Notting Hill

Tiba-tiba aku pengin nonton ini gara-gara habis baca novel The Princess Diaries. Emang sih nggak nyambung, tapi aku merasa kedua media tersebut justru memiliki kemiripan yang ajaib. Kemiripan tersebut antara lain:

  1. Di film Notting Hill, Julia Roberts berperan sebagai Anna Scott. Sementara itu, tokoh Mia Thermopolis di novel The Princess Diaries diperankan oleh aktris Anne Hathaway. Namanya hampir mirip kan? Anne… dan Anna.(???)
  2. Nuansa kerajaan Genovia yang digambarkan di novel The Princess Diaries mengingatkan aku pada kerajaan paling terkenal di dunia, yaitu Kerajaan Inggris. Notting Hill sendiri adalah sebuah kota yang berada di Inggris. Salah satu bintang utamanya juga berasal dari sana, yaitu Hugh Grant. See?
  3. Anne Hathaway dan Julia Roberts itu mirip banget menurutku. Mereka sama-sama punya senyum yang lebar dan gigi yang besar. Jadi kalau lihat salah satu senyum, biasanya aku ingat artis yang satunya.
  4. Kisah cinta yang diangkat baik di film Notting Hill maupun novel The Princess Diaries sama-sama menceritakan dua hubungan yang berbeda “kasta”.

Nah, ajaib kan kemiripannya? Oke, mungkin cuma aku sendiri yang merasa keduanya mirip. makanya aku bilang ajaib. LOL. Seenggaknya, poin yang nomor empat masih bisa dimaklumi.

Dulu aku mengira judul film ini adalah Nothing Hill, instead of Notting Hill.  Nggak ingat pasti sih kenapa bisa berpikiran begitu? Tapi kayaknya karena hal pertama yang nyantol di otakku waktu baca judul filmnya adalah kata nothing, jadinya kata itu terus yang teringat. Aku menerjemahkannya menjadi”Bukit Tak Berarti” dan menurutku judulnya sesuai sama filmnya yang bercerita tentang hubungan asmara orang biasa dengan seorang aktris ternama. Jadi tempat tinggal si cowok itu bagaikan Bukit Tak Berarti jika dibandingkan dengan tempat tinggal si cewek. Aku waktu itu belum nonton filmnya. Cuma berkesempatan nonton trailernya di Cinema Cinema. Btw, ada yang masih ingat nggak sih apa itu Cinema Cinema? Well, kayaknya cuma generasi 90-an yang tahu apa yang kumaksud, ha ha ha.

Seperti yang udah tertulis di atas, Julia Roberts berperan sebagai Anna Scott. Dia seorang aktris ternama Amerika yang lagi… (apa ya? aku lupa tepatnya) liburan atau habis shooting di wilayah Notting Hill, Inggris. Dia jalan-jalan sendirian tanpa ada bodyguard satu pun. Di sini aku udah merasa aneh, kok nggak ada orang sekitar yang mengenali dia ya? Biasanya kan kalau aktris populer itu benar-benar dikenal massa segimana pun dia mencoba untuk menyamarkan penampilannya. Lalu dia masuk ke sebuah toko buku yang khusus menjual buku-buku traveling. Btw, hebat ya toko buku di Inggris yang bisa percaya diri dengan cuma menjual buku-buku traveling. Banyak yang butuh karena sepertinya orang Inggris pada suka traveling. Kalau di Indonesia, toko buku kecil pun berusaha menyediakan buku yang beragam biar nggak sepi pengunjung. (Just my honest opinion)

Lawan main Julia Roberts adalah Hugh Grant. Dia memerankan tokoh lelaki bernama Will Thacker, pemilik toko buku traveling kecil yang aku sebut di atas. Orangnya sederhana, tapi kegantengannya memabukkan. Trust me. Buktinya aktris sekelas Anna Scott pun sampai jatuh cinta sama dia dan nekat mencium Will duluan.  Anyway, aku baru sadar lho kalau Hugh Grant itu ganteng banget di film ini. Kalau di film Bridget Jones’s Diary kan aku nggak begitu menyadari. Padahal jarak rilis filmnya cuma dua tahun. Lewat film ini, ada nada komedik khas Hugh Grant yang aku kenal dan lagi-lagi baru kusadari, yaitu cara dia mengucapkan kata “Right..” dengan cara yang unik dan agak lambat. Jadi nonton film ini bikin teringat sama film lain di mana Hugh Grant pun ikut terlibat.

