaikan membaca buku ini. Gaya berceritanya benar-benar membosankan. Dan itu udah terjadi dari awal cerita. Standar banget. Dari semula pun udah bisa teraba karakterisasi tokohnya yang kurang meyakinkan. Sosok Bianca dan Latisha terasa sama. Jadi mereka tuh kayak lagi teleponan sama diri sendiri.

Aku nggak bisa nulis lebih banyak lagi soal buku ini karena udah lama juga bacanya. Jadi lupa-lupa gitu, deh. Intinya, jalan ceritanya membosankan. Maaf, lho. Setidaknya kovernya cantik, beberapa judul babnya menarik, dan ketekunan penulisnya (yang aku baca dari website di atas) sungguh menginspirasi. Eh, tapi aku menemukan satu obrolan soal penulis di Kaskus. Pas aku selesai baca… wah, wah, wah… serius penulis sampe segitunya? Penasaran? Boleh diklik link berikut: “Dwitasari in Kaskus”

Sekian pengalaman pertamaku baca novel debut penulis yang kurang mengesankan. Mungkin karya-karya terbaru penulis bisa lebih menarik lagi jalan ceritanya?

***

 

 

QUOTES

 

 

“Di dunia ini enggak ada yang 100 persen bahagia dan 100 persen menderita. Alam aja butuh penyeimbang, apalagi manusia…”

(Bianca Dominique, hal. 18)

 

 

“Perpisahan yang sebenarnya adalah ketika seseorang tidak pernah saling ingat lagi.”

(Kevin, hal. 70)

 

 

“Kalau kamu punya pacar, tapi masih sering merasa kesepian, berarti ada sesuatu yang salah dalam hubunganmu.”

(Bianca Dominique, hal. 100)

 

 

“Usaha itu gaya dikali perpindahan. Kalau usaha nol, dan perpindahan nol, berarti kamu cuma gaya, dong.”

(Nessa, hal. 170)

 

 

“Ada saatnya kamu harus melepas kecintaanmu agar dia bahagia dengan kebebasannya.”

(Bianca Dominique, hal. 211)

***

 

 

Penulis: Dwitasari

Penerbit: PlotPoint

Tahun Terbit: 2016 (Edisi Kover Baru)

Tebal: 270 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 49.000 

Rating:  1 dari 5 Bintang

 

Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: 

Tokopedia, Instagram, atau Bukalapak

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s