1 Liter of Tears – Aya Kito (Book)

Ketika berumur 15 tahun, Aya Kito merasakan perubahan drastis pada dirinya. Tiba-tiba tubuhnya menjadi kurus, dan juga sering terjatuh tanpa penyebab yang jelas. Rupanya itu merupakan gejala awal serangan penyakit Spinocerebellar ataxia (SCA), penyakit langka yang belum ditemukan obatnya.

Kisah penuh air mata ini sungguh mengetuk hati kita, karena walaupun menahan penderitaan yang hebat, Aya Kito terus berjuang untuk melawan penyakitnya. Kisah nyata ini telah diangkat menjadi drama serial di Jepang dengan judul 1 Liter of Tears, yang tidak hanya menguras air mata, tetapi juga menularkan semangat bagi kita agar senantiasa menghargai kehidupan.

***

1 Liter of Tears diangkat dari kisah nyata seorang remaja di Jepang bernama Aya Kito yang menderita penyakit langka. Tapi kalau dibayangkan, penyakitnya kayaknya hampir mirip dengan struk karena dia jadi kesulitan berbicara dan menggerakan anggota tubuhnya. Aku penasaran dengan kisah ini karena dulu aku pernah nonton sinetron Buku Harian Nayla yang diperankan oleh Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie. Sinetronnya sedih banget dan aku merasa itu salah satu sinetron terbaik Indonesia yang pernah aku tonton. Aku juga suka banget sama soundtrack-nya yang dinyanyikan oleh Nikita karena begitu religius, which is memang kayaknya itu lagu gereja. Nggak masalah itu mau lagu gereja atau bukan selama lagu tersebut bisa meningkatkan rasa cintaku kepada Sang Pencipta.

Eh tapi, sebenarnya sinetron Buku Harian Nayla nggak pernah menyebutkan secara resmi kalau kisahnya diadaptasi dari buku tersebut. Cuma ada desas-desus kalau sinetron tersebut menjiplak drama series di Jepang berjudul 1 Liter of Tears, yang memang diadaptasi secara resmi dari buku ini. Waktu dulu tahu soal ini, aku jadi agak kecewa. Aku kira Indonesia memang “masih” punya kemampuan membuat kisah  sinetron original yang asyik untuk ditonton dan juga memberikan pengetahuan plus pelajaran moral untuk para penontonnya. Yah, semacam Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara gitu. Sekarang aku nggak pernah nonton sinetron lagi, jadi nggak tahu gimana perkembangan sinetron di Indonesia sekarang, apakah lebih baik atau justru lebih buruk.

Kembali ke review. 1 Liter of Tears berisi curahan hati Aya Kito. Semacam diary gitu. Dia menulis tentang keluarganya, hubungannya  dengan mereka, apa yang ia pikir dan rasakan tentang mereka dan orang-orang yang berinteraksi dengannya, dan juga gejala-gejala yang ia rasakan pada tubuhnya sebelum penyakit Ataxia benar-benar melumpuhkan pergerakan anggota tubuhnya. Sampai dia nggak bisa menulis diary lagi.

Membaca buku ini, aku jadi bisa melihat bahwa ketika salah satu anggota keluarga kita sakit parah, bukan cuma si penderita yang “menderita”, tapi juga anggota keluarga yang lain. Kadang ada kekesalan adik Aya karena merasa semua perhatian ibunya hanya tercurah pada Aya. Tapi untungnya lama-lama kekesalan itu hilang seiring dengan bertambahnya umur si adik.

Dan melalui buku ini, aku juga bisa melihat betapa hebatnya peran seorang ibu. Aya sudah hebat karena bisa bersabar melewati penyakitnya tersebut, tapi Ibu Aya jauh lebih hebat lagi. Tanpanya, mungkin Aya nggak akan sekuat itu. Kadang aku berpikir, kenapa seorang ibu bisa sepeduli itu pada anaknya yang sakit? Kenapa mau serepot itu?  Apalagi pada akhirnya nyawanya nggak bisa tertolong? Bukankah apa yang dilakukannya itu sia-sia? Padahal ada anak-anaknya yang lain, yang sehat, yang juga perlu perhatian dia?

Hanya seorang Ibu yang bisa menjawab dengan tepat pertanyaan itu. Aku cuma bisa mencoba mengerti dan menebak: bahwa cinta seorang Ibu sejati pada anaknya begitu tak terbatas dan begitu tulus. Seorang Ibu sejati hanya ingin memperjuangkan apa yang bisa ia lakukan demi kesembuhan anaknya, apa pun hasil akhirnya nanti.

