The Beginning of Everything (Awal Segalanya) – Robyn Schneider

Ezra Faulkner, cowok paling populer di sekolah, percaya bahwa semua orang pasti akan mengalami tragedi. Begitu pun dirinya. Pada suatu malam, pengemudi ceroboh menabrak Ezra sehingga menghancurkan lutut, karier atletik, dan kehidupan sosialnya.

Saat tersingkir dari kalangan anak keren, ia berkenalan dengan Cassidy Thorpe. Gadis itu melibatkan Ezra dalam petualangan tak berkesudahan. Namun, ketika asyik dengan persahabatan dan kisah cinta baru, Ezra jadi tahu bahwa ternyata ada orang-orang yang ia salah artikan.

Akibatnya, ia sekarang berpikir: kalau kecelakaan kemarin sudah menghantam dan mengubah seluruh hidupnya, apa yang akan terjadi jika tragedi lain menyusul?

 

“Novel menarik tentang anak-anak cerdas yang melakukan hal-hal asyik ini akan menarik bagi pembaca John Green…”
—Booklist (starred review)

***

 

 

TOKOH UTAMA

 

 

  1. Ezra Faulkner: Cowok dengan kehidupan sempurna. Dia populer, lumayan cerdas, dan merupakan atlet tenis unggulan sekolah. Ganteng pula.
  2. Cassidy Thorpe: Cewek berpenampilan dan berkepribadian unik. Udah gitu misterius, lagi. Dia murid baru di sekolahnya Ezra.
  3. Toby Ellicott: Sahabat Ezra. Suka bikin komik.
  4. Charlotte Hyde: Mantan pacar Ezra yang super nggak setia.

***

 

 

ULASAN

 

 

Aku sebenarnya pengin memulai ulasan ini dengan sebuah kata mutiara tentang persahabatan yang dulu sempat kubaca, tapi aku lupa tepatnya seperti apa. Intinya, kata mutiara itu bilang bahwa kesetiaan seseorang baru benar-benar teruji ketika kawannya sedang berada dalam kesusahan. Nah, hal ini pula yang sedang dialami Ezra Faulkner. Semenjak kecelakaan mobil yang membuat kakinya sedikit pincang, hubungan dengan teman-temannya dulu jadi renggang. Memang sih Ezranya juga yang agak minder dan cenderung menarik diri. Tapi keminderan ini pun akibat dari kurangnya dukungan teman-temannya tersebut saat Ezra dirawat di rumah sakit. Menjenguk pun mereka ogah. Apa mereka pikir kartu ucapan macam”Get Well Soon” aja udah cukup? Huh! Teman macam apa kalian?

Menjauh dari lingkungan anak populer yang dulu menjadi “keluarganya”, Ezra mulai dekat kembali dengan sobat masa kecilnya dulu, Toby Ellicott, which is jauh dari titel populer. Bersamaan dengan itu, Ezra pun mulai dekat dengan cewek bernama Cassidy Thorpe. Murid baru yang unik nan misterius ini memberikan kehidupan dan petualangan baru bagi Ezra. Karakter Cassidy menurutku mirip banget sama tokoh Margot di novel Paper Towns. Beberapa bagian ceritanya pun sedikit membangkitkan memoriku akan novel keren tersebut. Mungkin ini alasan Booklist memberikan ulasan singkat seperti di blurbnya. Tapi dari jalan cerita tentu lebih menarik Paper Towns. Kalah kelas, sih, hehe.

Yang bikin kalah kelas itu adalah jalan ceritanya. Kelewat slow. Di awal memang cepat, di mana kecelakaan sudah menimpa Ezra. Sayangnya, pemaparan soal perubahan hidup Ezra, secara fisiknya, nggak digambarkan dengan baik. Padahal sudut pandang novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, di mana menurutku hal itu harusnya bisa lebih “didramatisasi”. asal jangan berlebihan aja. Beda banget sama novel The Running Dream karya Wendelin Van Draanen yang juga mengangkat hal yang kurang lebih sama, yaitu kehidupan seorang atlet lari yang harus berubah 180 derajat ketika sebuah kecelakaan mobil menimpanya. Baca novel tersebut bikin aku merasa beruntung banget karena mempunya dua kaki yang utuh. Awalnya kupikir si penulis The Beginning of Everything ini kurang riset, tapi ternyata di bagian Tentang Pengarang, dituliskan bahwa dia adalah lulusan Sekolah Kedokteran University of Pennsylvania. Masa iya? Sungguh disayangkan aja bagian yang kumaksud di atas kurang dieksplor. Jangankan soal itu, jalannya debat yang diiikuti oleh Ezra pun nggak digambarkan. Padahal kan aku pengin tahu argumen-argumen para peserta saat debat.

