Aku, Kau& KUA – @tweetnikah (Book)

Sebuah buku tipis mungil yang berguna. Itulah pendapat singkatku untuk buku nonfiksi yang satu ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini banyak mengupas soal hubungan percintaan dan jenjang pernikahan. Tujuannya supaya pasangan yang ingin melangkah ke jenjang tersebut bisa semakin mantap lagi. Karena banyak hal yang (ternyata) perlu dipikirkan sebelum sepasang kekasih memutuskan untuk menikah. Tapi bukan berarti hal tersebut lantas membuat seseorang takut dan cemas berlebihan untuk mewujudkannya. Bagaimana pun, menikah itu kan ibadah.

Bahasa yang dipakai di buku ini begitu ringan dan enak dibaca. Namun itu nggak mengurangi keseriusan topik yang dibahas. Malah ada nih beberapa pemilihan kata yang bikin aku jadi teringat sama keunikan gaya bicara Dilan sewaktu lagi ngegombalin Milea.

Btw, buku ini berawal dari Twitter, makanya penulisnya adalah @tweetnikah. Aku sih nggak tahu soal keberadaan akun ini karena nggak begitu ngebet nikah juga, hehe. Aku beli buku ini karena ada filmnya. Tadinya aku pikir buku ini berbentuk novel, tapi  pas dibuka ternyata malah nonfiksi. Untung penyampaiannya seru.

Melalui buku ini, sang admin @tweetnikah juga ikutan curhat soal dunia kerjanya. Lumayan, aku jadi tahu “suka-duka” kehidupan seorang admin sebuah akun sosmed. Seru juga.

***

QUOTES

 

 

“…apa pun motivasi Anda menikah, akan menentukan seberapa berkualitasnya perjalanan kehidupan pernikahan Anda nanti.”

(Hal. 6)

 

 

“Sejatinya, bukankah sebuah pernikahan adalah proses mengenal diri sendiri dan mengenal satu sama lain yang berlangsung sepanjang pernikahan bahkan seumur hidup?”

(Hal. 12)

 

 

“Memang tidak semua wanita kuat untuk memulai pernikahan dengan hidup sederhana bahkan kekurangan. Tapi buat lelaki, ingat juga ini: Hanya karena Anda belum mapan dan wanita tidak ingin Anda nikahi gara-gara itu, bukan berarti Anda berhak menuduh wanita itu matre lho.”

(Hal. 21)

 

 

“Penelitian Penn-State University USA menemukan pasangan yang nikah muda (18-25 tahun) memiliki perkembangan psikologis jauh lebih baik dibandingkan pasangan yang terlambat menikah.”

(Hal. 26)

 

 

“Jodoh itu teorinya mirip seperti rezeki. Betul ada di “tangan” Tuhan, tapi kalau tak dijemput, bakal di”tahan” Tuhan.”

(Hal. 30)

 

 

“Dunia maya hanyalah salah satu dari banyak cara Tuhan untuk mempertemukan dua manusia. Bukan berarti Anda lantas bisa otomatis menemukannya di mesin pencari dengan mengetikkan keyword tertentu. Ingat, jodoh belum tentu bisa dicari pakai GOOGLE, tapi kalau udah nemu, pasti rasanya YAHOO! Banget.”

(Hal. 45)

 

 

“Jika calon pasangan membuatmu makin dekat dengan Tuhan, lanjutkanlah! Sebaliknya kalau dia membuatmu makin menjauh dari Tuhan, tinggalkanlah!

Jika calon pasanganmu dari sekarang sudah biasa berkata kasar, membuat hati terluka bahkan menyakiti fisik, tinggalkanlah! Pernikahan itu untuk membangun ketenangan jiwa, bukan sebaliknya.

Jika calon pasanganmu belum menikah saja sudah menadahkan tangan minta kamu biayai, tinggalkanlah! Apalagi jika dia laki-laki. Sungguh dia tak punya malu melakukan itu, bagaimana mungkin nanti jadi kepala keluarga tidak punya ketangguhan untuk mencari nafkah? 

Jika calon pasanganmu belum menikah saja sudah mengajak berzina, berhubungan layaknya suami istri, tinggalkanlah! Bisa jadi setelah nikah nanti dia akan mengajak orang lain melakukan itu di belakangmu.

Jika merasa ragu pada calon pasangan, dengarkanlah suara hatimu! Suaranya begitu jelas untuk didengar, meski juga sekaligus sangat lembut untuk diabaikan. Jangan sampai rasa cintamu membutakan logikamu dan mengabaikan rasa ragu di hatimu. “

(Hal. 46)

 

 

“Membuktikan cinta itu adalah dengan melamar dan menikahinya secara resmi. Dan itu dilakukan oleh laki-laki dengan mendatangi keluarga wanita yang dia cintai, bukan dengan meminta wanita menyerahkan kehormatannya untuk membuktikan cinta.”

(Hal. 66)

 

 

“Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Namun, sebaik-baiknya manusia berdosa adalah yang bertobat dari dosanya.”

(Hal. 78)

 

 

“Apabila Anda ditinggalkan atau dikecewakan orang yang sangat Anda cintai, biarkan saja. Seharusnya Anda kasihan padanya. Anda hanya kehilangan orang yang tidak mencintai Anda. Sedangkan dia? Dia baru saja kehilangan orang yang sangat mencitai dirinya, andai dia tahu.”

(Hal. 79)

 

 

“Apabila Anda ditinggalkan karena pasangan Anda selingkuh dengan orang lain, kasihanilah juga orang ketiga itu. Dia hanya telah merebut orang yang kualitas cintanya telah terbukti rendah dan buruk dari Anda.”

(Hal. 79)

 

 

“Wanita emang suka cokelat sama bunga, tapi lebih suka lagi kalau diberi kepastian kapan diajak ke KUA.”

(Hal. 82)

 

 

“Tidak ada orangtua yang tidak cinta pada anaknya. Namun tak ada juga cinta yang tak pantas diperjuangkan. Tinggal kita yang harus menyesuaikan tarian dengan irama gendangnya.”

(Hal. 100)

 

 

“Jangan pernah menunda lamaran kalau Anda sudah siap. Karena tiga kata yang ditunggu wanita bukan “I love you” atau “I miss you”, tapi “Aku terima nikahnya…”

(Hal. 128)

 

 

“Begitulah, sering kali dalam pernikahan yang mahal bukah biaya resepsi, tapi justru biaya gengsi.”

(Hal. 142)

 

 

“Neng, nanti setelah nikah bersedia nggak kalau dimadu?”
Kekasihnya dengan tersenyum tenang menjawab:
“Mau Bang, asal Abang juga bersedia kalau diracun.”

(Hal. 152)

 

 

Yah, kalau mau seriusnya sih sebenarnya makna suami itu takit istri…

  • Takut kalau istrinya nggak bahagia.
  • Takut kalau istrinya nggak diberi makan dengan layak.
  • Takut hati istrinya bersedih karena sikap dan kelakuannya.”

(Hal. 170)

 

 

“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran dan perhatian, itu adalah kesia-siaan.”

(Hal. 180)

***

 

 

Penulis: @tweetnikah

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2014

Tebal: 224 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 48.800 

Rating:  3 dari 5 Bintang

 

Buat yang mau beli buku second judul ini, bisa mengunjungi link berikut: 

Tokopedia, Instagram, atau Bukalapak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s