***

QUOTES

 

 

“Kalau kita kuat menghadapi ejekan orang lain, kita akan mendapatkan pengalaman berharga darinya.”

(Guru Aya, hal. 13)

 

 

“Pengalaman pahit adalah jalan menuju kedewasaan. Kalau kita berhasil melewatinya, hal-hal yang menakjubkan akan muncul.”

(Aya Kito, hal. 13)

 

 

“…manusia pasti mengalami pengalaman buruk dalam hidupnya. Tahan atau tidak tahan menghadapi cobaan itu, kita harus tetap hidup. Jangan pernah merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung dalam hidup! Kalau kita berpikir masih ada orang yang lebih tidak beruntung daripada kita, kita bisa lebih bersabar menghadapi segala cobaan.”

(Shioka Kito, hal. 17)

 

 

“…jika seseorang terlampau membanggakan prestasinya, itu justru menunjukkan bahwa orang itu tidak tenang dan tidak bahagia.”

(Doktor Kawasaki, hal. 23)

 

 

“Menurut dokter, sel-sel otak kecilku yang bertugas mengatur saraf motorik tak bisa berfungsi normal. Katanya penyakit ini sudah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu.”

(Aya Kito, hal. 25)

 

 

“Masa lalu tak akan pernah terhapus dari ingatan setiap orang. Karena kita mengalami berbagai pengalaman. Ada yang manis, tapi tak sedikit pula yang pahit. Dalam setiap pengalaman, emosi kita juga ikut terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, hidup adalah perjuangan jiwa. Jika kita hidup tanpa menyesali apa pun, masa depan yang baik tidak akan terwujud.”

(Shioka Kito, hal. 29)

 

 

“Menangis itu bahasa anak bayi! Kamu kan sudah SMA!”

(Shioka Kito, hal. 35)

 

 

“Aku tak ingin menjadi dewasa!
Ingin rasanya aku menghentikan waktu!
Meski jam rusak, tapi jam dunia tetap berputar.
Selama manusia hidup, waktu akan terus berputar.
Itulah sebabnya manusia tidak boleh menyerah…”

(Aya Kito, hal. 36)

 

 

“Jika kami terus meratapi kemalangan karena kekurangan kami, sampai kapan pun kami nggak akan bisa maju! Daripada menangisi apa yang hilang, lebih baik menghargai apa yang masih tersisa dalam diri kita. Jangan pernah merasa paling pintar, karena itu hanyalah perwujudan dari perasaan minder.”

(Aya Kito, hal. 52)

 

 

“Sejak sakit, wajahku memang sulit berekspresi. Untuk tersenyum saja sulit. Tidak hanya itu, elastisitas otot di sekitar wajahku pun menurun, sehingga kadang aku hanya bisa mengeluarkan suara yang tak lebih keras ketimbang dengung suara nyamuk.”

(Aya Kito, hal. 65)

 

 

“Aku sulit mengucapkan kata-kata yang berawalan m, w, dan b. Bibirku bisa membentuk kata yang ingin kukatakan, tapi suara tak bisa keluar. Teman bicaraku tak pernah bisa menangkap ucapanku.”

(Aya Kito, hal. 67)

 

“Sejak sakit, aku tak bisa menggunakan sumpit dengan benar. Ibu jari tangan kananku sulit digerakkan. Keempat jari lainnya juga menjadi kaku. Itulah sebabnya aku harus mencari jalan agar bisa makan.”

(Aya Kito, hal. 71)

 

 

“Aku juga selalu tersedak saat minum. Jadinya, aku harus bisa menyesuaikan waktu saat minum. Pertama-tama cangkir kudekatkan ke mulut. Lalu aku menyesuaikan dengan gerakan bibirku. Kutunggu saat yang tepat untuk menelan air minum.”

(Aya Kito, hal. 71)

 

 

“Menurut buku yang pernah kubaca, saat sesama penderita cacat bertemu, yang pertama kali mereka lakukan adalah menunjukkan kekurangan mereka. Bertolak belakang dengan manusia normal yang umumnya justru ingin menunjukkan kelebihannya.”

(Aya Kito, hal. 72)

 

 

“Akhir-akhir ini aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Kadang mataku berkunang-kunang dan kepalaku pusing. Bentuk kaki kananku juga berubah. Ibu jari kakiku seperti mencuat dan jari-jari lainnya tampak terkulai. Aku jadi ngeri melihat kakiku sendiri. Tinggi badanku 149 cm dan berat badanku 36 kg. Semoga kakiku selalu bisa menopang badanku dengan baik.”