Hal lain yang kurang memuaskan dari novel ini adalah terlalu banyaknya tokoh yang dimasukkan sehingga cerita jadi kehilangan fokus. Sampai melewati setengah bagian dari novel ini, konfliknya masih belum kuat sementara tokoh makin banyak aja bermunculan. Memang kemisteriusan Cassidy lumayan bikin penasaran, tapi rasa penasaran itu nggak seseru rasa penasaranku buat Margot. Yah, mungkin karena kebanyakan tokoh yang bersinggungan dengan Ezra, jadi Cassidy tampak nggak begitu istimewa. Beda dengan Margot, yang benar-benar menjadi fokus kehidupan seorang Quentin Jacobson.

Lucunya, di bagian akhir cerita, di mana seharusnya Ezra dan Cassidy yang menjadi sorotan, aku malah lebih tersentuh sama aksi kepahlawanan Cooper yang rela mengorbankan nyawanya demi Ezra. Cooper adalah anjing peliharaan Ezra. Bukan cuma penyelamat Ezra, dia juga (mungkin satu-satunya) penyelamat novel ini. Kalau nggak ada dia, mungkin novel ini akan memiliki ending yang terbilang flat. Udah agak ketebak juga soalnya kenapa sikap Cassidy tiba-tiba berubah menjelang prom night. Padahal sebelumnya hubungan dia dan Ezra adem ayem. Sekali lagi, bravo buat Cooper. You’re the hero!

***

 

 

QUOTES

 

 

“Dunia ini mematahkan semua orang, lalu setelahnya, beberapa orang menjadi kuat di tempat-tempat yang patah itu.”

(Ernest Hemingway, hal. 7)

 

 

“Kehidupan setiap orang, sekalipun biasa-biasa saja, memiliki momen yang akan menjadikannya luar biasa — kejadian tidak terduga yang melahirkan sederetan pengalaman benar-benar penting.”

(Ezra Faulkner, hal. 9)

 

 

“Menurutku diam adalah pilihan aman. Kata-kata bisa mengkhianatimu kalau kau memilih yang salah dan tidak terlalu bermakna jika kau menggunakan terlalu banyak. Lelucon-lelucon bisa saja disalahartikan dan cerita-cerita bisa dianggap membosankan.”

(Ezra Faulkner, hal. 71)

 

 

“Ada filsuf sekaligus sejarawan bernama Foucault yang menulis bahwa lingkungan masyarakat bagaikan penjara legendaris bernama panopticon. Dalam panopticon, kau diawasi terus-terusan, tapi kau tidak pernah benar-benar yakin apa ada yang sedang mengawasimu atau tidak, jadi kau akhirnya terpaksa mengikuti semua aturan yang ada.”

(Cassidy Thorpe, hal. 75)

 

 

Dialog (Hal. 174)

Cassidy: Ada istilah untuk itu, istilah Prancis, yang menggambarkan perasaan yang bertahan setelah sesuatu berlalu. Sillage. Aku selalu memikirkannya saat kembang api menyala dan menerangi asap dari kembang-kembang api sebelumnya.
Ezra: Itu istilah payah. Itu seperti semacam dalih untuk bertahan pada masa lalu.
Cassidy: Menurutku itu indah. Sebuah kata untuk mengingat momen-momen kecil yang ditakdirkan lenyap.

 

 

“Kita dua sisi koin tragis yang sama. Kita seperti sudah terikat sebelum kita bertemu.”

(Ezra Faulkner, hal. 312)

 

 

“Oscar Wilde pernah berkata bahwa sepenuhnya menjalani hidup merupakan hal yang langka di dunia ini karena kebanyakan orang hanya sekadar ada, itu saja. Aku tidak tahu penulis itu benar atau tidak, yang aku tahu, aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu dengan sekadar ada, dan sekarang, aku ingin sepenuhnya menjalani hidup.”

(Ezra Faulkner, hal. 319)

***

 

 

 

Penulis: Robyn Schneider

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2013

Tebal: 328 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 68.000 

Rating:  2 dari 5 Bintang

 

Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: 

Tokopedia, Instagram, atau Bukalapak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s