Filmnya sendiri sih agak membosankan menurutku, terutama di bagian awal. Apalagi soal adegan keberadaan Anna Scott yang nggak disadari banyak orang saat berjalan di kawasan Notting Hill. Waktu makan di restoran berdua Will juga nggak banyak orang yang sadar. Bagiku ini aneh. Lain halnya kalau mereka menyadari keberadaan Anna Scott, tapi malu untuk mendekat dan menyapa. Jadi cuma bisa kasak-kusuk sendiri aja. Seperti halnya aku waktu ketemu tiga seleb tapi malu untuk say hi atau melempar senyum, apalagi buat minta foto, hehe.

Yang menariknya adalah ketika Anna Scott menceritakan soal bebannya sebagai seorang aktris dan kesulitannya saat menghafal dialog. Dia latihan sama Will dan terlihat lancar waktu mempraktekan dialognya. Aku pun sempat terkecoh. Kirain nggak ada yang salah karena ngomongnya lancar, nggak tahunya salahnya banyak juga. Sepertinya Anna lagi berimprovisasi tapi terlalu melenceng. So, menjadi seorang pemain film itu butuh daya ingat yang kuat.

Entah benar apa enggak di kenyataan dunia perfilman, ternyata nggak semua aktris/aktor yang harus akting bugil itu benar-benar melakukan adegan bugil tersebut. Karena menurut percakapan Anna dan Will di film ini, Anna menerapkan beberapa persyaratan ketika ia harus melakukan adegan bugil. Dia berhak menentukan bagian mana yang boleh di shoot dan mana yang enggak. Malah, Anna bilang dia boleh menggunakan stunt bottom untuk adegan bugil.

Anna: The thing that’s so irritating is that now I’m so totally fierce when it comes to nudity clauses.
William: You actually have clauses in your contract about nudity?
Anna: Definitely. You may show the dent of the top of the artist’s buttocks but neither cheek. Or, if there’s a stunt bottom being used, artist must have full consultation.
William: You have a stunt bottom?
Anna: Well, I could have a stunt bottom, yes.
William: And are people tempted to go for better bottoms than their own?
Anna: Yeah. I mean, I would. This is important stuff.

Meski ceritanya kurang begitu seru seperti halnya film Pretty Woman (bagaimana pun, aku merasa film ini sebagai kebalikan 180 derajat kehidupan Julia Roberts dalam sebuah film, apalagi berada dalam dekade yang sama), aku tersentuh dengan bagian di mana Anna Scott minta maaf sama Will Thacker.

“The fame thing isn’t really real, you know. And don’t forget, I’m also just a girl standing in front of a boy, asking him to love her.”

Sedih aja gitu kalau seandainya itu juga terjadi sungguhan di kehidupan seorang Julia Roberts. Bisa dibilang suaminya yang sekarang, Daniel Moder, bukanlah dari kalangan selebriti.

Karakter Anne Scott sendiri bisa dibilang menarik karena kelihatannya seperti orang yang sulit ditebak maunya. Kelihatan juga dari wajahnya kalau dia udah muak dengan kehidupan selebriti yang nggak bisa jauh-jauh dari paparazzi dan gosip. Segala hal diekspos. Dan parahnya, nggak semuanya benar. Will boleh berpendapat Anna terlalu membesar-besarkan masalah paparazzi, tapi cuma Anna yang tahu gimana rasanya menghadapi dua hal tersebut setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detiknya. Just step in her shoes and then you can talk. 

Last but not least, film ini kembali memperdengarkan sebuah lagu romantis yang dulu menjadi lagu favorit aku banget, When You Say Nothing At All by Ronan Keating. It’s a very very beautiful and soothing song. I love it! Selain itu, keberadaan tokoh Spike (Rhys Ifans) yang gokil bikin film ini sedikit menghibur.

***

 

 

Sutradara: Roger Michell

Penulis Skenario: Richard Curtis

Musik: Trevor Jones

Sinematografer: Michael Coulter

Desain Kostum: Shuna Harwood

Tayang Perdana: 21 Mei 1999

Durasi: 2 Jam 4 Menit

Nonton di: Netflix

Rating: 3 dari 5 Bintang

Iklan

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s