(Aya Kito, hal. 74)

 

 

“Jalur saraf di otak kecil mengalami kerusakan, sehingga jika pasien melakukan kegiatan yang remeh sekalipun, otak besar tetap tak bisa memberikan umpan balik kepada otak kecil. Kerusakan saraf ini mengakibatkan pasien kadang terlihat seperti menyeringai tanpa sadar.”

(Calon Dokter, hal. 85)

 

 

“Anak bayi belajar duduk pada umur 8 bulan. Pada umur 10 bulan, bayi sudah mulai merangkak. Dan pada umur satu tahun biasanya bayi sudah mulai berlatih berjalan. Namun prosesku justru terbalik. Awalnya aku bisa berjalan. Tapi sekarang aku hanya bisa merangkak dan duduk saja karena sudah mulai tak bisa berjalan lagi. Mungkin suatu hari nanti, aku hanya sanggup tiduran saja.”

(Aya Kito, hal. 109)

 

 

“Sejak sakit, aku jadi orang cengeng. Aku bisa menangis hanya karena hal-hal kecil yang remeh. Perasaan rendah diri yang tumbuh dalam pikiranku tak dapat kucegah lagi. Itu perasaan yang lahir dari diri seorang penderita cacat sepertiku.”

(Aya Kito, hal. 110)

 

 

“Karena kesulitan bicara, kadang aku ngompol atau buang air besar begitu saja karena tak sempat bilang pada Nenek Kasumi. Aku menangis dan minta maaf padanya.”

(Aya Kito, hal 117)

 

 

“Sejak kondisi tubuhku menurun, aku sudah tidak mengalami haid lagi. Itu terjadi sejak enam bulan lalu. Bahkan haid yang merupakan pembeda antara wanita dan pria pun sudah tak kualami lagi,”

(Aya Kito, hal. 120)

 

 

“Tiap manusia memiliki penderitaan yang tak terucapkan. Kadang aku menangis mengingat masa laluku saat masih sehat. Ada kalanya kenyataan terasa sangat kejam. Kini aku bahkan tak berani bermimpi indah. Aku menangis saat membayangkan seperti apa masa depanku nanti.”

(Aya Kito, hal. 121)

 

 

“Kadang saya merasa tidak enak kepada para pasien karena terkesan mereka jadi bahan percobaan, tapi kurikulum yang demikian itu dimaksudkan agar pihak institusi bisa menghasilkan dokter-dokter yang berkualitas baik.”

(Dokter Yamamoto Hiroko, hal. 139)

 

 

“Meski sulit, Aya terus berjuang sekuat tenaga, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Itu membuat Aya terus menyalahkan dirinya sendiri.”

(Shioka Kito, hal. 144)

 

 

“Seharusnya saya tak boleh terlihat menangis di depan anak-anak saya, tapi saya tak sanggup membendung air mata saya. Sebagai orangtua yang memiliki anak yang sakit keras, sedih merupakan perasaan alamiah yang muncul dari dalam diri saya. Namun sebagai orang dewasa dan orangtua yang memiliki anak bukan hanya Aya saja, saya merasa telah menelantarkan anak-anak saya yang lain.”

(Shioka Kito, hal. 145)

***

 

 

ISTILAH

 

 

  1. Nengajou: Kartu tahun baru.
  2. Kakizome: Tulisan kanji yang ditulis pertama kali saat tahun baru.
  3. Heiwa no Kane: Lonceng Perdamaian. Lonceng itu ditopang empat tiang dan memiliki atap berbentuk setengah lingkaran. Di sekelilingnya terdapat kolam kecil yang penuh dengan tanaman lotus. Ini ada di Museum Bom Atom Hiroshima.
  4. Hiyayakko: Tahu dingin ditaburi parutan ikan kering dan dimakan dengan saus.
  5. Onigiri: Nasi kepal.
  6. Ochoko: Gelas kecil untuk minum sake.
  7. Hanten: Kimono rumah tebal.

***

 

 

Penulis: Aya Kito

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 168 Halaman

Bahasa: Indonesia

Edisi: Paperback

Harga: Rp 35.000

Rating:  4 dari 5 Bintang

 

Iklan

Ditulis oleh

Sometimes She's in the Mood for Books, for Movies, for TV Series, for Music, to Write, or Doing Nothing at All and Be DEAD. She Just Goes with Her Own Speed. But Sure She'll Try Her Best to Catch Up with the World.

Satu respons untuk “1 Liter of Tears – Aya Kito (Book)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s